Tumgik
afikikusuma · 2 years
Text
Dua jam berlalu namun aku tak juga melihatnya datang. aku mulai pusing dengan semua keramaian ini. “Tahan sebentar lagi,”kataku dalam hati. Hujan di luar masih mengalir dengan deras. aku tak tahu lagi harus berbuat apa. baterai ponselku habis. buku bacaan yang aku bawa habis dan aku tak menemukan mood yang bagus untuk menulis. malam datang. hujan sudah reda. pelayan kafe menghampiriku dan mengatakan mereka akan tutup. tak terasa hampir seharian penuh aku menunggumu. aku tahu, kamu tidak akan datang tapi kenapa aku masih menunggumu? aku melihat meja, tiga gelas vanilla untukku, sudah kosong. dan secangkir kopi masih utuh dan sudah dingin. aku kasihan padanya, tak tersentuh sama sekali semenjak disajikan. aku meninggalkan meja dengan tersenyum sepahit kopi dingin yang ditinggalkan. aku bodoh, ya?
10 notes · View notes
afikikusuma · 2 years
Text
Hai, bagaimana kabarmu di sana?
Rasanya, baru kemarin kita saling berbagi cerita, berbagi mimpi, evaluasi tahunan bersama.
Rasanya, baru kemarin kita mengerjakan proyek bersama.
Rasanya, baru kemarin kita bertegur sapa. Walau rasanya, akhir ini melalui dunia maya lebih sering daripada dunia nyata.
Nyatanya, sudah lama kita tak saling bertegur sapa dan menanyakan kabar.
Hingga dunia kita berdebu sangat lebat.
Dan akhirnya, kau telah melesat begitu jauh.
Perbedaan jarak dan waktu mungkin menjadi penyebabnya.
Perbedaan dunia yang kita ambil hingga memisahkan kita.
Aku pikir, kehadiranmu kemarin adalah ingin menbersihkan debu yang telah menempati dunia kita.
Tapi ternyata, kau datang membersihkan untuk kepergianmu. Bahkan mungkin untuk selamanya.
Terimakasih.
Terimakasih telah membiarkanku masuk ke dalam duniamu. Masuk saja. Tak lebih dari itu.
Aku senang aku sempat menjadi salah satu bagiannya.
Maaf, jika kehadiranku di sana telah mengotorinya dan mungkin ada bagian yang belum aku bersihkan.
Aku harap, kehadirannya di duniamu bisa lebih mewarnainya bahkan mungkin membuatnya sempurna.
Teruslah beranjak, melangkah, bergerak bermanfaat.
Aku akan terus membersamaimu. Dalam hal yang berbeda tentunya.
Aku tetap ada untukmu, tapi tak lagi sama seperti kemarin.
Aku akan berhenti. Dan melangkah lagi tapi tak menujumu.
Suatu saat nanti, kita pasti akan bertemu lagi. Dalam keadaan aku tak lagi sendiri tentunya.
Terkadang, kepergian seseorang adalah jawaban atas doa kita.
Bukankah kita meminta yang terbaik?
Dan bukankah Allah selalu memberi yang terbaik?
Dan bukankah Allah mengerti sedang kamu tidak?
Hai. Untuk yang terakhir kalinya.
0 notes
afikikusuma · 3 years
Text
Menjaga Rasa
Ada yang dulu sangat menginginkan pertemuan, namun saat ia sudah mendapatkan, rasa itu perlahan pudar atau mungkin sudah hilang. Sebab apa yang dulu ia harapkan dan angankan sudah berada di tangannya.
Ada juga yang dulu berjuang mati-matian untuk bisa membeli barang yang ia mau, namun hari ini barang itu terlihat usang dan tidak terawat hanya karena sudah bosan dan enggan mengurusnya.
Kamu tahu? Yang mahal dan istimewa itu bukan hanya soal perjalanan dan berjuang, tapi soal mempertahankan dan mengawetkan rasa. Cobalah untuk mengingat bagaimana dulu hati dan ragamu berjuang keras, doa lirih yang tidak pernah putus dan semua yang harus kamu bayar untuk mendapatkan sesuatu itu. Apapun itu, entah pasangan atau barang.
Karena menjaga itu bukan hanya soal fisik dan tampilan luar saja, tapi menjaga itu juga urusan hati dan rasa yang tetap kamu tinggikan, kamu muliakan dan jaga agar tidak hilang.
Jika nanti kamu menikah, jangan lupakan soal bagaimana susah payahnya kamu mengetuk pintu langit saat malam hari, dan mengupayakan kehalalan untuk dunia saat pagi dan siang hari.
Rasa itu mahal dan syukur itu istimewa, tidak akan pernah kamu temukan keduanya pada hati yang kotor dan niat yang rusak.
Selamat menjaga rasa, semuanya :')
@jndmmsyhd
709 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
untuk adik-adikku yang mau menikah:
cinta itu diperjuangkan berdua. perjuangannya tidak berhenti saat ijab kabul, justru baru dimulai saat itu. jangan mau menjadi satu-satunya pihak yang berjuang. mungkin awalnya kamu akan bilang tidak apa-apa, tak masalah. kamu akan bilang kamu senang menjadi yang mencintai, yang mengasihi.
pada satu titik kamu akan lelah dek. sebab mencintai itu membahagiakan, mengasihi itu menyenangkan. tapi menunggu itu tidak. sementara, menunggu itu bagian yang besar dari perjuangan cinta.
menunggu seseorangmu mencintaimu dan mengasihimu dengan cara yang sama. menunggu seseorangmu menceritakan cerita kesehariannya kepadamu. menunggu seseorangmu melibatkanmu dalam seluruh bagian hidupnya. atau, sekadar menunggunya memberi kabar. kalau kamu berjuang sendirian, kamu akan terus-terusan menunggu.
ciri-ciri cinta yang diperjuangkan berdua adalah kamu dan seseorangmu sama-sama tidak ingin membiarkan yang lainnya menunggu. kalaupun terpaksa, kamu dan seseorangmu akan sama-sama memberi kabar untuk saling melegakan.
jika kamu sudah terlalu lama terus menunggu tanpa kabar, saranku, coba renungkan ulang. jangan mau menjadi pihak yang berjuang sendirian.
1K notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Menanti Sepertiga Malam
Jangan buru-buru menyeka air mata yang turun, dan jangan pula buru-buru pergi menuju ramainya manusia disaat tangismu masih ada, selesaikan dulu tangismu dan apa yang hati ingin tumpahkan. Mungkin di luar sedang cerah dan hangat oleh matahari, tapi tidak untuk hatimu yang sedang gelap dan penuh gemuruh itu, biarkan hujan deras turun di hatimu untuk sesaat membasahi kerasnya kecewa dan mendinginkan panasnya harapan.
Jika sudah selesai dari tangis dan hujan hati, cobalah menarik napas yang panjang lalu keluarkan bersama dengan semua kesedihan. Apa yang kamu khawatirkan itu sebenarnya tidaklah semenakutkan apa yang kamu kira, kamu hanya perlu menyiapkan hati dan pikiran untuk kemungkinan yang paling buruk.
Pada setiap rencana hidup ini adakalanya seseorang harus merasakan kegagalan, agar nanti lebih menghargai apa yang didapat. Dan pada setiap kekecewaan yang menyakitkan hati itu seharusnya kamu  bisa belajar soal sabar dan menyerahkan semua keputusan pada-Nya, Allah hanya ingin mengajari apa yang tidak kamu dapatkan di sekolah selama ini.
Tenang, tidak akan pernah Allah itu menelantarkan manusia yang lisannya selalu berdoa dan hatinya selalu berprasangka baik pada-Nya. Kembalilah pada-Nya, mulailah mendekat dengan doa-doa dan ibadah disepertiga malammu.
Allah sudah menunggumu, nanti malam bangun ya.
@jndmmsyhd 
514 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Yang terbaik untukmu itu tidak akan pernah menjadi milik orang lain, barangkali ia belum juga hadir karena ada yang belum kamu sempurnakan, entah kurang sempurnanya kamu pada ikhtiar dan tawakkal, atau kurang sempurnanya kamu pada doa dan berserah. Jika kamu sudah benar-benar siap, sudah pasti ia akan Allah datangkan.
Sabar, kita semua sama-sama sedang menunggu kok. Apapun itu.
@jndmmsyhd
684 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
lebih dulu
salah satu di antara kita berdua pasti akan ada yang meninggalkan dunia ini lebih dulu.
kadang, aku berharap orang itu aku. maksudnya, aku belum terbayang bagaimana aku akan hidup tanpa kamu.
kadang lagi, aku berharap orang itu kamu. maksudnya, aku tidak mau membuatmu kesepian. lalu, bagaimana jika kamu jatuh cinta lagi kepada seseorang selain aku?
maksud semuanya, aku selalu berdoa bahwa kita terus berjodoh. berjodoh terus setiap hari sampai salah satu dari kita pergi. berjodoh terus sampai kita berdua bersemayam berdampingan. berjodoh terus sampai kita berdua berkumpul kembali di surga.
semoga kamu punya doa yang sama. semoga kita memperjuangkan doa itu bersama-sama.
417 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Mencari Ridha
Mencari ridha Allah adalah dengan melakukan apa yang Allah ridhai dan menahan diri dari melakukan apa yang Allah tidak ridhai.
Mencari ridha orang tua adalah dengan melakukan apa yang membuat mereka ridha dan menahan diri dari melakukan apa yang mereka tidak ridhai.
Mencari ridha suami adalah dengan melakukan apa yang membuatnya ridha dan menahan diri dari melakukan yang ia tidak ridhai.
Dalam konteks mencari ridha, posisimu bukanlah subjek yang bisa mengatur apa yang diridhai dan yang tidak. Posisimu adalah mengikuti alias taat selama bukan dalam rangka maksiat kepada Allah.
Kenapa ridha itu mahal? Karena taat itu gak gampang.
— Taufik Aulia
368 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Jangan Pukul!
“Seumur hidup, Bapak tidak pernah memukul anak perempuan bapak ini. Kalau sampai nanti kamu memukulnya. Bapak akan ambil paksa anak bapak darimu gimanapun caranya!”
Kemarin sore, ketika naik mobil. Saya dan istri saya, Apik, lagi bercerita soal banyak hal termasuk cerita-cerita tentang rumah tangga teman kami yang berliku-liku. Kemudian, Apik mengingat soal kalimat bapaknya yang juga kuingat baik-baik waktu dulu mau melamar Apik. Sebenarnya kalimatnya lebih panjang, tidak hanya soal pukul-memukul, tapi juga kalau tujuan rumah tangga kami udah tidak benar, atau aku berbuat kriminal, dsb.  Istri akan diambil oleh keluarganya lagi.
Saya melihat dua anak perempuanku yang sedang duduk di bangku belakang. Lalu berpikir, kalau jadi bapak dan anakku mau nikah nanti. Hal yang sama akan kusampaikan ke siapapun lelaki yang akan menjadi pasangan hidupnya nanti. Kalau sampai mereka berani menyakiti anakku, memukulnya, melakukan kejahatan baik perkataan maupun fisik, apalagi sampai menelantarkannya, atau membawa anakku ke tujuan yang tidak benar. Anakku akan kuambil paksa, bagaimanapun caranya! Anak perempuan yang sudah kebesarkan dari kecil, kurawat dengan baik, tidak pernah kupukul, eh ada laki-laki lain yang berani memukulnya. Tentu tidak akan kubiarkan.
Saya mendapati, dalam beberapa permasalahan rumah tangga orang lain yang kudapatkan. Ada banyak sekali rumah tangga muda yang disfungsi, suaminya melakukan KDRT, atau rumah tangganya dibawa sekte/aliran sesat atau kelompok2 ekstrem. Dan ketika anaknya meminta pertolongan orang tuanya, orang tuanya justru menyuruh anaknya untuk bertahan dan bersabar dalam pernikahannya yang penuh kekerasan. Atau orang tuanya justru lebih sibuk memikirkan nama baik keluarga, malu kalau anaknya jadi janda/duda di usia muda, takut citranya rusak karena telah gagal mengantarkan anak ke jenjang rumah tangga. Saya tidak akan menjadi orang tua yang seperti itu untuk anak-anakku nanti.
Alih-alih memasang badan, melindungi anaknya, menyelamatkan nyawa dan agamanya. Beberapa orang tua justru sibuk menyelamatkan nama baiknya sendiri dan keluarganya. Tidak bisa dan tidak sanggup menerima kenyataan bahwa anaknya berada dalam sebuah rumah tangga rusak. Setiap hari harus menanggung beban mental, beban fisik. Menahan makian, hinaan, pukulan, dan lainnya. Jangan ya, jangan kita jadi orang tua yang seperti itu untuk anak-anak kita nanti. Kalau kita ditakdirkan mengalami hal seburuk itu, mudah-mudahan orang tua kita masih menjadi orang tua yang selalu menjaga kita, kita masih punya tempat pulang dan berlindung di dunia ini. Punya orang yang kita percaya bahwa akan aman jika kembali kepadanya. Saya dan istri tak henti-hentinya bersyukur, sebab rumah tangga kami tidak hanya dijaga oleh kami, tapi juga oleh orang-orang terdekat. Mudah-mudahan, teman-teman di sini, diberikan rezeki pasangan yang baik seperti kata nabi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik terhadap keluarga/istrinya. Dan saya adalah orang yang paling baik terhadap istri/keluargaku.” (HR Tirmidzi). Pernikahan itu bukan hal yang mudah, tapi memiliki pasangan yang baik benar-benar akan memudahkan kita dalam menjalani pernikahan tsb. Insyaallah. ©kurniawangunadi
494 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Tulisan : Jangan sampai.
Rumah tangga yang dibina saat ini adalah buah dari keputusan kita dulu. Keputusan yang kita ambil sewaktu muda, penuh dengan mimpi-mimpi besar. Mimpi yang kemudian bertemu dengan realita tentang kehidupan berumah tangga yang mulai tampak aslinya. 
Mulai urusan soal bagaimana bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah, kendaraan, biaya hidup sehari-hari, biaya kehamilan dan kelahiran anak, biaya keperluan anak, biaya pendidikan, dsb. Sesuatu yang dulu, sewaktu muda, kita pikir, akan mudah saja jalannya. Ternyata, harus bekerja dari pagi hingga malam untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut.
Bahkan, mimpi-mimpi besar kita untuk bisa bermanfaat bagi banyak orang, meraih aktualisasi diri dengan beragam kegiatan sosial, harus ditunda entah sampai kapan. Karena kita masih harus mendampingi tumbuh kembang anak kita, ditambah, kesibukan dan rutinitas sehari-hari yang mulai memakan sebagian besar waktu kita.
Beberapa di antara kita mungkin ada yang merasa hilang dari kehidupan ini. Tenggelam di dalam aktivitas yang berulang. Kehilangan jati diri karena tidak ada ruang untuk beraktualisasi, me time, ataupun waktu untuk menambah kapasitas diri kita melalui pendidikan ataupun bentuk pengembangan diri lainnya. Anak kita menangis, mencari kita. Keluarga kita, harus kita beri makan  dan tempat tinggal yang layak.
Tenyata, kehidupan yang dulu kita inginkan, penuh dengan bayangan keindahan dan hal-hal manis. Tidak semanis itu prosesnya, tidak seindah itu lelahnya. Mungkin kita harus mengalah, mengalah pada keadaan bahwa apa yang menjadi mimpi besar kita mungkin harus ditunda. Sampai saat nanti kita sudah berdikari, keluarga kita sudah cukup stabil dalam banyak hal, dan juga kita memiliki kapasitas untuk melakukan hal-hal yang besar tanpa khawatir lagi keluarga akan terlantar.
Kalau pun lelah, jangan sampai keluar kata kasar, hardikan, ke pasangan, ke anak. Memang, sejak awal tidak mudah, tidak ada yang menjanjikan bahwa segala sesuatunya akan mudah sekalipun kita menikah dengan orang yang kita cintai, sevisi, semisi. Tapi, paling tidak dengan menikah dengan orang yang tepat, sebagian besar beban itu terangkat. 
Bayangkan jika kita harus menjalani pernikahan dengan realita yang demikian, tapi pasangan kita bukanlah orang yang bisa diajak bicara, tidak bisa menerima masukan, sibuk dengan dunianya sendiri, tidak peduli dengan anak atau pasangan, dan merasa sudah menjalankan kewajiban hanya dengan bekerja dan memberi uang. 
©kurniawangunadi
517 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Kamu dan dia sebenarnya tidak Allah pisahkan begitu saja, bisa jadi memang kalian sebenarnya sudah berbeda doa, tidak sejalan dan searah. Terkadang, ada yang sengaja Allah pisahkan di awal agar ia belajar soal doa dan keyakinan, lalu Allah pertemukan di akhir sebagai hadiah dari kesabaran keduanya.
Ada pula yang Allah pisahkan di awal dan langsung Allah ganti dengan yang lainnya, bisa jadi karena tidak ada kelayakan untuk berjalan berdampingan dan melangkah bersama. Dan yang Allah ganti akan selalu lebih baik dari yang hilang, kamu akan merasakan dan mengetahuinya setelah belajar soal sabar dan syukur.
@jndmmsyhd
451 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
"Ayo istirahat, udah hapeannya, dimerem-meremin, aku ambil hapenya lho!"
Adalah bentuk lain dari "aku sayang kamu"
Dan, "Hehehehe" sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatel adalah bentuk lain dari "iya aku tahu, aku juga sayang kok"
Ah apasih.🤣🤣🤣
111 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
🥺
Kurir (2)
Lanjut kisah kurir. Karena aku mengira aku hanya keluar rumah sebentar, aku nggak bawa tas. Nggak bawa tas berarti ngga bawa dompet. Nggak bawa dompet yang isinya uang dan surat-surat berkendara. Jangan ditiru ya. Huahhaha.
Setelah antar-jemput cucian selesai, akhirnya aku pulang. Teringat Aisha di rumah yang sudah aku tinggal dua jam, karena ternyata ada lagi yang minta antar cuciannya yang sudah selesai. Lama juga ya. Nah, di dekat laundry ada yang jual ayam goreng gitu, namanya QFC, Queen Fried Chicken. Aisha suka ni. Biasanya kalau sepupunya makan itu, dia suka ngerusuhi. Baiklah, akan aku belikan. Ah! Tapi kan ngga bawa dompet! Aku rogoh saku celana. Ada uang sebelas atau dua belas ribu. Lupa. Akhirnya aku mampir. Aku hitung-hitung lagi uangku. Aku putuskan beli ayam paha bawah satu tanpa nasi, seharga delapan ribu rupiah. Terus aku kayak yang.......pasti ada orang yang setelah kerja panas-panasan, terus pengen beliin makan buat anaknya di rumah tapi uang yang dia punya hanya cukup untuk beli satu porsi, bukan karena nggak bawa dompet, tapi karena emang punya segitu aja.
Ok, ini drama banget sih. Tapi sepanjang perjalanan pulang aku mrebes mili. Ya Allah, alhamdulillah, aku tu dikasih hidup nyaman.
Terus pas sampai rumah, masuk rumah, cuci tangan cuci kaki, lepas hoodie, nyari Aisha. "Aishaaaaaa saaaaayaaaang...ibuk pulaaaang! Ibuk beli ayam kiuk kiuuukk naaaaaak!"
Aisha keluar kamar. Kami berpelukan agak lama. "Ibuk kangen!" kataku.
"Mau buk, mau ayam kiuk kiuk." kata Aisha.
Rumah terasa jauh lebih sejuk dari biasanya
160 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Kurir (2)
Lanjut kisah kurir. Karena aku mengira aku hanya keluar rumah sebentar, aku nggak bawa tas. Nggak bawa tas berarti ngga bawa dompet. Nggak bawa dompet yang isinya uang dan surat-surat berkendara. Jangan ditiru ya. Huahhaha.
Setelah antar-jemput cucian selesai, akhirnya aku pulang. Teringat Aisha di rumah yang sudah aku tinggal dua jam, karena ternyata ada lagi yang minta antar cuciannya yang sudah selesai. Lama juga ya. Nah, di dekat laundry ada yang jual ayam goreng gitu, namanya QFC, Queen Fried Chicken. Aisha suka ni. Biasanya kalau sepupunya makan itu, dia suka ngerusuhi. Baiklah, akan aku belikan. Ah! Tapi kan ngga bawa dompet! Aku rogoh saku celana. Ada uang sebelas atau dua belas ribu. Lupa. Akhirnya aku mampir. Aku hitung-hitung lagi uangku. Aku putuskan beli ayam paha bawah satu tanpa nasi, seharga delapan ribu rupiah. Terus aku kayak yang.......pasti ada orang yang setelah kerja panas-panasan, terus pengen beliin makan buat anaknya di rumah tapi uang yang dia punya hanya cukup untuk beli satu porsi, bukan karena nggak bawa dompet, tapi karena emang punya segitu aja.
Ok, ini drama banget sih. Tapi sepanjang perjalanan pulang aku mrebes mili. Ya Allah, alhamdulillah, aku tu dikasih hidup nyaman.
Terus pas sampai rumah, masuk rumah, cuci tangan cuci kaki, lepas hoodie, nyari Aisha. "Aishaaaaaa saaaaayaaaang...ibuk pulaaaang! Ibuk beli ayam kiuk kiuuukk naaaaaak!"
Aisha keluar kamar. Kami berpelukan agak lama. "Ibuk kangen!" kataku.
"Mau buk, mau ayam kiuk kiuk." kata Aisha.
Rumah terasa jauh lebih sejuk dari biasanya
160 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Kurir (2)
Lanjut kisah kurir. Karena aku mengira aku hanya keluar rumah sebentar, aku nggak bawa tas. Nggak bawa tas berarti ngga bawa dompet. Nggak bawa dompet yang isinya uang dan surat-surat berkendara. Jangan ditiru ya. Huahhaha.
Setelah antar-jemput cucian selesai, akhirnya aku pulang. Teringat Aisha di rumah yang sudah aku tinggal dua jam, karena ternyata ada lagi yang minta antar cuciannya yang sudah selesai. Lama juga ya. Nah, di dekat laundry ada yang jual ayam goreng gitu, namanya QFC, Queen Fried Chicken. Aisha suka ni. Biasanya kalau sepupunya makan itu, dia suka ngerusuhi. Baiklah, akan aku belikan. Ah! Tapi kan ngga bawa dompet! Aku rogoh saku celana. Ada uang sebelas atau dua belas ribu. Lupa. Akhirnya aku mampir. Aku hitung-hitung lagi uangku. Aku putuskan beli ayam paha bawah satu tanpa nasi, seharga delapan ribu rupiah. Terus aku kayak yang.......pasti ada orang yang setelah kerja panas-panasan, terus pengen beliin makan buat anaknya di rumah tapi uang yang dia punya hanya cukup untuk beli satu porsi, bukan karena nggak bawa dompet, tapi karena emang punya segitu aja.
Ok, ini drama banget sih. Tapi sepanjang perjalanan pulang aku mrebes mili. Ya Allah, alhamdulillah, aku tu dikasih hidup nyaman.
Terus pas sampai rumah, masuk rumah, cuci tangan cuci kaki, lepas hoodie, nyari Aisha. "Aishaaaaaa saaaaayaaaang...ibuk pulaaaang! Ibuk beli ayam kiuk kiuuukk naaaaaak!"
Aisha keluar kamar. Kami berpelukan agak lama. "Ibuk kangen!" kataku.
"Mau buk, mau ayam kiuk kiuk." kata Aisha.
Rumah terasa jauh lebih sejuk dari biasanya
160 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
RTM: Wanita dan Pandangannya (Bagian 1)
Unik dan ajaib memang wanita dan perasaannya itu, kadang sulit sekali menebak mau dan pintanya, apalagi soal pandangannya yang sering berbeda dengan cara laki-laki menilai.
Memasuki bulan ke 5 semenjak kami bertemu dan tinggal bersama untuk selamanya (tidak ada dan tidak akan lagi ldm) ada banyak hal baru yang saya pahami dan pelajari dari wanita yang sekarang menjadi istri saya. Iyap, kami memang ldm sejak 2018 karena kesibukan dan belajarnya masing, setahun mungkin hanya 2 atau 3 kali bertemu dengan durasi paling lama 1,5 bulan. Kami memang membuat kesepakatan untuk fokus pada amanah masing-masing, dalam sekepan mungkin video call hanya sekali atau 2 kali, kalo chattingan yaa setiap hari tapi sekosongnya.
Rumah tangga muda, pada usia yang memang sudah seharusnya bisa mengontrol emosi, ego, dan kepentingan. Ada banyak hal yang mulai berubah dari cara berpakaian saya dan jam untuk menikmati bacaan.
Saya yang biasa memakai baju kaos dan celana yang bisa dibilang "yang paling atas ya itu yang diambil dan dipakai, biar gausah ngangkat baju yang kadang nanti malah bikin berantakan", tapi tetap saja istri selalu komplen dengan kata tidak mecinglah kurang pas lah. Hingga saat ini setiap mau pergi atau ada acara entah di dalam kota atau harus keluar kota yaa dia yang nyiapin, ini sebenarnya bertolak belakang sekali dengan prinsip berpakaian saya yang simple dan yang penting bagus rapih dan layak :)
Ada hal lain yang musti saya ubah juga, terhadap me time dengan buku-buku dan tontonan, dengan video call bareng temen dan beberapa agenda lainnya. Tapi memang beginilah pernikahan, akan mengubah dan harus berubah dengan menyatukan prioritas yang lebih besar skalanya.
Pandangan laki-laki yang memang kebanyakan inginnya serba mudah dan cepat, tidak riweuh dan sangat diatur. Tapi memang dengan begitu akan lebih teratur dan lebih rapih juga sih. Untuk para lelaki, saya doakan nanti mendapat istri yang rapih, dari rapih menata luar dan dalam, menata keuangan dan kepentingan.
Nanti akan kamu temukan, pandangan wanita yang seringnya bertabrakan dengan pandanganmu, tapi cobalah untuk mendiskusikannya, pada peran dan bagaimana jalan tengahnya, soal pembagian keuangan dan kepentingan, soal menata masa depan dan target tahunan yang harus dicapai masing-masing dan bersama.
Tidak mudah memang, sedikit cemberut dan ngambek itu biasa, sedikit baper dan minta dimengerti itu wajar, sedikit ingin diberi apresiasi dan berbincang bersama itu standart, pernikahan memang tidak semudah bulan atau tahun pertama. Ombaknya kadang ringan kadang tinggi, dan cobalah untuk melihat hubunganmu dengan-Nya saat ada yang tidak beres dengan pasangan, barangkali ada porsi ibadah yang berkurang, ada tilawah yang tidak mencapai target harian, ada puasa sunnah yang mungkin malas dikerjakan.
Sakinah itu berasal dari tinggal bersama dan menyelesaikan masalah bersama, mawaddah itu berasal dari kelapangan dada menerima baik buruknya pasangan, dan warohmah itu adalah tujuan dari setiap pasangan untuk mendapatkan rahmat-Nya. Kerjakan saja semuanya karena Allah, soal apresiasi dan tidak itu belakangan, yang penting semuanya untuk ibadah.
Jarang sekali saya menulis seperti ini, yang biasanya hanya tertulis dalam catatan hp dan laptop, untuk disimpan sendiri dan menasehati hati. Tapi sepertinya ini perlu saya sampaikan juga, bahwa ilmu itu lebih penting daripada langsung beramal tapi tanpa ilmu.
Tenangkan dulu badai dan gemuruhnya, redakan nafsu dan lapar mata yang menyala, dan niatkan semuanya untuk ibadah. Bahkan soal menunggu pun jika karena Allah justru akan berbuah pahala juga, yang kamu cari berkahnya bukan?
@jndmmsyhd
523 notes · View notes
afikikusuma · 3 years
Text
Kamu ingin didoakan apa, jika doa tsb bisa kamu minta dari orang lain?
Kalau saya, mohon doakan semoga kami sekeluarga bisa senantiasa dalam kebaikan, menjadi perantara kebaikan, perantara ilmu, perantara rezeki, berantara kebermanfaatan. Aamiin.
bisa teman-teman reblog untuk diteruskan, ingin didoakan apa dari teman-teman yang lain. Karena kita tidak pernah tahu, doa dari siapa yang akan dikabulkan :)
735 notes · View notes