Ada permintaan yang tidak perlu diucapkan dengan lantang, namun tetap terdengar secara utuh
Don't wanna be here? Send us removal request.
ayupertiwijayanti · 6 years ago
Text
Kamu
“Aku ingin mengingatmu!”, ucapku sembari menangis. Kala itu, aku hanya sesenggukan sembari menyadari hujan semakin lebat. “Kamu, egois!”, gemetarku. Aku marah padamu saat itu, lucu memang alasannya. Ah iya, itu dulu sekali, sebelum aku tau bahwa kamu masih menginginkannya. Jauh sebelum aku mengetahui, bahwa dihatimu kamu masih penasaran dengannya. 
Hi, kamu!, aku melihatmu lagi setelah sekian lama aku mundur dan aku lihat bahagiamu saat ini. Ini adalah senyum paling indah yang pernah aku lihat, darimu selama aku mengenalmu dan sempat disisimu.
4 notes · View notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Tahukah Kamu?
Seandainya baik-baikpun kita tidak pernah setenang ini. Percayalah, ketenanganku di setiap gelombang dadakan adalah tanda ketidaksiapanku.
Harus percaya dengan siapa lagi? jikalau seseorang yang sangat aku jaga kepercayaannya terang-terangan membohongiku.
Harus percaya darimana lagi? jikalau seseorang yang sangat aku harapkan kejujurannya mulai memberi ruang padaku tentang kebingungan definisi percaya.
Maaf, jika senangku ternyata memberimu beban. Maaf, jika harapku nyatanya membatasi gerakmu. Maaf, jika karena inginku membuatmu kelimpungan setelahnya. 
Maaf, jika nanti aku menjadi pribadi yang terlalu tenang. Aku bingung harus percaya dengan siapa lagi, darimana lagi dan kepadamu, percayaku tidak pernah datang ketiga kalinya. 
2 notes · View notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Quote
Andaikan aku ((mendadak)) hilang tanpa melunasi segala mimpimu, semoga tulisan-tulisanku terdahulu melenyapkan segala pertanyaanmu selama ini; sesayang itu aku padamu.
Des, 27th/17.
1 note · View note
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Quote
Dengarkanlah nadiku terakhir kalinya, riuh menunggu lenganmu
Putri Ayupertiwi Wijayanti
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Ber-jarak kah Kita?
aku memang tidak layak uji mengenai tingkat kepekaan, tetapi yang ku tau selama ini adalah kita membiarkan jarak menang sendiri.
Tolong ingatkan saja dengan baik-baik, kalau akupun adalah seseorang yang tinggi ego. Agar jarak ini seakan bersembunyi dibalik kerasnya kepalaku saat itu.
Seandainyapun, aku terlampau lamban menyadari keterpaksaanmu disisiku selama ini, ijinkanlah sekali saja aku membuatmu tertawa lepas lagi tanpa bayang-bayang ketakutan mencintaiku.
Sayang, aku tau rasanya menjadi dirimu. Antara berjalan ke depan atau sejenak jalan di tempat. Sampai akhirnya kamu memilih menjadikan celah kian menjadi dan aku tanpa sadar mengiyakan keinginan sesaatmu. Maafkan aku yang tiada mampu memperpendek jarak diantara kita, maafkan aku yang kemudian membiarkan jarak semakin mendekati garis finish, maafkan aku yang terkadang menangis sesenggukan tatkala aku menyentuhmu tetapi tidak berasa padamu. Maafkan aku, karena terlalu cengeng dalam menyayangimu.
copyright: November. 28th/17.
Hujan hari ini hanya satu kali yaitu pagi hari.
1 note · View note
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Harga diri lelaki bukan ditentukan dari apa yang dia kendarai, brand apa yang dia pakai, dan kemana dia hangout. Harga diri lelaki adalah bekerja. Tentang bagaimana dia menyibukan diri, untuk kemudian berpenghasilan sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri, lalu berbagi meluangkan waktu dan materi untuk orang-orang yang menurutnya berarti.
MNS
817 notes · View notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
dari banyaknya harapanku padamu, semoga tetap menjadi yang terbaik meskipun berjalan masing-masing
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Mayku
kumohon batasi jengkelmu padaku, jika aku tidak kunjung membuatmu bahagia.
Denganmu seperti ini, membuatku bingung berkepanjangan. Kamu seolah mencintaiku tapi terlampau mudah kesal pada ketidaksengajaanku.
Haruskah aku baik-baik saja dihadapanmu?
1 note · View note
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Quote
Menulis tentang perpisahan kita, seringkali aku merasa terbunuh oleh puisiku sendiri..
PuisiEf.. (via jasmineyash)
33 notes · View notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Kamu [36] (Edisi posting draft)
Aku hanya ingin mulai melepaskan yang selama ini tertahan sendirian.
Ada yang diam-diam merasa lelah karena bekerja seorang diri. Terlalu menganggap bahwa semua akan tertangkap dalam waktu dekat. Pesimis? Tidak, hanya ingin kembali mencari dimana meletakkan ‘kerasionalan’ sebab aku lupa membawanya tatkala perasaan begitu mendominasi.
Kalau saja, berada di sisimu terasa menenangkan. Haruskah aku tetap melepaskanmu?
#mungkin sekitar pertengahan tahun lalu draft ini.
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Mei di bulan July
tidak mudah bagiku untuk selalu disisimu, pun demikian denganmu, maka darinya biarkan terkadang aku tinggi ego untuk melihat seperti apa kamu tanpaku.
Kalau harus kecewa lagi karena terlalu percaya, aku yang bodoh kali kedua.
Kalau harus pergi lagi karena terlalu sakit, aku yang bodoh kali kedua.
Kalau harus tetap disini lagi karena terlalu naif, aku yang bodohnya keterlaluan.
Bolehkah sedikit usul? usahlah terlalu menganggapku terlampau baik karena aku pun perempuan yang sangat mudah kecewa. 
maaf.
(c) tangerang, jul -21th/17.
siang ini, terik.
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Kamu [kembali]
Kalau saja kamu meminta sesuatu dariku, adalah yang paling menakutkan kembali merekam memory saat aku [seakan] tidak mengenal siapa dirimu disisiku dan dihadapanku.
Percayakah kamu, aku hampir tersungkur seorang diri gegara sikap acuhmu yang tetiba membunuhku perlahan?
Pernahkah kamu, merasa tidak diprioritaskan olehnya yang saat ini berstatuskan [paling] terdekat dihatimu?
Apakah seperti ini rasanya, tetap [berpikiran] positif sedangkan kamu terus menerus memperlihat ketidak-inginan hadirnya diriku?
Apakah sesakit ini rasanya, tetap berdiri [rapuh] meskipun dimatamu tidak lagi kulihat sosokku?
Apakah semenarik ini rasanya, berada diposisimu?
Untukmu, jadilah yang paling jujur disisiku karena [sangat] mudah bagiku membaca hatimu yang tengah berantakan sekalipun. 
(c) Tangerang, July, 17th/07.
Terimakasih, karena saat ini aku mengenalmu lagi.
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Quote
Seingatku, dulu kita terlalu serius menata masa depan.
Sekarang, aku dan kamu berbelakangan dengan sendirinya. 
Tapi, kamu masih sering mengunjungiku tanpa permisi.
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Quote
Abi. Dahulu dahimu lebih mulus. Kini samar kulihat beberapa garis halus Kami kah alasanmu dari setiap senyum manismu setiap harinya
Untuk Abi [Ayah dari Anak-anak kita kelak]
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Menyelesaikan Seutuhnya
Bisa jadi kamu lupa, bahwa menuntaskan harus benar-benar tuntas.
: Pertemuan itu hutang perpisahan. Setiap kali kamu bertemu seseorang, sebenarnya kamu sedang menabung perpisahan. Entah pergi terencana atau serba mendadak. Entah diiringi tangis bahagia atau haru ditinggalkan. 
: وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka berkumpul dan berpisah dengan sebab cinta karena Allah.” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031)  
Manusia itu banyak inginnya. Mungkin saja kamu lupa membereskan masa lalu, hingga masa depan enggan menghampiri.
Atau bisa jadi kamu terlalu sibuk membereskan yang lainnya, hingga kamu belum sempat berdamai dengan diri sendiri.
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Conversation
Skakmate
J: Tiap kali kita jatuh karena seseorang dan terasa menyakitkan sekali, mungkin ...
K: ... gak usah di lanjut. Liburan gini ngomongnya yang ringan-ringan aja.
J: Mungkin mainmu kurang jauh.
K: Tumben gaul lanjutannya.
J: Main untuk Akherat ya, bukan dunia.
K: Ya ampun, hampir gak terduga bakal jawab kaya gitu.
J: Nih ya, sy kasih tau.
Reuni penting gak sih?
K: Penting buat nambah relasi.
J: Terus?
K: Tapi bosen juga sih kalo reuni tiap waktu, apalagi gak se visi dan se misi.
J: Cerdas, nangkep maksud sy.
K: Random sih jawabannya tadi.
J: Jadi, masih mau sy ajak reuni?
K: Hahaha, skakmate aja terus.
(c) Tangerang, Jul -05th/17
0 notes
ayupertiwijayanti · 8 years ago
Text
Mei
Apakah juangmu sepertiku? Apakah juangku sepertimu? Inikah yang namanya bertahan?
Perihal usahamu, aku hanya tidak ingin mengetahui yang seharusnya tersembunyi dari banyaknya letihmu, bukan karena ketidakpedulianku padamu, anggap saja aku mencoba tidak mengetahui padahal jelas betul kamu berpihak padaku. 
Tentang perhatianmu, untuk setiap rindu yang tidak mungkin tersampaikan semuanya, anggaplah aku anak kecil yang tidak tahu apa-apa meskipun pertemuan pun layaknya pengumpat terdepan. 
Jika dari sekian yang kamu lakukan, anggaplah aku tidak mau tahu atau tahu tapi menganggapnya tidak tau. Tidak usahlah khawatir berlebih, semua yang saling menyayangi pun pada hakikatnya akan saling menjaga demi kebertahanan keduanya. 
Untukmu, yang terdekat dihatiku. Jika yakinku belum mampu meredam ragumu sedikitpun, aku harus apa lagi untuk tetap berada di sisimu tanpa harus merasa ini dan itu yang kurasa menyulitkan segala aktifitasmu.
Untukmu, yang terdekat dihatiku. Jika segala kegiatanku tidak lagi berarti dalam memory jangka pendekmu, aku harus apa lagi untuk tetap menyambut kehangatanmu tanpa bersedia merasakan acuhnya sikap dinginmu?
Untukmu, yang terdekat dihatiku. Jika disisiku membuatmu susah, aku harus apakah?
1 note · View note