Text
Down
Hi.. Long time no see. I'm sad, i can't describe how sad I am, just sad.
22-10-20
1 note
·
View note
Text
Dear The Old Me
Bertambahnya usia di tahun ini diisi dengan kegiatan membersihkan isi sosmed, tak kurang dari ratusan tweet berisi sambat dan menunjukkan betapa lemahnya diri ini pada 5 tahun terakhir.
Dunia terasa berhenti saat aku baca sebuah tweet dari bulan Mei 2015 "Apa yang sedang terjadi?"
Deg! Aku ingat itu! SEDIH LEMAH GELISAH MARAH EMOSI KECEWA BODOH LARA SAKIT MENANGIS MUNTAB BANGSAT LAKNAT SEKARAT!!! Dan semua yang sama sekali tidak enak kembali berlarian di otak.
Tweet polos oleh seorang gadis 19th, dalam hatinya menyimpan segudang tanya, yang dalam pikirannya akan menahun memendam diam, dan seluruh anatomi organnya akan mengingat ini sampai nanti sampai mati.
APA YANG SEDANG TERJADI, begitu tanyanya. Heiii!!!! KALAU AKU BISA MENEMUI AKU YANG DULU AKU AKAN TERIAK, BERLARILAH! JANGAN KAU SENTUH PERKARA YANG AKAN MEMBUAT SEPANJANG HIDUPMU MEMELIHARA RASA TAKUT. ATAU JIKA KAU BENAR-BENAR KERAS KEPALA DAN TETAP INGIN BERDIRI DISANA, LAWANLAH!!! JANGAN DIAM DAN MENERIMA SEMUA PERLAKUAN YANG TIDAK ENAK TIDAK ENAK!!!!!!!
Tragis. Menyesal tapi percuma, pengen balas dendam, tapi buat apa?
Seandainya aku versi sekarang ini bisa kembali dan mengatakan itu pada aku yang dulu.
Hai @fadhilarahmi_ 2015
kau sedang belajar apa itu sabar,
sayangnya kau terlampau serius belajar. Saat dikecam diancam dihantam, kau hanya diam tak paham balas dendam.
kau tahu? Kecelakaan terjadi tak mengenal tuan, meskipun kau tak berbuat kesalahan atau melanggar aturan, meskipun kau sudah berhati-hati melangkah menikmati perjalanan,
berjuta tanya "mengapa"-mu takkan pernah terjawab, lalui saja dan jadikan rentetan pelajaran.
Pelajaran?! Berat! Bodoh! Begitu mungkin kicau mereka, tentu saja!,
Karena mereka tak memahami,
sebab hadirnya, kau terlewat bahagia,
rasa sayangmu mengalahkan bertubi macam luka,
mereka tak memahami,
bahwa bersamanya,
kau sudah tak menginginkan apa-apa.
dan... terima kasih :') karena selalu tegar bertahan.
1 note
·
View note
Photo

"Sekarang" itu tiada. 📷 by @nurulalfiahkurniawati pada pertengahan 2016 lalu. Rasanya baru kemarin, padahal sudah lebih dari 3 tahun sejak kami pesiar ringan mengunjungi wisata bersejarah di pusat kota untuk melepas penat 5 hari magang bekerja di BB Kementrian Pendidikan DIY. Rasanya baru kemarin (?) Padahal kami merasa magang PKL 2 bulan tersebut tak kunjung usai. Sehari di kantor terasa sangat lamaaa, putaran jarum jam seperti melambat dari normalnya. Apakah "waktu" hobi berkamuflase? Rasanya baru kemarin (?) Padahal 3 tahun ini berlalu sesuai waktunya. Setelah PKL kembali ke Malang, kembali ke rutinitas kuliah dimana 2 jam kelas berbahasa Arab terasa begitu lamaaa. Kemudian diterpa berbagai macam ujian, kompre proposal sidang, + kegiatan non-kampus. 3 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin (?) Padahal rentetan semua kejadian itu sudah lama dan terasa lamaaa saat dijalani. Seluk beluk kuliah, keriweuhan skripsi, wisuda yang hambar, kerja ini itu, kursus kemampuan bahasa, dan detik ini tiba-tiba menulis caption. Waktu adalah hal yang terus melaju, tidak cepat dan tidak lambat. Waktu memang misteri yang unik. Apakah satuan ukuran waktu yang dikonsepkan oleh manusia akurat? Padahal sudah bukan rahasia bahwa angkanya adalah pembulatan. Khayal tapi nyata memang begitu adanya. ⇩⇩⇩ bikin artikel kok di kolom caption ���🙏 next di kolom komentar (at DIY Daerah Istmewa Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/B1BiDkqJO_r/?igshid=rj4j75442eio
0 notes
Text
Berkerjalah, lanjutkan. Aku hanya takut mengganggumu.
9 5 2018
0 notes
Photo

Mengabdi kpd ma'had tidak harus dg menjadi musyrifah. Alhamdulillah, setelah lulus dr MSAA dg predikat 'mahasantri yg diluluskan' , akhirnya masih dipercaya tetap kembali ke mabna untuk menjadi musik-ah (bukan musyrifah) 😂 Alhamduillah, 3 tahun terakhir ini disempatkan belajar musik bareng adek2 dari tiap angkatan dari berbagai mabna untuk persiapan lomba dalam berbagai event di ma'had. Merupakan kebahagiaan tersendiri saat kumpul bersama umat yg bisa bermusik. Bagi saya, mengasah bakat & berbagi ilmu adalah yg utama. Menjadi juara hanyalah bonus dr semua usaha. Berkali-kali saya tegaskan ke adek2, kalau hasil lombanya menang itu krn semangat dan dedikasi kalian terhadap musik. Tapi kalau kalian kalah, itu semua adl SALAH pelatih kalian yg tak sanggup mentransfer bagaimana cara 'merasakan' musik. Ingat! Jangan memainkan musik, musik bukan untuk dimainin, tapi rasakanlah! Alhamdulillah, saya gak bisa berhenti senang krn selama 3 tahun ini adek2 yg sudah belajar bareng sanggup mendapat bonus di malam muwadda'ah, bukan piagam serta trophynya yg dikejar, tapi bakat kalian tidak boleh berhenti sampai disini, teruslah kejar kemampuan kalian! 😉 good luck ~ ma'annajah Proud of you all adek2 yg pernah belajar bareng saya 😊
0 notes
Photo

Rabu kelabu, malam kelam, milkshake dan kopi premium. Perpaduan yang sungguh tragis, seperti halnya percakapan ini. Mereka menjeda waktu dalam senyap setelah tertawa cukup deras karena mengurai hal-hal bodoh pada 40 purnama belakangan. Dua gelas itu diam, malam pun diam, mulut mereka juga diam. Kecuali tangan A, tidak diam ia mengetuk 2x layar hape F. Gambar ini selalu menjadi wallpapernya. A: Tahun ini belum pergi kan? F menggeleng, mulutnya hanya diam. A: Atap pulau Jawa akhir tahun kemarin adalah yg terakhir? F menggeleng lagi. A: Skripsi? F: Itu bukan alasan (sambil merebut hape dari tangan A), aku sadar tak seharusnya lari pada ketinggian. A: (tertawa menyeringai) hhaha, kubilang juga apa, bahkan 13 kali pun tak membuatmu jera. Kamu hanya dapat capek dan dia masih berlarian di otakmu, hhaha. F: Diamlah! Aku suka capek. A: Suka? Dengan 4 bulan vacum? Sepertinya yang sedang kuajak bicara kali ini benar-benar bukan F. F: Aku akan pergi lagi, secepatnya. A: Berapa kalipun, setinggi apapun, kau akan selalu sama, tak hanya gunung, kasihan juga simbal-simbal tak bersalah, kasihan lukisan-lukisanmu, kasihan hidupmu. Kalau masih sama, kasihan kamu. F: Bukan aku yang perlu dikasihani! semua itu tidak da hubungannya dengan vacumku! aku masih suka tidur pada ribuan meter dari permukaan laut! A: hhaha, ampun bos jangan galak begitu, aku jadi takut sama cewek gunung. F: Berhentilah membahas gunung! Aku sedang tidak ingin memikirkannya. A: Emm..?! Jangan-jangan 4 bulan ini? Kamu ada memikirkan yang lain? (at Puncak Ketinggian Ilusi)
0 notes
Photo

The article as a requirement to join DAM (Darul Arqom Madya), an advanced training events of IMM that presented by PC IMM Malang Raya (period last year). I just uploaded this on tumblr. It's so pathetic, I did not write anything seriously a year later 😭 how unproductive I am 😭 even though I am a student in language and literature department.
0 notes
Text
Ruh Ekonomi dalam Spirit Dakwah Al-Ma’un
Ruh Ekonomi dalam Spirit Dakwah Al-Ma’un
Oleh: Fadhilaturrahmi
Dunia adalah dimensi nyata dimana aktifitas biosfer berlangsung. Sepanjang sejarah ilmu pengetahuan, hanya ada satu planet yang hingga kini tetap eksis menjadi hunian bagi segala macam makhluk hidup mulai dari flora, fauna, hingga manusia, yaitu Bumi. Di dalam kitab suci agama Islam, Al-qur’an, juga berkali-kali dikatakan tentang bumi sebagai tempat berpijak umat manusia, tidak disebutkan planet lain yang perlu dijaga oleh khalifah sehingga terwujudnya kehidupan Islam rahmatan lil ‘alamin.
Tugas manusia sebagai khalifah atau penjaga di muka bumi tidaklah terpisah dari berbagai macam aspek kehidupan. Demi keberlangsungan hidup, sejatinya manusia tidak bisa lepas dari kebutuhan duniawi, khususnya kebutuhan primer, yakni sandang, papan, dan pangan. Meskipun dianugerahi kesempurnaan yang luar biasa dibanding makhluk lain, namun manusia sebagai makhluk sosial tetaplah tidak bisa dikatakan sempurna. Manusia bahkan tidak bisa memenuhi tiga kebutuhan primernya tanpa bantuan manusia lain, hal ini berarti ada hubungan timbal balik serta simbiosis yang terjadi sesama manusia. Di samping itu, makhluk hidup lain ataupun materi di alam semesta ini turut memberikan sumbangsih terhadap kehidupa manusia.
Sejak nabi Adam diturunkan ke bumi hingga ia beranak pinak menjadi seperti sekarang ini, spesies dengan nama lain homo sapiens ini begitu bergantung pada komposisi-komposisi alam yang diciptakan dengan tujuan masing-masing. Manusia tercipta dilengkapi akal supaya bisa mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan sebaik mungkin. Proses pengolahan sumber daya alam pun terjadi sejak dahulu dan entah hingga kapan, manusia akan terus menjadi tokoh utama yang mengonsumsi kekayaan alam. Bersanding dengan kebertahanan hidup di setiap zaman, manusia tak terhindar dari berbagai aspek ataupun kekuatan yang mendukung keberlangsungan ekosistem. Ada dua kekuatan besar yang sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan peradaban dunia, yakni Agama dan Ekonomi.
Agama menurut Hendro Puspito adalah sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yang berkaitan dengan keyakinan. Menurut Paul A. Samuelson, ekonomi merupakan cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditi dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Adapun M. Manulang mengatakan ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran, yaitu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya dari segi pemenuhan barang maupun jasa.
Setiap bangsa dari berbagai masa pasti melakukan kegiatan ekonomi, hal tersebut menjadi bukti bahwa ekonomi internasional telah hadir sejak dahulu oleh berbagai kalangan di segala penjuru dunia. Ekonomi internasional adalah ilmu ekonomi yang membahas akibat saling ketergantungan antara negara-negara di dunia, baik dari segi perdagangan internasional maupun pasar kredit internasional.[1]
Agama yang merupakan sistem nilai kehidupan, sudah selayaknya bergerak pada segala aspek kehidupan. Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan popularitas umat yang banyak pantasnya berada garis rahmatan lil ‘alamin itu sendiri, maksudnya ialah menjadi payung kesejahteraan bagi semuanya.
Ekonomi, sebagaimana aspek-aspek kehidupan yang lain, tidaklah luput dari kajian Islam yang bertujuan menuntun agar manusia berada di jalan yang lurus. Oleh karena itu apa yang saat ini dianggap sebaga pemikiran ekonomi, perlulah diamati dengan sikap bertanya kemana dan untuk apa? Karena agama memiliki aturan-aturan tertentu terhadap aspek kehidupan, itulah visi dari rahmatan lil ‘alamin.
Tidak dapat dipungkiri oleh siapapun yang dapat berpikir jernih dan logis, bahwa Islam merupakan suatu sistem hidup, suatu pedoman hidup (way of life). Sebagai suatu pedoman hidup, ajaran Islam terdiri dari aturan-aturan mencakup sisi kehidupan manusia. Secara garis besar, aturan-aturan tersebut dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu aqidah, akhlaq, dan syariah. Dua bagian pertama, aqidah dan akhlaq bersifat konstan, sedangkan syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan kehidupan manusia.[2]
Muamallah termasuk di dalamnya ialah kegiatan ekonomi. Ekonomi Islam merupakan salah satu jawaban dari bagaimana visi Islam direalisasikan, proses realisasi visi Islam adalah mewujudkan ekonomi Islam dalam bentuk realitas. Proses mewujudkan ekonomi Islam menjadi sebuah realitas dapat dilihat dari dua wujud yang saat ini sudah berkembang, yaitu wujud teori ekonomi Islam dan praktik ekonomi Islam.
Perkembangan ekonomi Islam adalah wujud dari upaya menerjemahkan visi Islam rahmatan lil ‘alamin, kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi alam semesta, termasuk manusia di dalamnya. Tidak ada penindasan antara pekerja dan pemilik modal, tidak ada eksploitasi sumber daya alam yang berujung pada kerusakan ekosistem, tidak ada produksi yang hanya berorientasi untung semata, jurang kemiskinan yang tidak terlalu dalam, tidak ada konsumsi yang berlebihan dan mubadzir, tidak ada korupsi dan menyiasati pajak hingga trilyunan rupiah, dan tidak ada tipuan dalam perdagangan dan muamalah lainnya. Dalam kondisi tersebut, manusia menemukan harmoni dalam kehidupan, kebahagiaan di dunia dan insya Allah di kehidupan sesudah kematian nantinya.
Terintegrasikannya Islam dan ekonomi menjadi padanan yang serasi dalam satu wadah ekonomi Islam. Prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam berasal dari ayat Al-Qur’an: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Perkembangan teori ekonomi Islam dimulai dari diturunkannya ayat-ayat tentang ekonomi dalam al-Qur’an, seperti:
1. QS. Al-Baqarah ayat ke 275 dan 279 tetang jual-beli dan riba
2. QS. Al-Baqarah ayat 282 tentang pembukuan transaksi
3. QS. Al-Maidah ayat 1 tentang akad
4. QS. Al-A’raf ayat 31, An-Nisa’ ayat 5 dan 10 tentang pengaturan pencarian, penitipan dan membelanjakan harta.
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam telah menetapkan pokok ekonomi sejak pensyariatan Islam (masa Rasulullah SAW) yang kemudian dilanjutkan secara oleh para penggantinya, Khulafaur Rosyidin. Pada masa ini bentuk permasalaan perokonomian belum begitu variatif, sehingga teori-teori yang muncul juga belum beragam. Praktek perbankan di zaman Rasulullah dan Sahabat telah terjadi karena telah ada lembaga-lembaga yang melaksanakan fungsi-fungsi utama opersional perbankan, seperti menerima simpanan uang, meminjamkan uang atau memberikan pembiayan dalam bentuk mudharabah, musyarakah, muzara’ah dan musaqah, memberikan jasa pengiriman atau transfer uang.[3]
Seiring berputarnya jarum jam, perekonomian Islam di dunia terus menerus bergerak sesuai dengan perkembangan zaman. Langkah Khulafaur Rasyidin berganti ke Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, Turki Usmani, hingga terus bergilir sampai pada estafet ekonomi Islam modern. Walaupun waktu terus bergulir, prinsip Islam mengenai ekonomi tetaplah sama, demi kesejahteraan umat melalui jalan yang halal. Islam memiliki dukungan yang tinggi dalam menyejahterakan umat melalui kebebasan daya kreatif dalam mengelola sumber daya alam.[4]
Prinsip ekonomi Islam merupakan sistem menuju tahap kesejahteraan masyarakat. Salah satu rumusan diungkapkan oleh Ibnu Khaldun di abad ke-14 tentang pembangunan ekonomi sebuah negara menuju kesejahteraan masyarakatnya mencerminkan interdisipliner & dinamis. Untuk mewujudkan kesejahteraan dalam sebuah negara ia menghubungkan semua variabel; Sosial, Ekonomi, dan Politik.
Mulianya cita-cita Islam guna kesejahteraan umat ternyata tak hanya diinginkan oleh kaum muslim saja, bahkan tokoh-tokoh non-islam juga berprinsip sama mengenai arah perekonomian, yakni menuju kesejahteraan. Adam Smith (1776) mempunyai gambaran tentang sebuah tatanan kehidupan masyarakat yang juga mencapai kemakmuran secara ekonomi, seperti tergambar dalam karyanya “The Wealth of Nations”.
Indonesia sebagai negara berkembang juga terkena cipratan ekonomi Islam, pasalnya begitu marak penggunaan istilah syari’ah di beberapa bidang perekonomian yang mengarah pada sistem ekonomi Islam. Konsep masyarakat utama Indonesia sendiri adalah sosial-ekonomi. Dalam tradisi Jawa dikenal “Kerta raharja, gemah ripah loh jinawi”, yang berarti penggambaran suatu masyarakat yang tata tertib dan berkelimpahan sekaligus dalam citra masyarakat agraris. Di dalam UUD 1945 juga dapat dijumpai kalimat “Masyarakat Adil Makmur”.
Muhammadiyah, sebuah organisasi purifikasi Islam di Indonesia, persyarikatan dakwah Islam, gerakan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, dan sebagai gerakan tajdid, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa semua itu berimplikasi terhadap realita sosial. Dengan kata lain, semua itu tidak bisa dipisahkan dari aspek sosial. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah disebutkan bahwa maksud dan tujuan Muhammadiyah adalah “Mewujudkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang di ridhai Allah SWT”. Ini berarti maksud dan tujuan dari persyarikatan Muhammadiyah tak lain dan tak bukan adalah ingin mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Rahmatan lil ‘alamin bukan hanya bagi umat Islam semata, namun juga bagi umat yang lainnya, lintas agama, suku, ras, bangsa, bahkan juga bagi makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan.
Kondisi sosial yang jauh dari taraf kesejahteraan yang dialami oleh rakyat Indonesia pada masa sebelum merdeka menjadi salah satu kegentaran hati seorang KH. Ahmad Dahlan. Melalui persyarikatan Muhammadiyah, beliau mempunyai cita-cita sosial yang ingin diwujudkannya. Terutama pembelaan dan pemberdayaan terhadap kaum mustadh’afin. Dalam melaksanakan cita-cita sosialnya ini, Kyai Dahlan tidak hanya berteori, akan tetapi juga bersedia berkorban untuk mempraktekkan cita-cita sosialnya, yakni tercapainya suatu masyarakat egaliter yang menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang miskin.
Mengingat cita-cita dan peran yang telah dimainkan oleh persyarikatan Muhammadiyah semenjak berdirinya hingga sekarang, maka tak dapat dipungkiri lagi bahwa persyarikatan Muhammadiyah mempunyai peran yang cukup menentukan dalam perjalanan bangsa ini. Amal usaha Muhammadiyah yang telah tersebar di negeri ini adalah buktinya. Puluhan ribu lembaga pendidikan dasar dan menengah, ratusan perguruan tinggi, ratusan rumah sakit dan panti asuhan, dan lain sebagainya. Namun, apa yang telah dicapai oleh persyarikatan Muhammadiyah sampai sekarang ini hendaknya tidak membuat warga Muhammadiyah merasa berbangga hati dan berhenti hanya sampai disitu. Realita sosial yang ada saat ini masih membutuhkan kerja keras, termasuk didalamnya persyarikatan Muhammadiyah. Susahnya lapangan kerja ditambah dengan membengkaknya angka pengangguran, mahalnya harga sembako, konflik sosial yang terjadi di masyarakat, adalah realita yang masih terjadi hingga kini.
Untuk mengatasi ketimpangan sosial khususnya pada aspek ekonomi saat ini, maka Muhammadiyah sebagai persyarikatan perlu untuk menghidupkan lagi spirit Al-Ma’un, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kyai Dahlan di awal-awal pendirian Muhammadiyah.
Ada beberapa pesan yang dapat di tangkap dari surat al-Ma’un, antara lain;
1. Barangsiapa yang menelantarkan kaum dhu’afa (mustadh’afiin) termasuk ke dalam orang yang mendustakan agama.
2. Ibadah shalat memiliki dimensi sosial, dalam arti tidak ada faedah shalat seseorang jika tidak dikerjakan dimensi sosialnya.
3. Beramal shaleh tak sepantasnya dibumbui perasaan riya’ atau sombong.
4. Orang yang tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain, bersikap egois dan egosentris termasuk kedalam orang yang mendustakan agama.
Suksesi Muhammadiyah sebagai organisasi Islam sosial sudah hadir sejak awal-awal berdirinya di tahun 1912. Kyai Dahlan juga pantas disebut pahlawan nasional atas jasa-jasanya yang turut serta membela tanah air di masa sebelum merdeka. Perjuangan beliau tidak sekedar berperang melawan penjajah dengan bambu runcing, melainkan mendobrak kebebasan bagi pendidikan di kalangan rakyat kecil. Kiprah Muhammadiyah terus berlanjut di tengah-tengah keterpurukan, kemiskinan, serta kebodohan masa penjajahan. Tahun 1932 Muhammadiyah mulai membangun rumah sakit. Tahun 1936 disusul berdirinya perguruan tinggi Muhammadiyah pertama. Dan secara bertahap Muhammadiyah semakin menjamur seantero nusantara dengan membludaknya jumlah gerakan sosial serta lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah. Muhammadiyah juga memiliki lembaga amil zakat, yang dinamai Lazismu.[5]
Perjuangan Muhammadiyah terhadap perkembangan ekonomi sosial di Indonesia sudah begitu jelas dampak positifnya, hal tersebut merupakan implementasi dari surat Al-Ma’un yang dijadikan patokan dalam spirit berdakwah ala KH. Ahmad Dahlan. Terkandung pada surat Al-Ma’un cita-cita sosial Muhammadiyah, yaitu ukhuwah (persaudaraan), hurriyah (kemerdekaan), musawah (persamaan), dan ‘adaalah (keadilan). Spirit inilah yang ditangkap oleh Kyai Dahlan dan diimplementasikannya dalam kehidupan sosial melalui persyarikatan Muhammadiyah. Nilai-nilai ini sejalan dengan misi Islam di muka bumi ini sebagai agama yang rahmatan lil’alamiin.
[1] Dominick Salvatore, Ekonomi Internasional, Edisi Ketiga: Seri Buku Sekaum, (Jakarta: Erlangga, 1994), hal.1.
[2] Eko Suprayitno, Ekonomi Islam, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005), hal.1
[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Beberapa Aspeknya, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1985), hal. 101.
[4] Apriadar, Ekonomi Internasional, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hal. 65.
[5] Tri Kompetensi Dasar, hal 142-143.
0 notes
Photo

Last year Jiwa raga ditempa selama 4 hari dengan porsi tidur kurang dari tiga jam per hari. Telinga disodori pelbagai istilah anyar yang terasa begitu menggelitik. Mata dan mulut disuapin sajian politik ekonomi sejak zaman muasal komunal primitif hingga masa prediktif mbak Anggun jadi duta shampo lain, entah kapan? Semuanya dikupas tuntas dikunyah renyah oleh sekitar 70-an orang ngeri-ngeri yang pernah saya temui, seluruhnya berghibah politik ekonomi bak makanan sehari-hari, saya terkecuali. Alhamdulillah, jiwa bidang medkom masih bersemayam tentram diantara anatomi yang sempat tersumbat perputaran komoditi serta nilai kurs dolar, saya masih sempat jeprat-jepret lukisan Tuhan yang Maha keren. Terimakasih PC IMM Malang Raya, tempat DAM tahun lalu sungguh mantapbh djiwaa! ♥ (at Villa Panderman Hill,Batu Malang)
0 notes
Photo

Last year Darul Arqom Madya Nasional 2016 di Malang, POLITIK EKONOMI, by: PC IMM Malang Raya IMM Jaya! Anggun dalam moralitas, unggul dalam intelektualitas Abadi perjuangan! (at Villa Panderman Batu)
0 notes
Text
:')
You were my first love and essentially my everything. I would have gone to the ends of the earth for you. I was putty in your hands because I was so vulnerably in love with you. Loving you made me crazy. Not in a bad way; in a beautiful, earth-shattering way. It made me experience feelings that I didn’t even know were possible. I never knew I could feel so deeply for another person until you came into my life. And then you broke my heart. You crushed it and left me with scars that will never fully go away. In the beginning, I didn’t think I would be able to make it through the heartbreak. It was the worst pain I’d ever felt. It was like you had driven me out into a desert, told me I was worthless and then drove away, leaving me there to starve and die on my own. I was absolutely terrified. Everything that I knew about my future and myself was shattered. I barely knew who I was anymore. I couldn’t even properly function, reducing myself to a hysterical mess on my couch for three days straight. Everyone kept saying to me “time heals all wounds.” At first I just couldn’t bring myself to believe them. But after a while, I started to feel like they might be right. I observed many of my friends who had been abruptly been broken up with just like me and they were all doing fine now. I began to feel to feel a sense of hope that I might be doing fine one day as well. And now I am. It’s still a work in progress and I still feel pain sometimes, but I see the light at the end of this very dark tunnel. So I just want to thank you for breaking my heart. If you hadn’t, I wouldn’t know what it’s like to hit rock bottom and then pick myself up from there. If I didn’t know how it feels to reach my lowest point, I wouldn’t fully understand how strong I am and how much resilience I possess. Thank you for breaking off our relationship because now I know that I am worth so much more than what you were willing to give me. Know I can see what I want in a man and what I don’t want. I will look for someone who truly comprehends how special I am and someone who values me way more than you ever did. Thank you for crushing me. Now I realize that I had lost myself in you. Now I can focus on getting myself back to the incredible and single person I was before I was even been in a relationship. Thank you for making me see the beauty in this breakdown. There was magnificence and poetry in the pain I experienced. Thank you for helping me explore my artistic outlets. It has given me so much inspiration to pursue my love of the arts. At the same time, thank you for being my first love. If you had never loved me, I wouldn’t know how beautiful life is. You added so many colors to my world. For the first time in my life, I understood every love song, every smile and every blue sky. Love makes life worth living and without you I would have never known how true that is. This entire heartbreak wouldn’t have hurt so badly if we didn’t love each other so passionately. We didn’t end on bad terms and maybe someday we’ll reunite but for now, I just want to thank you for helping me see the splendor in this cruel world. So thank you for giving me this remarkable experience of loving and losing. I’ve never felt more emotions in my entire life. I’ve also never felt more accomplished. I think a part of me will always love you. But I know that every part of me will forever feel grateful that you loved me, broke my heart and showed me what I’m really made of.
1 note
·
View note
Photo

Aku masih duduk di salah satu sudut rumah makan yang berasal dari Barat ini. Tidak bisa pulang sejak tadi sore, hujan mengguyur kota yang telah aku singgahi selama tujuh tahun belakangan. Deras, sangat deras. Memori ingatanku refleks tertuju pada beberapa slide tentang hujan. Aku masih disini, diantara sisa-sisa junk food dan jutaan bahkan lebih rintik hujan. Aku bukan type hedonis, tapi ketahuilah bahwa kaum proletar bisa mendapatkan rezekinya karena ada pihak kapitalis, dan tentunya makhluk sejenis saya yang sekedar ingin mampir menukar uang dengan komoditas milik pemodal asing, apabila benar-benar kepepet atau sedang kebelet pengen komoditasnya. Jadi, di senja menuju malam ini, aku hanya melihat tetesan basah yang tak kunjung reda, ditambah lalu lalang kendaraan berbagai jenis. Tak melakukan apa-apa, tak melakukan apa-apa. Hanya diam, mengamati. Terlintas berbagai macam uneg-uneg, dan semuanya terasa hampa. Perbincangan di sudut lantai dua bangunan ini juga mengalir begitu saja, membicarakan kuliah, teman-teman kami, makanan tradisional vs junk food, dan hal-hal sepele lainnya. Tak ada yang menarik, tak ada yang spesial. Hening, setelah berbincang ini itu, sesekali waktu, kami-layaknya manusia era ini, yang berkebutuhan gadget dan dunia maya-mengecek handphone masing-masing. Bosan, sosial media, hanya itu-itu saja. Bosan. Jemariku tak menentu hingga akhirnya tak sengaja memencet aplikasi ini, tumblr. Sudah lama aku tak menggunakannya, tiga tahun belakangan ini hanya kugunakan untuk merepost foto-foto dari instagram. Selebihnya, aku hanya menuliskan tak lebih dari sebuah kalimat. Sungguh aku telah menyianyiakan ladang yang dulunya kutanam setiap tulisanku ini. Tiga tahun belakangan ini, isi tumblrku tidak lebih dari curhatan tidak penting, benar-benar tidak penting! Aku berteriak menanyakan dalam hati sendiri, kemana aku yang gemar menulis dulu? Kemana aku yang suka berkritik sosial atau sekedar menyastrakan pengalaman dahulu? Kemana? Semoga segelintir tulisan tak menentu ini menjadi pacuan semangat agar aku kembali melakukan hal-hal yang berguna. Menulis yang bermanfaat dan membagikan yang berfaedah.
0 notes
Photo

🍃 . Tears of blood fall from my broken heart I never thought we would be apart When you held me you said "forever" Now that you're gone I know you meant "never" Saying you love me with that look in your eye And that was a cold hearted lie As I sit here thinking about you My face is wet with tears past due I should have cried a long time ago But I loved you so I know they say love is blind But I had only you on my mind A hurt so deep it cuts like a knife But wounds heal and I'll go on with my life I never knew I could feel so deeply for another person until you came into my life, baby But, help me to forget you, ..... (at Tebing Breksi Yogyakarta)
0 notes
Photo

Cukuplah bernasib sebagai pubdekdok abadi (especially tukang poto kepanitiaan) sejak jaman OSIS sampe jadi anak BEM, Jangan jadikan DIRIJEN ABADI, JANGAN! Bisa-bisanya sebulan 4x dari acara se-kota sampai acara nasional. Sungguh masih banyak yg lebih pantas dari sekedar 'saya' yang baru first time seumur hidup jadi dirijen pas umur 19th (TMO Reformer: 2015) ampun! Saya newbie.
0 notes