maisharu
maisharu
Perjalanan Menemukan Diri Sendiri
133 posts
Sha, bagaimana kabar hati?
Don't wanna be here? Send us removal request.
maisharu · 4 years ago
Text
tempat duduk
deru motor selalu mengiringi otakku melontarkan satu pertanyaan tidak penting, namun berulang:
“di tempat duduk sebelah mana, di tiap tempat makan yang aku arungi baik langsung maupun baru sekelebat lewat, yang akan menjadi saksi sebuah obrolan pemantik hal besar di masa depan?”
mungkin di kota ini, mungkin juga bukan. bahkan, bisa jadi bukan di tempat makan seperti yang aku duga.
tak mengapa, tanpa misteri, hidup tak akan menyenangkan bukan?
bandung, 28 september 2021
3 notes · View notes
maisharu · 4 years ago
Text
Tokoh Utama
secara natural, aku menganggap diriku adalah tokoh utama sebuah cerita. di balik keramaian, ada sepasang mata mengamatiku. berusaha memata-matai segala kegiatanku, tak pernah berkeinginan untuk mengetuk langsung.
anggapan itu terhenti, tepat ketika menyadari setiap manusia adalah tokoh utama di dunianya masing-masing. maka diriku, hanyalah pemain sampingan di dunia orang lain.
bayang-bayang itu, sedang terjeda. menanti apakah ada kelanjutan menghampiri di waktu yang tiba, atau tercukupi di sini saja.
sebab tirai telah tertutup untuk masa lalu, tak lagi kesempatan mencetus kali yang kedua. opsi satu-satunya hanyalah masa depan. yang terbagi pula menjadi dua. melanjutkan kisah terjeda yang berupa angan tanpa sosok, atau bahkan murni nama baru.
selama takdir belum berkata, maka tetaplah hidup menjadi tokoh utama. menjalani guliran, menuruti ke mana dan bagaimana hati berpuas. tak perlu risau dengan tiadanya tokoh yang belum dituliskan ada, atau mungkin sedang berperan fokus sebagai tokoh utama, di dunianya.
bandung, 26 september 2021
0 notes
maisharu · 4 years ago
Text
Update 2021
Di tulisan tersebut aku menyebut diriku adalah bulan yang dapat tersenyum jika matahariku tersenyum. Selang berapa waktu, ternyata sejatinya aku matahari yang merindukan senyum bulan. Aku menantikan bulan-ku, yang teduh dan tenang menghadapi energiku yang terkadang terlalu besar. Aku, sunshiny person, menunggu bulan-ku, (yang kemungkinan) shy person. Aku, matahari dominan, menanti bulan-ku yang meredam ledakan dan meluruskanku ke arah yang benar. 
Ternyata ini jawaban mengapa aku selalu tenang melihat bulan, karena bagiku matahari terlalu terang sinarnya. Aku ternyata menyukai sesuatu yang kebalikan atas diriku, dan turns out yang kebalikan itu adalah yang ku butuhkan.
Hingga bertahun-tahun bulan-ku masih malu-malu. Bersembunyi entah di balik apa dan melakukan apa, di saat sinar matahariku mulai meredup agar tak membutakan pandanganku dan menyingkap keberadaan bulan yang ku nantikan.
Dear bulan-ku, kapan semburatmu mulai menyentuh hari-hari panjangku?
Bandung, 29 Maret 2021
Cahaya bulan sejatinya adalah cahaya matahari. Maka wajar bila seorang bulan bisa tersenyum jika mataharinya tersenyum. Dan aku adalah bulan, yang masih redup, sebab belum bertemu pagi bernama matahari. Mungkin malamku masih panjang, belum waktunya pagi...
Jombang, 1 September 2020
___
*terinspirasi dari kalimat "cahaya bulan juga merupakan cahaya matahari" di manga "kimi no okasan o boku ni kudasai" yang tidak sengaja terbaca tanpa minat. Terus manganya ga diterusin karena ide ceritanya kurang greget hehe
2 notes · View notes
maisharu · 5 years ago
Text
Cahaya bulan sejatinya adalah cahaya matahari. Maka wajar bila seorang bulan bisa tersenyum jika mataharinya tersenyum. Dan aku adalah bulan, yang masih redup, sebab belum bertemu pagi bernama matahari. Mungkin malamku masih panjang, belum waktunya pagi...
Jombang, 1 September 2020
___
*terinspirasi dari kalimat "cahaya bulan juga merupakan cahaya matahari" di manga "kimi no okasan o boku ni kudasai" yang tidak sengaja terbaca tanpa minat. Terus manganya ga diterusin karena ide ceritanya kurang greget hehe
2 notes · View notes
maisharu · 5 years ago
Text
Visualisasi Khayalan
kadang aku merasa diriku terlalu lucu, mengarang skenario unik tuk mengkhayalkan bagaimana aku bertemu dengan “seseorang”ku.
dimulai dari zaman SD, aku selalu suka tokoh atau karakter berkacamata, kurus, tinggi, pendiam, kalem, bahkan cenderung nerd atau culun. baik laki-laki maupun perempuan. entah mengapa, kacamata nampak begitu atraktif bagiku. culun juga sebuah interest sendiri, sungguh jauh dari populer yang digadang-gadang gadis-gadis kecil hingga remaja. mungkin bukan culun lebih tepatnya, tapi cerdas. aku suka laki-laki cerdas dan berwawasan luas yang tetap mau belajar dan mendengarkan orang. culun hanya penampilannya.
maka, yang selalu terngiang di kepalaku adalah bagaimana aku bertemu that someone di perpustakaan, atau di toko buku. aku memang bukan kutu buku, bahkan sedang struggling tuk kembali betah berlama-lama membaca buku, tapi aku suka toko buku dan perpustakaan. agak aneh memang, bagaimana caraku bertemu seseorang di toko buku atau perpustakaan di saat aku sendiri sangat jarang bertamu ke sana?
hahahaha berenang bersama imajinasi memang menyenangkan. tampak nyata, padahal samar. dan belum tentu juga benar-benar terjadi.
namun, seiring bergulirnya usia, aku semakin paham bahwa visual bukan yang utama tuk dikejar (meskipun visual versiku sendiri sungguh jauh dari visual orang-orang yang senang dengan kegantengan kekerenan kemachoan dsb. tetap saja, kacamata dan kalem adalah visual). khayalan tuk bertemu ��pangeran” di tempat buku juga mungkin tidak terjadi, sesederhana apapun kemungkinan kejadian itu. tak usahlah aku bahas apa yang dipentingkan di luar visual, sebab setiap orang pasti paham apa-apa saja yang dibutuhkan dan diinginkan dari seorang sosok di masa depan (atau masa kini kalau sudah dekat waktunya bahkan sudah menjalin hubungan).
memvisualisasi khayalan memang indah, maka tak bisa ku bayangkan bagaimana skenario hidupku sesungguhnya nanti dalam novel kehidupanku yang diciptakan oleh Allah. apakah benar sederhana seperti di tempat buku atau tempat lainnya, atau justru kompleks yang aku juga tak tahu bagaimana? kirei. pastinya indah. deep. bermakna. seperti jargon salah satu anime yang visualnya menarik menurutku: as the moon, so beautiful. tsuki ga kirei. indah bagai rembulan. tak perlu alasan tuk menyukai, semua klik begitu saja, jauh dari ketenaran. sungguh berbeda dengan anime kebanyakan dengan salah satu tokoh populer atau menyukai karena si pihak lain menyelamatkan atau bagaimana, yang jelas punya alasan kejadian.
maka bagaimana dengan kisahku? biarkan menjadi rahasia mirai (masa depan). manusia saja bisa melukiskan naskah begitu indah, tentu Pencipta manusia jauh lebih kuasa dari manusia bukan? yang butuh dilakukan hanyalah percaya...
jombang, 30 agustus 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Alhamdulillah aku baik2 saja. Tak lagi nyesek. Sudah tak kenapa2.
Barangkali memang perasaan terhadap si mas memang ilang timbul seperti sinyal di pedalaman. Ku harap sinyalnya hilang sepenuhnya agar aku tak repot.
Barusan scroll google photo. Ketemu ss dm ku dengan kawan ku pas maba. Dia curhat nada marah jengkel krn belum jg ketemu pasangannya. Padahal siap nikah mah udah. Dia bilang, "gue pengen punya orang yg ngelengkapin tulang rusuk gue yg hilang".
Terus aku mikir. Emang pada dasarnya manusia merasa butuh saling melengkapi. Bukan cuman pengen dilengkapi, tapi juga melengkapi. Makanya dibilang "saling". Terus kalo konteksnya tulang rusuk, berarti ga cuman laki2 sebagai rangka yg butuh dilengkapi tulang rusuk, perempuan jg butuh rangka biar bisa berdiri tegak sebagai tulang rusuk.
Terus aku mikir lagi, mungkin kita2 para jomblo belum dipertemukan (atau mungkin udah ketemu tapi belum waktunya disatukan) karena:
- sebagai laki2, belum kuat sebagai rangka untuk jd pondasi dan ngasih ruang buat tulang rusuk
- sebagai perempuan, belum kuat sebagai tulang rusuk untuk melengkapi rangka
Gimana mau ketemu rangka atau tulang rusuk kalo diri sendiri belum kuat? Apanya yg mau saling melengkapi? Padahal hakikatnya keduanya saling membutuhkan.
Nginep di malang dan momong bayi membuatku berpikir ulang tentang kesiapanku mengubah status. Aku mengamati kegiatan mbak dan masku yg keluarga baru dan punya bayi, serta bude dan pakpuh yg puluhan tahun berumah tangga. Jd tau gimana rutinitas keluarga baru dan ibu rumah tangga.
Ponakanku yg bayi bener2 sebuah trial untukku. Aku ga pernah berani gendong bayi, boro2 nina boboin. Tapi kekuatan dan keberanian itu tumbuh begitu saja. Ternyata, refleks sikap keibuan itu benar2 muncul pada waktu dibutuhkan. Aku yg kagok ketemu anak2 (bahkan bisa dibilang benci anak2) tiba2 bisa punya lagu sendiri pas momong ponakan. Tiba2 jd kuat gendong dan bikin dia bobok di gendonganku. Tiba2 bisa paham kapan dia ngantuk, laper, pup, pengen mandi, ga mau makan, pengen nenen, dsb. Tiba2 bisa ngajak dia ngobrol tanpa mikir. Yess biasanya aku mikir, anak usia segini obrolannya apa ya? Yg udah sesuai umur tuh ngomongin apa ya? Kebanyakan mikir malah bikin ngobrol sama anak2 jd ga natural dan ga ngalir. Dan reaksi mereka males sama aku yg jd ninggalin kesan ga bisa handle mereka minimal ngajak ngobrol dan main. Jadilah bertahun2 aku selalu menolak berurusan dgn anak2 bahkan bete. Beberapa tahun lalu aku ikut pesantren anak dan sengaja milih yg usia TK biar ngerasain ngurus bocah. Dan masih kagok ga tau harus apa.
Memang yaa, ga semuanya cukup dengan baca teori. Kadang aku merasa aku manusia teori. Baca doang tau doang tapi pas praktik atau ketemu insiden sehari2 kagok kebingungan. Yhaa meski di sisi lain atau kondisi lain, aku ga suka teori krn lebih suka langsung spontan di lapangan. Emang sih manusia ga saklek bersifat dan bersikap konsisten di semua keadaan, perlu adjust dan adaptasi dalam masing2 kondisi.
Ku bersyukur melepas perasaan dan harapanku ke si mas (bahkan aku ga mau nyebut namanya drpd aku kenapa2) malah justru membuat diriku rileks menjalani hidup, khususnya berkaitan persiapan menjadi istri dan ibu. Aku momong ponakan ya karena memang pengen ngeramut dia, pengen dia nyaman dan seneng, itu aja. Mungkin ada sedikit keinginan dan niat menjadikan pengalaman itu sbg bekal persiapanku berumah tangga, tapi bener2 sedikit, bahkan lebih sering ga kepikiran soal itu. Murni pengen momong dan main sama ponakan aja. Ga kebayang sih kalo masih ngejar si mas atau siapa kek, yakin deh malah maksain diri harus perfect harus bisa harus ini itu soal momong bayi. Yg mana, hasilnya pasti direspon buruk sama bayi karena konon bayi tau mana yg tulus dan tidak.
Ngejar seseorang baru ku sadari justru menyiksaku karena semua proses jadinya ga natural. Terlalu memaksakan diri untuk bisa. Fokus ke hasil. Padahal hasilnya lebih bagus dengan menikmati proses. Yaa seperti momong ponakan tadi.
Contoh lainnya ya kuliah. Kayaknya semester kemarin aku terlalu ngoyoh buat jadi top score agar layak disandingkan dengan si mas yg cemerlang. Padahal di sisi lain, udah lama aku ga menjadi orang yg ngejar nilai karena lebih seneng mahamin ilmu. Ditambah lagi pada dasarnya aku ga linier, ga punya dasar jd harus nambah pemahaman. Belum lagi bingung galau lulus mau jadi apa karena ternyata matkulnya bukan yg aku suka atau aku cari. Terus aku juga masih males belajar karena drowning banget mentalku abis akumulasi kehidupan dan masalah di depok. Sungguh konflik batin. Pas tau IP sempet di bawah 3 stres ga karu2an sampe pusing dan sakit. Pundung jg dgn ga mau ngapa2in.
Eh pas remed, pas banget udah ngelepasin perasaan. Ternyata enjoy banget aku belajarnya. Padahal itu matkul yg entahlah gimana aku deskripsiinnya, intinya aku kesulitan. Pas hasil keluar, keluar IPK final, 3 tipis. Alhamdulillah. Amazing, aku ga stres. Biasa aja dapet segitu. Bersyukur2 aja. Seneng2 aja. Alhamdulillah aku kembali ke diriku yg agak bodo amat sama nilai. Yg penting ilmunya dan pengalamannya.
Jadi yaa, walaupun awalnya jadi keinget si mas karena melihat dan merasakan kehidupan awal rumah tangga, dan kembali berharap disatukan sama dia suatu hari, cukup sampai situ saja. Harapanku dihentikan di sini. Yg penting sekarang aku nikmati prosesnya, aku enjoy aja jalanin hidup. Terserah nanti sama siapa nikahnya, bodo amat dia gimana persiapannya, aku seneng dengan prosesku sendiri. Dan aku yakin seseorang itu bakal bangga sama aku kalo kami udah nikah dan tau gimana aku. Agak pede, tapi yaudahlah. Toh bertahun2 aku selalu minder ngerasa ga bisa dan ga punya apa2. Sekarang waktunya aku menghargai diriku sendiri. Aku bangga dan bahagia dengan proses pendewasaan pikiran dan jiwaku. Terserahlah aku ga secemerlang orang lain atau diriku yg dulu2. I am enough.
Malang, 19 agustus 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Dinding
Kala itu, ku pikir dengan berjuang keras semua menjadi mudah. Tapi aku salah. Usahaku benar-benar terhalang dinding pembatas yg sangat jelas dan keras. Dinding aturan agama, dilengkapi aturan norma dan titah ibunda. Aku tidak bisa menggores sedikitpun dinding itu, meski hanya sebuah klik follow di instagram atau salam di chat wa. Sehingga, aku diam saja, menanti di balik dinding sebelah sini sambil berjuang keras menurut versiku.
Aku pernah merasa bahwa tuk menjadi seseorang yg dia perhitungkan, aku harus setara dengannya. Aku berjuang keras tuk dapat IP setinggi-tingginya. Namun, kenyataan memang tak seindah khayalan. Justru aku dihempas dengan IP terburuk sepanjang riwayatku berpendidikan tinggi.
Aku terlalu memfokuskan hidupku tuk mengejar orang lain. Lupa akan esensi menikmati proses dan menyelami diri sendiri. Dan kemudian terbentuklah mental block. Tanpa ku sadari, justru itulah yang menghambat otakku berpikir mengolah ilmu. Dan di saat mental block itu hancur, segala titik terang ilmu tiba-tiba bersinar sangat terang lalu membuatku merutuk diri sendiri yg memahami hal sederhana saja tak mampu.
Ternyata memang kerja kerasku tak bisa menembus dinding itu. Ujung-ujungnya kembali ke sisiku, kehidupanku. Aku telah menyia-nyiakan usahaku.
Pada akhirnya, kami memang tak setara. Sekeras apapun aku berusaha, aku tak sama dengannya. Aku sedang tidak membahas kesamaan diriku dengannya, yg ku bahas adalah levelnya, dunianya.
Dinding agama yang membatasi laki-laki dan perempuan seharusnya bisa menyadarkanku tuk menghentikan kepayahanku berjuang keras. Karena dinding itu baru bisa hancur ketika pihak di seberang dinding membangun janji dengan Allah tuk menjadi pakaian bagi pihak sebelah sini. Selama dinding masih ada, dinding tetaplah dinding. Tidak boleh digempur karena fungsinya memang membatasi.
Ya, aku telah salah berusaha naik ke dinding dengan membumbungkan doa agar dinding ini dihancurkan orang yg ku pilih. Usaha keras itu sudah beberapa bulan tak menemui hasil. Sebab kemudahan adalah pertanda hal baik, maka jika tidak ada kemudahan kemungkinan memang bukan hal baik. Jadi, sudah cukup usaha kerasku.
Memang, aku kecewa karena sejak bocah selalu bertepuk sebelah tangan. Boro-boro dikejar, punya ketertarikan padaku saja nampaknya tidak. Jadi rasanya aku seperti punya dendam untuk menjadi wanita yg dikejar dan diperjuangkan dengan usaha keras. Dan kisah yg banyak terjejer di tumblr ini biarlah menjadi patah hati yg terakhir.
Entahlah. Mungkin memang aku diminta melakukan banyak hal menyenangkan sebelum benar-benar diminta orang. Maka, aku memutuskan untuk bahagia.
Malang, 21 agustus 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Tumblr media
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Aku sedang belajar pada Sasha kelas 6 SD
Dimulai dari didikan sejak kecilku yg dari play group sekolah islam kecuali smp dan awal sma plus didikan ortu di rumah. Sejak sd, aku terbiasa minta apa2 sama Allah. Aku bukan anak pintar, bahkan dibanding teman-teman aku merasa tingkat malesku cukup parah. Meski umiku dan sebagian teman-teman lain bilang aku tekun sejak dulu. Terlepas dari itu, aku ngerasa aku beruntung. Sejak sd, sesimpel try out dan UN aja aku doa
"Ya Allah, besok aku try out. Mudahkan, lancarkan, berikan petunjuk buat milih jawaban yg benar. Kalo aku milih yg salah tolong pindahin jawabanku ke yg bener ya Allah. Semoga pensilku ga patah di tengah2, semoga penghapusku ga item2 kalo ngapus, kertasku ga robek kalo ngapus jawaban. Semoga ngurek2ku hitam, ga keluar2 garis, dan terbaca mesin ya Allah. Ya Allah semoga aku teliti jadi kalo salah ngitung benerin ya Allah. Ya Allah kalo lupa semoga aku ngawurnya bener. Ya Allah hasilnya terserah Allah mau dikasih berapa yg penting terbaik menurut-Mu ya Allah"
Sungguh pas sd itu doaku bukan soal hasil, tapi proses. Sesimpel pensil aja aku doa :") harusnya urusan besar pun aku minta sama Allah. Ada hadits yg bilang intinya "sandal putus aja mintalah sama Allah", mungkin itu yg jadi landasanku kenapa doaku gitu :")
Terus aku inget2 lagi, di rumah krn rumahku deket masjid, keluargaku wajib sholat maghrib isya di masjid. Jadi aku pas sd 4 waktu sholat selalu jamaah krn 2 waktunya jamaah di sekolah. Krn jamaah, otomatis tepat waktu. Pas smp agak skip dzuhur ashar jamaah, tapi maghrib isya tetep di masjid. Mungkin kalian jg tau kalo perempuan ga wajib di masjid, tapi aku rasa didikan yg begitu efektif buat bikin aku sholat awal waktu, itung2 pahalanya gede juga kan kalo sholat awal waktu, bisa terhitung amal istiqomah jg krn Allah suka amal rutin meskipun kecil
Pas di pondok, aku berontak krn ga mau pindah sekolah. Aku ga mau jamaah, telat dateng diniyah (kelas agama), ga mau hafalan dsb. Baru lama2 aku capek bandel dan malah jamaah selalu shof pertama, maks shof ketiga krn capek nakal. Waktu itu aku ga doa apa2, tapi emg refleks aja cari shof depan. Meskipun ya sering bandel masbuk (jamaah terlambat) wkwk tapi setidaknya sholat rutin tuh penjagaanku meskipun mungkin sering males dalam hati. Bayangin aja, males aja tetep Allah kasih rahmat keberuntungan; gimana sholatnya niat :") sungguh rahmat Allah melebihi permohonan hamba-Nya :")
Dear Sasha umur 24, kamu perlu belajar pada dirimu di setengah umurmu sekarang. Dirimu yang menggantungkan apapun pada Allah, seneng sholat, tidak pernah berekspektasi tentang hasil, dan menggaungkan usaha sampai tekun dan dibilang "apa ga capek belajar terus" sama abi. Ga usah mikir kata orang "Tuhan kok didikte dalam doa, Tuhan loh tau gimana cara yang terbaik" karena nyatanya sejak SD yg works di kamu adalah mendoakan proses yang kamu jalani. Karena fokus pada proses, kamu jadi mengesampingkan permohonan hasil. Akhirnya, ketika kamu dikasih lebih dari yang kamu doakan atau harapkan, kamu bersyukur dan sangat senang berlipat-lipat. Kamu juga ga kecewa karena memang tidak punya ekspektasi. Maka, sesimpel pensil dan ngawur jawaban biar benar kalo lupa saja kamu minta sama Allah, masa hal-hal krusial kamu ga sekeras itu dalam berdoa dan berusaha? Apa kamu ga malu dengan dirimu di usia 12 yang ikhtiar dan tawakkalnya melebihi dirimu di umur 24? Ayok sha, belajar dari diri sendiri belasan tahun lalu...
Jombang, 26 April 2020
2 notes · View notes
maisharu · 5 years ago
Text
Letter from The Past
Tumblr media
This is my first letter toward my future husband that I wrote spontaneously. I had no idea about who is him at all, even until now. But that time, I felt like that his presence will come to me soon. Still amaze how my brain describe what I’ve been dreaming for years about the figure of my own dream husband. Turn out, I know what I immensely want (and of course need) about my future prince: pure deen (sholih, agama); peaceful heart (akhlak, agama); genius (cerdas, duniawi). I am still amazed how I do not realize my own perception that actually already built up for year(s). I also mesmerized how I already discover my own vision that needs to be accompanied by that kind of person. Where did I go these months....?
Although I am still curious who is the real personification of my vision husband, I believe that my first letter will come to the answer.
Dear my future husband, where are you?
Jombang, 21 April 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Hasil Tidak Khianati Usaha
ada sesuatu bernama “takdir” yang mengalahkan statement “hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha”
mungkin selama ini aku kzl dgn statement “hasil tidak khianati usaha” karena aku mengesampingkan elemen takdir. atas segala usahaku, seharusnya aku mendapatkan apa yang aku usahakan, namun seringkali hasilnya berbeda. hingga berujung trauma untuk bermimpi, bahkan minimal berusaha
maka, di dalam tulisan ini aku ingin menyampaikan beberapa hal sebagai catatan perenungan diri sendiri:
1. sesuatu yang “terbaik” belum tentu berbentuk “lebih baik” atau “better” dalam hal kualitas menurut pandangan manusia atau gampangnya menurut apa yang terlihat mata manusia
kita sering mendengar pernyataan “sesuatu yang diambil akan digantikan dengan yang lebih baik” serta “kita akan diberi hasil yang terbaik menurut Allah”. keduanya tidak salah, mari kita coba melihatnya lebih luas karena faktanya, diriku sendiri sering marah “apaan sih? apanya yang lebih baik? emang ada yang lebih baik” dsb
contoh gampang yang pernah ku rasakan adalah soal handphone. dulu aku pake Asus Zenfone 4C yang merupakan produk nanggung karena di tengah-tengah Zenfone 4 dan Zenfone 5. cepet panas, lemot, dsb. karena tidak tahan, aku ganti Xiaomi Redmi Note 3 dengan RAM 3 ROM 32 yang waktu itu harganya 2,6 juta. baru beberapa bulan, qodarullah kehujanan padahal aku sudah pakai jas hujan. hpku mati dan tidak bisa selamat setelah diservis. akhirnya terpaksa ganti Xiaomi Redmi 4X harga 1,6 juta yang ku anggap downgrade karena bukan seri note namun tetap 3/32 karena memang butuh untuk kuliah. sebelum ganti hp, aku pinjam hp temanku dan didoakan orang-orang “semoga diganti yang lebih baik”. aku marah. apanya yg lebih baik orang downgrade gini? tapi qodarullah, hingga kini 3 tahun hp itu awet dan masih digunakan umiku. aku sekarang ganti Samsung Galaxy A50s yang jauuuhh lebih baik dibanding apapun hpku sebelumnya. bisa disimpulkan, Redmi 4X meskipun hp kentang ini sangat berguna dalam hidupku bahkan ku bawa ke luar negeri pertama kali dan langsung 2x, nemeni skripsi, ngejar S2 dll. maka itulah definisi “lebih baik” dibanding Redmi Note 3 sebelumnya yang secara spek lebih bagus tapi tidak lebih baik. dan alhamdulillah, setelah bersabar, Allah kasih hadiah Galaxy A50s setelah seumur hidup pake hp kentang dan tentu insyaallah lebih baik dibanding sebelum-sebelumnya
2. ada orang yang ditakdirkan untuk berkulit gelap, mudah berjerawat, mudah gemuk dsb. okay, bisa diusahakan memang. tapi for some cases, gangguan hormonal pada perempuan bisa mendatangkan jerawat antah berantah meskipun sudah berusaha dirawat sedemikian rupa. bisa jadi memang metode merawatnya kurang tepat, tapi sindrom hormonal itu bukan dia yang memilih kan?
3. sekali lagi soal pasangan. ada kawanku yang kini sudah menikah dengan seseorang yang sudah hijrah dan belum banyak hafalan qur’an-nya. dia sebagai anak perempuan ustadz yang mengasuh pesantren tentu wajar dari dulu berharap mendapat jodoh yang hafal 30 juz. ternyata, setelah berkenalan dengan seorang hafidz 30 juz, laki-laki ini sangat posesif dan cenderung abusive. tentu kita tidak boleh menghakimi hafalannya karena al-qur’an tidak salah, mungkin hanya oknum ini yang kebetulan demikian adanya. setelah menikah dgn suaminya, kawanku berkata, “ternyata keraguanku ‘memangnya ada yang lebih baik dari hafal 30 juz karena memang mentok batasnya segitu?‘ dibalas Allah dengan orang yg biasa-biasa saja hafalannya, namun pengamalan islam-nya sungguh luar biasa”. maka yang tampak “biasa”, siapa tau justru “lebih baik” bahkan “terbaik” menurut Allah
*halo sha ngaca dan inget baek2*
*terus aku bingung penutupnya gimana krn nulis disambi-sambi wkwk*
maka benarlah sesungguhnya penglihatan kita terbatas sedangkan pengetahuan Allah tak terbatas meliputi hal ghaib yang sering kita pertanyakan~
jombang, 20 april 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Senyum Astronomi
Senyum lebar di depan lab astronomi itu membayangi diriku yang butuh motivasi untuk menyelesaikan apa yang ku mulai. Di antara sekian banyak bentuk, satu-satunya lembar berkacamata itu yang membekas. Padahal sebenarnya tidak terlihat menggunakan
Tidak mengapa lintas jalur, karena Allah memberi mampu pada otak manusia untuk menyerap beragam ilmu
Sungguh memotivasi diriku yang tergeletak hampir menyerah meniti jalan yang telah dipilih
Terima kasih, izinkan aku mendifusikan segala hal baik nan inspiring ke relung-relung jiwaku
Jombang, 19 April 2020
___
Mungkin ungkapan terima kasih ini tidak pernah sampai pada yang dimaksud. Namun aku percaya, menuliskannya masih bernilai tuk mengamalkan "barangsiapa tidak berterima kasih pada manusia, sama dengan tidak bersyukur pada Allah". Aku bersyukur pada-Mu ya Allah, atas motivasi yang Engkau kirim melalui pewajahan itu
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Ketenangan
Alhamdulillah, aku tenang. Seperti hujan yang kali ini datang siang hari, sejuknya mewakili yang dironakan oleh hati
Perjalanan mencari hikmah dan petunjuk kini mulai disinari titik terang. Bahwa kuncinya memang dipegang oleh-Nya, dan tugas kita adalah meminta kunci itu pada-Nya
Tak cukup sekali, permohonan atas kunci dilakukan berlapis-lapis bentuk dan juga hari. Bincang khidmat dengan kawan, tangis sendu di mukenah dan sarung bantal, serta doa syahdu kapanpun feeling connected dengan Allah
Keraguan yang awalnya mengeroyok diri dengan percaya diri bahwa pilihan diri yang paling baik, perlahan dipatahkan ketentuan bahwa tulisan di Lauhil Mahfudz yang terbaik
Aku kira, ketenangan itu diciptakan, dikondisikan; seperti kebahagiaan. Ternyata keduanya berbeda. Ketenangan itu diberikan setelah kita minta pada-Nya
Aku tidak tahu, apakah ketenangan ini bagian dari petunjuk yang ku minta, atau porsi lain di luarnya. Karena aku minta keduanya
Yang jelas, terlepas dari pilihanku, sesuatu yang menunggu waktu tuk dihadirkan akan sangat sesuai dengan diriku, kebutuhanku, kapasitasku
Mungkin menyenangkan diberikan sesuai dengan pilihanku, namun, melihat riwayat impianku yang dikabulkan dalam bentuk lain; nampaknya lebih baik aku ikhtiar saja dan tawakkal apapun hasilnya
Sebab secara fundamental, aku hanya tahu hal lahiriah. Hanya Allah yang mengetahui hal ghaib, termasuk isi Lauhil Mahfudz yang ku pertanyakan (si)apa tulisan bagianku
Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas hujan ketenangan yang Engkau berikan. Semoga tetap membasahi hati agar senantiasa yakin dan berpasrah atas kehendak-Mu. Aamiin
Jombang, 19 April 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Deserve The Value
aku percaya suatu hal yang diberikan pada kita adalah hal yang deserve mendapatkan kita maupun kita sendiri deserve mendapatkannya. saling deserve. contohnya ujian hidup. bagi aku yang begini, maka ujian yang tepat adalah begitu. nyambung dengan tulisan sebelumnya yang sudah ku jabarkan lebih lengkap
di tulisan ini, sudut pandang terhadap suatu hal itu lebih ku fokuskan pada kadar deserve. for you who don’t know who i am (i don’t even know who are the readers of this tumblr), aku ada bawaan minder yang teramat sangat. i barely recognize my own strength, susah melihat kelebihan diri lah gampangnya. yang mana, suatu hari dikritik temanku. mungkin bukan tidak bisa melihat kelebihan, namun tidak mengakui bahwa kelebihan itu ada. akibatnya, kurang pede.
(sebenernya dilema sih mau explore diri sendiri di tumblr ini karena ku selalu menggunakan gaya bahasa cerita atau curhat di sini jadi kayak ngobrol, sedangkan kata ali bin abi thalib jangan ceritakan tentang dirimu ke orang lain. karena yang benci tidak percaya itu, yang suka tidak butuh itu. tapi, yaudahlah. sesuai judul tumblr, aku sedang berusaha menyelami diriku sendiri dengan menulis. semoga ada hikmah yang bisa diambil)
okay back to the topic, karena bertahun-tahun tidak mengakui kelebihan itu, aku baru sadar dengan begitu aku tidak menganggap diriku berharga. tidak bisa menilai diri sendiri, tidak respect atau menghargai diri sendiri. dan itu merupakan tanda aku tidak mencintai diri sendiri alias self-love, self-respect ku kurang. akibatnya, self-esteem pun rendah karena juga kurang self-reward. aku selalu merasa kurang dan di bawah orang lain, ga bisa apa-apa, ga punya apa-apa untuk dibanggakan. mungkin ini juga aspek lain mengapa aku senang berbuat baik ke orang lain, because i feel like i have nothing to be shared, i only have an ability to be kind to offer
maka, ketika ada suatu hal datang yang harus ku pertimbangkan ke-deserve-an ku terhadapnya atau sebaliknya, nyaliku menciut. aku merasa tidak berharga, aku bukan siapa-siapa, tak punya apa-apa. sungguh tidak pantas. maka aku memilih pesimis sebagai jalan, yang berdampak mundur perlahan. then, another bad effect that actually my silent killer for several years comes along: self-blaming. kenapa aku buruk? kenapa aku ga maksimal dalam improving? kenapa aku ga ngelakuin ini? kenapa aku ga bisa itu? kenapa aku ga...? kenapa...?
sampai suatu ketika, seorang teman berbincang denganku, yang sebenarnya membahas topik lain, namun ku refleksikan dengan diriku. kalau aku menganggap diriku tidak deserve atau dengan kata lain aku tidak berharga, itu sama dengan aku menghina Allah karena aku adalah ciptaan Allah. astaghfirullah. padahal manusia adalah makhluk terbaik ciptaan-Nya, dan di samping segala kekurangan, tiap manusia dianugerahkan kelebihan. setiap diri pasti punya self-worth. aku pun punya. dan itulah yang harus dijunjung untuk mensyukuri nikmat Allah terhadap kita dan hidup kita. so, starting from these days, i choose to admit and value my own self-worth
dengan demikian, terhadap hal yang datang, aku memilih untuk menerima keberadaannya dengan membuktikan bahwa aku punya nilai/ value. aku juga berharga. dan tugasku adalah menjaga agar value-ku tetap tinggi, caranya dengan discovering my own strength, opportunity, and potential; then improving them to the fullest
ada banyak hal yang memang tidak bisa kita ubah karena Allah membuatnya sedemikian rupa, namun kita bisa mengubah sudut pandang dan respon kita terkaitnya. apakah kita reaktif, atau responsif. dan dengan perubahan ini, tandanya aku memilih responsif
selamat explore diri sendiri dan memaksimalkan yang kamu bisa, sha!
jombang, 13 april 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Menggantikan
Jika dulu menyangsikan adanya sesuatu yang mampu menyesuaikan keinginanku dengan menyenangkan di luar kungkungan 1 hal,
Kini dihadapkan dengan ujian pengganti berupa hal lain yang amat baik, jelas itu di sangat jauh di luar kungkungan, sangat bisa menggantikan.
Seakan menjawab kesangsian di atas bahwa: hei dunia tidak sesempit tempurung kepalamu.
Mudah saja bagi Allah mengatur pertemuan sedemikian hingga, lalu mencabut kembali karena jawaban telah dikirimkan.
Maka, ketika sekarang ujian itu hilang, bisakah dibayangkan akan sekeren apa yang akan menggantikan? Segini saja sudah beyond expectation, bagaimana nanti?
Jadi, sabar sha. Kamu ga tahu, Allah Maha Tahu.
Jombang, 9 April 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Wisdom dan Iman di Balik Ujian
bertahun-tahun ku jalani hidup dari obrolan dan diskusi satu ke saling mendengar dan saling bercerita lainnya. sampai pada kesimpulan bahwa setiap orang akan terus diuji dengan ujian yang dirinya belum selesai dengan itu. ada target yang belum tercapai, maka harus kembali diuji dengan bentuk lainnya meskipun jenisnya sama. semakin belum mencapai hikmah atas ujian itu, semakin lama pula Allah beri ujian itu berganti-ganti formasi. ujian ini tidak selalu berupa masalah atau kemewahan yang biasanya dikotak-kotakkan manusia dengan demikian, tetapi juga proses pendewasaan yang lain. jika target hikmah yang disembunyikan Allah tersebut sudah tercapai, maka selamat, alhamdulillah kita telah naik level baik kedewasaan sebagai bentuk upgrade diri maupun tingkat keimanan apakah kita semakin dekat dan connected dengan Allah atau tidak. ada kalanya kedua indikator tercapai, pernah juga hanya salah satu. kedewasaan alias kebijaksanaan (wisdom) atau kemajuan pola pikir tercapai, namun iman tidak. ini yang bahaya. bisa saja menggiring ke arah islam liberal, bahkan agnostik atau atheis. na’udzubillah. aku menghargai orang-orang yang memilih itu sebagai jalan hidupnya, tetapi bagiku pribadi aku berdoa semoga aku istiqomah memilih beriman dalam islam hingga akhir hayat. kembali ke topik awal, contoh ujian hidup yang berbeda setiap orang dan tidak selalu dialami di umur yang sama, adalah:
- ada yang ujiannya adalah kemampuan untuk tidak overthinking terhadap pandangan, penilaian, pertanyaan-pertanyan tidak penting dari orang lain. bentuk ujiannya misal belum diberi karunia untuk menikah, punya anak, punya pekerjaan dll padahal usia sudah mendesak. atau mungkin masalah di sekolah, lingkungan rumah, kantor, dll yang terbawa overthinking. maka targetnya adalah apakah kita bisa mengatasi overthinking itu dengan membawanya lebih santai sambil menjalani hidup dan menyelesaikan masalah satu per satu. itu target wisdom. target imannya? apakah kita bisa yakin dengan kehendak Allah seraya berikhtiar dan bertawakkal. karena sejatinya hakikat muslim adalah berserah diri, lebih khususnya lagi berserah diri kepada Allah
ada pula yang ujiannya berupa lawan jenis.
apakah mampu menahan diri tidak pacaran, atau minimal melakukan hal-hal mengarah ke sana, karena tantangan terbesarnya adalah zina. mungkin bentuk ujiannya berupa pacar, atau gebetan, atau kalau versi syariah adalah lawan jenis idaman yang agamanya baik namun belum bisa menikah. target wisdom atau duniawinya jelas, apakah kita bisa menahan diri dari godaan setan atau tidak, bisa melawan hawa nafsu yang memang secara naluriah ada atau tidak. target imannya jelas, menjadi manusia yang bisa menjaga agama Allah dengan menjaga diri. kalau kata hadits arbain, “jagalah Allah maka Allah akan menjagamu”
ada juga yang ujiannya tentang memaafkan orang lain tanpa memaksakan diri menunggu orang lain itu minta maaf ke kita atau bahkan memaksa ybs meminta maaf kita.
karena bisa saja orang lain tsb tidak merasa dirinya salah atau minimal tidak merasa terlibat. mungkin memang yang salah adalah how we react or respond terhadap kejadian yang melibatkan orang tsb. maka target wisdom-nya adalah memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain. menekan ego dan memenangkan kelapangan dada sendiri. target imannya adalah menjadi hamba yang pemaaf. bukankah itu mulia?
ada yang ujiannya tentang harta.
apakah bisa menjaga kehalalan rezeki  pekerjaan dari perkara yang syubhat dan haram? ada pula yang ujiannya berupa pengelolaan finansial. ingin belanja mulu, main2 mulu, hedon mulu dengan alibi self-reward padahal seharusnya ada porsinya dan itu terbatas. atau mungkin minimnya keinginan untuk ziswaf (zakat, infaq, shodaqoh, wakaf), qurban, nabung haji, pergi umroh karena sayang uangnya. banyak lah bentuknya. wah kalau ini, target wisdom dan imannya bisa banyak. misalnya, apakah bisa sabar atas musibah keuangan seperti hp mendadak hilang, kendaraan mogok, kecopetan dsb serta apakah bisa bersyukur dengan berapapun harta yang ada. seperti yang kita tahu, sabar dan syukur adalah dua sayap muslim yang harus selalu ada karena itu kunci ketenangan hidup seorang muslim. target imannya? tentu tentang bagaimana memahami hakikat rezeki adalah hal yang telah ditetapkan Allah pada setiap insan di salah satu masa 40 hari kehidupan manusia dalam kandungan bersamaan dengan takdir lainnya, pun demikian dengan hakikat bahwa segala yang kita miliki hanyalah titipan untuk membantu menjalani hidup kita yang tujuannya adalah beribadah pada Allah. kalau kata teman, kita ini kerja untuk hidup atau hidup untuk kerja?
belum lagi ujian-ujian tipe lainnya yang sangat beragam. belum tentu seseorang di usia 24 mendapatkan ujian yang sama dengan orang lain berusia 30 di saat dirinya dulu berusia 24. bisa juga ujian yang telah berhasil dilewati oleh pemuda usia 19 ditaklukkan orang lain di usia yang sama, bisa jadi orang lain mendapat ujian jenis tersebut di usia 27 dengan bentuk berbeda, namun output targetnya sama
maka ketika diri ini lelah mendapatkan ujian dengan jenis sama bertahun-tahun tak henti-henti sampai bosan mengapa dihadapkan dengan masalah yang berkutat di situ-situ saja, jangan-jangan ada wisdom dan iman yang belum dirasa cukup digapai oleh kita sehingga ujian tersebut terus-menerus dihadirkan. ini juga yang membuatku bertanya-tanya apa hikmah dan target wisdom-keimanan atas ujian yang sedang ku hadapi
semoga kita selalu bisa menemukan hikmah atas semua ujian kita sehingga bisa menjadi manusia yang upgrade improving wisdom dan iman lebih baik lagi. aamiin
jombang, 8 april 2020
0 notes
maisharu · 5 years ago
Text
Karena akan selalu ada 2 (bahkan lebih) sudut pandang, maka bersikap bijaklah dalam memandang segalanya.
Jombang, 2 April 2020
1 note · View note