Text
Tadi pagi adik bungsuku yang masih berusia sembilan tahun bertanya apa itu kemerdekaan dan mengapa kita harus mengikuti upacara setiap tanggal tujuh belas di bulan Agustus.
"Sekarang 'kan hari Minggu, harusnya aku libur."
Memang benar, Merdeka tidak sefenomenal itu sampai-sampai kamu harus merelakan beberapa jam di akhir pekan untuk melaksanakan upacara bendera.
Mengapa mereka berpikir ini hari merdeka karena di 17 Agustus 80 tahun silam kami terbebas dari para penjajah?
Mengapa mereka berpikir kemerdekaan itu ada seakan-akan kami menikmati merdeka?
((Kepada Tuanku para pahlawan, terimakasih karena telah memperjuangkan negri ini dengan sangat baik.))
Namun taukah Tuanku, sebagai ganti dari perjuangan kalian, kami justru disuguhi rusaknya kompas moral para petinggi negeri ini dan diganti dengan riak tamak harta, tahta, bahkan kuasa, lalu memerintah seenaknya seakan mengaku mereka Tuhan.
((Wah, Kibutsuji Muzan pasti iri dengki karena mereka dapat apa yang mereka mau sedangkan dirinya tidak.))
Ironisnya, disisi lain negeri ini masih banyak yang belum mafhum kalau program mbg itu bukan hanya semata-mata membuat perut anak-anak kenyang namun dompet mereka juga,
atau pemahaman tentang kemanakah janji 19 juta lapangan pekerjaan yang dielu-elukan (kami lebih mempercayai Indonesia cemas 2045, ngomong-ngomong), atau bahkan mengenai isu 6,7 miliar yang konon katanya didedikasikan untuk membuat sebuah karya (kontroversial) yang bahkan —pantas saja— hasil jadinya setara dengan situasi negri ini, layak untuk kembali kutangisi)
Sebab kemudian aku tersadar bahwa pertanyaan adikku adalah pertanyaan mega susah jadi aku memilih tutup mulut daripada harus memuntahkan tsunami fakta, sambil berharap semoga dia tidak meneror jawabannya.
Sebab arti merdeka yang ku sungguhi dulu tidaklah sama kini, mungkin adikku akan mengerti suatu saat nanti.
Sebab kalau ditelaah lagi, merdeka dan ketiadaan adalah satu definisi.
0 notes
Text

Tadi pagi adik bungsuku yang masih berusia sembilan tahun bertanya apa itu kemerdekaan dan mengapa kita harus mengikuti upacara setiap tanggal tujuh belas di bulan Agustus.
"Sekarang 'kan hari Minggu, harusnya aku libur."
Memang benar, Merdeka tidak sefenomenal itu sampai-sampai kamu harus merelakan beberapa jam di akhir pekan untuk melaksanakan upacara bendera.
Mengapa mereka berpikir ini hari merdeka karena di 17 Agustus 80 tahun silam kami terbebas dari para penjajah?
Mengapa mereka berpikir kemerdekaan itu ada seakan-akan kami menikmati merdeka?
((Kepada Tuanku para pahlawan, terimakasih karena telah memperjuangkan negeri ini dengan sangat baik.))
Namun taukah Tuanku, sebagai ganti dari perjuangan kalian, kami justru disuguhi rusaknya kompas moral para petinggi negeri ini dan diganti dengan riak tamak harta, tahta, bahkan kuasa, lalu memerintah seenaknya seakan mengaku mereka Tuhan.
((Wah, Kibutsuji Muzan pasti iri dengki karena mereka dapat apa yang mereka mau sedangkan dirinya tidak.))
Ironisnya, disisi lain negeri ini masih banyak yang belum mafhum kalau program mbg itu bukan hanya semata-mata membuat perut anak-anak kenyang namun dompet mereka juga,
atau pemahaman tentang kemanakah janji 19 juta lapangan pekerjaan yang dielu-elukan (kami lebih mempercayai Indonesia cemas 2045, ngomong-ngomong), atau bahkan mengenai isu 6,7 miliar yang konon katanya didedikasikan untuk membuat sebuah karya (kontroversial) yang bahkan —pantas saja— hasil jadinya setara dengan situasi negeri ini, layak untuk kembali kutangisi)
Sebab kemudian aku tersadar bahwa pertanyaan adikku adalah pertanyaan mega susah jadi aku memilih tutup mulut daripada harus memuntahkan tsunami fakta, sambil berharap semoga dia tidak meneror jawabannya.
Sebab arti merdeka yang ku sungguhi dulu tidaklah sama kini, mungkin adikku akan mengerti suatu saat nanti.
Sebab kalau ditelaah lagi, merdeka dan ketiadaan adalah satu definisi.
0 notes
Text

kemudian aku takut. rasa takut itu,
meraki menjadikannya tumbuh tempati ruang hampa sedangkan sel-sel kulitku teriakkan paraunya.
seizin siapakah kalut itu bergelut angkuh merengkuh si atma yang nasibnya tengah dirundung sembilu?
sudi yang ku kehendaki pun lantas lebur bersama bisik-bisik para ambigu.
dewasa itu, dioramanya adalah tempat dimana nasibmu mula-mula menjadi abu.
bahkan buai tak selalu siapkan tempat untukku megadu
sementara masa terus ingatkan daku soal tanggung jawab dan putaran gasing itu bisa saja berhenti dalam kurun satu windu.
bajingan yang bernama waktu itu, ku harap eksistensinya selalu syahdu walau celanya merupakan saksi bisu.
sayup-sayup kudengar bisiknya sebelum terlelap tidur; selamat menikmati haru biru, malaikat kecilku. dewasamu terekam membersamaiku, selalu.
1 note
·
View note
Text
Haikyuu-bu!! (Indonesian) Translation
Terjemahan Haikyuu-bu!! dalam bahasa Indonesia. Thank you for @kuromantic for allowing me to translate it.
Daftar di bawah akan selalu diperbarui seiring chapter baru diunggah.
Update: Perubahan watermark menjadi ‘Translated by: Kuroi Tsuki’ . Dirombak dengan alasan tertentu. Saya memberitahukan ini untuk menghindari kesalahpahaman pembaca di sini jika mungkin menemukan versi watermark baru di platform lain. Sekian dan terima kasih🙏🏻
Jika mau baca manga bahasa Jepangnya, silakan ke link ini. Jika kalian mempunyai rejeki, silakan beli karya aslinya untuk mendukung mangaka-nya.
Keep reading
1K notes
·
View notes
Text

tempo hari, gue berkunjung ke gedung DPR RI.
konklusi pertama, rangkainan dalam memori gue menyimpulkan kronologi repetitif secara acak lalu mengatakan bahwa; ada sebuah acara di Jakarta yang harus gue hadiri dan destinasi ke gedung DPR RI adalah bonus kunjungan yang direncanakan secara —tidak— sengaja. entah bagaimana gue bisa menjelajahi gedung dewan dengan sejuta historinya itu, gue cukup senang mengetahui bahwa isi gedung DPR RI tak berbeda jauh dengan gedung-gedung pemerintahan lain yang pernah gue masuki. lobi-lobi dengan pengecekan ketat, lantai marmer yang mengkilat, jejeran ruang rapat yang ramai-lenggang, juga orang-orang penting yang entah sama pentingnya dengan krisis identitas negara ini atau tidak.
ngeri juga kalau terus-terusan dipikir. pada akhirnya gue hanya memilih nyaman menjadi narator dengan sudut pandang orang ketiga, ketika para presensi dalam rombongan gue bergabung lewat percakapan dan basa-basi nyata yang sebetulnya membuat gue muak. inginnya sih gue akan ikut —jika saja gue bisa menjadi manusia baik hari ini tanpa mengomentari segala halnya dalam hati.
meski begitu pun ada sesuatu yang gue tengah sadari kalau gue mengerti. adalah benang tak kasat mata yang menghubungkan gue dengan dunia luar gedung ini, transparan dan mudah ditebak sekali. gue merasa seperti menjadi saksi dari bagaimana tatanan Indonesia kini telah masuk melalui celah-celah pemikiran masyarakat. menurut gue, gak semua pemikiran dalam gedung pemerintahan ini diisi dengan skema-skema politik. gue berani bertaruh bahwa masih ada 'hati' yang diproyeksikan lewat siluet kubik porselen milik pemerintah kita. cuma masalah benar atau tidaknya gue kembalikan pada kepercayaan masing-masing.
just, let's believe that there's still a thing that has hope even though the stigma rampant through the terrible issue.
konklusi kedua memaksa gue untuk terlalu banyak berpikir sementara seorang pemimpin fraksi dari salah satu partai politik yang gue kunjungi tengah menjerat orang biasa seperti gue buat dengarkan orasinya. meski gue akui gue bukanlah seorang pendengar yang baik, gue akan berusaha menelaah makna apa yang kira-kira beliau ingin sampaikan kepada kami. jujur saja gue beneran hampir menikmati seluruh diskusi polemik ini sampai-sampai lagu Peradaban mendadak berputar dalam benak tanpa permisi, dan sialnya, gue terdistraksi.
diobral aja kali ya ini idealisme?
serius deh, besok-besok gue akan beneran bertobat sampai idealisme gue ini raib. besok. kapan-kapan. tapi bukan sekarang. gue masih mau mengikuti diskusi ini dengan kepala dingin, pun kalau perlu sambil menggembok sisi netral gue supaya enggak kemana-mana. supaya gue gak kalah dengan segala inferior ngeyel yang bersarang dalam isi kepala.
pokoknya apapun akan gue usahakan agar semoga-semoga milik rakyat bisa gue aspirasikan. paling tidak nggak akan gue biarkan iblis-iblis kecil di pundak kiri gue memberi hasut yang serta mertanya dapat mendatangkan jalinan benang kusut.
untunglah Tuhan masih memberi gue kesempatan untuk menjadi manusia baik. gue masih dikembalikan ke jalur benar yang semestinya gue dengarkan dengan penuh fokus dan lamat-lamat. bahkan ketika hal yang membuat gue tercengang berikutnya adalah tentang bagaimana bahasan diskusi ini membuat gue yakin bahwa konseptual kemanusiaan itu berawal dari bagaimana cara kita membersamai masyarakat, yang mana artinya ialah seluruh warga di negeri ini. bahwa harusnya gedung pemerintahan rakyat digunakan sebagaimana mestinya, bahwa keterlibatan pihak lain tak selalu diikuti oleh keruhnya moral para biadab juga perihal suap-menyuap. lantas dengan mengesampingkan semua itu, gue temui seorang pemimpin yang masih peduli dengan martabat negeri sendiri. yang harusnya ideologi miliknya patut dikaruniai apresiasi.
masih banyak yang harus gue perbaiki setelah ini, tapi buat sekarang, gue cuma mau fokus sama bahasan diskusi. di salah satu fraksi gedung lantai 3 gedung DPR RI, setidaknya gue pernah berkontribusi. gue akan baik-baik saja setelah ini.
bus melaju dalam kecepatan stagnan sementara Peradaban-nya Feast kini menjadi lagu pengantar tidur —gak tau juga mengapa gue jadi tidak bisa lepas dengarkan musiknya. meninggalkan riuh ricuh dan hectic-nya suasana disekeliling, gue pun akhirnya tertidur.
nyatanya, gue masih tetap hidup meskipun tau amoralnya peradaban, meski gue masih juga bernapas lewat idealisme gue yang belum masanya padam. yang manapun itu, gue hanya ingin mengikuti arus terlebih dulu.
konklusi ketiga : gue senang bahwa negeri ini masih mempunyai harapan.
gue senang gue bisa pulang dengan tenang.
3 notes
·
View notes
Text







and i can’t help but feel a way, when you’re away
272 notes
·
View notes
Text

gue rasa, gue adalah seorang penjahat.
in hindsight, what make me stay pursed to write?
jawabannya adalah nggak ada. atau, mau dipikir sekeras apapun sampai otak gue panas tetap nggak ketemu dalihnya. it's just, gue suka menulis dan gue akan menulis ketika gue ingin.
orang-orang bilang menulis merupakan hobi gue, but can I deny their conclusion?
ketika mereka memuji indahnya tulisan gue, gue justru tidak pernah merasa puas dengan segala yang telah gue lalui melalui coretan.
gue merasa gue sedang menjadi penjahatnya.
kadang gue berpikir apakah gue benar tengah menikmati sebuah proses atau semata hanya ingin menuaikan hasil yang taruhan ekspetasinya dikali kesempurnaan milik dunia??
komedi. pertanyaan retoris itu harusnya tidak gue ungkit disini.
namun ironisnya sekarang gue tengah lari dengan dalih cuma ingin berceloteh tanpa mau membagikannya pada hengkang manusiawi. makanya, kali ini gue putuskan buat memuntahkannya disini agar hingar bingar di kepala gue segera amblas tak berisi.
0 notes
Text

Catatan ini dibuat untuk mengingat orasi kebangsaan diri; tiga puluh satu di bulan tiga yang ke dua ribu dua puluh tiga.
buat beberapa orang, kepercayaan diri barangkali sebuah tuai harga diri yang perlu diperas keberaniannya. awal mula ku putuskan untuk melanjutkan kelana, aku tahu ada tembok yang lebih tinggi dari tembokku yang harus runtuh; tepat berada di depan mata, dan ku hirup retorika asa untuk pertama kalinya.
barangkali mungkin, aku hanya sok berani meneriakkan aspirasi sampai serak meriak dalam suara. lantas apa dayanya jika terdengar oleh tuanku pun tidak? makanya ku putuskan tuk lawan aspirasiku, mematahkan asa yang kala aku takut sepersekian inci saja akan meremukkan seluruh padu padan keberanian yang entah darimana asalnya.
sampai seseorang berkata padaku bahwasanya ada tekat yang tersemat.
hey! tekat mana yang dengan kurang ajarnya melumat seluruh harga diri seseorang yang bukannya siapa-siapa? lantas berubah lagi pikirku, kepercayaan diri barangkali sama seperti bom waktu yang jikala meledak akan menciptakan satu bala ; metafora euforia! membabat kebas bersamaan teriak yang diam-diam melandai bebas.
karena itu ketika gema akhirnya lantang gemintang menggagas riuh ricuh sebuah laga, ketika akhirnya euforia disambut bersamaan dengan detak berdebum mengutarakan lega, aku tahu akhirnya... rasa cekik temali tidak lagi mengekang jemari.
ada bebas yang tersampaikan ; untuk demonstran asa, awam lebam dan sesak asma adalah hirup juang yang patut diapresiasikan.
3 notes
·
View notes
Text
0.01 cm from scratch ; I wish Tumblr could be a soothing new home.
ANW ngomongin soal rumah (pidah lapakkk), gue kepikiran lagi soal pvt acc twitter —alias rumah lama gue yang isi sepertiganya marah-marah sama hidup, terus sisanya cuma konsolidasi hidup yang berusaha mati-matian gue rangkum supaya ngga berceceran lagi.
2 notes
·
View notes