Text
di tiap malamku, kekhawatiran seperti racun
racun itu seperti dingin yang makin lama serasa makin menusuk
di tengah kegelisahan, ku berharap dia hadir jadi penawar
namun harap itu ternyata kosong
kini aku harus berdiri sendiri, melawan racun yang menggerogoti diriku
0 notes
Text
bertahanlah untuk jiwa yang tengah terluka
karena setiap luka, pasti ada obatnya
0 notes
Text
Sudah ku katakan pada diriku bahwa aku bisa, tetapi ah dasar lemah, aku terjatuh.
0 notes
Text
Semesta memang sedang bekerja dengan caranya yang unik, tidak terduga.
0 notes
Text
Sudah lama aku tidak singgah dan menuliskan serangkaian kalimat yang akan ku nikmati lagi di masa yang akan datang.
Mungkin 2021 adalah waktu yang baik untuk memulai kembali.
0 notes
Text
Volunteer Biak - Personil #2
Edisi Selasa, 27 Februaruari 2018 spesial buat Cici Ira!
“Selamat ulang tahun”
Ira adalah volunteer pertama yang membuat saya merasa nyaman. Percakapan pertama kami melalui WhatsApp ialah pada 16 Januari 2018. Topik pertama kami terkait penerbangan, kemudian tentang wisata di Jayapura. Kami enggak ngobrol panjang lebar, tapi rasanya sudah cukup baik untuk hitungan orang-baru-kenal.
Malam pertama bareng Ira rasanya menyenangkan. Kami ngobrol santai layaknya seorang teman yang udah lama gak ketemu. Kami juga saling bertukar akun instagram dan mulai scroll down. Dari akun instagramnya ( @ccaramelaa ) saya mengetahui bahwa Ira sangat menyukai dunia travelling, ia juga menyukai dunia fotografi. Di malam itu Ira juga sempat bertanya tentang postingan terakhir saya di instagram, dan saya pun berbagi cerita tentang Tya.
Satu hal yang paling menarik dari Ira adalah barang bawaannya. Untuk sembilan hari perjalanan, Ira hanya membawa satu backpack berisi kamera-printilan dan satu koper yang bisa dikategorikan ‘hand carry’ berisi baju. Semua volunteer sangat terpukau!
Sisi lain dari Ira yang membuat saya selalu tersenyum terjadi pada malam keempat kami bersama. Pembahasan di antara Ira, Rey dan Kak Sugih tentang Biak Timur, rumah Rey, Ambroben juga landasan pacu, sukses membuat saya, Mbak Elta dan Kak Eny tertawa terbahak-bahak. Malam itu mereka bertiga benar-benar tidak sepaham, mungkin karena kelelahan atau bisa juga karena emang benar-benar gagal paham sama pertanyaan dan pernyataan yang ada. That’s so cute!

Di meja makan, Ira selalu mengambil sambal yang kadang jumlahnya lebih banyak dari nasi yang dia ambil. Ira juga sangat senang makan ikan di RM Kole-Kole, dia selalu memuji ikan kerapu (kalo gak salah) yang dia makan di sana.
Ira adalah orang yang penuh dengan energi, dia sangat ceria. Sehingga beberapa hari tinggal dengan Ira memberikan banyak energi positif. Ira adalah sosok pertama yang membuat saya benar-benar kepincut dengan program anak sponsor dari WVI. Ira adalah sosok yang tulus dalam berbagi dengan sesama. Ira dengan segala yang dia miliki sangat menginspirasi. Semoga saya bisa bertemu Ira lagi dalam pelayanan dan perjalanan indah di depan sana.
Semoga apa yang diimani Ira bisa terwujud tahun ini, amin.

0 notes
Text
Volunteer Biak - Personil #1
Tibalah waktu berjumpa dengan sosok kakak laki-laki yang berasal dari Jakarta. Laki-laki yang gak banyak ngomong di dalam WhatsApp group, Kak Bastian.
Dalam hal mendekatkan diri dengan semua volunteer, waktu yang saya butuhkan untuk dekat sama Kak Bastian itu paling lama. Jujur saja, saya takut bahwa sikap dan sifat saya yang seperti ini bisa menyakitinya.
Beberapa jam setelah pertemuan pertama kami, saya mencoba lebih santai dan semua terasa lebih nyaman. Walau kadarnya sudah menurun tapi rasa takut masih saja ada. Huft!
Bukan Windy namaku kalau tidak mengungkapkan langsung apa yang dirasakan kepada orang yang bersangkutan. Saya berani mengungkapkan apa yang saya rasakan kepada orang yang cukup dekat dan memberikan rasa nyaman.
“Kak Bastian, aku mau jujur. Aku itu takut sama Kak Bastian pas awal-awal kita kenal.” Kalimat itu ngalir gitu aja dan masih jelas diingatanku bagaimana Kak Bastian menatapku. Pagi itu saya menceritakan semua yang saya rasa dan puji Tuhan Kak Bastian mau mendengarkannya.
Rsanya selepas pagi itu, saya semakin nyaman dengan Kak Bastian. Saya tak sungkan mengeluarkan candaan walau kadang dia gagal paham, hahaha...
Kak Bastian adalah seorang laki-laki yang ramah anak. Menurut saya, Kak Bastian nyaman banget berinteraksi sama anak-anak. Dia membagi banyak senyum dan tawa. Cara dia bercerita kepada anak-anak membuat saya tersenyum, saya suka.

Oia, Kak Bastian menyebut dirinya “dokter bumi” Dia senang sekali bercerita tentang benda-benda langit tapi sayang banget kami belum bisa menikmati hamparan bintang bersama.
(melihat hamparan bintang ada dalam wish list saya yang belum kesampaian hingga saat ini, hiks!)
Sore terakhir di Biak Utara kami duduk santai di halaman kantor Klasis Biak Utara (kalau tidak salah). Kak Bastian menyambungkan ponselnya dengan wifi yang tersedia lalu membuka maps. Saya yang duduk tak jauh dari Kak Bastian kemudian merapatkan diri ketika dia menunjukan lokasi kami berada dari layar ponselnya. Kak Bastian juga memberikan penjelasan tentang kejadian tsunami yang terjadi pada daerah tersebut tahun 1996. Saya sangat suka mendengar penjelasannya, dia bersemangat.
Kak Bastian juga mencintai dunia fotografi. Dari akun instagramnya @bastianlambok , saya melihat hasil jepretan yang menawan, menarik untuk dipandang.
Kak Bastian adalah orang yang suka terhadap hal-hal simetris, dia orang yang bersih dan juga rapi. Sisi lain dari kak Bastian yang baru saya ketahui adalah Kak Bastian juga jago dalam hal ngegombal. Ini dibuktikan dari kalimatnya saat saya ingin melihat bintang. Waktu dia ngomng, saya gak mendengarkan dengan jelas. Dan ketika saya minta diulang balasnya “Ah, bukan apa-apa.” Tetapi suara dia tiba-tiba jadi jelas saat saya sendiri, gak tahu juga kenapa bisa begitu.
---
Saat saya bertanya apa yang biasa dia lakukan untuk menikmati me-time dia menjawab, “Pergi ke coffee shop.”
Sayang saya gak nanya lagi, “Kamu kalo di sana pesan kopi gak?”
---
Semoga bisa bertemu lagi dengan dia, Kak Bastian.
0 notes
Text
Volunteer Biak #1
Program ini dilaksanakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). WVI adalah yayasan sosial kemanusiaan Kristen yang bekerja untuk membuat perubahan yang berkesinambungan pada kehidupan anak, keluarga, dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. WVI mendedikasikan diri untuk bekerjasama dengan masyarakat yang paling rentan tanpa membedakan agama, ras, etnis, dan jenis kelamin (source: https://wahanavisi.org/id/ ).
Pada suatu waktu ketika saya sedang asik bermain instagram, postingan dari @wahanavisi.id menjadi populer di feed saya. Saya membacanya dengan seksama karena saya sangat tertarik dengan program tersebut. Setelah hati sudah mantap, saya pun mendaftarkan diri.
Tanggal 11 Desember 2017, saya menerima email dari salah seorang staf WVI yakni Kak Peggy. Di dalam email tersebut, Kak Peggy meminta setiap kandidat untuk mengisi lagi formulir pendaftaran.
“2. Bersedia mengikuti briefing di Wahana Visi Indonesia , Jalan Wahid Hasyim No. 33, Jakarta 10340 tanggal 5 Januari 2018 Pk 18.00 - selesai “
Kriteria di atas membuat saya berpikir lama dikarenakan saat itu keadaan tidak memungkinkan saya untuk keluar Jayapura. Tapi ketika niat sudah bulat, saya pun yakin untuk mendaftar. Saya melengkapi semua berkas di ujung waktu pengisian formulir yang jatuh pada 14 Desember 2017. Oia, ternyata di dalam formulir tersebut ada pilihan lain mengenai proses briefing yakni relawan yang terpilih tidak harus datang ke Jakarta, yay thanks God!
Empat hari setelahnya, Kak Peggy mengirimkan pesan pribadi melalui WhatsApp. Kak Peggy mau menelpon semua kandidat relawan Biak, jadi beliau ingin mengetahui kapan setiap kandidat bisa dihubungi. Tibalah hari dimana Kak Peggy menghubungi saya. Awalnya itu deg-degan banget pas ngobrol sama Kak Peggy but I know that she’s trying so hard to make me feeling comfort. FInally, she made it. Kami ngobrol di telpon kurang lebih selama 45 menit, lumayan lama untuk hitungan orang yang jarang telponan kayak saya ini.
Tanggal 22 Desember 2017 saya menerima lagi email dari Kak Peggy. Isinya menyatakan bahwa saya terpilih sebagai relawan Biak dan saat membaca email itu rasanya campur aduk, senang banget yang pasti. Terimakasih Tuhan :) Pada hari itu juga, saya diundang ke dalam WhatsApp group dan berkenalan dengan semua relawan.
Semoga saya bisa menulis tentang setiap relawan, mereka sangat menginspirasi.
Proses persiapan kami dimulai dari hari itu dan berakhir pada tanggal 4 Februari 2018. Waktu yang cukup singkat untuk mengenal seseorang dimana mata kami belum pernah bertemu. Kami berusaha menyamakan presepsi dan “langkah kaki” agar kami beriringan bersama, puji Tuhan kami berhasil melewatinya. Dan saat ini kami bukan lagi “sesama relawan” tetapi sekarang kami adalah KELUARGA. Semoga Tuhan mengijinkan kami untuk bertemu lagi dalam pelayanan-pelayanan yang akan datang :)
Nb: Kalau kalian tertarik untuk menjadi seorang volunteer di WVI, kalian bisa klik link di bawah ini:
http://wahanavisi.org/id/involved/volunteer/field-volunteer
“Mari berbagi”
0 notes
Text
Kali kedua short trip di Bali
Akhirnya bisa menulis lagi setelah waktu yang cukup lama. Tulisan ini bercerita tentang kota yang mempunyai kekuatan magis terhadapku, B A L I.
Perjalanan ini adalah my second short trip di Bali. Perjalanan seharusnya adalah dari Yogyakarta menuju Jayapura, namun saya memang dengan sengaja mengambil waktu transit yang cukup lama yakni kurang lebih 12 jam.
Ini adalah my first solo trip even cuma beberapa doang, saya tetap mempersiapkan segalanya sebaik mungkin karena saya benar-benar ingin memanfaatkan waktu dengan baik versi saya. Dalam merencakan perjalanan ini saya mempertimbangan beberapa hal untuk menentukan jenis perjalanan apa yang fit to me, yaitu:
1. City tour only
(+) waktu lebih santai
(+) hemat uang transportasi
(+) bisa puas makan babi
(-) tempat yang bisa dikunjungi terbatas
2. Jelajah Bali dengan sewa mobil + driver + bbm
(+) tidak terbatas kalau mau ke tempat yang jauh
(-) dana transportasi cukup besar
Dan akhirnya aku memilih city tour only, hohoh...
Diperjalanan yang singkat ini saya memang memilih tetap mengambil sebuah penginapan, karena saya merasa setidaknya saya butuh tempat untuk beristirahat sejenak dan bersih-bersih. Ngomong-ngomong soal penginapan, sewaktu memilih penginapan saya memiliki beberapa kriteria, naaaah... kriterianya akan saya buat dalam tulisan tersendiri ya. So stay tuned :)
Transportasi yang saya gunakan kemarin adalah go-jek dan sebagai persiapan saya sudah melakukan top up go-pay sebesar Rp 100.000 dengan saldo sebelumnya kira-kira Rp 15.000
Uang tunai yang saya bawa kalau tidak keliru sekitar Rp 700.000, uang itu akan saya gunakan untuk makan, jajan dan penginapan/
Top budget for this trip sebesar Rp 850.000 tidak boleh lebih dari itu :D
Pukul 11.15 WITA, saya sampai di Bali dan setelah mengabari keluarga, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi Burger King. HAHAHAHAHA! I choose this one because I am too curious sama rasanya, secara di Jogja gak ada, di Jayapura juga enggak, kapan lagi, sekalian aja lah.
Burger sudah habis dan saya masih duduk santai di dalam store sembari memesan go-jek. Biasanya setelah driver mengambil pesananku, beliau akan melakukan panggilan telepon namun kala itu tidak ada telpon dari sang driver bahkan beliau menjauh dari lokasi penjemputan (sekitar perkiran motor bandara). Saat itu saya berpikir "mungkin lokasi di HP beliau bermasalah namun beliau sudah tahu akan kemana dan sesampainya di lokasi penjemputan beliau baru akan menghubungiku." Akan tetapi saya semakin khawatir ketika beliau semakin jauh, jauh dan jauuuuh -.-' Akhirnya telpon berdering dan ternyata driver meminta saya untuk membatalkan pesanan karena beliau terlalu jauh dari lokasi penjemputan. Saya mengiyakan dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Saya kembali memesan go-jek lainnya dan driver kali kedua sepertinya lebih baik. Setelah mengambil pesanan, beliau menelpon dan meminta nomor whatsapp. Beliau mengirimkan lokasi beliau dan meminta saya untuk membuka maps itu saja, tidak perlu membuka aplikasi go-jek. Memang tidak bisa dipungkiri, taksi bandara dan pihak online belum 100% akur, jadi tetap waspada aja kalau mau menggunakan armada online selama di bandara.
Setelah berjalan kaki kurang lebih 7 menit, saya menemukan sang driver. Beliau meletakan barang bawaan di bagian depan sepeda motor kemudian membawaku ke Sate Bawah Pohon.
Biaya go-jek yang saya keluarkan sebesar Rp 10.000 tidak termasuk dengan tip.
Ngomong-ngomong, detail cerita soal makanan akan saya pisah dari tulisan ini ya :D
Setelah dari Sate Bawah Pohon saya melanjutkan perjalanan menuju kedai kopi, namanya 25:PM Coffee.
Biaya go-jek sebesar Rp 3.000.
Saya menunggu hingga tiba waktu check-in di kedai kopi tersebut. Kalau boleh dibilang, kedai tersebut ada dilahan terbatas namun dimanfaatkan dengan maksimal, rasa kopinya juga enak dan harganya bersahabat banget sama kantong pelancong pas-pasan macam saya ni.
Dari 25:PM Coffee saya mengeluarkan uang sebesar Rp 6.000 untuk menuju ke penginapan yakni H-ostel Kuta.
Penginapan ini SANGAT SAYA REKOMENDASIKAN!
Dari jalan depan, posisi penginapan ini memang tidak begitu terlihat bagiku, akan tetapi gampang ditemui sama abang go-jek (ya iyalah), hahaha... Sampai di sana, resepsionis dengan hangat menyambutku. Setelah menyelesaikan administrasi dan melakukan pembayaran, mereka memberikan handuk kemudian menunjukan tempat tidurku, ramahnya juara deh! Segera saya tulis pokoknya! Saya melepas lelah di penginapan ini dengan sangat leluasa dan puas, puas banget!
Oia, sebelum sampai ke penginapan saya sempat mampir di minimart untuk membeli persediaan air. Karena saya adalah orang yang mudah haus, maka air adalah teman perjalanan yang harus diutamakan.
Setelah beberapa jam meregangkan tubuh, saya merasa sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta, saya ingin menikmati waktu senja di sana. Akses dari penginapan ke Pantai Kuta cukup mudah dan hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Sembari memanjakan mata dengan hiruk pikuk para pedagang, tak terasa saya pun sampai di Pantai Kuta.
Saya memilih duduk di sebuah kursi dengan sebotol jeruk kemasan serta pijitan para ibu. Saya juga mendengarkan cerita beliau-beliau seputar dampak pemberitaan Gunung Agung terhadap kondisi wisata Bali beberapa hari kebelakang dan initnya ada penurunan kunjungan wisatawan
Di Pantai Kuta saya menghabiskan uang dengan rincian seperti di bawah ini:
1 Jeruk kemasan Rp 20.000
3 buah gelang Rp 30.000
Pijitan bahu + kaki Rp 80.000
Walaupun mendung saya tetap berhasil menyaksikan sunset di Pantai Kuta dan itu cukup indah. Hari itu matahari mulai terbenam pukul 18.15 WITA
Setelah merasa cukup puas dan hari mulai gelap, saya pun bersiap melanjutkan perjalanan. Tujuan saya berikutnya adalah Babi Guling Nadi Jaya.
Biaya go-jek yang saya keluarkan sebesar Rp 7.000
Dari awal, saya memang berniat untuk berjalan kaki dari tempat makan menuju penginapan. Namun niat itu perlahan memudar saat saya mendengar banyak gonggongan anjing (Nb: saya takut sama anjing) dan merasa bahwa kawasan itu terlalu sepi. Untung saja, niat di awal masih ada yang tertinggal dan makin bertambah ketika piring sudah kosong. Saya melihat peta dan juga bertanya pada ibu pemilik rumah makan arah menuju Pantai Kuta. Akhirnya saya mantap melangkah ke luar tempat makan. Ternyata perjalanan menuju penginapan cukup menyenangkan, hampir tersesat karena tiba-tiba maps gak gerak, terus melewati daerah yang ramai namun kemudian sunyi sepi sendiri dan memasuki daerah yang ramai lagi lalu sampai di penginapan. Waktu yang saya habiskan untuk berjalan kaki kurang lebih 15 menit. Sampai di penginapan para resepsionis melihat saya dengan wajah penuh tanya hingga seorang di antara mereka mulai bertanya apa yang habis saya lakukan hingga keringat membanjiri wajah dan setelah saya menceritakan pengalaman jalan kaki tersebut mereka tertawa demikian juga saya, kami tertawa bersama-sama.
Setelah beberapa menit sampai di penginapan seorang di antara resepsionis itu bertanya apakah saya sudah membeli pie susu atau belum, saya menggelengkan kepala dan kemudian keluarlah kalimat, "Mau saya go-food in aja ah." Mendengar itu mereka tertawa, begitu juga saya. Dan tak butuh waktu lama hingga pesanan go-food saya dari Pie Susu Dhian di jalan Dewi Sartika benar-benar sampai.
Aku membayar Rp 3.000 untuk biaya jasa driver.
Dan malam semakin malam, saya pun harus segera menuju bandara. Ketika memesan go-car dengan biaya Rp 14.000 saya sudah benar-benar siap, sudah memakai jaket dan sepatu, tinggal berangkat.
Akan tetapi sang driver sangat keteraluan. Setelah ditunggu cukup lama, beliau tidak muncul namun bersikeras agar saya tidak membatalkan orderan. Beliau meminta saya keluar hotel kemudian membuat saya berjalan kesana kemari, beliau juga meminta saya menunggu lebih lama padahal di timur Indonesia sana, orang tua saya sudah panik karena saya belum tiba di bandara. Tiba-tiba apps go-jek saya gak mau gerak, jadi saya gak bisa cancel orderan dan menghubungi driver. Akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan taksi yang saya temui di pinggir jalan, sayangnya saya tidak memperhatikan dengan jelas bahwa taksi itu adalah taksi tanpa argo :(
I spent Rp 100.000 buat perjalanan menuju bandara.
Dan yang paling saya gak habis pikir adalah bad driver itu tidak membatalkan pesananan saya, sehingga go-pay saya tetap terpotong. Yang saya sesali bukan karena uang saya yang hilang tanpa saya rasakan keberadaannya akan tetapi perlakukan bad driver tersebut. Seperti yang saya bilang di awal bahwa saya cukup ketakutan dengan driver tersebut dan tidak mau berhubungan lagi dengan beliau sehingga saya memberikan bintang 5, benar-benar menakutkan dan itu adalah pengalaman terburuk saya bersama go-jek sejauh ini.
A cup of hot green tea latte from starbucks saved my bad time. Dan di sana juga saya bisa lebih rileks kemudian membiarkan semua berlalu :)))
Rincian biaya perjalanan saya ada di bawah ini:
*penginapan: Rp 167.900
*makan: Rp 290.000
*go-jek: Rp 43.000 (belum termasuk tip driver)
*taksi ke bandara tanpa argo: Rp 100.000
*pijat: Rp 80.000
*gelang: Rp 30.000
Walau mengeluarkan uang secara tidak terduga namun saya tetap senang karena setelah saya jumlahkan ternyata uang yang saya keluarkan masih di bawah anggaran perjalanan. Kok bisa? Sepertinya ini karena kebiasaan saya yang selalu memasukan biaya tidak terduga di dalam anggaran, hehehe...
Semoga perjalanan setiap pelancong menyenangkan dan membagi kenyamanan buat sekitar :)
#bali#balilife#jalanjalan#low budget#travelling#backpakerindonesia#backpackerlife#budgettravel#gojek#gojekbali#indonesia#h-ostel#wks#wksjourney
0 notes
Text
Gili Trawangan, bawa aku kembali ˜
Perjalanan ke Gili Trawangan ini penuh dengan drama, kenapa???
Begini ceritanya…
Ketika awal memutuskan untuk liburan ke Lombok, kami memasukan Gili Trawangan sebagai destinasi yang ‘sayang kalau tidak disambangin’. Saat keputusan itu dibuat, kami mulai mengatur pembagian waktu dan akhirnya sepakat untuk menghabiskan 2 malam di Lombok serta 1 malam di Gili Trawangan. Setelah itu, kami pun mulai sibuk mencari penginapan berdasarkan pembagian tugas. Akan tetapi teman-teman saya belum menemukan penginapan murah di Gili Trawangan dan terpikir untuk membatalkan perjalanan ke Gili T.
Anyway, Gili T adalah singkatan untuk Gili Trawangan yaaaaa
Untungnya booking.com save us! Kami mendapatkan penginapan dengan harga yang cukup bersahabat yakni Rp 100.000/orang/malam. Penginapan kami juga tidak membutuhkan uang di muka. Nah cerita lengkap soal penginapan akan ada di bawah, so stay tuned!
Rencana perjalanan ke Gili T pun sudah OK ketika pemesanan penginapan telah dilakukan, can’t wait!!!
Sarapan perdana kami di Lombok begitu mengesankan dan memiliki dampak pada perjalanan kami ke Gili Trawangan (lagi-lagi). Pagi itu kami bertemu seorang driver yang tengah menunggu tamu dan beliau bercerita bahwa gelombang di Lombok lagi tinggi-tingginya. Beliau melanjutkan bahwa beberapa hari ini banyak kapal yang tidak dapat melakukan perjalanan. Saat mendengar itu, kami berempat menjadi sangat gelisah. Kegelisahan itu pun berlanjut hingga kami kembali ke kamar. Di dalam kamar kami mulai mendiskusikan kembali rencana perjalanan ke Gili T, apakah tetap pada rencana semula atau membuat second plan yakni extend one night in Lombok. Karena belum menemukan titik tengah, kami pun memutuskan untuk melanjutkan diskusi pada malam hari.
Ketika dalam perjalanan mengelilingi Lombok, driver kami juga menyampaikan bahwa gelombang di 3 Gili lagi tidak bersahabat dan dia menyarankan kami untuk mengganti tujuan. Pilihan yang dia berikan adalah mengunjungi Lombok bagian lainnya atau menuju Gili Nanggu, menurutnya ombok menuju Gili Nanggu lebih bersahabat dibandingkan ombak 3 Gili terkenal. Alhasil saya dan teman-teman dibuat semakin bingung, huft!
Waktu berlalu dan tanpa terasa kami sudah sampai lagi di penginapan, diskusi untuk mencapai mufakat pun dilanjutkan :p
Bermodal doa dan semangat kami membulatkan tekad untuk berangkat ke Gili Trawangan.
Cerita punya cerita kami memutuskan untuk menggunakan biro jasa untuk keberangkatan dari penginapan – Pelabuhan Bangsal – Pelabuhan Gili Trawangan.
Alasan kami menggunakan biro jasa tersebut adalah:
1. Tidak menemukan jawaban berapa rata-rata biaya perjalanan dari penginapan menuju Pelabuhan Bangsal. Ada yang bilang Rp 100.000/orang ada juga yang bilang Rp 200.000/mobil, kan jadi bingung!
2. Kami tidak sempat tidak sempat bertanya harga taksi berlogo burung biru untuk menuju Pelabuhan Bangsal, padahal terparkir rapi di mata jalan menuju penginapan. Ya, namanya juga udah capek segalanya jadi terlewati bagi cerita tentang mantan *EH
3. Kami semua cukup lelah setelah kesana kemari selama 2 hari jadi maunya untuk besok terima beres aja
4. Dijanjikan akan berangkat pukul 09.30 dari Pelabuhan Bangsal artinya kami masih punya cukup waktu di Gili T
Hari keberangkatan itu pun tiba, 3 dari kami bangun kesiangan dan langsung bebenah, untungnya masih belum jam delapan, fiiuuuuuuuuu (again and again). Pukul delapan lebih dua puluh menit kami sudah menunggu di restoran Selasar Senggigi Hostel dengan segelas kopi panas. Haha… maksud hati pengennya hangat, eh yang datanganya teramat hangat. Tak berapa lama kemudian, jemputan kami datang. Kami pun berpamitan dengan staff hostel dan langsung menuju shuttle bus yang menunggu di depan penginapan. Dari penginapan kami menjemput penumpang lainnya, karena kami mengusung tema ‘sharing’ kendaraan, maka kesabaran juga harus dipupuk semenjak memesan perjalanan dari biro ini. Kesabaran yang pertama ialah, sabar menunggu penumpang yang tidak tepat waktu.
Cerita punya cerita, kami sampai di Pelabuhan Bangsal pada pukul 09.40 WITA. Ketika turun dari bus kami langsung menuju meeting point dan bertemu dengan ‘petugas’ biro perjalanan. Suasana di meeting point sangat berantakan, terlalu banyak penumpang yang menumpuk dan disaat itulah saya sudah mulai curiga bahwa waktu kedatangan kami di Gili T. akan melenceng dari agenda. Di meeting point itu juga kami ditawarkan tiket balik dari Pelabuhan Gili T – Pelabuhan Bangsal – Bandara Lombok dengan biaya Rp 200.000/orang. Tentu saja itu tidak murah dan tidak efisien karena keberangkatan menuju bandara akan menggunakan shuttle bus, artinya kami harus menunggu sampai bus itu penuh! Kami pun menolak tawaran tersebut bukan hanya karena mahal dan tidak efisien menurut kami saja, akan tetapi sebelum berangkat ke Lombok kami sudah menghubungi pemilik penginapan di Gili Trawangan untuk membahas ini dan itu, salah satunya juga soal transportasi menuju Gili T dan bandara. Pada saat itu juga beliau menyampaikan bahwa biaya perjalanan dari Pelabuhan Bangsal ke Bandara Lombok kurang lebih Rp 250.000 – 350.000/kendaraan.
Jangan masuk dalam jerat itu ya, sayang dompet :D
Dari meeting point kami menuju ke meeting point berikutnya yaitu sebuah restoran dengan nama Pa*du. Di restoran tersebutlah kesabaran kedua kami diuji. Karena waktu kedatangan yang sudah molor dan waktu keberangkatan yang tak kunjung tiba kami harus berlapang dada untuk menerima kenyataan bahwa waktu kami di Gili T benar-benar sangat singkat, hiksssssss…
Karena jam sepuluh lebih tiga puluh kami baru jalan dari restoran menuju Pelabuhan Bangsal. Sampai di Pelabuhan Bangsal, kami diberikan tiket. Oia sekedar informasi, tiket di sana berwarna-warni disesuaikan dengan kapal yang akan ditumpangi nantinya. Jadi kalau ada pengumuman kapal X siap berangkat menuju destinasi yang sama dengan tujuan kamu, pastikan juga warna tiketnya sama ya… warna tiket juga akan diumumkan kok, jadi santai saja jangan terburu-buru. Jumlah penumpang di kapal sudah disesuaikan dengan kapasitas kapal, kamu pasti dapat tempat gak perlu buru-buru.
Sebelum keberangkatan saya sempat surfing di internet dan menemukan informasi bahwa kendaraan dalam hal ini taksi tidak dapat masuk ke dalam area Pelabuhan Bangal. Namun sejauh mata saya memandang waktu itu taksi burung biru dapat menurunkan penumpangnya tepat di area parkir Pelabuhan Bangsal. Cukup jalan 3 menit maka loket pembelian tiket sudah sampai di depan loket pembelian tiket.
Sekedar informasi kalau kamu membeli tiket langsung di loket pelabuhan, kamu hanya akan mengeluarkan uang sebesar Rp 15.000/orang. Namun karena antriannya cukup panjang, sebaiknya datang satu sampai dua jam dari waktu keberangkatan yang kamu rencanakan.
Cerita punya cerita, hari itu kami baru berangkat dari Pelabuhan Bangal pukul 11.00 WITA. Hiks!
Yang bisa saya simpulkan sejauh ini:
Kalau waktu kamu panjang, pengen yang efesien dan terorganisir, silahkan menggunakan biro perjalanan dari penginapan menuju Palabuhan Gili T melalui Pelabuhan Bangsal.
Kalau waktu kamu singkat di Gili T, saya sangat merekomendasikan untuk tidak menggunakan biro perjalanan untuk sampai ke Gili T.
Itulah beberapa curahan tentang biro perjalanan yang kami gunakan, dan yaaaaaaa banyak banget pembelajaran yang kami ambil. Setidaknya kami kan sudah merasakan di PHP in sama biro perjalanan, jangan lagi deh! Hihih…
Oia, waktu kami akan berangkat dari Pelabuhan Bangal saya sudah menghubungi Pak Nadus. Dan ternyata beliau sudah menunggu kami di Pelabuhan Bangsal, sweet banget!


Keadaan perahu menuju Pelabuhan Gili T.
Setelah 45 menit berkawan dengan ombak yang membuat 80% penumpang kapal mengerutkan kening kami pun sampai di Pelabuhan Bangsal. Ketika sampai kami langsung menghubungi Pak Nadus dan ternyata beliau sudah berada di sekitar pelabuhan. Dalam sambungan telpon waktu itu beliau menyampaikan bahwa jarak dari pelabuhan menuju penginapan cukup jauh. Karena sudah merasa lelah ketika di Lombok, kami kepikiran buat naik Cidomo saja akan tetapi setelah menceritakannya kepada Pak Nadus beliau tidak menyarankan kami menggunakan cidomo kalau kami memiliki budget yang terbatas. Pak Nadus menyampaikan bahwa biaya cidomo yang harus dikeluarkan bisa mencapai Rp 250.000 Dihargai segitu karena kami datang berempat dan masing-masing membawa bagasi. Kami pun menerima usul Pak Nadus dan memilih untuk berjalan kaki maupun bersepeda.
Setelah beberapa menit on the phone kami pun bertemu dengan Pak Nadus dan seorang staf penginapan yang datang dengan membawa dua buah sepeda. Saya dan seorang teman memilih untuk berjalan kaki ditemani dengan Pak Nadus. Selain bercerita tentang penginapan yang dikelolanya, beliau juga memberikan kami arahan untuk menuju sunset point dan pasar malam yang ada di Gili T. Perjalanan bersama Pak Nadus siang itu sungguh menyenangkan, entah berapa kilo jarak yang kami tempuh namun rasa lelah kalah dengan keseruan cerita yang disampaikan oleh beliau.
Menurut saya, perjalanan bukan hanya sekedar taking picture every where tetapi juga tentang cerita yang kita dapatkan dan bagikan. Salah satu cerita menarik yang saya dapatkan ialah air untuk minum di Gili T itu semuanya impor lho! Impor dari Lombok maksudnya, hahaha… jadi berbahagialah kita yang air minum bisa diambil dari sumur atau air minum kemasan yang biaya pengirimannya jauh lebih murah daripada mereka yang ada di Gili T.
Sembari menyusuri jalan bersama Pak Nadus, kami pun bertanya tentang harga makanan di sekitar situ. Lagi dan lagi, sepertinya beliau tahu bahwa kami ingin sekali menghemat biaya perjalanan kami, hohoho... Beliau menyampaikan bahwa di sekitar penginapan ada makanan dengan harga terjangkau, alhasil kami semakin semangat buat sampai di penginapan. Setelah dua puluh menit berjalan kaki, kami pun sampai di penginapan.
Sampai di penginapan, kami langsung terduduk di gazebo penginapan. Letak gazebo itu di tengah penginapan dan sangat dekat dengan kamar kami. Karena perut sudah minta jatah, beberapa di antara kami langsung menuju warung dengan ditemani Pak Nadus dan saya bertugas untuk membawa masuk barang bawaan ke dalam kamar.
Ketika sampai di kamar, saya langsung melihat sekeliling dan beginilah opini saya:
Kamar tidur bersih
Kasur dan bantal empuk
Kamar mandi sangat mempesona dan bersih
AC dingin
Air lancar
Channel TV cukup lengkap
Biaya yang kami keluarkan untuk penginapan ini cukup bersahabat yakni Rp 100.000/orang/malam dengan tipe family room serta private bathroom yang super kece (menurut kami).
Kalau penasaran sama penginapan ini, silahkan klik link di bawah ini ya, foto-foto tersebut sama seperti kondisi di lapangan kok:
https://www.booking.com/hotel/id/welly-bungalow.id.html?aid=356929;label=metagha-link-localuniversalUS-hotel-2290041_dev-desktop_los-1_bw-5_dow-Tuesday_defdate-1_room-0_lang-id_curr-USD;sid=2668f7218af3153d013902eb044cb9d1;all_sr_blocks=229004101_103547398_4_0_0;checkin=2018-02-16;checkout=2018-02-17;dest_id=900048659;dest_type=city;dist=0;group_adults=4;group_children=0;hapos=1;highlighted_blocks=229004101_103547398_4_0_0;hpos=1;no_rooms=1;req_adults=4;req_children=0;room1=A%2CA%2CA%2CA;sb_price_type=total;srepoch=1509012870;srfid=f6ba284398e081569e3810026712ab297ec0ae87X1;srpvid=706e4802b5cc0105;type=total;ucfs=1&
Oia... kan saya sempat menyampaikan bahwa yang paling menarik adalah kamar mandinya, jadi saya sempat memotret keseruan tersebut

woyooo!!! nikmati mana yang bisa saya dustakan. Indah banget pancurannya :p yang akhirnya membuat beberapa dari kami memilih buat mandi pagi :D
Kembali soal cerita makan siang kami di Gili T. Ternyata warung yang kami datangi adalah milik Pak Nadus, hihihi… dan makanan di sana amat sangat murah.
Kami hanya mengeluarkan Rp 40.000 untuk makan siang kami berempat ditambah dengan dua botol air kemasan ukuran 1,5L.
Makanannya cukup sederhana yakni nasi, ikan teri, oseng tempe dan sambal. Dan yang paling menarik ialah sambalnya, karena di dalam sambal tersebut ada potongan terong hijau yang menambah kesegaran saat menyantap makanan. Kami memilih untuk makan siang di gazebo ditemani semilir angin, sempurna untuk berada di luar ruangan. Kami juga sempat bertegur sapa dengan penghuni penginapan yang lain, menambah rasa ‘homey’ di penginapan tersebut.
SAYA SANGAT MEREKOMENDASIKAN WELLY BUNGALOW DI GILI TRAWANGAN!
Selesai makan dan berleha-leha, kami pun sepakat untuk pergi snorkeling. Karena waktu kami sangat terbatas kami pun memilih untuk snorkeling siang bolong!!! Hahaha.
Kami menuju lokasi jasa snorkeling di depan masjid menggunakan sepeda yang kami sewa di penginapan.


Begitu sampai di lokasi jasa tersebut, kami langsung menanyakan harga sewa boat + alat snorkeling + guide. Setelah deal harga, kami pun langsung diarahkan untuk naik ke atas glass boat setelah memilih 2 alat snorkeling (kacamata, pelampung dan atau kaki katak) serta menitipkan sepeda di penyedia jasa tersebut.







Intinya nih ya: SNORKELING SUPER LUAR BIASA!
Itu adalah kesimpulan dari saya dan kawan-kawan yang baru kali itu mencoba snorkeling di laut.
Kami ditemani oleh pemandu yang luar biasa ramah dan easy to talk. Walau sebagian dari kami enggak bisa berenang, mereka sabar mau nemenin dan ngajarin juga tentunya. So two thumbs buat kakak-kakak itu!
Setelah merasa cukup lelah, kami memilih untuk menyudahi perjalanan tersebut. Waktu juga sudah menunjukan pukul 16.00 WITA dan kami harus bergegas untuk mandi kemudian menuju sunset point.
Setelah mengayuh sepeda kurang lebih sepuluh menit kami pun sampai juga di sunset point pada pukul lima lewat dikit. Suasana di sana sudah cukup ramai dan penuh dengan musik. Kami mulai mencari tempat parkir sepeda dan memilih sebuah tempat yang cukup nyaman.
Snorkeling sejaman cukup menguras energi sehingga membuat kami merasa lapar di sore hari. Namun karena harganya yang cukup lumayan, kami hanya memesan dua porsi makan dan minum. Porsi makan di sana cukup besar jadi menurut kami worth it! Namun yang agak mengecewakan ialah minumannya, but overall kita puas!


“THE BEST SUNSET I EVER SEE”
Itulah yang saya rasakan ketika menikmati sunset di Gili Trawangan! Tangan sampai gak kuasa buat megang HP untuk foto sana foto sini. Terhipnotis sama keindahannya.

Ini adalah hasil jepretan seorang kawan saya, no filter no edit...
Kami menikmati matahari terbenam hingga jam menunjukan pukul 18.15 WITA kemudian bersepeda menuju masjid untuk menemani seorang kawan kami menunaikan kewajibannya.
Dari masjid kami langsung melanjutkan perjalanan menuju night market untuk menikmati malam di Gili T. Bagi kalian yang menyukai pesta, jangan kembali ke penginapan selepas dari night market karena ada pesta hingga 03.00 WITA. Itu adalah masukan dari beberapa orang yang saya temui di Gili T. Namun karena kami bukanlah anak pesta, kami sudah kembali ke penginapan pada pukul sembilan lebih dikit :p
Kami Kalau mau dibilang ini cukup murah, hanya saja ini bukan karena makanan di sana yang murah tapi karena kami memilih untuk makan dalam jumlah kecil. Dan percayalah, bakso lebih menggoda daripada udang bakar malam itu! Bakso lebih menggoda karena malam di sana cukup dingin. Disisi lain, udang atau seafood yang ditawarkan tidak memenangkan hati kami. Selain harganya yang mahal, ukurannya juga enggak wajar. Masa 2 ekor udang sedang dihargai Rp 90.000, diu! Gak ramah kantong pejalan hemat macam kami ini. Selain mahal, mas-mas nya juga jutek! Mungkin dia tahu ya, kami gak bakal beli makanya digituin, tapi kan… ‘mas yang kamu lakukan ke kami itu jahat.’ Hahaha! Selepas dari night market kami kembali menuju penginapan dilanjutkan dengan istirahat.

Itu adalah pemandangan pagi hari di Gili T. Super berbeda dengan keadaan di malam hari :p
Pukul 06.00 WITA, kami sudah bersiap untuk meninggalkan penginapan. Ditemani Pak Nadus kami diantarkan menuju Pelabuhan Gili T. Sampai di sana, keadaan masih cukup sepi dan kami langsung diarahkan Pak Nadus menuju loket pembelian tiket. Setiap orang pasti kebagian tiket, jadi gak perlu panik (seperti kami) bagi yang ingin berangkat sepagi mungkin.
Kami mengeluarkan uang sebesar Rp 15.000/orang untuk tiket kapal dari Pelabuhan Gili T menuju Pelabuhan Bangsal.



Waktu tunggu keberangkatan kapal cukup singkat, kami kemarin hanya menunggu sekitar 15 menit untuk kemudian diarahkan naik ke atas perahu. Ketika kapal mulai berangkat, terlihat dari kejauhan lambaian tangan Pak Nadus dan saya pun membalas lambaian itu dengan harapan bisa kembali lagi ke Gili Trawangan.



Di atas adalah penampakan perahu ketika akan menuju Pelabuhan Bangsal, sepiii˜
Perjalanan menuju Pelabuhan Bangsal ditempuh dengan kurun waktu 45 menit. Dan sesampainya kami disana, banyak jasa perjalanan menuju Bandara Lombok yang ditawarkan.
Jangan mudah tergoda ya, karena bisa saja harga yang ditawarkan sangat mahal
GILI TRAWANGAN ITU INDAH BANGET, I WANT MORE!
0 notes
Text
Menginap di HOSTEL, kenapa tidak?
Seperti yang saya tulis pada waktu lalu di https://winwinwindy.tumblr.com/post/164242611029/3jutaan-bisa-muter-muter-bali-lombok
bahwa saya akan berbagi cerita tentang penginapan selama liburan kemarin. Sebenarnya saya dan teman-teman adalah pecinta fasilitas Traveloka, namun saat kami mencari penginapan yang hemat namun ‘tampak’ bersih dan mendapat bintang rekomendasi yang cukup baik dari mereka yang pernah menginap di sana, kami tidak mendapatkannya di Traveloka.
Setelah browsing sana dan sini, kami memilih situs booking.com untuk melakukan transaksi penginapan. Kami mencari penginapan yang tidak harus menggunakan CC eh kebetulan banget di situs itu kami tidak hanya mendapatkan penginapan tanpa CC namun juga tanpa DP di muka. Walau jujur saja, sebenarnya super deg-degan banget setelah booking, takutnya sampe penginapan nama kita gak ada. Maklumin aja ya, kan tadi saya bilang kalau saya ini pengguna Traveloka begitu juga dengan teman-teman saya dan di situs tersebut setelah pemesanan kita wajib melakukan pembayaran sehingga sampai penginapan, tinggal check in aja.
H-5 sebelum berangkat, kami menghubungi pihak Selasar Senggigi Hostel untuk menanyakan persewaan mobil, akan tetapi pihak hostel tidak dapat membantu karena kami datang waktu peak season dan semua mobil sudah di booking.
Sejujurnya kami tidak mengetahui bahwa waktu liburan kami masuk dalam kategori PEAK SEASON. Kami mengetahui itu setelah bertemu dengan Mas Taufik yang merupakan pemilik hostel. Beliau sangat ramah, baik ketika kami hubungi via ponsel maupun ketika bertatap muka langsung. Selain itu, Mas Taufik juga memberikan kami rekomendasi buat trip selanjutnya bila datang lagi ke Lombok dan ke Gili. Apakah itu? Rahasia, tunggu saja ditulisan saya selanjutnya, semoga benar-benar terlaksana :))
Kami segera mencari penginapan ketika turun dari Bus DAMRI dan tidak begitu sulit mencari penginapan ini. Ketika sampai di penginapan Mas Iboy menyambut kami, membantu proses check in dan mengantar kami ke kamar. Biaya penginapan sudah saya posting, silahkan cek pada tautan di atas.
Oia kami memilih kamar tipe dormitory, 1 kamar berisi 4 ranjang dan 4 loker yang bisa kamu sewa, setiap loker terdiri dari 2 stop kontak. Di kamar tidak terdapat gantungan pakaian, akan tetapi dapat disiasati dengan meletakkan pakaian di tangga tempat tidur bertingkat. Kemudian di depan setiap kamar terdapat rak handuk/baju basah dan rak alas kaki.
Mas Taufik sempat bercerita tentang konsep dormitory pada penginapannya. Beliau sebenarnya ingin setiap wisatawan bisa berbagi cerita tentang pengalaman liburan, siapa tahu juga bisa bagi tips and tricks bagi wisatawan lain. Sehingga nantinya bisa terjalin pertemanan antar wisatawan. Waktu itu kami sempat bertemu dengan seorang wisatawan, kalau menurut saya beliau wisatawan lokal tapi kemudian beliau bertanya agenda kami hari itu menggunakan Bahasa Inggris, then she told us that she will leaving Lombok today, going back to Jakarta. Jadi saya dan teman-teman membuat kesimpulan bahwa beliau adalah wisatawan asal Cina karena beliau memiliki wajah oritental. Tak lama beliau berlalu setelah bersayonara dengan kami namun beberapa saat kemudian suaranya terdengar lagi, beliau tengah berpamitan dengan Mas Iboy. Dari cara bicara dan bahasa yang digunakan kami baru mengetahui bahwa beliau itu asli Indonesia. Menurut saya mungkin beliau menggunakan Bahasa Inggris sebagai langkah aman berkomunikasi pada setiap tamu hostel karena beliau tidak tahu darimana kami berasal dan tidak pake embel-embel ‘where do you come from?’
Interaksi lain yang saya alami dengan wisatawan mancanegara ialah saat antri toilet. Ketika semua toilet penuh dan saya kebelet buang air kecil, ada seorang pria tampan yang tengah menggosok gigi di depan wastafel. Kemudian pria itu mengetuk sebuah pintu toilet lalu keluarlah seorang wanita dengan bawaan yang berantakan. Sang wanita masih berdiri di depan pintu, jadi tidak mungkin saya terobos masuk. Pria tampan itu menarik sang wanita lalu melihat ke arah saya dan dengan tangannya mempersilahkan saya masuk ke dalam toilet. I just said: “Thank you, Sir.” yang kemudian dibalas dengan sebuah senyuman manis. Adodoee....
Di Selasar Senggigi Hostel kita harus berbagi kamar mandi bukan hanya dengan teman sekamar, akan tetapi dengan 4 penghuni kamar lain (kalau gak keliru). Di sana terdapat 2 toilet dan 3 kamar mandi serta 1 wastafel + cermin. Buatlah waktu mandi yang pas berdasarkan agenda kamu pada hari berikutnya, sehingga waktu mandi kamu tidak panjang. Waktu mandi kami kala itu berbeda-beda, ada yang mandi malam dan ada juga yang mandinya pagi-pagi buta. Alasan kami saat itu beragam, misalnya:
Harus bersih sebelum tidur
Malas bangun pagi-pagi buta kemudian mandi
Gak bisa mandi malam
Kamu yangmana? hoho...
Kondisi kamar cukup bersih, AC bekerja dengan baik begitu pula soal penerangan. Setiap tempat tidur dilengkapi dengan 1 bantal kepala, sprei dan selimut, semuanya dalam keadaan bersih. Kalau gak kuat dingin, bawa kain aja sebagai tambahan. Waktu itu kami menginap selama 2 malam jadi kamar kami sempat dibersihkan oleh staff hotel, tempat tidur dirapikan dan kamar juga disapu.
Soal sarapan, menu disana cukup sederhana. Saat makan pagi pertama kami diberikan 4 potong pepaya, sepiring nasi goreng dan segelas air serta kopi. Cukup nikmat untuk menu pagi hari. Nah! Kalau kalian penyuka kopi, saran saya sih gak usah ditambahkan gula lagi, soalnya waktu kemarin kami memesan kopi dengan gula ternyata kopinya menjadi super manis dan itu mengurangi kenikmatannya. Hohoho...
Untuk sarapan hari kedua, kami memang sengaja tidak mengambil jatah sarapan berat dan memilih segelas kopi (tanpa gula tentunya). Kami memilih melewati sarapan untuk tidur lebih panjang daripada malam sebelumnya dan malam itu kami tidur sekitar 7/8 jam, sungguh nikmat!
Di penginapan ini ada beberapa paket liburan yang ditawarkan oleh pihak penginapan maupun paket yang dititipkan di penginapan oleh pihak ketiga. Salah satu paket dari pihak ketiga adalah paket shuttle bus + tiket feri dari Pelabuhan Bangsal ke Pelabuhan Gili Trawangan yang kami ambil.
Selengkapnya tentang paket ini akan saya posting secara terpisah ya :)
Sejauh ini saya pribadi sangat puas dengan penginapan ini.
Tips: Jangan malu buat ngobrol sama staff hostel, pemilik hostel dan tamu hostel. Karena setiap obrolan punya cerita yang bisa dibagi, dikenang dan dipelajari tentunya.
Tips: Bawalah camilan apalagi camilan khas dari daerah kamu. Bisa dimakan saat lapar, bisa juga dijadikan wadah menjalin tali silahturahim dengan warga setempat.
Secara keseluruhan, penilaian saya terhadap penginapan ini adalah:
KEBERSIHAN KAMAR: 10/10
KEBERSIHAN AREA HOSTEL: 9/10
KEBERSIHAN KAMAR MANDI + TOILET: 8/10
MENU SARAPAN: 8/10
KERAMAHAN STAFF: 9/10
KERAMAHAN PEMILIK: 10/10
AKSES HOSTEL: 9/10
Untuk penampakan dari penginapan ini, kalian bisa klik tautan berikut ini: https://www.booking.com/hotel/id/selasar-hostel.id.html?aid=353528;label=hotel-2098459_bcwid-64568;sid=d507b2ebecbe894e9b7604bd58f11bea;all_sr_blocks=209845902_101700934_2_1_0;checkin=2018-01-18;checkout=2018-01-19;dest_id=900048682;dest_type=city;dist=0;group_adults=2;group_children=0;highlighted_blocks=209845902_101700934_2_1_0;hpos=1;no_rooms=1;room1=A%2CA;sb_price_type=total;srepoch=1503927536;srfid=243c772350e8196d65b38f8076e75316eff251a6X1;srpvid=3ffd5ff7cef0029a;type=total;ucfs=1&
Semua gambar disana real!
Semoga kalian bisa merasakan liburan bareng SELASAR SENGGIGI HOSTEL :)
0 notes
Text
Cerita bersama DAMRI di Lombok
Salah satu hal yang sangat menyenangkan saat sampai di Lombok adalah menggunakan DAMRI!
Ini adalah kali pertamaku menggunakan DAMRI, jadi ada rasa khawatir dan bersemangat yang menjadi satu saat trip kemarin.
Alasan kami menggunakan DAMRI ialah:
Harga sudah pasti, gak perlu nego!
Terjangkau
Keamanan lebih terjamin
Kalau boleh dibandingkan, biaya perjalanan menggunakan BUS DAMRI vs JASA PERJALANAN ialah 35.000 vs 100.000 jadi bisa artikan 1:3 dan untuk pejalan hemat seperti kami, biaya itu tentu cukup besar. Apalagi 100.000 merupakan minimal biaya per orang, bisa saja bayar lebih kalau kami gak jago nego. Aiiiii, mahalnyo!
Oia, jarak dari titik pemberhentian ke penginapan hitungannya tidak begitu dekat, kurang lebih ditempuh dengan waktu 20-30 menit berjalan kaki. Tapi, karena sudah diniati maka kami pun siap dengan segala konsekuensinya, hoho...
Tibalah hari dimana kami menggunakan DAMRI. Dan setelah membeli tiket bus, kami segera menuju lokasi bus.
Keseruan mencapai lokasi bus ada di tulisan sebelum ini :)
Sebelum menaiki bus kami meminta bantuan petugas DAMRI untuk memasukkan bagasi di bagian belakang bus atau bagasinya. Waktu itu ada seorang Ibu yang juga ingin memasukkan bagasinya, akan tetapi setelah petugas menanyakan lokasi pemberhentian, bagasi beliau tidak dapat dinaikkan. Ternyata yang dapat memasukkan bagasi di bagian belakang bus adalah yang turun di lokasi terakhir pemberhentian bus DAMRI yaitu di Senggigi.
Tetapi tenang saja karena di dalam bus juga disediakan tempat untuk meletakkan bagasi bagi mereka yang tidak turun di Senggigi atau kalau bagasi bagian belakang sudah penuh.
Ketika sudah duduk di dalam bus, petugas menghampiri kami dan meminta tiket - menyobeknya - mengembalikannya kepada kami. Petugas juga akan menanyakan lokasi pemberhentian kami. Petugas kali ini berbeda dengan petugas yang membantu kami memasukkan bagasi. Yang membantu kami memasukkan bagasi adalah sang driver.
Tempat duduk di dalam bus juga cukup nyaman loh, bahkan terasa sangat nyaman dengan biaya Rp 35.000/orang untuk 2 jam perjalanan.
Bus mulai melaju setelah terisi penuh dan sekedar informasi, menunggu bus terisi penuh tidak lama hanya sekitar 10-15 menit.
Bus tidak dikendarai dengan 'brutal' tetapi dengan hati yang riang gembira (ku rasa), karena perjalanan saat itu benar-benar santai. Setelah beberapa penumpang turun, kami pun mempelajari bahwa para penumpang tidak turun tepat di titik pemberhentian melainkan di pinggir jalan yang dilewati bus.
Tips: Carilah tempat terdekat dengan titik pemberhentian bus, bisa hotel atau kantor pemerintahan
Tips tersebut akan sangat berguna apabil kamu tidak mau turun di check point bus DAMRI. Kalau kami kemarin, ketika mencari penginapan kami juga melihat bagaimana aksesnya dari jalan utama/ Jalan Raya Senggigi. Dan ternyata itu berguna karena kemarin kami tidak turun di check point DAMRI melainkan tepat di jalan masuk ke arah penginapan kami.
Waktu itu sempat ada penumpang yang 'bablas' dari lokasi pemberhentiannya dan menurut saya pribadi, beliau tidak benar-benar tahu dan tidak mempelajari pola perjalanan bus DAMRI. Ujung-ujungnya beliau menyalahkan sang driver deh, kasihan si Bapak :')
Ketika bus akan memasuki daerah Senggigi, seorang dari kami menuju ke tempat driver untuk memberitahukan lokasi pemberhentian yakni di depan Sendok Hotel. Ternyata ada 2 penumpang DAMRI yang juga turun di tempat yang sama atau lebih tepatnya mereka juga menginap di sana. Berselang 10 menit seorang dari kami menuju ke tempat driver (lagi) untuk menanyakan apakah kami tetap bisa turun di depan Sendok Hotel walaupun bagasi kami ada di bagian belakang bus dan ternyata tetap boleh! Bahkan sang driver membantu kami mengambil bagasi dari belakang dengan turun dari bus bersama kami. Oia, ternyata juga saat itu ada seorang wisatawan mancanegara yang turun bersama dengan kami. Dan wisatawan mancanegara yang menumpang bus DAMRI kala itu ada 3 orang, 2 orang warga negara Korea (cause someone call her 'onnie') dan 1 tidak diketahui identitasnya tetapi dia sangat amat harum dan KAMI SUKA!
Melihat keramahan, kenyamanan, keamanan, dan harga yang bersahabat, saya pribadi sangat merekomendasikan BUS DAMRI untuk menemani perjalanan. Apalagi lokasi penurunan dengan penginapan, hanya kami tempuh kurang dari 10 menit, horeeee!
Gak ada yang mengecewakan, terimakasih #DAMRI !
0 notes
Text
3juta(an) bisa muter-muter BALI - LOMBOK
Perjalanan ini dilakukan dengan modal nekat dan doa restu orang tua. Direncakan beberapa hari sebelum perjalanan dengan ajak si a, b, c, d, e, f, g dan h namun yang bisa hanya si a, b, c dan d.
*bukan hal baru
Tanggal 25 Juli kami bertemu dan mematangkan segala hal terkait perjalanan, yakni:
Menyusun agenda liburan
Mencari dan memesan tiket penerbangan via Traveloka
Mencari dan memesan penginapan via booking.com
Mencari persewaan mobil (untuk di Lombok, kami memperolehnya tersebut dari seorang teman yang berada di sana) dan di Bali kami memperolehnya dari Kaskus
BOOKING TIKET:
Niat kami semakin serius kala tiket pesawat sudah ditangan. Kami memesan tiket keberangkatan pada 2 Agustus dan kepulangan pada 5 Agustus
Kami menjunjung motto: "hemat anggaran ala mahasiswa" sehingga multimaskapai menjadi pilihan.
Lebih detailnya seperti di bawah ini:
JOGJA - LOMBOK
NAM AIR (terminal B) 06.10 WIB sampai di Bali pukul 08.10 WITA
SRIWIJAYA 16.50 WITA sampai di Lombok pukul 18.00 WITA (DELAYED)
LOMBOK - JOGJA
CITILINK 12.00 WITA sampai di Surabaya pukul 12.15 WIB
**waktu itu kami tiba di terminal 1A
SRIWIJAYA 17.00 WIB sampai di Jogja pukul 18.00 WIB (DELAYED)
**keberangkatan dengan Swirijaya ada di teriminal 1B
***jarak dari 1A dan 1B cukup dekat kok, jalan kaki aja beberapa meter dan kamu bakal menemukannya
Total Biaya yang kami keluarkan untuk tiket pesawat saat itu sebesar Rp 1.543.500,00
Ketika berangkat, kami tidak hanya mencari harga tiket TERMURAH akan tetapi juga mempertimbangkan soal rencana kami yang ingin memanfaatkan waktu transit dengan CERDAS!
Cara kami memanfaatkan waktu dengan cerdas ada di postingan sebelumnya atau kamu bisa juga klik tautan di bawah ini:
https://winwinwindy.tumblr.com/post/163934336694/transit-8-jam-di-bali-kemana-aja
Biaya yang kami keluarkan selama di Bali kurang lebih Rp 272.300/orang
Sukses memanfaatkan waktu transit, kami pun semakin semangat untuk menghabiskan waktu di Lombok.
Untuk menghemat anggaran dan mencari pengalaman baru, kami berencana untuk menggunakan fasilitas bandara yakni DAMRI. Surfing di internet menunjukan bahwa biaya DAMRI kurang lebih Rp 35.000/orang, kalau dibandingkan dengan biaya taksi/jasa tour di bandara tentu sangat berbeda yakni mencapai Rp 100.000-125.000/orang untuk sampai di Senggigi yang merupakan lokasi penginapan kami. Timbang A dan B, kami pun memilih DAMRI!
Karena ini kali pertama saya tiba di Lombok dan akan menggunakan DAMRI, saya pun mengganggu ketenangan penumpang yang duduk di sebelah saya. Ternyata oh ternyata... Beliau sudah cukup lama tinggal di Lombok dan pada hari itu juga akan menggunakan damri. Artinya, KAMI TAK SENDIRI! Ketika pesawat sudah landing, Ibu yang tadi duduk di sebelah saya menyarankan kami untuk menunggu beliau di depan pintu keluar karena beliau ingin mengambil bagasi terlebih dahulu. Saya mengiyakan dan menyampaikan kepada teman-teman ketika turun dari pesawat.
Oia saat itu saya dan teman-teman memilih untuk memasukan tas bawaan ke dalam kabin karena alasan mau cepat dan lebih fleksibel saat mengambil barang bawaan (baju/celana/sendal ganti).
Sedikit cerita tentang kondisi di luar pintu kedatangan. Ketika tiba di pintu keluar, terdapat banyak sekali jasa/ biro perjalanan maupun taksi bandara. Kalau tidak mau naik damri, kalian akan dengan mudah mencari fasilitas tersebut tentunya.
Karena kami tidak menemukan loket DAMRI, kami pun bertanya kepada petugas bandara dan ternyata oh ternyata, loket damri hanya berada beberapa langkah di samping kami. Kami tertawa bersama-sama.
Sampai di loket kami langsung membeli tiket damri dan biaya yang keluar tepat Rp 35.000/orang
Setelah membeli tiket, kami diarahkan untuk menuju tempat bus berada. Keluar dari gedung keberangkatan kami menemukan banyak sekali supir taksi yang menawarkan jasanya sehingga kami tidak mudah melihat dimana bus berada. Kami tidak malu bertanya kepada supir-supir taksi yang memenuhi jalan keluar dan dengan ramahnya mereka semua mengarahkan serta membuka jalan untuk kami menuju lokasi bus (so nice!)

Foto dulu boleh kali ya: akhirnya injak kaki di lombok juga
Ketika sampai di lokasi bus, petugas yang mengenakan seragam biru menanyakan tujuan tiap pengguna DAMRI. Saat itu, penumpang yang tujuannya Mataram menggunakan bus berbeda dengan kami yang menuju Senggigi.
Cerita tentang DAMRI akan saya hadirkan di postingan lain karena ada beberapa seru yang akan saya bagikan disana. But overall, DAMRI is so recommended!
Jam 20.00, kami tiba di lokasi pemberhentian yang kebetulan ada di jalan utama menuju penginapan. Setelah turun dari bus, kami menuju indomaret yang ada di seberang jalan. Kami membeli air, camilan dan mengambil uang. Selepas itu, kami segera menuju penginapan yang letaknya kurang lebih 300 meter dari jalan utama. Mencari penginapan cukup mudah karena plang penginapan sangat jelas, oh iya kami menginap di SELASAR SENGGIGI HOSTEL!
Sampai di hostel, kami langsung melakukan check in dibantu oleh staff hostel yang cukup ramah.
Kami akan menginap selama 2 malam dan biaya yang kami keluarkan untuk 4 orang adalah sebesar Rp 1.120.000
Biaya tersebut juga termasuk uang deposit sebesar Rp 80.000 uang deposit tersebut diperuntukan biaya sewa 2 loker. Biaya tersebut akan dikembalikan ketika check out
Biaya menginap 2 malam Rp 260.000/orang
Ulasan tentang penginapan akan saya posting secara terpisah. Wait for that yeah!
Sampai di kamar, kami sudah tidak punya daya untuk keluar mencari makan. Beruntunglah kami yang dibekali bakpia dan kue Jogja lainnya oleh keluarga sehingga perut kami enggak harus dangdutan tengah malam.
Tips: BAWALAH CAMILAN TINGGI KALORI sehingga uang makan bisa dipangkas!
Ketika subuh menjemput, kami semua sudah bangun dan memantapkan kaki melangkah ke luar hostel untuk melihat pantai Senggigi di pagi hari. Niat awalnya sih mau lihat sunrise but tetot, nothing! Langit lagi mendung banget dan ya waktu kedatangan kami juga disambut oleh hujan :)
Tapi tetap indah kok walau gak melihat sunrise. Kami juga sempat berbincang dengan seorang warga yang berjualan mutiara. Dan kata beliau, cuaca di Lombok memang lagi gak menentu beberapa hari. Bahkan, fast boat yang biasa mengantar wisatawan dari dan ke Bali - Lombok juga sempat dihentikan. GELOMBANG LAUT LAGI TINGGI! WUAH!
Lepas dari dilema tentang ketinggian air, kami disarankan untuk naik ke dermaga. Hahaha! Dermaga tersebut adalah dermaga khusus untuk fast boat bukan untuk public boat. Ide tersebut tidak kami sia-siakan, lumayanlah bisa main disana.

Salah satu spot foto di dermaga Senggigi.
Sudah cukup puas berdiam diri di dermaga, kami pun kembali ke penginapan. Di depan penginapan kami ada mural-mural yang sangat cantik! Membuat pagi menjadi semakin indah.

ADA YANG GAK TAHU INI SIAPA???
Selepas sarapan pagi, kami mulai bersiap-siap untuk berangkat #EXPLORELOMBOK haaha... List yang kami buat saat itu adalah:
Pura Watu Bolong
Ayam Taliwang (Lesehan Irma)
Desa Sade
Pantai Kuta
Pantai Tanjung Aan
Bukit Merese
Kota Tua Ampenan
Akan tetapi ketika kami keluar dari hostel, hujan menjadi teman :') dan kami pun membatalkan niat untuk ke Pura Watu Bolong. Dan ketika bertanyan pada Topan (driver kami) kalau mau ke Lesehan Irma harus sekarang karena kalo siang, sudah penuh sesak dan tidak sesuai dengan agenda kami. Sayangnya kami masih sangat kenyang (saat itu jam 10.00 WITA) dan kami pun memutuskan untuk langsung menuju Desa Sade yang kurang lebih menempuh waktu sekitar 1,5 jam dari penginapan.
Kira-kira jam 11 kurang, Topan menawarkan kami untuk makan di Nasi Balap Puyung. Pertimbangannya karena kalau makan di sekitaran pantai itu cukup mahal dan tidak banyak pilihannya. Masukan Topan disambut baik oleh kami semua dan Topan segera menuju tempat makan.
Sesampainya kami disana, kami segera memesan makan. Akan tetapi driver kami tidak turun bersama kami, alasannya sih takut ngantuk. Tapi kami jadi tidak enak dan akhirnya kami membelikan roti, air dan kopi di Indomaret sebelah (hahaha).

Kurang lebih, begitulah penampakan Nasi Balap Puyung.
Kami menghabiskan Rp 102.000 untuk makan berempat (Rp 25.500/orang)
Perut sudah cukup 'terkancing', hahah, dan kami siap membakarnya di Desa Sade. Topan pun melanjutkan perjalanan dan sampai di Desa Sade kurang dari 30 menit.
Sampai di Desa Sade, kami disambut oleh seorang pemandu. OPTIONAL banget kok mau pake pemandu atau enggak. Tapi, hitung-hitung memberdayakan warga setempat, berbagi rejeki dan bisa nanya ini itu, bayar dikit enggak papa kok.
Lebih dalam tentang Desa Sade akan di posting pada bagian tersendiri ya :)
Kami mengeluarkan uang sebesar Rp 70.000 di sana (Rp 17.500/orang)
Setelah dari Desa Sade, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pantai Kuta. Kata orang Pantai Kuta versi Lombok lebih ciamik dibandingkan versi Bali. Waktu yang ditempuh juga cukup singkat, tidak sampai 15 menit kami sudah sampai di Pantai Kuta. Akan tetapi, kami tidak berniat untuk turun dari kendaraan. KENAPA?
Tampak gersang, jadi kesannya kayak panassssss banget
Ramai pengunjung, dateng pake bus segala, bawa dos makan pula
Ramai pekerja banget karena kebetulan sedang ada pembangunan sirkuit GP
Oia, di Pantai Kuta kami mengeluarkan uang sebesar Rp 10.000 untuk biaya parkir (Rp 2.500/orang)
Saat itu, Topan langsung menyarankan kami untuk menuju Pantai Tanjung Aan dan kami sepakat. Jaraknya juga cukup dekat, kurang lebih 10 menit kami sudah tiba di pantai tersebut. Pantai ini cukup panjang dan kami menuju ujung dari pantai ini. Di ujung pantai inilah kami melihat adanya perbedaan jenis pasir dalam satu pantai.
Perbedaannya kayak gimana, nah! Saya akan memunculkan tulisan juga tentang Pantai Tanjung Aan namun secara terpisah :D
Sembari bermain di Pantai Tanjung Aan, kami pun menunggu perginya awan gelap yang menutupi sang surya. Karena dari pantai ini, kami berencana untuk menaiki Bukit Merese dan menikmati sunrise terindah di Lombok (kata Topan).

Akan tetapi sampai pukul 16.45, matahari masih bersembunyi dan kami pun membatalkan niat ke Bukit Merese :(
Kemudian kami meminta masukan dari Topan untuk destinasi kami selanjutnya dan Topan memberi kami saran untuk menuju ke Pantai Seger. Kami pun sepakat dan segera masuk ke dalam mobil dan menuju pantai tersebut.
Pantai Seger terkenal dengan keindahan alamnya melihat gugusan pantai di sekitaran Pantai Kuta, selain itu pantai tersebut juga terkenal dengan cerita rakyatnya yakni tentang Putri Mandalika dan Cacing Nyale.
Biaya yang kami keluarkan di pantai tersebut ialah sebesar Rp 10.000 sebagai biaya parkir (Rp 2.500/orang)
Cerita tentang Pantai Seger juga akan saya munculkan dalam tulisan berbeda ya :D
Puas mainan angin di Pantai Seger, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kawasan Ampenan. Awalnya mau main di sekitar bangunan tua di kota Ampenan, akan tetapi Topan menyarankan kami untuk sekalian main ke Pantai Ampenan. Kami menikmati sunrise ala anak gaul Lombok :p

Cukup indah dan sangat santai. Karena selepas menikmati matahari tenggelam, kami pun mencicipi kuliner di sekitar pantai.

Ada sate ayam, sapi, usus yang direndam bumbu kemudian juga ada jagung bakar yang cara penyajiannya cukup unik, enak!!!!
Biaya yang kami keluarkan untuk nongkrong saat itu sebesar Rp 35.000 dan biaya parkir Rp 5.000
Biaya per orangnya Rp 10.000
Karena tujuannya buat icip-icip kami memang tidak memesan banyak, kami mempersiapkan perut untuk menyantap kuliner lainnya yakni Ayam Taliwang. Dan kira-kira jam 19.00 kami melanjutkan perjalanan menuju rumah makan Ayam Taliwang.
Untuk makan berlima* kami menghabiskan Rp 260.000 (Rp 65.000/orang) **dibagi 4 ya :D
Ada sesuatu tentang kebiasaan makan di Lombok yang sangat membingungkan dalam perjalanan kami. Kalau sampat akan saya tulisan juga nantinya :)
Ketika sudah kenyang dan kelelahan, kami pun memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan. Kurang lebih jam 21.30 kami tiba di penginapan.
Uang lainnya yang kami keluarkan ialah:
Sewa Mobil Rp 375.000
Bensin Rp 100.000
Lainnya (driver, makan, jajan di Indomaret) Rp 208.500
Kalau dibagi 4 kurang lebih Rp 171.000/orang
Sampai di penginapan, kami berdiskusi untuk perjalanan menuju Gili Trawangan. Kami memantapkan hati untuk menuju Gili T karena pertimbangan yang bisa membatalkan rencana kami.
Proses ini akan saya masukkan posting dalam tulisan khusus GILI TRAWANGAN :D :D :D
Biaya yang kami keluarkan dari penginapan - Pelabuhan Bangsal - Pelabuhan Gili Trawangan sebesar Rp 300.000 (Rp 75.000/orang)
Kami menuju Pelabuhan Bangsal menggunakan shuttle bus dan di dalam bus tersebut hanya kami wisatawan lokalnya :p yang lainnya ya turin mancanegara.
Namun kalau waktu kamu sempit sebaiknya tidak menggunakan fasilitas ini. Kenapa? Karena saya pribadi merasa WAKTUNYA NGARET banget! Padahal cuma semalam doang di Gili T :'( Kami baru berangkat dari penginapan sekitar jam 8.30 dan sampai di Pelabuhan Bangsa jam 9.40 itu pun baru berangkat jam 10an dan nyampe di Gili T nya udah hampir jam 11 siang.
SECARA RINCI akan diceritakan pada tulisan GILI TRAWANGAN!
Di Gili Trawangan kami akan menginapan di Welly Bungalow dengan biaya yang dikeluarkan per malam Rp 100.000/orang dan sewa sepeda 1 hari penuh seharga Rp 30.000/orang
Sebelum kami berangkat menuju Gili T, kami sudah menghubungi pemilik penginapan dan beliau akan menjemput kami di sekitar Pelabuhan Gili T. Dan benar saja, ketika tiba di Pelabuhan Gili T, beliau langsung mengarahkan kami menuju penginapan.
Karena mencari harga yang bersahabat, beliau tidak menyarankan kami menggunakan cidomo (transportasi lokal) karena biaya yang kami keluarkan bisa mencapai Rp 125.000 - 150.000. Karena mau menghembat biaya, 2 orang memilih naik sepeda yang dibawa oleh Pak Nadus (pemilik penginapan) dan 2 orang lainnya memilih berjalan bersama Pak Nadus. Saya adalah tim #jalankaki hehe, dan karena berjalan itu saya jadi hafal jalan dari Pelabuhan - Penginapan. Sepanjang perjalanan, saya juga banyak bercerita dengan Pak Nadus salah satunya adalah jalan menuju lokasi sunset point dan night market. Bahkan hal penting yang tak lupa kami tanyakan adalah WARUNG MAKAN MURAH MERIAH di sekitar lokasi penginapan. Ternyata oh ternyata, isteri Pak Nadus berjualan nasi bungkus yang harganya harga mahasiswa banget!!!
Kami mengeluarkan uang makan siang sebesar Rp 40.000 (4 nasi bungkus dan 2 air mineral 1.500 mL)
Uang makan siang kami berarti Rp 10.000/orang
Cerita tentang penginapan di Gili T ini juga akan berada di tulisan terpisah :D
Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami pun menuju ke masjid. Tapi disini bukan karena mau sholat melainkan mau mencari persewaan alat snorkeling, hoho. Dengan menggunakan sepeda Welly Bungalow yang adalah nama penginapan kami, sampailah kami di area masjid dan menemukan sebuah persewaan.
Harga di persewaan ini sudat NET gak bisa ditawar :') dan dengan mempertimbangkan 1-2-3 yakni biaya - waktu - tenaga kami pun sepakat untuk mengambil paket 2 jam.
Biaya yang kami keluarkan untuk sewa private glass boat selama 2 jam sebesar Rp 800.000 (Rp 200.000/orang)
Kalo mau puas, kamu juga bisa menyewa untuk 4-5 jam penggunaan kapal yang sama dengan biaya sebesar Rp 1.200.000
Mas yang mempunyai tempat sewa juga cukup ramah karena mau kami repoti dengan menitipkan sepeda tanpa kunci, hahah! Rules yang perlu diketahui, di Gili T banyak sekali sepeda dan kunci sepeda merupakan hal wajib yang perlu dibawa karena biasanya ada orang yang usil dengan mengambil sepeda orang dengan alasan 'kehilangan sepeda sendiri' . Kunci sepeda kami kala itu masih dibawa oleh staff penginapan, itulah mengapa kami tidak membawa kunci sepeda.
LAUTNYA INDAH! Pengen balik :p
Keseruan snorkeling di laut lombok memiliki bagiannya sendiri, so stay tuned (as usual) :p
Ternyata waktu 2 jam cukup melelahan namun tetap KURANG! Dan berakhir dengan berbagai hal menarik yang tentu sangat berkesan. Selama perjalanan, kami juga banyak mendapatkan cerita seputar Gili T dan sekitarnya.
Sampai di lokasi persewaan, kami segera menuju kamar mandi dan membilas badan seadanya lalu mengayuh sepeda menuju penginapan. Sampai di penginapan, kami pun bergantian mandi dan setelahnya langsung menuju sunset point berbekal arahan yang telah diberikan oleh Pak Nadus :D
Ketika sampai di sunset point keadaan sekitar sudah cukup ramai dan kami pun bergegas mencari spot terbaik. Kami memilih sebuat restoran, karena kebetulan kami berempat juga cukup lapar.
Biaya yang kami keluarkan untuk 2 porsi makan dan 2 minum yakni sebesar Rp 270.000 (Rp 67.500/orang)
Kalau nongkrong di retstoran sekitar sunset point kamu gak harus membeli makan kok. Tetangga sebalah kami ada yang hanya memesan minum saja. Walau memang terasa mahal, tapi menurut hemat kami gak masalah, hitung-hitung memajukan usaha warga sekitar.
Harga makanannya setara sama porsi dan rasa kok. Kemarin kami memesan fish and chips seharga hampir Rp 100.000 dan pas datang, mantap gila! Rasanya enak plus porsinya itu loh, gede banget! Cocok buat sharing!
Kalau harga minuman sendiri relatif mahal sebenarnya around 45K. Dikategorikan mahal karena rasa gak setara sama harganya, alias kurang memuaskan. Hehehe...

Keindahan matahari pada gambar di atas diambil sebelum semua makanan dan minum kami habis. Dan ketika semuanya habis, matahari semakin indah hingga saya pribadi tidak ingin mengambil satu fotopun. Saya ingin menikmati dan menyimpanannya dalam kepala sehingga semua itu akan memunculkan kerinduan yang akan mengantarku kesana suatu saat nanti :)
Sunset terindah!
INDAAAAAAAHHHHHH BAAAAANNGGGEEEEETTTTTTT!
Hari sudah mulai gelap, kami pun bergegas menuju masjid untuk mengantar seorang teman kami menunaikan ibadah sholat maghrib. Selepas sholat, kami pun menuju night market.
Lokasi night market berdekatan dengan dermaga private boat Lombok - Gili T. Beberapa ratus meter setelah mesjid. Kami kemarin sempat bertanya pada beberapa penduduk tentang night market ini dan mereka dengan senang hati mengarahkan kami menuju lokasi pasar malam itu.
Sembari memberi arahan menuju night market kami pun ditawari untuk menikmati pesta sampai pagi. Hahaha! Jadi kalau kalian penikmat pesta, jangan lewatkan pesta malam tersebut :p

Gambaran night market di sana kurang lebih seperti itu. Ramai orang dan makanan. Pilihannya banyak, jadi kamu bisa menyesuaikan anggaran dengan pilihan makanan.
Disana ada banyak seafood, akan tetapi harga yang ditawarkan cukup mahal. Dan di Jogja, kami bisa menemukan makanan yang seperti itu dengan harga yang lebih murah. Hahaha!
Bayangin aja untuk seekor cumi-cumi yang ukurannya tidak begitu besar, harga yang ditawarkan Rp 100.000 KEMUDIAN 3 ekor udang dihargai Rp 90.000 MEN! Yang benar aja.
Karena sudah cukup kenyang ketika makan di sunset point, kami tidak memesan banyak makanan. Makanan kami malam itu adalah sate, gorengan, bakso dan sebotal air mineral. Semua kami nikmati bersama-sama.
Tips: Jangan lupa tanyakan harga sebelum memesan, supaya anggaran tetap aman. Hoho...
Biaya yang kami habiskan untuk makan di night market sebesar Rp 98.000 (Rp 24.500/orang)
Sebenarnya kami ingin menikmati gelato, akan tetapi perut sudah 'tidak muat' dan setelah makan bakso kami pun memilih untuk kembali ke penginapan.
Dilema yang muncul pada malam hari adalah menentukan transportasi kami untuk kembali ke Lombok. APAKAH DILEMA KAMI SAAT ITU? Tunggu di tulisan berikutnya ya :)
Kami mengeluarkan uang sebesar Rp 15.000/orang untuk membayar biaya public boat menuju Pelabuhan Bangsal (Lombok)
Perjalanan kami saat itu sekitar 45 menit dan ketika sampai di Pelabuhan Bangsal sudah terdapat beberapa pilihan untuk menuju ke Bandara Lombok diantara menggunakan cidomo kemudian disambung dengan taksi argo selain itu ada juga yang menggunakan taksi pelabuhan yang harganya harus nego di muka. Awalnya sih pengen jalan kaki keluar kemudian menggunakan taksi argo, akan tetapi tawaran taksi pelabuhan kali itu cukup mengiurkan dan kami mengambil tawaran tersebut.
Kami mengeluarkan Rp 300.000/mobil untuk biaya dari Pelabuhan Bangsal ke Bandara Lombok.
DItambah juga biaya parkir bandara sebesar Rp 10.000/mobil
Harga per orangnya sebesar Rp 77.500
Banyak cerita yang sang driver bagikan dengan kami dan dengan baik hatinya beliau juga mengantar kami menuju tempat oleh-oleh yang kebetulan sejalan dengan arah ke bandara.
Kami tiba di bandara tepat waktu yakni sekitar pukul 10.00 WITA dan setelah menunggu beberapa jam, kami pun langsung terbang menuju Surabaya. Waktu transit kami di Bandara Juanda ialah 4 jam dan disela-sela waktu transit kami memutuskan untuk mengisi lambung tengah karena pagi itu kami tidak sempat sarapan.
Karena bingung mau makan apa, kami pun memilih untuk makan di AW dan di sana kami menghabiskan Rp 325.000 (Rp 81.200/orang)
Lumayan mahal sebenarnya kalau hitungan backpackers akan tetapi uang yang tersisa memang masih cukup banyak jadi sekalian saja kami manfaatkan.
TOTAL PENGELUARAN Rp 3.085.500/orang dengan uang yang masih sisa sebesar Rp 17.500
Berliburlah dengan cara yang tepat, orang yang tepat dan suasana hati yang riang gembira!
Kira-kira budget 3 juta(an) bisa menghasilkan cerita apa lagi ya? CAN'T WAIT!
0 notes
Text
TRANSIT 8 JAM DI BALI, KEMANA AJA?
Bali bukanlah tujuan akhir perjalanan namun untuk memanfaatkan waktu transit saya dan 3 teman lainnya memutuskan untuk mengitari Bali.
Bermodal google maps, kami berempat memilih destinasi yang akan kami sambangi. Ada 2 pilihan yakni:
Pantai Kuta - Double Six Beach - Ayam Betutu Khas Gilimanuk - Krisna
Garuda Wisnu Kencana - Waterblow - Ayam Betutu Khas Gilimanuk - Krisna
Dan ternyata kami sepakat untuk memilih opsi kedua. HORAY!!!!
Ketika memilih destinasi wisata, kami pun mencari pilihan transportasi. Awalnya mau naik transportasi online dengan perhitungan akan habis sekitar Rp 147.000
Akan tetapi apabila kami mengambil transportasi online setiap dari kami harus menitipkan bagasi yang dikenakan Rp 50.000/orang.
Kalau ditotal transportasi online + jasa penitipan Rp 347.000
Biaya itu tidak menghitung waktu yang bakal dihabiskan untuk menunggu angkutan. Apalagi GWK dan Waterblow bukan berada di daerah kota yang banyak pilihan transportasi.
Akhirnya kami mencari pilihan lain yakni rental mobil. Sebenarnya ada banyak pilihan akan tetapi kami memutuskan untuk menggunakan jasa dari rental Bli Komang.
Kami memilih untuk memakai full package bukan hanya mobil doang. KENAPA? Karena kami memilih menyimpan tenaga, perjalanan kami masih panjang. Walau sebenarnya dalam perjalanan kami ada 3 orang yang bisa nyetir dan tentu mempunyai SIM tetapi karena ingin menikmati perjalanan bak princess kami tetap menjunjung tinggi hal-hal praktis. Hahahaha! Oia selain itu kami juga meminimalisir waktu nyasar karena waktu kami memang sangat singkat.
Harga untuk 8 jam ialah Rp 375.000 (mobil, bensin, driver)
Oia, kontak Bli Komang saya peroleh dari forum Kaskus: https://fjb.kaskus.co.id/product/000000000000000013961106/sewa-mobil-paket-tour-murah-di-bali
Tapi diperhatikan lagi, harga 300 itu ada dipostingan tahun 2012. Hohoho....
Kalau saya pribadi, saya memilih rental mobil ini karena merasa cukup 'klik' setelah bernegosiasi langsung. Ada juga beberapa postingan yang memberi saran untuk mencari cadangan rental mobil buat 'berjaga-jaga'. Waktu itu saya cuma berdoa aja semoga rental mobil ini pilihan terbaik untuk short trip kami.
Tibalah pada waktu keberangkatan kami yakni tepatnya pada tanggal 2 Agustus 2017. Pukul 05.30 WIB, saya sudah mengirimkan pesan kepada Bli Komang untuk sekedar mengingatkan kembali. Dan disitu Bli Komang juga menginformasikan nama dan nomor telepon driver yang akan menjemput dan menemani kami yang bernama Bli Putu.
Ketika mendarat di Bali pada jam 08.25 WITA saya segera menghubungi Bli Putu. Dan ternyata Bli Putu sudah menunggu kami di luar pintu kedatangan. Dengan ramah Bli Putu membantu membawakan bagasi teman-teman dan kami bergerak menuju ke mobil. Setelah semua duduk manis, mobil mulai bergerak menuju pintu keluar Bandara dan di gerbang keluar kami membayar Rp 4.000 sebagai biaya parkir.
Kami memberitahu Bli Putu destinasi wisata apa saja yang ingin kami kunjungi dan GWK merupakan destinasi pertama. Kemudian kami juga menyampaikan tujuan wisata yang lain dan Bli Putu menyarankan kami untuk memasukan Pantai Pandawa sebagai destinasi wisata.
Pertanyaan kami adalah, "waktunya cukup gak?"
Dan Bli Putu menjawabnya dengan santai, "Asalkan enggak 5 jam disitu ya cukup"
Suasana mobil begitu hangat dengan banyaknya percakapan yang tercipta. Anyway, setelah kami ngobrol ngalor ngidul (kesana kemari) kami pun mengetahui bahwa Bli Putu seangkatan sama kami dan dengan kesepakatan kami pun memanggilnya PUTU (saja). Tanpa terasa kami pun tiba di GWK oia biaya parkir GWK sebesar Rp 10.000.
Setelah memarkirkan mobil, kami semua turun dan menuju loket tiket. Harga entry ticket Rp 80.000/orang
Putu juga turun bersama kami dan masuk dengan menggunakan driver card (gratissssss)
Dari loket tiket menuju gerbang masuk cukup jauh, tapi karena udara masih krenyes-krenyes alias masih sejuk banget, itu semua gak kerasa. Sampai di gerbang, kami diberikan kain untuk diikat dipinggang tanpa diberikan sarung karena busana kami semua sudah cukup tertutup.
Jalan-jalan di GWK cukup menyenangkan dan saran dari saya, jangan lupa mampir ke pondok informasi untuk mendapatkan lebih banyak pengetahuan seputar GWK. Bapak pemandunya akan dengan ramah menjelaskan dan menjawab pertanyaan kamu.
Ini salah satu yang bisa kamu peroleh di pondok informasi :)

Kemudian bagi kamu yang tidak lagi datang bulan, kamu akan diarahkan untuk menuju ke sebuah tempat sakral yang adalah sebuah mata air. Mata air tersebut dipercaya tidak pernah berhenti dan munculnya juga begitu ajaib. Kok bisa ajaib?
NAH!!!! Temukan jawabannya di pondok informasi ya, hoho...
Waktu itu pemangku yang biasa ada di mata air sedang tidak ada, akan tetapi bapak pemandu dengan baik hatinya mau menemani saya dan seorang teman saya. Setelah kami berdoa, beliau kemudian menyiramkan kami air suci yang sudah disiapkan dan memberi beras di kening kami. Setelah itu, bapak pemandu juga mempersilahkan kami untuk mengambil foto mata air tersebut.

Nah! Air suci yang buat berdoa tersebut (sumber mata airnya) keluar melalui lubang tersebut :)
Ada aktivitas lain juga loh yang bisa kamu lakukan di GWK yakni menonton pentas seni. Waktu kami datang, ada pertunjukan Tari Kecak jam 10.00 WITA akan tetapi karena mempertimbangkan waktu, kami pun melewati tarian tersebut :')

Ketika sudah puas di GWK, Putu pun memacu mobilnya menuju Pantai Pandawa yang waktu tempuhnya sekitar 15 menit dari GWK.
Biaya yang kami keluarkan di Pantai Pandawa ini adalah:
Parkir: Rp 5.000
Tiket: Rp 8.000/orang
Ketika sampai di Pantai Pandawa, Putu mengajak kami kedua spot yakni spot pertama untuk melihat Pantai Pandawa dari atas dan spot kedua untuk langsung bersentuhan dengan air laut :)

Pantai Pandawa bersembunyi di balik batu-batu tersebut dan ketika menampakan dirinya, indah as usual.
Di spot pertama, kamu bisa mengambil banyak gambar Pantai Pandawa dari atas dan juga menikmati semilir angin.
Sebelum masuk di spot kedua, petugas akan menanyakan kembali berapa orang dalam satu mobil. Awalnya agak kaget, karena kami berpikir akan ditarik biaya retribusi lagi ternyata cuman cross check aja. HAHAHAHAH!
Putu menurunkan kami di depan jalan setapak menuju pantai dan kami berempat segera menuju pantai dengan riang gembira.
Banyak hal yang bisa dilakukan di pantai ini, berjemur, main air, berenang, kano dan atau sekeder duduk santai. Atau taking picture kayak kami. Pengen sih nyobain kano, tapi apalah daya #baladaanaktransit hahaha (lucu juga hastag nya)
Melihat aksesnya yang cukup mudah dan keindahan pantainya boleh dikatakan Pantai Pandawa sangat recommended!!!

Menghabiskan waktu sekitar 20 menit di pantai yang cantik ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Waterblow! Si Putu agak kaget ketika kami memilih waterblow sebagai destinasi, karena menurut dia gak banyak yang bisa dinikmati disana. Tapi ya namanya penasaran, Putu gak bisa mengubah destinasi kami.
Waktu tempuh dari Pantai Pandawa ke Waterblow kurang lebih 30 menit. Kami hanya mengeluarkan biaya parkir sebesar Rp 5.000 untuk menikmati keindahan Waterblow.
Setelah mobil terparkir, kami berjalan menuju spot air. Lumayan jauh sih, hahaha, tapi lagi-lagi kami dimanjakan oleh pohon dan tanaman hijau yang tertata dengan rapi. Mendekati spot air, kami mulai mendengar gemuruh ombak. Super excited! Semakin dekat, suara ombak makin meriah.
Sampailah kami di WATERBLOW!

Itu pemandangan dari kejauhan, semakin dekat ke spot air, semakin cantik!!!!
Kalau udah disini, harus siap basah-basahan ya... Karena yang terjadi dengan kami sungguh diluar dugaan. Kami berlima, basah kuyup!
aaa... E N A K
Tapi! Seisi tas basah , HP juga gak luput but thanks God HP saya anti air. Hahahaha!!!


Setelah mendapat tamparan air, kami berlima langsung beranjak pergi. Walau masih pengen lama, tapi kalau semakin lama disana kami pasti akan semakin basah kuyup :(
Kami pun segera menuju mobil dengan kondisi yang memprihatinkan karena basah kuyup. Mobil Putu juga tak luput dari sisa-sisa air di Waterblow dan Putu sang driver ikhlas juga karena ikut basah-basahan bersama kami.
Setelah dari Waterblow kami menuju ke Krisna untuk membeli oleh-oleh. Walau hanya transit di Bali, kami sengaja untuk menuju pusat oleh-oleh. Supaya apa? SUPAYA MAKIN NYATA KAMI PERNAH KE BALI.
Untuk menuju Krisna, kami menggunakan tol dan mengeluarkan uang sebesar Rp 11.000
Lewat tol memang mengeluarkan biaya lebih, tapi menurut ku setimpal, karena kami diburu oleh waktu :)
Dari Krisna, kami makan di Ayam Betutu Khas Gilimanuk yang lokasinya hanya beberapa meter dari Krisna.
Kami berlima makan dengan pilihan menu yang berbeda. Ada yang pesan nasi campur, ayam betutu goreng dan ayam betutu (kuah).
Kami menghabiskan Rp 225.000 untuk makan 5 orang dan biaya parkir sebesar Rp 2.000

Nasi campur

Ayam Betutu Goreng

Ayam Betutu (Kuah)
Yang terlintas saat makan ayam betutu goreng ialah " Apa beda ayam betutu goreng sama ayam goreng biasa?"
Tapi tetap enak!
Hahhaha....
Perjalanan kami di Bali usai sudah setelah Putu mengantarkan kami di Bandara.
Sedikit saran yang diberikan Putu ialah, kalau mau menuju Lombok/ Gili Trawangan sebaiknya menggunakan fast boat dari Bali. Biaya yang dikeluarkan around 250 - 300K. Saran tersebut bisa dijadikan pertimbangan untuk bekal trip selanjutnya.
Thank you Putu for having us :)

Rencana perjalanan berikutnya di Bali sendiri ialah:
Menuju ke Nusa Ceningan dan menghabiskan 2 malam disana
Menuju Kuta untuk menginap di Hostel backpacker dan menghabiskan 4-5 malam disana
KAPAN?
Ya akan datang pada waktu yang tepat :)
TRIP TO LOMBOK & GILI TRAWANGAN COMING SOON
1 note
·
View note
Quote
Malam ini Jalan Kaliurang sangat cantik. Kan ku ingat, selalu.
YOGYAKARTA, 25 JUNI 2017 --menunggu pesanan nasi goreng di samping apotik Tiara (apotik langganan)
0 notes