Text
“I hope you find yourself out there. I hope you figure out your heart. I hope you figure out your mind. I hope you learn how to be kind to yourself. How to embrace the journey you are on. I hope you learn to be proud of the person you are becoming. I hope you learn to be proud of where you are - even if it isn’t exactly where you want to be.”
— Bianca Sparacino
41 notes
·
View notes
Text
You raise me up to more than i can be
3 notes
·
View notes
Text
Ciri-ciri kamu telah dewasa
"Stop menyalahkan orang lain"
______________________
"Segala sesuatu terjadi, dihadirkan dan kamu "alami" sebagaimana bentuk pilihan dan pembelajaranmu"
Terima dan alami.
#am
3 notes
·
View notes
Text
PENERIMAAN, PEMAKLUMAN, DAN PENYEMBUH.
Kondisi diriku saat mampu menerima, merangkul, memeluk emosi diri sendiri yang muncul dari endapan2 pengalaman masa lalu (sadar,bawah sadar, tak sadar) yg memunculkan prasangka masa kini, dengan jujur apa adanya, maka proses penyembuhan diri terjadi.
Kemampuan ini pula yang akan memampukan diriku dari menerima dan memaklumi dinamika orang lain, dan kemudian membantu proses penyembuhan orang lain, daripada menolaknya atau menjauhinya.
Tanpa penyembuhan akan terjadi pengulangan demi pengulangan emosi yang sama. Dan ini adalah warisan tanpa sadar yang aku berikan kepada anak cucu kelak
Kadang orang lain hadir dalam rangka mentriger kesan2 yang mesti disembuhkan. Masalah tidak pernah ada diluar tetapi ada didalam diri demikian pula penyembuhan nya.
Bersyukur atas kehadiran siapapun dan apapun hal yg memicu terjadinya penyembuhan diri. Hingga pertumbuhan dan transformasi jiwa terjadi secara nyata.
Hanya orang yang punya pengalaman teraniyaya akan menganiyaya.
Demikian pula hanya orang yang punya pengalaman menyembuhkan dirinya dapat membantu menyembuhkan orang lain.
Terima kasih, Gusti Maha Agung
Terima kasih , Ayu.
Maospati, 24 Mei 2025
1 note
·
View note
Text
Gimana sembuh dari Luka batin?
Sadari dulu, untuk sembuh dari luka batin, kita terima dan akui dulu bahwa luka itu masih ada dalam diri kita, lalu sadari bahwa dahulu dengan ketidaksadaran kita pernah memilih terluka atas apa yang orang lain lakukan pada diri kita.
Karena jika kita sadar, sebetulnya kita bisa memilih untuk terluka/tidak apapun yang orang lain lakukan pada kita.
---
Pengampunan itu ada dan nyata.
Jika kita sadar, bahwa di setiap tarikan dan hembusan nafas, kita selalu dikasihi dengan nyata oleh Sang Sumber Hidup, Energi Illahi bekerja melalui diri kita, dalam kasih yang murni, kita selalu diampuni , melalui pengampunan itulah kita meminta pengampunan kepada diri kita sendiri.
-----
Kenapa ke diri sendiri?
Karena itulah yang paling penting, kita sadari bahwa kita pernah memilih untuk terluka (dengan ketidaksadaran) akibat perilaku orang lain.
Karena jika tidak mengampuni diri sendiri ,kita akan membawa beban.
Dalam setiap tarikan dan hembusan nafas tak peduli luka itu sedalam apa, Sang Sumber Hidup selalu memberikan Kasih dan pengampunanNya yang nyata.
---
Berhenti menjadi korban atas angkara murka orang lain.
Menjadi korban atau tidak itu juga pilihan. Jika kita sadar akan hukum semesta yang selalu adil dan presisi, kita cukup memaklumi siapapun sebagaimana adanya. Apapun yang dia perlakukan kita tetap memilih untuk terus konsisten menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas, merasakan anugerah, kasih yang nyata dari Sang Sumber Hidup.
-----
Biarkanlah kekuatan kasih murni bekerja di dalam diri kita. Lalu kita digerakkan untuk mengampuni dengan tanpa syarat diri kita sendiri dan orang lain.
Sadari bahwa mereka yang berbuat angkara murka kepada kita, baik yang menipu, mengkhianati, sebenernya mereka sedang tidak dalam kebahagiaan.
Kita maklumi sebagaimana adanya.
Jangan terjebak dan malah ikut gak bahagia seperti mereka. Pilihlah untuk tetap bahagia apapun yang dilakukan orang lain.
Pelukk semua ✨️
--------------------
"Kita tetap bisa tersenyum , meskipun orang lain menyinyiri atau mengejek kita.
Kita tetap bahagia dan damai , tak peduli orang lain berbuat apa, dia menghargai kita atau tidak itu tidak penting kalau kita sadar keAgungan jiwa kita.
Ayu Mustika
Sleman , 20 Oktober 2020
#Sleman #Lukabatin #pencerahan
1 note
·
View note
Text
Meditasi dan mindfullness adalah proses mengenal diri. Semakin kenal dengan diri kita sendiri, pikiran, hati dan hidup jadi lebih tenang. Karena dengan itu, kita bisa mengakui penderitaan kita, belajar gimana cara mengatasinya, kita kenali derita itu secara dalam, cari akar mula derita itu ada, terima itu, maafkan , dan lepaskan.
Punya derita berkepanjangan , itu sakit. Selalu ambil waktu untuk diri sendiri dengan memperhatikan napas kita disaat keluar dan masuk, disini dan saat ini.
Ayu Mustika.
1 note
·
View note
Text
Halooo..
Ini beberapa aku uraikan yah.. tanda-tanda trauma , supaya kita tuh bisa lebih jujur sama diri sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat :
1. Hyper-independent : Motto “Gue bisa sendiri kok!" mungkin keliatan kuat, tapi bisa aja itu cara buat melindungi diri biar nggak perlu bergantung sama orang lain dan menghindari rasa kecewa.
2. Susah pasang batasan (set boundaries) : Selalu bilang “iya” walau udah capek banget atau sebenernya nggak mampu, dan ngerasa bersalah kalo bilang “nggak.” Biasanya karena takut ditolak atau ditinggalin.
3. Perfeksionis : Obsesi sama kesempurnaan kadang bukan sekedar ambisi, tapi tanda takut dikritik atau ngerasa gagal.
4. Harus *selalu* sibuk : Menuhin schedule sampai ga punya waktu sendiri, itu bisa jadi cara untuk melindungi diri dari pikiran yang bikin sedih atau mengingat trauma.
5. People-pleasing : Selalu nurutin orang lain sampai mengabaikan kebutuhan sendiri. Ini sering kejadian karena dulu, kita belajar kalau bikin semua orang seneng adalah cara buat ‘jaga kedamaian’ di lingkungan yang kacau.
6. Terlalu sering minta maaf : Minta maaf atau over-explaining untuk hal kecil yang bahkan bukan salah kamu bisa jadi cara untuk menghindari konflik atau kritik.
7. Menghindari kedekatan emosional : Selalu ngejaga jarak dalam hubungan atau nggak mau terbuka sama orang lain, bisa jadi bentuk perlindungan biar nggak disakitin lagi.Ada nggak yang relate sm kamu?
Self-awareness adalah langkah pertama menuju perubahan; because you deserve to be in a healthy, fulfilling relationship. ❤️
Ayu Mustika.
Juni 2022
3 notes
·
View notes
Text
I don’t revenge, I deleted people.
Kemampuan setiap pribadi emang unik banget yah, bahkan kemampuan untuk mempertahankan ego, diri sendiri dari segala hal yang harusnya tidak dikhawatirakan hanya sebatas pikiran yang liarpun harus jadi prinsipku yang aku anut sampai hari ini.
Kemampuan untuk menghapus segala hal agar hal yang mulai nyakiti diri sendiri?.Ssstt.. bentar nyakiti diri sendiri? Jadi sebenernya, hal itu mulai aku sadari adalah ekspesktasi aku sendiri yang gak sesuai , tapi balik lagi dengan ketidaksadaranku dan pembiaranku maka aku terjunkanlah ekspektasiku itu berlatar belakang , “aku takut sakiti” dan aku 100% sadar akan hal itu sebagai bentuk mekanisme defense si ego.
Bermotif belakang , “Aku takut sakit hati” maka aku keluarkan jurus deleted people. Bermula dari sifat redflag yg barusan aku sadari, love bombing , menghujani dia dengan banyak cinta yang awalnya aku kira itu akan baik-baik aja.
Bersambung…
1 note
·
View note
Text
Terima kasih ya , melalui keberadaan kamu di Bumi ini aku jadi paham, gak semua manusia itu punya empathy.
5 notes
·
View notes
Text
Tidak semua hal bisa kita miliki, tapi semua hal bisa kita syukuri.
4 notes
·
View notes
Text
SKENARIO PENYELESAIAN PLANDEMIC
Ini jelas bukan murni tentang soal medis. Kita bukan melawan virus. Yang jahat bukan virusnya. Yang menyusahkan kita adalah para manusia serakah yang berwujud oknum pengusaha farmasi, oknum pejabat lembaga internasional, oknum pejabat pemerintahan, oknum pengusaha dan pekerja media, para buzzzet dan influencer, oknum dokter, dan semacamnya - mereka berkolusi menebar ketakutan dan menciptakan peraturan yang menyusahkan rakyat banyak. Mereka yang mestinya melindungi rakyat malah ikut larut dalam permainan. Kita rakyat jelata memang harus menyelamatkan diri sendiri.
Mungkinkah kita selamat? Akankah plandemic ini berakhir? Segala hal yang menyusahkan ini berakhir hanya dengah kebijakan: cabut status darurat kesehatan, hentikan PSBB/PPKM, hentikan anggaran yang spektakuler, hentikan semua test dan upaya mengejar-ngejar orang sehat.
Bagaimana itu bisa terjadi jika DPR dan parpol juga ikut hanyut dalam permainan? Bagaimana itu bisa terjadi jika Presiden dan para menterinya juga sudah dikondisikan sedemikian rupa sehingga tidak lagi mengayomi rakyat? Bagaimana juga jika banyak pemuka agama malah menstempel segala kebijakan yang keliru - mereka malah larut dalam agenda globalis cabal?
Kita masih punya Tuhan. Bisakah Tuhan menolong kita? Tentu bisa. Tapi kita yang harus berupaya memastikan pertolongan itu datang. Kita yang harus memenuhi persyaratan agar keselamatan itu terjadi. Jangan bayangkan Tuhan sebagai sosok yang bisa dirayu dengan doa-doa di bibir. Tuhan pada dasarnya adalah realitas kekosongan absolut, Ia mengejawantah sebagai hukum kosmik yang adil, presisi dah pasti.
Agar pertolongan Tuhan datang, karma buruk kolektif harus dijernihkan dulu. Maka dasar semuanya haruslah revolusi spiritual. Yang bisa menjadi lokomotif perubahan saat ini, melawan manusia yang memang diback up oleh dark forces, adalah mereka yang telah mencapai tataran Avatar/Kristus/Adhi Buddha.
Jika Anda ada dalam keheningan, Anda niscaya tahu bahwa prakondisi untuk keselamatan bersamw ini telah ada dan nyata. Avatar yang menjadi Juru Selamat itu telah ada dan nyata, bekerja dengan kasih murni, memadukan secara selaras kelembutan dan ketegasan. Mereka tengah bekerja. Ada titik atau saat dimana konstelasi politik berubah dengan cara yang ajaib. Para tirani tumbang. Globalis cabal hancur lebur. Dia yang sempat dipuja puji akan menanggung malu itulah saatnya hari penghakiman bagi yang memilih kejahatan, dan hari kemenangan bagi jiwa-jiwa yang murni, yang beriman dengah kesungguhan.
Pertarungan sengit di ranah metafisika dan energi, kini sedang terjadi. Semakin memuncak, fase the final battle. Silakan Anda memilih ada di pihak mana dengah konsekuensi yang jelas.
Tetap semangat. Kebenaran pasti menang. Jaman kegelapan pasti berakhir, berganti era baru yang gemilang.
SHD
5 notes
·
View notes
Text
Mengutip beberapa kalimat wedaran tentang Luka Batin Dan KeAgungan Jiwa.
"Dendam, sakit hati, kecemburuan, rasa ingin dihargai, jika itu anda pelihara akan membuat diri anda menderita, membuat anda kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupan sorgawi yang sebetulnya sudah ada pada saat ini dan disini.
Sungguh rugi hidup kalau memilih untuk hidup dalam segala bentuk luka batin. Beruntunglah mereka yang memilih untuk menyembuhkan luka batin, maka sembuhkanlah luka batin itu di dalam keheningan.
Biarkanlah kekuatan kasih murni bekerja di dalam diri Anda.
Lalu Anda digerakkan untuk mengampuni dengan tanpa syarat mulai dari diri anda hingga orang lain.
Sadari bahwa orang-orang yang berbuat salah kepada Anda yang menipu, mengkhianati, sesungguhnya mereka sedang tidak dalam kebahagiaan. Maklumi saja.
Jangan terjebak dan kemudian malah ikut tidak bahagia seperti mereka.
Pilihlah untuk tetap bahagia apapaun yang dilakukan orang lain.
Karena sesungguhnya kita sendiri yang bisa menentukan bahagia atau tidak. Orang lain itu hanya bisa menciptakan stimulus/pemicu .
Tapi kita yang menentukan.
Di dalam keheningan, di dalam ke tertuntunan oleh diri sejati, kita bisa memilih tetap bahagia, tetap damai tidak peduli apa yang dilakukan orang lain.
Kita tetap bisa tersenyum , meskipun orang lain menyinyiri atau mengejek kita.
Kita tetap bahagia dan damai , tak peduli orang lain berbuat apa, dia menghargai kita atau tidak itu tidak penting kalau kita sadar keAgungan jiwa kita.
Mereka yang telah tuntas dengan dirinya sendiri, yang sadar akan keAgungan jiwanya akan bisa mengasihi setiap orang dengan tanpa syarat , tidak terluka oleh apapun yang dilakukan oleh orang lain.
Kita menjadi laksana samudera yang ada sampah apapun tidak kehilangan keagungan, keperkasaan dan kedamaian.
Jadilah jiwa yang lapang laksana samudera itu dan itu hanya terjadi jika Anda tekun menyelami keheningan . Mereka yang bisa bersikap dengan Jiwa yang lapang itu , mereka yang kasih murninya tumbuh sempurna di dalam diri. "
-SHD-
3 notes
·
View notes
Text
Menjadi Sadar
Keterampilan yang saya coba latih Dan tekuni setiap saat adalah melihat semua 'yang menyakiti' sebagai pantulan diri.
Dan 'yang menyakiti' adalah cara belajar langsung dari semesta melalui pengalaman otentik kita .
Ketidaksadaran adalah sumber penderitaan yang membuat kita selalu merasa seperti korban. Menyalahkan semua hal 'yang menyakiti' dari luar diri sebagai pelaku .
Maka, 'menjadi sadar' adalah penawar.
Untuk menjadi sadar, yang saya lakukan adalah tekun bermeditasi.
Meditasi dan hening cipta , menyelami diri, saya 'menjadi sadar' untuk menikmati moment demi moment dengan mensyukuri setiap anugerah yang di hadirkan semesta.
Inget kata-kaya wedaran suwung mas Guru SHD.
" Tiada umpan balik yg lebih jujur daripada peristiwa kehidupan Anda sendiri."
" Kita berterima kasih karena menerima umpan balik dari semesta.
Lalu jadikan itu pemicu untuk menjernihkan jiwa raga lagi" .
Lalu, kutipan chat WA saya dengan seembak yang ku sayang.
"Kesadaran itu...
Selaras antar pikir, ucap dan laku
Kalo mikirnya apa, lalu ngomongnya apa.
trus lanjut lakunya apa, ya jelas ga sadar.
Kalo sama diri sendiri aja bohong, apalagi sama orang...
Ciri orang ga sadar ya pikir dan lakunya beda...
Sederhana...
Tapi ngga mudah dalam prakteknya
Jadi dimulai dari sendiri dulu...
Karena semesta itu cerminan kita,
Kalo ngomong ya selaras dengan pikiranny,
Kalo bertindak ya selaras dengan ucapannya."
Selamat pagi..
Rahayu...
3 notes
·
View notes
Text

*MENJADI DEWASA
Bahwa sebetulnya tidak ada yang lebih indah dan bahagia di banding
menerima diri apa adanya, jujur pada diri sendiri, dan mencintai dan mengampuni diri .
Ketika suatu masalah datang, kita terima masalah itu, kita jujur pada diri sendiri apa yang di rasa, kita mencintai diri dan tak lupa mengampuni diri kita sendiri .
Karena jika terus menerus kita melihat ke luar diri, kita tidak akan pernah merasakan diri kita sendiri, tidak akan pernah bisa menerima diri dengan segala emosi, pikiran bahkan semua asumsi dan prasangka yang kita buat sendiri.
Bentuk dari sikap dewasa adalah kita menerima total dan sadar bahwa semua yang terjadi, kita rasakan penderitaan sakitnya, bahkan kegembiraannya.
Menjadi dewasa adalah bukan dari pengalaman hidup kita yang panjang, tapi bagaimana tentang menikmati pengalaman rasa batin kita mengenali semua rasa yang hadir dalam perjalanan hidup kita .
Kehidupan begitu cepat berlalu, setiap moment dalam hidup menjadi sangat berharga .
Jika hidup itu kekal dan abadi.
Siapa yang peduli dengan moment yang dihadirkan dalam hidup?
Kita punya kehendak untuk memilih menolak rasa penderitaan dan kegembiraan yang hadir, atau menerima total semua rasa yang hadir dalam masalah itu.
Menjadi dewasalah.
Nikmatilah hidup yang singkat dengan perjalanan batinnya.
Nikmati setiap momentnya yang berharga sampai kita tua .
Nikmatilah segala yang di hadirkan .
"Life is happiness and unhappiness. Life is day and night, life is life and death. You have to be aware of both." -Osho-
2 notes
·
View notes
Text
Kita Bukan Ayam yang Hanya Pasrah Menunggu Giliran Melihat Temannya Disembelih
Di antara banyak pengalih perhatian publik yang menjadi viral banyak orang yang semakin susah oleh karena kebijakan pembatasan aktivitas ekonomi. Artis-artis yang kehilangan job mulai kehabisan tabungan. Sub-sub kontraktor mulai diputus kontraknya. Kantor2 hukum tidak ada job karena tdk ada perjanjian kerjasama baru. Dari obrolan2 jalanan dan warung juga terdengar motor yg cicilannya tertunggak mulai ditarik, hal yang wajar sebab kantor leasing (pemberi pinjaman) juga perlu bayar karyawan, sewa kantor dll.
Ibaratnya klo ayam kita semua sedang mendengar teman2 ayam kita satu per satu dibawa ke tempat penyembelihan. Jika kita diam saja, maka giliran akan tiba juga. Mungkin jika diumumkan resesi ekonomi dan diumumkan ada satu bank saja yang telah gagal bayar karena akibat dari seperti akumulasi cicilan nasabahnya yang tak terbayar maka akan merembet ke bank-bank lain sebab satu bank dengan yang lain saling berhutang dan tentu saja simpanan di bank tidak akan bisa diambil berapapun kita punya simpanan di bank.
Entahlah kecerdasan para ekonom itu lari kemana. Kok bisa kompak diam saja dalam kondisi resesi telah menimpa beberapa negara.
Oh ya, kabarnya nanti skenarionya semua akan diberi bantuan keuangan. Tapi mesti ingat bahwa tidak ada makan siang gratis. Seiring dg bantuan keuangan setelah resesi aturan2 akan diperketat. Yg tdk mau tunduk dan patuh akan terbuang dari sistem kontrol elit penguasa global. Implan microchip akan dipasang di tangan atau di dahi sebagai pengganti kartu2. Semua transaksi tanpa uang tunai. Yg tdk punya implan microchip tdk bisa hidup dlm sistem. Tdk bisa jual beli, tdk bisa pakai dan akses transportasi publik, ruang publik dst. Semua ada dlm kontrol penguasa tunggal elit global.
Itu skenarionya jika mereka berhasil. Tergantung seberapa kuat kelompok pejuang kemerdekaan dapat menyatukan vibrasi kemerdekaan.
*Di ambil dari status Facebook Mas Sony Waluyo.
1 note
·
View note
Text
Shadow Work
Origins, Meaning and Utility
The Structure of the Mind

Carl Jung theorized the existence of three levels/spheres in the human psyche: the Ego, representing the conscious mind, the Personal Unconscious where memories are contained and the Collective Unconscious, where all knowledge and experiences of the species are shared.
Each Sphere has in it a certain number of Archetypes, used to better describe the components of those structures, and the Shadow is one of them.
What is the Shadow

The shadow can be seen as a instinctual or primitive part of ourselves, it exists as part of the unconscious mind and is composed of repressed ideas, weaknesses, desires, instincts, and shortcomings.
It is this archetype that contains all of the things that are unacceptable not only to society, but also to one's own personal morals and values, normally going against social norms and rules as well as what we personally consider right.
The Shadow is often described as the darker side of the psyche, representing wildness, chaos, and the unknown, and it is common for people to deny this element of their own psyche and instead project it on to others.
The Shadow in Witchcraft and Benefits of Shadow Work

Art: Unknown
The Shadow, in witchcraft, can represent The Unknown, hidden depth of ourselves. Speaking in terms of energy, this is an area that can be a deep source of energetic issues, because it’s locked up in the dark and always striving to reach the light.
To not work with one’s Shadow is to make it greedy and aggressive, as well as denying a big part of oneself, making everything a half of a whole.
Through that brief explanation, we can already establish the importance and role of the Shadow in witchcraft, and with that in mind, comes the concept of Shadow Work.
Shadow Work can be seen in a number of practices, meditation, trances, inner journey’s, lucid dreaming, astral travels, spells and divination.
The method can change, but the principle is simple: Centering your intent to self discovery, self knowledge and self acceptance.
Working with one’s Shadow is not only beneficial to one’s craft, as it allows one to get in touch with their intuition as well as allows for easier connection with one’s guide/guides, but it also allows for healing and acceptance of one’s feelings and needs.
Think of all aspects of life as a wheel. If there is one part bent, the wheel can turn, but with more effort. If the owner spends time fixing that bent part, the wheel will turn in a much more smooth manner.
That is what happens when you take the time to do Shadow Work, you have to put in effort, and most of the time it’s not easy, but once done, all other components on the wheel of your life will be relieved to move on without that obstacle that makes their job harder.
The Shadow is not evil, as evil is just a moral compass invented by humans. It is a part of one’s nature, and to deny it is to supress a connection with yourself.
Take the time to know and accept your shadow, and you’ll see that life will be a little easier.
References:
A Natureza da psique (Structure & Dynamics of the Psyche) by C.G. Jung
The Archetypes and the Collective Unconscious by C.G. Jung
14K notes
·
View notes