Don't wanna be here? Send us removal request.
Text
Saya Zlatan : Kisah Si Anak Pencuri Sepada dan Tukung Bersih yang Menjadi Bintang Sepak Bola
“Orang-orang bertanya kepada saya apa yang akan saya kerjakan kalau saya tidak menjadi pesebak bola. Saya tak tahu jawabannya. Mungkin saya akan menjadi penjahat” (hlm. 35)
Banyak orang yang menyayangkan bahkan berduka atas tidak lolos Timnas Italia ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia setalah bermain imbang melawan Timnas Swedia. Di samping itu, tak banyak orang bersorak-tepuk tangan dan bahagia atas lolosnya Swedia di Play Off Zona Eropa Ke Piala Dunia—yang ada, malah media dan para netizen meributkan sosok Zlatan Ibrahimoic yang kemungkinan akan bermain kembali untuk Timnas Swedia setelah dirinya memutuskan pensiun satu setengah tahun yag lalu. Mungkikah Si “Ibracadabra” kembali merumput memperkuat Timnas Swedia di Piala Dunia 2018 ? saya tak tahu jawabannya. Kita lihat saja nanti.
Zlatan Ibrahimovic merupakan sosok pesebakbola yang sungguh fenomenal sekaligus kontroversial. Tak ada yang meragukan kemampuannya dalam hal memasukkan bola ke jala gawang lawan. Ia kerap menciptakan gol-gol indah dan pernah mendapat penghargaan pencetak gol terbaik saat bermain di Klub Italia, Inter Milan, dan berbagai penghargaan lain yang dicapai oleh Zlatan.
Siapa sebenarnya Zlatan ? Mengapa iya masih diinginkan bermain untuk Timans Swedia ? di bawah ini saya akan mengulas biografi Zlatan Ibrahimovic.
***
Bagian pertama buku ini ditulis dengan bercerita perjalanan karir Ibrahimovic di Klub Raksasa asal Catalunya, Barcelona. Sebelumnya, Ibra bermain untuk Klub Italia, Inter Milan. Dia bermain dengan berilian. Bagian ini menceritakan bagaimana kehidupan Zlatan di Barca dan lebih khusus pandangannya terhadap sosok pelatih Pep Guardiola. Ia datang ke Barca setelah dibeli dari Inter Milan.
Zlatan mengatakan bahwa bermain di Klub raksasa Catalunya di bawah asuhan Pep Guardiola layaknya anak sekolahan yang harus nurut apa yang dinginkan oleh Sang Guru. Awal kedatangan Zlatan Ke Barca mendapat peringatan langsung dari Guardiola , “Di Barca, kita berpijak di tanah. Jangan bawa Ferrari atau Porsvhe ke sisi Latihan”. Zlatan mencoba memahami makna perkataan Pep, yang kurah lebih menurut Zlatan maknya adalah, bahwa jangan merasa istemewa di Barca. Menurut Zlatan Ibra mirip dengan sekolah. Semua harus nurut apa kata Sang Pelatih. Fakta memang begitu.
Di awal musim, Zlatan bermain bagus untuk Barca. Ia mencetak 16 gol di Liga dan empat gol di Liga Champion dan berhasil memenangkan gelar La Liga. Pencapaian prestisius itu berbanding terbalik dengan hubungan dengan sang Pelatih, Pep. Ia menjalangi hubungan yang tidak harmonis dengan Pep. Puncaknya setelah Pep menerima masukan dari Messi untuk merubah formasi Tim, agar messi bermain di tengah dan Zlatan menjadi ujung tombak di depan. Hal itu bermula dari kurang okenya atau seretnya Messi menghasilkan gol. Perubahan formasi dari 4-3-3 ke 4-5-1 yang menyebabkan posisi Zlatan di depan Messi dan akhirnya, Zlatan hanya menjadi bayangan Messi.
Zlatan lantas tidak terima dengan perubahan yang dilakukan oleh Pep. Ia berusaha meredam atas ketidaknyamanan dan perlakukan yang diperlakukan kepada hanya karena oleh satu pemain. Ia tak mau dijadikan tumbal. Tetapi, Pep tak mau memusingkan itu. Pep selalu menghindar yang membuat Zlatan tak tahan meluapkan emosinya. Kita tahu bahwa Zlatan adalah sosok pesepak bola yang hebat. Jika mendapat perlakuan sebagai seharusnya memperlakukan pemain hebat, apa reaksi yang akan dilakukannya ? kita pasti tahu. Zlatan masih mencoba bertahan dan menahan kegerahannya terhadap Pep.
Kesumat itu mencuat saat Barca bertandang melawan melawan Villareal. Ia didudukkan di bangku cadangan dan hanya dimainkan lima menit. Perasaannya terombang-ambing dan ia merasa sudah tak kuat menahan emosinya. Ia ingin mengamuk—dan memang Zlatan adalah pribadi yang suka mengamuk. Ia bukan sosok yang tidak mau dibenci dan diremehkan. Ia bahkan senang dan terbiasa diperlakuan seperti itu karena malah membuatnya tambah bersemangat dan akan membuktikan bahwa ia tidak pantas dibenci dan diremehkan—tentu ia akan buktikan di atas lapangan. Namun, perlakuan Pep lebih dari itu. Pep bukan hanya mematikan Zlatan sebagai pemain hebat, tetapi membangkitkan singa dari tidurnya untuk menerjang mangsanya yang siap disantap di depan mata.
Usia pertandingan, di ruang ganti, Zlatan teriak kepada Pep yang berada tetap di depannya sedang menggaruk-garuk kepala, “ Dasar pengecut!. Kamu mempermalukan diri di hapadan Mourinho. Minggat sana ke neraka !”
Sebelum pertandingan melwan Villareal, Barca bertandang melawan Inter Milan yang diasuh oleh Jose Mourinho. Ini merupakan laga penting untuk lolos ke final Liga Champions. Laga itu bukan hanya membawa misi agar Barca mendapat kemengan atas Inter. Lebih dari itu, sang Pelatih, Pep ingin menunjukkan bahwa ia mampu mengalahkan Mourinho. Namun, hasilnya barca kalah 3-1 dan menang 1-0 di leg kedua namun Barca tetap tidak lolos ke Final.
Menurut Zlatan, Pep memiliki ambisi untuk menunjukkan dirinya sebagai pelatih yang setara bahkan melebihi Jose Mourinho. Bagi Zlatan Mourinho adalah pelatih bintang besar. Pelatih yang pernah menjuarai Liga Champion bersama Porto. Bagi Zlatan, mantan pelatihnya di Inter itu orang yang menyenangkan. Perhatian dan tak sungkan-sungkan menanyakan kabar Zlatan. Zlatan menyukainya dan hal ini tentu berkebalikan dengan pandangannya terhadap pelatihnya di Barca, Pep Guardiola.
***
Sebelum Zlatan terkenal sebagai pemain persebak bola profesional dan termasuk pemain hebat. Ia adalah lelaki nakal dan sulit diatur. Ia nyaris menjadi seorang penjahat andai ia tak memilih sepak bola. Siapa yang meyangka bahwa Zlatan adalah anak kecil yang suka mencuri dan lahir dari seorang ibu tukang bersih-bersih sampah di jalanan.
Zlatan kecil memiliki tubuh mungil, memiliki hidung besar dan cadel sehingga ia harus berobat ke terapis bahasa. Selain itu, dia hiperkatif. Ia tidak bisa diam barang sedikitpun dan terus-menerus berlari.
Zlatan lahir dari keluarga imigran asal Balkan tinggal di Rosengard selatan Swedia. Kehidupan keluargannya tidak harmonis. Jangan bayangkan masia kecil Zlatan penuh bahagia atau penuh kasih dan pelukan hangat dari orang tua. Belum genap usia dua tahun, ibu dan bapaknya bercerai. Kehidupa seperti ini membuat dirinya tumbuh menjadi lelaki kurang diperhatikan.
Ibuknnya beprofesi sebagai petugas kebersihan yang bekerja selama 14 jam. Sedangkan bapaknya bekerja sebagai buruh bangunan giliran. Semenjak orang tuanya bercerai, Zlatan dan kakak perempuan seibu-sebapak, Salena serta Alexsandar dan saudara perempuan beda ayah hidup bersama Ibunya. Bisa dibayangkan betapa susahnya kehidupan yang dijalani Ibu Zlatan yang serba kekurangan dan rumahnya dipenuhi anak-anak.
Zlatan dan Salena akan membantu Ibunya diakhir pekan untuk meringankan beban keluarga dan mendapat uang jajan. Keadaan yang serba kurang itu, Zlatan tumbuh menjadi pemuda yang angkuh, sering buat onar dan percaya diri.Ia sering dipukuli oleh Ibunya. Tak tanggung-tanggung. Ia dipukul menggunakan spatula. Tak jarang kepalanya menjadi sasaran pukulan ibunya. Ibunya memang sangat keterlaluan.
Ia tumbuh menjadi lelaki yang liar. Meski tidak liar-liar amat—ia masih memiliki karakter dan prinsip, setidaknya seperti itu. Zlatan sangat membenci narkoba dan dalam hidupnya tak pernah merokok. Ia tidak suka mabuk-mabukan sehingga ia sangat membenci kebiasaan ayahnya yang mabuk-mabukan dan ia berani memperingatkan kebiasaanya buruk ayahnya itu. Namun, ia juga pernah sekali mabuk dan berakibat pingsan tak kala ia bermain di Juventus. Pada saat itu bersama temannya merayakan kemenangan Scudetto, yang dirayakan dengan mabuk-mabukan.
Ia juga punya prinsip yang mungkin semua orang jarang memilikinya, bahwa tindakan dan perkataannya harus sejalan. Itulah prinsip hidupnya. Selain itu, Ia pernah mencuri dan hampir kebablasan akan menjadi profesinya. Ada cerita menarik dari aktifitasnya mencuri sepeda. Ia pernah mencuri sepeda milik seorang militer yang membuatnya semakin tambah berani. Juga mencuri sepada asisten pelatih Klubnya meskipun akhirnya ia mengakui tapi tidak bilang bahwa ia yang mencuri. Ia tak berani. Akhirnya dia mancari alasan bahwa dia membawa sepada itu karena ada kondisi darurat. Selanjutnya, ia ingin mencuri sepada lagi untuk dipakai ke tempat latihan sepak bola. Semua itu ia lakukan adalah untuk meningkatkan adrenalinnya. Ingin membuktikan bahwa dia adalah lelaki pemberani. Kepribadiannya yang kemudian menyertai
***
Karir sepakbola dimulai dari Klub pertamanya, MBI, Asosiasi Sepak Bola dan Olahraga Malmo. Saat itu usianya baru enam tahun pertama kalinya bermain. IA berlatih di atas krikil, di
Zlatan kecil adalah pribadi yang selalu tidak puas. Ia memliki semangat tinggi dan selalu ingin belajar. Di luar Klubnya, ia tetap berlatih dengan sekulit bundar. Kadang-kadang bersama temannya di kompleks rumah susun, mereka bermain sampai larut malam. Sehingga ibunya harus memanggil untuk segera masuk namun ia adalah Zlatan. Pemuda yang tidak penurut. Ia tetap bermain sekalipun hujan turun. Ia memang gila bola, sampai-sampai sikulit bundar ia ajak tidur bersamanya.
Kemampuannya beramain bola semakin meningkat. Kalian tahu siapa yang diidolakan oleh Zlatan dan menjadi panutannya dalam meningkatkan taktik bermain sepakbola ? ialah Ronaldo dan Romario. Zlatan sangat menyukai permainan Brazil lebih khusunya kedua pemain yang saya sebutkan. Ia mempelajari permainan Ronaldo melalui internet. Di luar sesi latihan, ia akan mengunduh video-video Ronaldo. Ia sangat suka gerak tipu dan cara Ronaldo menggiring bola. Ia mengidolakan Ronaldo. Baginya, Ronaldo adalah panutan dan pahlawanya.
Menjadi pemain hebat tidak didapatkan dengan cara instans. Sebagaimana yang terjadi pada Zlatan. Ia harus melewati masa-masa sulit dan meningkatkan kemampuan. Kemampuannya bermain sepak bola banyak diragukan oleh teman-temanya di Klub dan bahkan orang tua temanya. Ah, siapa sih Zlatan itu? dia hanya suka menggiring bola. Dia pemain egois, pembuat keributan dan kalimat-klimat miring yang dialamatkan kepadanya. Orang-orang itu salah alamat. Kalimat miring itu jelas tak akan menyurut semangatnya. Benci dan kemarahan akan menaikkan adrenalinnya dan akan membuktikan kepada mereka bahwa dialah yang terbaik. Dengarkan/abaikan itu lah rumus sukses Zlatan. Seperti yang dikatakan oleh Zlatan sendiri,
“Saya bukan bocah yang berbakat berbakat yang dengan mudahnya melenggang ke Eropa. Saya tetap berjuang meski keadaan saya tidak memungkinkan. Para orangtua dan pelatih menantang saya sejak awal, dan saya terus belajar tanpa memedulikan perkataan orang. Zlatan hanya bisa menggiring bola, keluh mereka. Dia begini, dia begitu, dia salah. Saya hanya menjalani hidup saya: saya mendengarkan, sekaligus mengabaikan; dan saat berada di Ajax saya sungguh berusaha menyerap budaya di sana dan belajar bagaimana mereka berpikir dan bermain” (hlm. 143)
Ia memulai karir di Klub Malmo FF. Pada saat itu usianya masih 17 tahun. Ia dipromosikan ke tim utama saat klub itu dalam masa-masa sulitnya. Malmo FC pada tahun 1999 terdegragasi dari divisi satu, Allsvenskan ke divisi dua, Superettan. Meski bermain di divisi dua, tak mengurangi semangatnya bermian. Ia tetap membuktikan bahwa dia memang pantas bermain di tim utama Malmo FF. Ia berhasil mengantarkan Malmo FF ke liga teratas dengan mencetak 13 gol dan menjadi runnerp up. Bermain bagus di Malmo FF dan menjadi pembiraan di berbagai media. Ia telah dilirik oleh Klub-Klub besar Eropa. Ia telah jadi bintang di Malmo FF. Semua orang membicarakannya. Kini, tak ada lagi yang meragukan kemampuannya.
Tak banyak yang dapat Zlatan persembahkan untuk Malmo FF. Setelah sekian lama kemampuannya diragukan, setelah ia membayar keraguan itu, Ia telah dilirik oleh Klub raksasa asal Belanda yang pernah memiliki pemain hebat seperti Johan Cryuff dan Marco van Basten yaitu Ajax. Perpisahannya dengan Malmo FF pun begitu menyedihkan. Ia tidak dimainkan saat laga terakhirnya bersama timnya—yang itu artinya ia dilepas tidak dihadapan ribuan penonton. Ia bak habis manis sepah dibuang. Pihak Klub hanya memberikannya bola yang terbuat dari berlian, namun Zlatan tak mau menerimanya. Ia menyadari bahwa dia hanya dianggap pemain yang memberikan keuntangan besar buat Malmo FF sementara ia tidak mendapatkan apa-apa. Klasul sebesar 10 persen dari hasil penjualannya yang harus ia dapat, namun itu hanya sekedar omong kosong. Ia diperlakukan bak sapi perah. Barsee Horges, yang paling bertanggung jawab atas proses penjualannya ke Ajax merasa tak bersalah. Ia telah memakan omongannya sendiri bahwa agen itu penipu dan dia telah menipu Zlatan.
Zlatan memang pribadi yang sedikit berantakan—walaupun dia akan berkata bahwa dia lelaki yang disiplin. Semenjak kecil ia memang dilatih untuk mengurus dirinya, tapi dalam hal tertentu ia terlihat kacau. Di balik kenakalan dan keangkuhannya, ia adalah pribadi yang merasa kesepian dan kekosongan. Sangat mudah ditebak, hal itu disebabkan karena mulai sejak kecil ia tak mendapat perhatian dari kedua orangtua. Saat mendapat tekanan dan masalah dari Klubnya, ia kadang bingung mencari teman untuk diajaknya bicara. Ia mencoba menghubungi keluarganya, ibu dan bapaknya. Tapi, tetap saja merasa sepi dan kacau.
Bermain bersama Ajax juga tak mulus-mulus amat. Hampir sama dengan Klub sebelumnya. Mungkin yang memebedakan adalah, ia sekarang bermain di salah satu Klub papan atas di Eropa dan Belanda. Selebihnya, yang terjadi pada Zlatan adalah sama, tak betah di Klub dan bermasalah dengan sang pelatih, Ronald Koeman dan sang direktur, Lois Van Gal. Puncaknya, setelah laga persahabatan Swedia melawan Belanda. Meski laga itu hanya sebatas persahabatan, tapi Swedia membawa misi balas dendam atas Belanda, yang sebelumnya mengalahkan mereka di Piala EURO 2004. Tepatnya saat pemain setimnya di Ajax, Rafael van den Vaart, yang mempekuat Belanda, ditandu keluar karena ligamen di pergelangan kakinya sobek, dan Rafael berkata kepada wartawan bahw Zlatan sengaja mencidrai dirinya.
Zlatan memang mendapat sorotan di Ajax. Van Gaal memberikan kritik padanya agar dia tidak hanya fokus menyerang tetapi juga membantu pertahanan. Ia menampik masukan sang direktur. Emangnya kamu siapa ? ia malah memegang omongan dari mantan pemain Ajax yang panutannya, van Basten. “Jangan kau (Zlatan) buang energimu untuk bertahan. Kau harus pakai tenaganya untuk menyerang. Itulah solusi terbaik untuk kau dan tim, denga menyerang dan mencetak gol, bukan dengan memaksa kakimu bermain bertahan” (hlm. 171)
Zlatan memang tidak banyak menciptkan gol saat bermain untu Ajax. Dari 25 pertandingan ia hanya menciptkan 5 gol. Namun, gol terkahirnya, saat melawan Breda dan, disandingkan dengan gol Maradona ke gawang Inggris pada perempatan final Piala Dunia 1986. Pada jendala transfer akhir agustus 2004, Zlatan hengkang dari Ajax ke Klub raksasa Italia , yang sejak kecil menjadi impiannya yaitu Juventus.
Di Italia lah, ia mulai dipanggil Ibra. Fabio Capello, pelatih Juventus, memangilnya demikian. Kararkter pelatih seperti Capello sangat disukai oleh Ibra. Keras dan ia memang senang dengan di bawah asuhan seperti itu. Ibra bukan tipikal pemain yang disukai karena dekat atau akrab dengan sang pelatih. Ia lebih senang kalau dipercayai dan disukai karena kemampuannya.
Banyak pelajaran yang ia dapat dari Capello. Kepindahannya dari Ajax ke Juventus mengantarkannya menjadi pemain hebat di Eropa. Capello menaruh kepercayaan kepadanya, dan menjadikan dirinya sebagai kunci pemain di klub Juventus. Capello berujar kepadanya “Sesi latihan sama pentingnya dengan pertandingan. Kalian tidak bisa bermain lembut saat latihan dan baru keras saat bertanding. Kalian harus siap tempur setiap menit, kalau tidak saya yang bakal menghajar kalian” (hlm. 418)
Dua musim ia memenangkan scudetto bersama Juventus. Di musim keduanya hanya menciptakan 7 gol di Liga. Permainnya yang kadang naik turun, menjadi sasaran kritik para penggemar klub. Memang begitulah kalau orang menaruh ekspektasi setinggi langit, tetapi faktanya tak sesuai dengan ekspektasi. Demikian juga dengan sepak bola. Pemain yang dianggap hebat, harus siap menerima tekanan ditengah riuh tepuk tangan dan sanjungan. Hari ini semua orang akan bisa sangat jadi benci, namun hari berikutnya akan dipuja bak dewa—kulau bermain dan menyelamatkan tim dari kekalahan. Itulah yang terjadi pada Ibra.
Dua musim berlalu. Juventus mengalami kegaduhan. Klub tersebut dituduh terliat skandal, yang membuat Juventus terpuruk dan diusir ke Seri B. Hal ini juga berakibat pindahnya Ibra ke Inter Milan. Ia memilih pindah. Tak seperti Buffon, De Piero dan Trezeguet tetap bertahan dan setia di Juventus. Mungkin kita akan sepakat dengan para Juventini bahwa Ibra adalah penghianat. Namun, ia memiliki sudut pandang bahwa ia meniti karir sebagai pemain profesional. Ia bermain untuk itu bukan semata-mata untuk klub. Pada saat klub tidak memberi jalan terang untuk karirnya, tak ada pilihan lain kecuali mencari jalan itu.
Sesedarahana itu memang. Setiap pemain pasti memiliki cara pandangnya masing-masing. Tapi, inilah Zlatan—hanya satu Zlatan. Ketika ia menginginkan sesuatu, jangan coba-coba menghalanginya. Entah dia Presiden, direktur, pelatih. Emang siapa kau ? Persetan dengan kalian. Begitu raung Ibra.
Di Inter Milan ia menjadi pemain penting. Ia bahkan rela mencidrai dirinya agar ia dapat membuktikan bahwa dia memang pantas mendapatkan itu. Tak perduli kondisnya yang belum stabil, ia tetap bermain. Ia tak menyukai Roberto Mancini, pelatihnya di Inter. Karena menurutnya Mancini pelatih yang plin plan. Sebelum dipecat, mancini sendiri bilang dia akan pergi namun ia menarik omongannya dan tetap menjadi pelatih. Berkebalikan dengan prinsipnya yang konsinten antar ucapan dan perbuatan sejalan.
Kehadirannya di Inter berhasil mengluarkan Inter dari kutukan 17 tahun tidak memenangi Liga. Ia bertemu dengan pelatih yang mengaku dirinya ’’Spesial One” siapa lagi kalau bukan pelatih kontroversial, Jose Mourinho. Ia berhasil memenangi Scudetto tiga musim beruntun dan di musim terakhirnya, Ibra berhasil memengangi Copacannoriere sebagai pencetak gol terbanyak.
Ibra sangat menyukai Mourinho. Selain dia pelatih yang keras dan selalu bilang kepada Ibra, “kamu bermain jelek. Nilaimu nol. Jangan ulangi kesalahamu, dan kamu hari ini harus menunjukkan kemampuanmu” Cara seperti itu sangat disukai Ibra. Buatlah Ibra marah, dan cercahlah permainnya, dan kalain tunggu setelah itu, ia akan meledak.
Begitulah Ibra. Ia tak mau puas dan betah di sebuah klub. Secara pribadi ia memiliki target. Di Inter ia sebenarnya sudah sukses di Liga tapi tidak dengan di Liga Champions. Dia ingin memenangi Liga Champions. Itu yang membuat dia pindah ke Barcelona. Tak betah di Barca ia pun pindah klub lagi ke AC. Milan. Ia menceak banyak gol untuk Ac Milan. Klub kaya raya Paint Saint Germain tertarik padanya. Begitulah akhir karir yang ditulis di buku ini.
Kepindahannya ke AC Milan mengantarkan tim itu memenangkan scudetto setelah selama 7 tahun tak menjuarai Liga. Ibra bermain fantastis bersama AC Milan. Tetapi, amarahnya tetap saja tak terkendali. Ia terlibat saling pukul dengan teman setimnya. Ia memang tetap bocah dusun yang dididik keras dan
****
Kehadiran Helena di kehidupan Zlatan turut memberi perubahan pada kehidupan Zlatan. Helena sangat perhatian kepadanya—sebuah perhatian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya di keluarganya. Ketika Zlatan terserang wabah flu, Helena lah yang merawatnya di kediaman Helena di sebuah desa. Padahal pada saat itu, Helena bukan pacar atau saudaranya tapi ia diperlakukan lebih dari hanya sekedar teman. Helena memang perempuan pilihan dan sangat cocok buat Zlatan. Ia itu tidak seperti kebanyakan cewek yang apabila bertemu dengan bintang sepakbola akan histeris dan meminta foto. Helena, umurnya lebih dari sebelas tahun Zlatan, tak sungkan-sungkan menyebut Zlatan adalah lekaki sinting berpakaian norak dan tidak bersikap dewasa. Menurut Helena, “Kau (Zlatan) bukan Elvis yang bisa menghipnotis semua orang” (hlm. 153)
Saat sepak bola sangat memuakkan—terutama saat menjadi pemain di Barca, ada keluarga kecilnya sebagai tempat ketenangan dan mencurahkan kegundahannya. Mereka dikarunia dua anak lelaki, Maxi dan Vincent Ibrahimovic.
Sumber :
Judul asli : Jag ar Zlatan
Judul terjemahan : Saya Zlatan
Penerjemah : Norman Erikson Pasaribu
Penulis : Zlatan Ibrahimovic dan Davic Lagercranatz
Tebal : 450 hlm
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2017
0 notes
Text
Orang Indonesia Malas Jalan Kaki: Mengapa Ini Penting?

Baru-baru ini Indonesia dihebohkan dengan hasil riset tentang orang Indonesia menduduki peringkat paling bontot dalam hal jalan kaki. Berbagai media berlomba-lomba memberitakan bahkan website pemerintah dalam hal ini Kemenkes juga tidak ketinggalan. Temuan ini sebetulnya sudah lama. Pada Tahun 2017 sejumlah ilmuwan Amerika Serikat dari Universitas Stanford melakukan penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal Nature dengan judul Large-scale physical activity data reveal worldwide activity inequality yang mengkaji langkah menit demi menit berdasarkan data ponsel dari ratusan ribu orang di seluruh dunia yang menggunakan Argus—aplikasi pemantau aktivitas—pada telepon seluler mereka.
Hasilnya, orang-orang di Hong Kong menempati urutan teratas dalam daftar penduduk paling rajin berjalan kaki. Rata-rata publik Hong Kong berjalan kaki sebanyak 6.880 langkah setiap hari. Adapun penduduk paling malas sedunia adalah orang Indonesia yang berada pada posisi terbuncit dengan mencatat 3.513 langkah per hari.
Penelitian ini tidak lepas dari celah atau keterbatasan yang luput dari pemberitaan khususnya oleh media-media besar di Indonesia. Misalnya terkait dengan instrument yang digunakan, pemilihan sampel, dan potensi bias. Sehingga perlu pembacaan lebih teliti terhadap sebuah jurnal. Apakah benar orang Indonesia paling malas jalan kaki? Media-media di Indonesia dalam memberitakan hasil riset sering kali luput dalam menjalankan jurnalisme sains—biasanya hanya pada jurnalisme opini.
Terlepas dari itu, jalan kaki memang memiliki segudang manfaat di antaranya dapat meningkatkan kebugaran kardiovaskular dan paru (jantung dan paru-paru). Mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke. Meningkatkan manajemen kondisi seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), kolesterol tinggi, nyeri atau kekakuan sendi dan otot, dan diabetes. Membuat tulang lebih kuat dan keseimbangan yang lebih baik. Meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot. Dan, dengan jalan kaki lemak tubuh berkurang.
Tidak ada anjuran khusus dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berapa banyak manusia harus berjalan kaki setiap hari agar tetap sehat. Bahwa ada anjuran untuk melakukan 10.000 langkah muncul dari gimmick produsen alat pengukur langkah dari Jepang. Meski begitu, berjalan selama 30 menit sehari atau lebih pada sebagian besar hari dalam seminggu adalah cara yang bagus untuk meningkatkan atau menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Waktu 30 menit adalah waktu yang bisa dibilang sangat singkat dan mewah di tengah dunia saat ini menjadikan jalan kaki sebagai pilihan. Artinya, orang bisa saja memilih untuk menggunakan kendaran untuk melakukan aktivitas. Beli bahan makanan cukup pesan melalui online atau kalau tidak malas menggunakan kendaraan pribadi padahal jarak antara rumah dengan pasar hanya perlu 5 menit dengan jalan kaki. Sehingga waktu 30 menit adalah sebuah kemewahan.
Saya termasuk orang tidak mematok berapa langkah yang harus saya lakukan. Tetapi saya memiliki jatah jalan kaki di pagi hari selama minimal 30 menit. Menurut saya, Jalan kaki bukan hanya memberikan kebugaran pada fisik tetapi juga kejernihan pada mental. Saat jalan kaki saya lebih banyak melakukan refleksi diri. Menatap masa depan. Jalan kaki, menurut saya, seperti belajar meninggalkan hal-hal yang sudah dilalui, seperti jalan-jalan yang sudah saya lewati. Mereka hanya datang dan langsung hilang begitu saja.
Jalan kaki mengajarkan seseorang tentang kebebasan. Seperti kata Eric Weiner kebebasan adalah esensi jalan kaki. Kebebasan untuk berangkat dan kembali sesuka hati, meniti jalan berliku. Itulah jalan kaki.
Dalam urusan jalan kaki, nama Jean-Jacques Rousseau tidak boleh dilupakan. Dia adalah pejalan kaki yang hebat. Mungkin susah untuk menemukan sosok seperti Rousseau saat ini. Bayangkan dia rutin berjalan sejauh 30 km sehari. Bahkan dia pernah satu kali berjalan 485 km dari Jenawa ke Paris. Perjalanan itu berlangsung selama dua minggu. Hal yang mungkin dianggap gila untuk dilakukan saat ini oleh orang di tengah melimpahnya kenderaan. Berjalan kaki merupakan kegiatan cocok dengan filosofi Rousseau. Bahwa kita harus kembali ke Alam, dan menurutnya apakah yang lebih alamiah daripada berjalan?
Bagi Rousseau, berjalan kaki ibarat bernafas. “aku sama sekali tidak bisa berpikir saat aku diam; tubuhku harus bergerak agar pikiranku aktif.” Sambil berjalan, dia mencatat pemikiran-pemikirannya, besar maupun kecil, pada kartu remi yang selalu dibawanya.
Berjalan berhasil meruntuhkan salah satu mitos terbesar dalam ilmu filsafat: filsafat benar-benar terpisah dari dari raga. “Ada yang lebih banyak kebijaksanaan di dalam tubuhmu ketimbang di dalam seluruh filosofimu” kata Nietzche. Kata-kata ini seirama dengan frase Mens sana in corpore sano (jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat). Pikiran-pikiran maju hanya akan tumbuh pada raga yang kuat dan sehat.
Jika ada yang bertanya manakah lebih berbahaya malas jalan kaki atau malas membaca? Keduanya sangat berbahaya. Namun, jika kamu tidak malas melakukan yang pertama, kemungkinan kamu juga tidak malas melakukan hal kedua. Karena berjalan kaki kamu bisa saja sambil membaca, bahkan bisa jadi saat berjalan kaki kamu menemukan ide brilian.
Maka mulailah jalan kaki!
0 notes
Text
Ziarah ke Langgar Ahmad Dahlan dan Catatan Haji Muhammad Sudja'

Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Yogyakarta. Mulai masih aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sampai bekerja di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Ada beberapa kegiatan yang berlokasi di Jogja. Atau dalam kesempatan lain ke Jogja hanya sekadar bepergian berwisata. Namun, tiap kali pulang dari Yogya, saya selalu memiliki perasaan yang mengganjal. Persisnya perasaan bersalah karena dari sekian kali berkunjung ke Yogya itu, saya tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah atau langgar Kiai Ahmad Dahlan.
Pernah sekali atau dua kali berkunjung di kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di jalan Ahmad Dahlan itu. Juga masuk ke tokoh suara Muhammadiyah membeli beberapa buku dan batik. Namun, tidak sempat untuk masuk ke gang menuju jejak peninggalan bersejarah yakni rumah dan langar Kiai Dahlan.
Maka, pada saat mengikuti acara Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah minggu lalu, tepatnya 1-2 Juli 2022 saya niatkan untuk melakukan ziarah. Apalagi tempat acara kami hanya berjarak 700 meter ke kediaman Kiai Dahlan.
Saya, dan beberapa teman masuk gang menuju langgar Kiai Dahlan setelah berbelanja di Suara Muhammadiyah terlebih dahulu. Saya membeli buku cerita berjudul Cerita Tentang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang ditulis oleh murid sekaligus kader Kiai Dahlan, Haji Muhammad Sudja’.
Kami akhirnya berada di depan Langgar Kidoel Hadji Ahmad Dahlan. Di samping langgar itu terdapat rumah satu atap namun sudah di belah menjadi dua. Ada seorang pemuda bernama Ahmad. Dia merupakan keturunan ketujuh dari Kyai Dahlan. Ahmad mempersilahkan kami untuk menengok dalamnya langgar. Dimulai dari lantai bawah. Saya melihat ada banner berisi tentang silsilah keluarga Kiai Dahlan. Lalu beberapa foto kenangan baik foto Mbah Dahlan berserta istrinya Nyai Walidah, dan foto-foto kegiatan Muhammadiyah, dan organisasi otonom. Lalu kami naik ke lantai atas. Langgar yang lantainya sudah tandai untuk mengarah ke arah kiblat. Menurut Ahmad, di lantai yang sudah ditandai melingkar ada goresan Kiai Dahlan untuk mengukur arah kiblan yang benar.

Seketika itu, saya langsung teringat cerita-cerita yang sudah pernah saya baca dan saya tonton di film Sang Pencerah tentnag kisah epic perjuangan mbah Dahlan untuk meluruskan arah kiblat umat islam di Indonesia khususnya di Yogyakarta. Lalu membayangkan bagaimana persisinya surau Kiai Dahlan yang dirobohkan saat itu.
Menurut catatan Kiai Sudja’ pembongkaran brutal itu dilaksanakan pada jam 8 malam 15 Ramadhan oleh sekurang 10 orang yang disuruh oleh Kiai penghulu H.M Khailil Kamaludiningrat. Pembongkaran surau dilakukan setelah jamaah selesai melaksanakan sholat tarawih. Para jamaah berteriak "wong ngamuk"
Tentu kisah itu sudah banyak diceritakan. Bagaimanapun, kisah itu, menurut saya, adalah titik awal yang membentuk mentalitas kuat pada diri Kiai Dahlan. Titik awal yang membuat Kiai Dahlan semakin progresif dan memiliki mimpi besar. Peristiwa ini semakin menegaskan pada diri bahwa bahwa tidak ada seorang pemimpin besar di dunia ini tanpa harus melewati tantangan besar yang menghalanginya.
Beberapa minggu sebelumnya, Prof Noor Rochman Hadjam, utusan dari Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah memberikan materi tentang internalisasi nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyaan di acara pembinaan dosen UM Surabaya. Materi yang beliau sampaikan hampir sama dengan materi yang biasa disampaikan di acara-acara kaderisasi baik di Muhammadiyah maupun di Ortom. Namun, dari apa yang beliau sampaikan, satu hal yang menurut saya perlu saya pertimbangkan adalah pesannya kepada dosen agar sesekali berkunjung ke langgar atau rumah Kiai Dahlan.
Prof Noor juga menjabarkan kesederhanaan pendiri Muhammadiyah di acara tersebut. Yang menurutnya agak mulai dilupakan dan ditinggalkan oleh penerusnya. Misalnya dulu jika Kiai Dahlan atau pengurus Muhammadiyah berdakwah ke luar kota, mereka sangat jarang untuk menginap apalagi difasilitasi di hotel mewah. Kiai Dahlan dan pengurus lebih memilih untuk tidur di rumah sesama kader Muhammadiyah. Selain irit, menginap di rumah sesama kader merupakan kesempatan untuk saling akrab dan ngobrol-ngobrol santai.
Maka, menurut Prof Noor, perlu kiranya kita berziarah untuk mengenang jejak-jejak Mbah Dahlan dan orang Muhammadiyah dulu yang penuh inspirasi.
Benar saja apa yang disampaikan oleh Prof tadi. Saya juga merasakan hal sama. Ketika berada di depan teras rumah Kyai Dahlan. Pikiran saya selalu tertuju pada spirit Mbah Dahlan dalam misi dakwah islam melalui Muhammadiyah yang Kiai Dahlan dirikan. Merasakan percakapan antara Kiai Dahlan dan Nyai Walidah di saat Mbah Dahlan menderita sakit berat. Nyai Walidah menyuruh Dahlan untuk berhenti sejenak mengurus Muhammadiyah. Namun mbak Dahlan marah, seolah mbah Dahlan mau dipecat dari Muhammadiyah. Bahkan dokter dan istrinya Nyai Dahlan sudah dirasuki oleh iblis yang menyuruhnya agar istirahat dan meninggalkan Muhammadiyah.

Membaca kisah-kisah mbah Dahlan lewat buku-buku memang menginspirasi bagi kita untuk terus berjuang di Muhammadiyah. Berjuang tanpa Lelah. Berani menghadapi berbagai rintangan. Akan tetapi, alangkah bagusnya lagi pengalaman membaca itu dilengkapi dengan pengalaman spiritual dengan berziarah ke tempat asal dimana ide spirit perjangan itu hadir. Alhamdulillah. Saya akhirnya menuntaskan keduanya.
0 notes
Text
Perihal Kebahagiaan
Pada suatu sore, saat menunggu azdan magrib dikumandangkan, saya menjalankan ibadah update status di Whatsapp’s Story. Sebuah video singkat saya, berdurasi 30 detik, sedang memainkan keyboard dan menyanyikan lagu berjuduk kangen dari Dewa, saya sundul. Beberapa menit kemudian, ada sebuah pesan balasan masuk “ Luar biasa. Baru kali saya melihat video yang cocok” bunyi pesan bernada ejekan ini dari seorang perempuan—siapa lagi kalau bukan si Penulis ahli rawat luka itu. Sekarang dia sedang menjajaki jalan untuk ahli di bidang rindu. Setiap hari feed instagramnya diisi puisi tentang rindu. Saya tidak tau, sebenarnya makhluk macam apa yang ia rindukan.
Ada satu pesan lagi masuk, kali ini datang dari Om saya. “Wuihh, sudah mahir juga mas ini” saya membaca pesan itu, senyam senyum sendiri huahahah. Dia mungkin tidak tahu sesunguhnya di balik video yang diklaim mahir itu, saya pulahan kali merekamnya sebelum memilih mana sekira yang bagus (bukan paling bagus lhoo) untuk dibuat pamer di story. Huahahaha
Sejujurnya, saya masih belum pinter-pinter amat bermain keyboard. Maklum, belajarnya secara otodidak. Bermainpun atau agar lebih dramatis, berlatihpun saya jarang. Jadi, hasilnya masih sangat jauh dibanding Kanjeng Ahmad Dhani. Terlepas dari apreasiasi Om saya tadi. Ada hal penting yang kami bicarakan daripada tetek bengek bermain alat warna hitam putih itu. Kami bicara tentang kebahagiaan.
Bagi saya, bahagia itu ialah ketika saya mahir bermain keyboard. Lalu, Om saya membalas “Rasanya, sekarang ini nyaris kebahagiaan itu bergantung pada saldo rekening”
“Manusia modern, Om. Rasanya kebahagiaan itu telah bergeser dari yang sifatnya immaterial ke material”
“Perlu dikaji apa itu kebahagiaan, Id”
“Kuncinya adalah sederhana, Om” seolah-olah saya paham banget kalimat barusan saya sebut
“Iya. Sederhana. Tapi tak sederhana melukiskannya..nguahahaha”
“Mungkin perlu ada definisi ulang tentang kebahagiaan, Om.
“Kebahagiaan adalah melihat anak dan istri senang hatinya”
“Itu definisi kebahagiaan menurut samean, Om”
“Yuppp…Eh, Id. Pernah baca tentang Islandia?”
“Saya tahu sedikit tentang Islandia, Om. Kebetulan saya punya buku judulnya Geography of Bliss karya Eric Weiner seorang travelog. Dia berkeliling ke beberapa negara untuk mengkaji tentnag kebahagiaan. Nah, buku itu juga mengkaji tentang kebahagiaan negera Islandia”
“Mayoritas penduduk Islandia menganut paham Ateisme. Namun, Islandia merupakan salah satu negara paling bahagia di dunia”
“Mereka bisa saja bahagia di dunia, om. Tapi mungkin tidak bahagia di akhirat. Huahahaha. Saya becanda lho, Om”
“Nguhahahahaha”
Kunci mengapa mayoritas penduduk Islandia bahagia adalah pada kata “kegagalan”. Eric Weiner dalam bukunya yang saya sebut di atas menulis judul bab Islandia : Kebahagiaan Adalah Kegagalan. Kegagalan di sana sudah diaggap wajar bukan sebuah aib. Meski telah gagal puluhan kali. Alih-alih mereka mencela, kegagalan adalah sumber terbesar kebahagiaan mereka. Gagal artinya mereka usaha atau berproses. Proses itulah yang penting bagi warga Islandia.
Selain kegagalan sebagai sumber kebahagiaan, warga Islandia melarang warga untuk iri. Menurut keterangan warga--yang diwawancarai Eric--yang paham sejarah asal-usul negara yang pertama kali masuk putaran final piala dunia 2018 ini, iri adalah sumber perusak negara bahkan dunia ini. Berdasarkan ajaran nenek moyang mereka, mereka dilarang iri pada setiap pencapain seseorang. Hal ini tertancap pada konsep mereka tentang negara. Negera menurut mereka adalah keluarga . Keluarga artinya dilarang iri dan menyakiti orang lain karena mereka adalah keluarga sendiri. Dengan konsep negara adalah keluarga tingkat kriminalitas di sana minim sekali.
Islandia juga memiliki keunggulan dalam hal membaca dan menulis. Nyaris seluruh warga Islandia gemar membaca dan berprofesi sebagai penulis. Juga menjadi seniman. Jika Anda termasuk orang suka baca dan menulis, Islandialah tempatnya. Tapi, jika Anda tidak suka pada kegelapan—kurang cahaya matahari, Anda tidak cocok tinggal di sana. Itulah kekurangan Islandia menurut Eric. Matahari jarang muncul di sana sehingga orang Islandia suka pada kegelapan, dan dalam penantian menyambut matahari, kegapalan itu mereka isi dengan mabuk-mabukan.
“Ah, masak?” Kata Om Bagus.
“Ya. Begitulah keterangan Eric dalam bukunya. Di sana diperbolehkan mabuk. Meski dulu sempat dilarang dan sekarang larangan itu tidak ada lagi”
“Keren yo?”
“Keren, Om. Tapi itu kan di Islandia. Beda lagi dengan Indonesia. Penduduk Islandia Cuma seumprit. Lha, kita, siapa kita? Kita Indonesia yang tidak bahagia, om. Huhahahaha. Asal ngomong aja itu, orang yang bilang Negara kita (Indonesia) adalah keluarga. Tapi dalam kesempatan lain mengumbar kebencian dan keirian”
“Sederhana itu memang sulit dipraktekkan” Om kembali pada pembahasan awal. “Ketika anak kita minta sesuatu yang mana teman lainya punya. Disitulah ujiannya. Antara bertahan di kesederhanaan dengan keinginan membahagiaan anak”
“Menurut Buddha, Kebahagiaan adalah penderitaan, om. Paradox kan, om? mana ada manusia, di zaman keduniawian dijunjung tinggi ini, mau menderita, eh?”
“ Jangan diartikan secara harfiah. Itu maknaya dalam”
“Iya, Om. Menurut ajaran Zen dalam agama Buddha, manusia dapat mencapai kebahagiaan hakiki, manakalah manusia mampu melepaskan ikatan mereka dengan hal-hal duniawi. Nah, masalahnya, Om, kecintaan kita lebih tinggi pada hal-hal materiil daripada immateriil. Kebahagiaan kita terikat pada benda. Jika benda itu lenyap, makanya lenyapnya kebahagiaan itu. Secara psikologis, ada mental pertahanan dalam diri kita untuk mempertahankan hal-hal material itu. Apapun resikonya, segala carapun dilakukan untuk mencapai dan mempertahankannya”
“Kapan-kapan kita main musik bareng yo. Kamu main keyboard, aku main gitar. Agung biar megang drum. Kalau sudah berjalan. Kita bentuk grup band keluarga. Namanya “Keluarga Berencana, eh Keluarga Bahagia deng”
Pernah terbit di blog saya yang saya lupa user dan pass nya.
0 notes
Text
Bencana dan Sisi Terbaik Manusia
Tanggal 7 September 1940, pesawat pengebom Jerman melintasi wilayah Inggris. Cuaca saat itu sangat cerah sehingga banyak warga London keluar rumah dan menatap ke angkasa. Bulan September itu dicatat dalam sejarah sebagai Black Saturday, dan yang terjadi sesudahnya adalah Blitz. Sebanyak delapan puluh ribu lebih bom dijatuhkan oleh pasukan Nazi di wilayah London. Akibatnya, banyak wilayah luluh lantak, bangunan roboh dan hancur, serta menewaskan puluhan ribu orang.
Pasukan Nazi mengira bahwa melalui serangan yang mematikan itu membuat tentara dan warga Inggris akan ketakutan dan menyerah pada pasukan Jerman. Namun yang terjadi sebaliknya. Warga London malah semakin kuat secara mental, geliat ekonomi malah semakin meningkat, mereka lebih peduli dengan tetangga dan masyarakat. Alih-alih serangan tersebut melumpuhkan semangat mereka.
Bencana boleh jadi adalah peristiwa yang menakutkan dan menegangkan karena berpotensi melukai bahkan membuat orang kehilangan nyawanya. Apakah itu bencana alam, maupun bencana buatan manusia seperti perang dan terorisme. Namun, di sisi yang lain, bencana mampu memperlihatkan watak manusia sesungguhnya.
Watak itu dapat kita lihat lewat kejadian erupsi Gunung Semeru, Lumajang. Ketika berita erupsi gunung Semeru viral di media sosial. Masyarakat Indonesia langsung bersimpati dan menggalang solidaritas bantuan. Poster tentang Semeru langsung berseliweran
Jalan-jalan perempatan lampu merah diramaikan oleh masyarakat juga mahasiswa untuk berlomba-lomba melakukan penggalangan dana. Juga di media sosial tak terhitung jumlahnya komunitas yang mengajak melakukan donasi.
Ketika saya berada di lokasi bencana, ada puluhan mobil yang sedang mengirim bantuan. Saking banyaknya, jalan sampai macet. Bahkan masyarakat sampai kebingungan dengan bantuan pakaian yang melebihi kebutuhan mereka.
Bukan hanya masyarakat luar yang membantu tetapi masyarakat lokal juga terlibat membantu membersihkan rumah yang terdampak abu vulkanik. Ketika, kami mendirikan posko kesehatan, warga lokal sangat ramah dan mempersilahkan kami menggunakan rumahnya untuk dijadikan tempat posko kesehatan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Tidak hanya itu, kami disuguhi teh hangat dan buah pisang enak hasil panen mereka.
"tidak perlu repot-repot, bu" kata saya
"oh, tidak. Itu bukan dari bantuan orang tapi hasil panen dari kebun kami. Silahkan dimakan, kami akan senang"
Seperti yang disampaikan oleh Rutger Bregman di bukunya Human Kind; Sejarah Penuh Harapan bahwa lewat bencana kita dapat melihat terbaik manusia. Rutger sangat mempercayai apa yang disampaikan oleh Jean-Jacques Rousseau bahwa watak manusia sesungguhnya adalah baik.
Ada lagi cerita menarik, dan mengagumkan. Ketika saya sampai di lokasi bencana pada malam hari, saya melakukan sholat magrib dan isya di musholla dekat posko bencana MDMC Jawa Timur. Ketika itu saya bersih-bersih diri terlebih dahulu di kamar mandi. Kondisi kamar mandi mandi pada saat itu agak kotor, dan ketika shubuh saya kaget karena kondisinya berubah bersih dan harum. Teman saya cerita bahwa seorang anak muda dan bapak agak tua dari anggota KOKAM membersihkannya waktu menjelang shubuh.
Cerita lain datang dari sisi timur Lumajang. Seorang laki-laki yang berhasil menyelamatkan/evakuasi puluhan kucing di antara reruntuhan rumah dan timbunan abu erupsi. Kisahnya sangat menginspirasi bahwa sisi baik manusia bukan hanya untuk sesama manusia tetapi juga peduli pada hewan. Kisah itu ia upload di Instagram milik pribadinya; https://www.instagram.com/cak_saif99/p/CXqC2kbPDqS/?utm_medium=share_sheet
Sisi baik manusia sering kali diuji (terkikis bahkan hilang) ketika sudah berada dalam naungan birokasi/kekuasan. Anda barangkali tidak asing dengan kejadian korupsi bantuan sosial untuk masyarakat miskin di tengah pandemi, bukan?
Dulu Hobbes mengira bahwa kekuasaan dapat mencegah manusia dari ketidakteraturan dan kerusakan. Manusia perlu diatur dan diawasi oleh makhluk raksasa yang ia sebut sebagai Leviathan.
Dalam sejarah kekuasaan, ia gagal melahirkan orang-orang baik. Kekuasaan hanya berhasil mencitrakan orang baik tetapi bencana menunjukkan mana orang yang benar-benar baik.
0 notes
Text
Hidup dalam Krisis Pandemi
Kita mestinya marah (anger) sebab kehadiran Corona di Indonesia disambut dengan penyangkalan (denial) oleh elit politik kita. Jika kata denial kurang pas di sini, maka kita bisa menggantinya dengan kalimat yang faktual. Bahwa awal kemunculan Corona disambut dengan guyonan ala Baby boomer yang ingin melucu tapi tidak berhasil membuat para penonton tertawa terbahak-bahak. Akibatnya kita harus membayarnya dengan harga yang terlalu mahal
Sekarang kita tengah berada dalam situasi krisis. Pemerintah telah berupaya berdamai dengan COVID-19. Padahal penyebaran virus Corona masih berlangsung. Bahkan, grafik kasus COVID-19 di Indonesia masih fluktuatif. Syarat untuk menerapkan kehidupan new normal belum terpenuhi sepenuhnya. Dalam situasi seperti ini, kita mestinya belajar sesuatu tentang bagaimana kita bereaksi terhadap krisis. Meski terlambat bukan berarti kita telah berakhir.
Saya teringat Elisabeth Kübler-Ross, seorang psikiater melalui karya nya On Death and Dying, memberikan skema terkenal tentang lima tahap bagaimana kita bereaksi setelah kita mengetahui mengidap penyakit yang mematikan. Tahapan tersebut yakni penyangkalan (denial), marah (anger), menawar (bargaining), depresi (depression), dan penerimaan (acceptance).
Denial, seseorang akan menolak fakta "Saya merasa baik-baik saja. Hal ini tidak mungkin terjadi, tidak pada saya”. Anger, "Kenapa saya ? Ini tidak adil! Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi pada saya? Siapa yang harus dipersalahkan?". Bargaining, "Biarkan saya hidup untuk melihat anak saya diwisuda. Saya akan melakukan apapun untuk beberapa tahun”. Depression, Saya sangat sedih, mengapa perduli dengan lainnya? Saya akan mati. Apa keuntungannya?". Acceptance, “Semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak dapat melawannya, Saya sebaiknya bersiap untuk hal itu”
Pada awalnya, Kübler-Ross menerapkan tahapan-tahapan ini pada penderita penyakit gawat. Selanjutnya, Kübler-Ross menerapkan tahapan-tahapan ini pada segala bentuk kehilangan pribadi yang sangat besar (pengangguran, kematian orang yang dicintai, perceraian, kecanduan narkoba), dan juga menekankan bahwa mereka tidak harus berada dan bereaksi dalam urutan yang sama, juga tidak semua lima tahap ini dialami oleh semua pasien.
Mari kita ambil contoh bagaimana pemerintah bereaksi, saat kita semua mengetahui bahwa Indonesia sangat berpontensi terjangkit virus Corona. Pertama Denial, pemerintah cenderung untuk menyangkalnya (“Oh, orang Indonesia itu imunnya kebal. Makan nasi kuning dan baca Qunut bisa menangkal virus Corona).
Penyangkalan ini banyak mendapat protes serius dari kalangan aktivis dan ilmuwan. Lalu datang anger (di dalam pemerintah timbul kemarahan karena sektor pariwisata akan terganggu. Jelas ini akan merugikan para investor).
Selanjutnya pemerintah melakukan bargaining (Namun, alih-alih pemerintah fokus pada penanganan Corona, mereka memilih bagaimana menyelamatkan investor dengan dalih stabitalitas ekonomi. Pemerintah berencena memberikan diskon pariwisata Mendatangkan artis untuk menarik para wisatawan).
Namun, tahap ini tidak berhasil. Indonesia telah terjangkit virus Corona dan Kasus COVID-19 semakin tak terkendali. Sektor ekonomi pun malah terpuruk. PHK terjadi di mana-mana. Karena tahap ini tidak bekerja, maka muncullah Depression, (Pemerintah sekarang tak berdaya menahan gempuran penyebaran virus Corona yang sedang berlangsung di tengah masyarakat dan akibat yang ditimbulkannya).
Maka, pada tahap akhir, acceptance, ini akan terasa sangat sulit. Pemerintah berusaha menerima keadaan ini dan memilih berdamai dengan cara menerapkan kehidupan new normal di tengah situasi penyebaran virus Corona belum mereda.
Dalam waktu yang bersamaan, reaksi yang sama pun tumbuh di tengah masyarakat kita. Mereka menyangkal (denial) keberadaan Corona (Oh, itu penyakit tidak serius. Itu sengaja dibuat oleh orang tertentu untuk menciptakan kepanikan). Lalu muncul anger (kemarahan yang bernada rasis. Dasar China komunis tidak bertanggung jawab). Kemudian mereka mencoba melakukan bargaining (Baiklah. Penyakit ini tidak terlalu bahaya seperti SARS. Kita bisa melewatinya.). Namun, upaya ini tidak berhasil. Masyarakat mulai Depression (kita telah dihancurkan oleh Corona. Kita benar-benar kehilangan semuanya; pekerjaan dan orang-orang terkasih). Lalu bagaimana mereka mencapai tahap penerimaan (acceptance).
Ini pilihan yang sangat sulit. Mereka bisa mempertaruhkan nyawa. Kita baru-baru saja menyaksikan seorang lekaki tua, yang bekerja sebagai penjahit, membongkar barikade jalan di Wonosobo sambil marah-marah. Ia diduga mengalami depresi lantaran orderan sepi. Masih ada puluhan bahkan jutaan orang Indonesia yang bernasib sama seperti bapak tua penjahit tadi. Depression, mengutip Byung-Chul Hang di buku masterpiecenya, The Burnout Society, sering memuncak dalam situasi yang sangat melelahkan (Burnout). Depresi bukan hanya sekadar kondisi psikologi dan gangguan mental. Depresi muncul sangat materialis-- konsekwensi atas kondisi ekonomi.
Apa yang harus kita terima sekarang adalah bahwa kita telah lama kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah. Penyangkalan demi penyangkalan terhadap keberadaan Corona absah membuat kita marah. Namun penyangkalan ini hanyalah bentuk terkecil dari penyangkalan mereka terhadap isu yang lebih besar dan penting; krisis ekologi yang telah berlangsung. Protes aktivis lingkungan dan kajian ilmiah para ilmuan selalu membuat pemerintah bergeming. Pemerintah bukan hanya menyangkal, kadang-kadang bahkan sering melakukan tindakan represif. Hidup dalam pandemi Corona harusnya membuat kita belajar. Bahwa sikap penyangkalan seperti ini hanya membawa kita pada krisis yang berkepanjangan. Maka, sebelum tatanan kehidupan new normal berlaku, kita mestinya memulai dengan pemulihan kepercayaan antara masyarakat dan pemerintah.
0 notes
Text
Masih Perlukah Buku Dirayakan?
Sore itu, saya membawa sebuah buku ke warung kopi itu. Pikirku membaca buku di warung kopi itu akan membuat suasana membaca lebih santai apalagi ditemani alunan musik. Ya, begitulah kebiasaan saya dalam membaca buku. Tidak hanya dengan cara menyendiri di kamar di malam hari, namun juga suatu waktu perlu membaca buku di tempat terbuka salah satunya warung kopi.
Sore itu, buku yang saya bawa adalah buku Pramoediya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia. Sambil menyeruput kopi hitam panas, saya perlahan membaca dan memaknai kata demi kata dalam buku tersebut.
“Harus adil sejak dalam pikiran, jangan ikut-ikutan jadi hakim tentang perkara yang tidak diketahui benar-tidaknya,” seru Jean Marais kepada Minke. Saya merenungkan maksud kalimat itu sembari mengerutkan dahi dan menunduk.
“Kira-kira, apa maksud dari kalimat itu?” Begitu dalam hati saya. Selang beberapa menit belum juga saya temukan maknanya, ada teman yang menghampiri saya kemudian duduk di samping kanan saya. Tak disangka, dia menyodorkan sebuah kritikan pedas.
“He, Kamu ya kalau ke kantin tidak usah bawa buku. Baca buku itu ada waktunya. Masak ke warung kopi aja bawa buku. Mau pamer?”
Dalam hal membaca buku, saya termasuk pemula yang menggemari baca buku. Awal masuk kuliah, barulah saya dekat dengan sebuah buku. Di awal-awal itu, saya mulai menyisihkan uang kiriman dari orang tua untuk beli buku. Dalam satu tahun pertama buku mulai berjejeran di atas lemari dan menumpuk. Kalau dibiarkan seperti itu, lemari yang terbuat dari triplek bisa roboh. Akhirnya, saya membuatkan rak sendiri untuk buku-buku saya. Karena saya bukan pustakawan, jadi saya tidak tahu persis berapa jumlah buku saya sekarang. Yang jelas masih sedikit di bandingkan dengan jumlah buku di perpustakan kampus saya.
Awal-awal gemar membaca buku, saya bisa sampai larut malam menyendiri di kamar untuk membaca buku-buku yang sudah saya beli. Sampai kemudian saya tidak tahu tempat –membaca buku filsafat di toilet sembari menghisap rokok. Anda bisa bayangkan. Dan, saya meniru gaya patung berpikir karya Auguste Rodin, pemahat asal Yunani yang sering dijadikan sampul buku filsafat. Kalian juga pernah merasakan seperti saya, kan? Hayo, ngaku!
Kembali kepada kritik teman saya lima tahun yang lalu di atas, saya waktu itu mengabaikannya saja. Tidak dimasukin hati. Sampai hari ini pun, kalau ada orang yang berpikiran sama, saya tidak pernah ngerespon. Toh, mencari pembenaran tidak akan menyelesaikan masalah, malahan sebaliknya. Tapi, kalau dipikir-pikir apa yang disampaikan Jean Marais kepada Minke bisa dijadikan jawaban atas kritikan pedas teman saya waktu itu. Bahwa ia telah berlaku tidak adil sejak dalam pikirannya sehingga ia beraninya menghakimi orang yang membaca buku. Padahal ia belum tentu tau tujuan dari baca buku itu apa.
Menurut saya, masing-masing orang memilik cara yang berbeda untuk membaca buku. Sekarang pun di beberapa tempat, seperti warung kopi, kantin, atau kafe mulai berubah suasananya –dengan menyediakan buku untuk para pembeli. Bahkan, baru-baru ini teman saya di Malang membuat terobosan baru dengan membuat perpustakaan mini di dalam mobil angkutan kota (angkot). Semuanya bertujuan untuk menggerakan budaya literasi dan menjadikan buku sebagai teman dalam kehidupan.
Sosok seperti teman saya di atas, sampai hari ini pun (masih) banyak kita temui di beberapa tempat. Bahkan di kalangan yang katanya “kaum terdidik” juga ada yang berpikir demikian. Alih-alih mengkampanyekan budaya baca buku di manapun kalian berada, malah menjadi penghambat.
Di lain waktu ada lagi seorang teman bertanya kepada saya seperti ini.
“Buat apa sih membaca buku itu? Kamu kan tetap aja kayak gitu. Tidak berubah-berubah. Buang-buang waktu saja. Hidupmu juga tetap sulit seperti ini," tanya seorang teman.
“Banyak orang yang tidak menyadari bahwa betapa kehidupan manusia bisa diubah dengan sebuah buku,” jawab saya yang mengutip Malcolm X.
“Ah, Masak. Coba jelaskan detailnya seperti apa. Buku apa coba yang bisa mengubah kehidupan manusia?”
“Okay, sederhananya begini. Membaca buku tujuan dasarnya adalah menambah wawasan, menggugah kesadaran, memperluas cara pandang dan berpikir secara utuh. Kalau tujuan dasarnya seperti itu, saya jamin dalam kehidupan seharian kita dalam memahami fenomena sosial maka cara berpikir kita akan luas, utuh, dalam dan tidak reaksioner. Setidaknya, membaca buku akan membuatmu gelisah dan akhirnya ada keinginan untuk mengubah keadaan yang menurutmu perlu diubah.
Dan, buku-buku yang telah berhasil mengubah kehidupan manusia, menurut saya misalnya buku Das Capital karya Karl Marx yang membedah biang keladi dari kemiskinan manusia di dunia, yaitu kapitalisme. Buku tersebut menginspirasi banyak orang untuk mengubah tatanan sosial yang kapitalistik menjadi sosialistik. Kalau di Indonesia, ada buku-buku Pramoedya Ananta Toer terutama buku tetralogi pulau buru yang menurut Max Lane di dalam bukunya 'Unfinished Nation' menginspirasi para aktivis di akhir tahun 80-an. Dan sampai sekarang pun karya kedua tokoh yang saya sebutkan, Marx dan Pram, masih dibaca oleh banyak orang. Dan masih banyak lagi buku yang berpengaruh”
“Oh, begitu ya. Saya belum pernah baca buku yang kamu sebutkan”
“Makanya mas, baca. Biar waktumu tidak sia-sia dan terbuang hanya karena sibuk caci maki orang baca buku. Jangan-jangan sampean ini termasuk kelompok–yang dikit-dikit melarang dan sweeping buku-buku bacaan”
Membaca buku bukan suatu jaminan untuk menjadikan diri kita kaya secara materi. Sekalipun yang kita baca adalah buku Bapak Mario teguh, Tung Desum Waringin atau Anthony Robbin. Buku-buku cara untuk menjadi kaya, menjadi triliuner atau buku sejenis motivasi. Kalau ada jaminan, saya akan membaca buku tersebut. Atau saya akan kuliah lagi di jurusan ekonomi supaya hidup saya lebih mudah dan kemudia menjadi kaya. Tetapi benarkah, demikian ? Bukankah kebanyakan yang membaca buku motivasi, selepas membaca tetap begitu-begitu saja, dan jurusan ekonomi setelah lulus, banyak yang tidak kaya. Orang kaya hanya 1 % jumlahnya dari total populasi manusia di dunia. Hidup tidak semudah itu, dik. Dan, membaca buku tidak harus jadi kaya.
Meskipun tidak dipungkiri bahwa dari membaca buku bisa saja membuat kita kaya yaitu dengan cara setelah banyak membaca buku mulailah menulis buku dengan target bukunya terjual laris (best seller). Dan, orang yang memiliki motif ke arah situ pastilah ada. Dan itu sah-sah saja, kan?
Di hari peringatan buku nasional, 17 Mei 2017 ini, masih perlukah buku dirayakan?
0 notes
Text
Beban Laki-laki dalam Masyarakat Patriarki
Menjadi laki-laki dalam masyarakat patriarki tidak selalu menguntungkan bahkan menjadi beban bagi sebagian laki-laki untuk mewujudukan maskulinitasnya. Dalam budaya patriarki, laki-laki dikonstruk sebagai makhluk kuat, pemberani, tidak cengeng atau menangis dst.
Tuntutan-tuntuan itu membawa malapetaka bagi kesehatan mental laki-laki yaitu depresi yang berujung pada aksi bunuh diri.
Kita tahu bahwa maskulinitas yang dilekatkan kepada lelaki merupakan konstruksi kebudayaan masyarakat kita yang telah lama berlangsung, dan semua itu tidaklah benar.
Di sisi lain, sifat feminim yang ditimpakan kepada perempuan bahwa mereka makhluk lemah, senang menangis, cerewet dan suka menuntut juga tidak sepenuhnya benar.
Memang dalam kajian biologi dan neourologi ada perbedaan bentuk fisik dan fungsi di dalam organ antara perempuan dan laki-laki. Dalam organ otak misalnya, perempuan punya kecenderungan lebih emosional karena struktur otak bagian emosinya memang lebih besar daripada lelaki. Itulah mengapa perempuan lebih sensitif secara emosional.
Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagain besar hasil konstruksi budaya masyarakat kita. Penulis John Gray bahkan menulis buku dengan judul yang sangat jelas Men are From Mars, Women are From Venus, untuk menggambarkan perbedaan yang dibuat masyrakat bahwa mereka berasal dari planet yang berbeda; laki-laki dari planet yang identik dengan kekuatan, super hore, kemampuan, dan master sedangkan perempuan dari planet yang karakternya lembut, emosional, cerewet dan suka menangis.
Maka jangan heran bila ada seorang laki-laki yang menangis akan dihina tanpa ampun oleh teman, keluarga dan masyarakatnya. Laki-laki kok cengeng. Di sinilah malapetaka menimpa laki-laki. Sejak dari kecil, orang tua menanamkan nilai-nilai maskulinitas kepada anak laki-laki bahwa mereka harus tangguh. Laki-laki tidak boleh menangis. Tidak boleh mengeluh (red:curhat).
Berdasarkan data statistik, pengindap gangguan mental atau depresi lebih banyak diderita oleh perempuan daripada laki-laki. Namun, angka kejadian bunuh diri dari kasus mental disorder lebih tinggi laki-laki daripada perempuan.
Mengapa bisa demikian?
Kata kuncinya adalah masculinity toxic.
Laki-laki tidak boleh menangis jika menderita. Tidak boleh membicarakan masalahnya kepada orang lain karena akan dianggap lemah. Dan semua itu bukan sifat maskulinitas laki-laki.
Berbeda dengan perempuan, mereka jika ada masalah tidak akan berhenti curhat bersama teman perempuannya, dan tidak akan malu menangis.
Menangis bukan berarti sepenuhnya lemah dan takut, tapi menangis adalah sikap keberanian, terutama dalam masyarakat patriarki. Menurut Victor E Frankl "Kita tidak perlu malu untuk menangis karena air mata merupakan saksi dari keberanian manusia yang paling besar yakni keberanian untuk menderita"
Beban budaya patriarki ini tidak hanya merugikan perempuan, tapi juga laki-laki yang tak sanggup mencapai masyarakat patrialkal. Demi keberlangsungan kehidupan, laki-laki sebaiknya mulai sadar akan dirinya sendiri;maskunilitas laki-laki itu hanyalah konstruk bukan kebenaran absolut.
Setelah itu, mari runtuhkan budaya patriarki. Kita mendorong laki-laki untuk terbuka jika adalah masalah. Jangan takut menangis, dan jangan malu kalau dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah. Hapus masculinity toxic. Dengan demikian, diskusi kita akan lebih maju bahwa budaya patriarki itu bukan hanya soal perempuan tapi soal kemanusian.
Untuk itu, laki-laki di seluruh dunia, menangislah!!!
0 notes
Text
Seandainya Kita Menderita Kanker
Sudah tiga minggu berurusan dengan tempat ini. Se waktu dulu, waktu aku praktek di RS ini, jika berada di depan gedung hanya lewat begitu saja. Sesekali menebar pandangan ke samping kiri. Di sana terdapat plang besar berwarna putih, dan di tengahnya terdapat tulisanberhurufkan kapital, dan berwarna hitam, POLI ONKOLOGI SATU ATAP. Sekilas dari nama, saya sudah memastikan bahwa tempat ini, adalah tempat periksa, dan berobat para penderita penyakit kanker.
Kini, tempat ini kian hari semakin akrab buat saya. Ia bukan lagi sebagai tempat yang hanya dilirik, dan dilewati begitu saja seperti dulu, tapi ia sebagai pelabuhan, dan tempat pengharapan.
*****
Fajar telah menyingsing.
Aku terbangun dari tidur. Penglihatan ku masih samar-samar, di depan ku ada perempuan berkerudung kuning. Walau penglihatan belum normal, sudah bisa ku pastikan, ia adalah bukdeku, karena tak ada perempuan atau ibu-ibu selain dia yang menginap di kontrakan. Segera ku menuju kamar mandi. Ambil wudhu kemudian sholat shubuh. Setelah sholat, aku duduk sejenak mengatur nafas, dan menyeruput kopi yang dibuatkan bukde.
Kalau masih ada waktu, ku sempatkan baca novel karya masterpiecenya Gabriel Gracia Marques, Gabo berjudul "Love In The Time of Cholera". Hal seperti ini, telah menjadi kebiasaan di setiap pagi ku. Setalah melewati ibadat ngopi, dan baca buku. Waktunya mengantar Bukde ke tempat pelabuhan, dan pengharapan itu.
*****
Bukde ku menderita kanker payudara. Sekarang bukde sudah kehilangan satu payudaranya. Sebelum diratakan habis, melalui operasi, benda itu berubah menjadi benda yang tak mungkin lagi didambakan oleh pemujanya, bahkan kehilangan daya-tarik seksualitasnya (bukan jijik, dan otak mesum lo ya. awas diplintir). Ia hanya se onggak benda penuh penderitaan, antara hidup dan mati.Maka, tugas ku lah yang mengantarkan budhe ke RS. Bermodalkan sepeda motor, ku gonceng bukde menuju RS.
Berangkat pagi sekali dari kontrakan, dan pulang menjelang sore hari untuk menjalani proses pemeriksaan yang sangat melelahkan, dan menjemuhkan.Katanya sih, memang begitu kalau pakai kartu BPJS. Antrinya lama, dan prosedur pemeriksaan harus dijadwalkan terlebih dahulu yang memakan berminggu-minggu. Aku tidak tahu pastinya, ini bagian dari kekuranganku karena belum pernah kerja di RS. Dulu, hanya mengeyam praktek, dan memasukkan obat kemoterapi bagi pasien kanker.
*****
Hari itu, Selasa, di bulan Januari. Aku sangat kelelahan. Saking kelelahannya, aku sampai tertidur dalam posisi duduk, dan terbaring kalau antriannya sudah menyusut. Artinya tempat duduk sudah longgar, dan badan punya tempat untuk dibaringkan.Ada banyak cara yang dilakukan oleh--dari sekian ratus pasien dan keluarga pasien menikmati waktu antrian.
Ada yang tetap bertahan duduk di tempatnya, tanpa tertidur, menebarkan senyum, namun ada juga yang sudah nampak lesu, dan pasrah di wajahnya.ada juga melakukan hal-hal yang produktif. membaca koran, membaca buku, dan diskusi atau berbagi kisah tentang penyakit satu sama lainnya.Aku memilih cara hampir semuanya. menebar senyum sesekali, muka tampak lesu, dan pasrah, membaca buku, koran, dan mendengarkan kisah penyakit seorang bapak yang berada di sebelah ku.
"Bapak sudah berapa lama berobat?" tanya ku pada si bapak.
"Sudah hampir setahun, mas" ia menjawab tanpa melirik ke padaku, hanya memandang pasien lain yang berada di depannya, sambil memegang tas hitam di pangkuannya.
"Tidak bosenkah, bapak nunggu antrian?"
"Mau bilang bosen, ya sudah terbiasa mas. Tapi, kalau mau bilang tidak bosen, ya bosen juga, mas. Dinikmati saja, mas. Ditunggu".
Selang beberapa menit. Terdengar suara dari mik.
"Bu Raida, silahkan masuk ke ruang 106." diulang selagi lagi. Segera ku beranjak dari posisi dudur setengah tidur. Menuju ruangan 106, bukde ruaidah mengikutiku. Masuklah kami berdua di ruangan tersebut. Dokter melalukan anamnesa, pemeriksaaan fisik, dan melihat pemeriksaan penunjang sebelumnya. Setelah melewati itu, dokter menulis di beberapa lembar kertas sambil mengatakan bahwa sebelum dilakukan intervensi harus diperiksa terlebih dahulu. Diantaranya, periksa darah lengkap, foto dada, mamografi, dan USG.
Dari ke empat pemeriksaan itu, kesemuanya memakan waktu dua minggu. Bukde ruaida tampak murung wajahnya, dan kehilangan semangatnya. "Lama banget" gumam bukde ruaidah. "ndak pulang-pulang ke pulau kalau begini". Wajahnya tampak sedih, sepertinya ingin mengeluarkan air matanya pada saat itu,tapi air mata itu malu-malu karena ia tahu disekelilingnya banyak orang.
******
Empat pemeriksaan telah usai. Kini, mengantri lagi di tempat itu seperti sebelumnya. Nama bu ruaida dipanggil. Segera kami melangkah ke ruang 106. tiba di ruangan, kami duduk berhadapan dengan dokter itu. Aku tunjukkan semua hasil pemeriksaan. Dokter membutuhkan waktu beberapa menit untuk mempelajarinya. Ia bersiap-siap mengeluarkan fatwahnya,
"ini normal, normal, normal, dan ini. Nah, bu hasil mamografinya menunjukkan ada nodule tepat di bawah ketiak. Dicurigai kankernya menyebar ke payudara sebelah kiri. ini harus diperiksakan lagi, Bu. namanya periksa FNAB"
sontak wajah bukde ruaidah tanpa ekspresi, seolah-olah bingung. hari itu, periksaan FNAB tidak bisa dilakukan karena sudah tutup. "Besok harus kembali, sekarang pulang saja dulu" kata petugas administrasi.
Di tengah jalan, waktu perjalanan pulang ke kontrakan, bukde ruaidah bergumam "Aku mau diapain lagi. Besok pasti ngantri lagi"
*****
Hari berikutnya dilakukanlah periksaan FNAB, dengan menunggu setengah hari pemeriksaan, dan hasilnya sudah beres. Sesegera kami menuju ruangan 106, jarak keduanya jauh maka harus menggunakan motor agar tidak capek. Sampai di ruangan itu, dokter segera membaca hasil FNAB. Hasil nya tidak memuaskan, dan mengejutkan. Kanker sudah menyebar ke payudara sebelah kiri.
"Sebelum dilalukan kemoterapi, ibu harus diperiksakan jantungnya lebih dahulu. apakah bisa dilakukan kemoterapi atau tidak bergantung hasil poli jantung. Nah, besok periksa ke poli jantung, sekarang ibu pulang dulu" kata dokter.
Ekspresi bukde ruaida tak mengalami perubahan, sama seperti sebelumnya. Namun, saat naik motor aku dikagetkan dengan isak tangisnya, sambil berkata pada ku
"semoga aja umurku masih panjang". Ia nangis sepanjangan jalan, sambil bergumam. Tapi, gumamamnya tidak terdengar jelas karena bercampur satu dengan kebisingan suara kendaraan di sepanjang jalan.
*****
Hari ini, jumat, kami sedang menunggu dokter konsultan untuk memastikan jadwal kemoterapi. Antri mulai dari jam 7 sampai jam 14.30 belum juga ada kepastian, dua kali sudah masuk ruangan, namun disuruh mengantri lagi di ruangan. Jangan-jangan tindakannya bukan kemoterapi, tapi tindakan lainnya.
"Sungguh aku tidak bisa membayangkan, jika aku di posisi bukde ruaida. Meski hanya bertugas mengantarkan, dan sesekali menenangkan perasaan bukde ruaidah, namun sangat membuatku lelah oleh antrian, dan pemeriksaan yang memakan waktu berminggu-minggu. Dulu, sewaktu aku praktek hanya memberikan obat kemoterapi, tanpa berpikir bagaimana proses si pasien sampai bisa diberikan obat kemoterapi. Mungkin perawat, dan dokter sedikit yang berpikiran kesana. Mungkin saja bukde ruida merasakan apa yang saya rasakan ini. Tapi, Aku tidak merasakan seperti ini di posisi bu ruaida. Bukde Ruida salah satu dari ratusan bahkan jutaan penderita kanker. Aku tidak bisa membayangkan, jika hal yang dialami bukde ruaidah, juga dialami oleh mereka-mereka. Aku tidak bisakan membayangkan. Mungkin kalian juga tidak bisa membayangkan". Bayangkan. Bayangkan. Bayangkanlah!!!
0 notes
Text
Menutup tahun 2018 dengan Cara Hidup Minimalis

X: Bung, nanti sore ikut saya ya? Y: Kemana, Bung? X: Ke Eiger. Saya mau membelikan kamu baju Y: Waduh. Terima kasih, bung. Mohon maaf saya tidak bisa ikut. X: Kenapa? Mumpung saya ada rejeki di akhir tahun. Y: Masih banyak baju saya yang masih bisa dipakai, bung. X: Bagus.
Menolak ajakan teman dalam rangka memberikan sesuatu pada kita, tidak selalu dapat diartikan sebagai penolakan atas rezeki. “Ndak baik lo nolak rezeki”
Kalimat itu sering terdengar saat ada seseorang yang baik hati ingin memberikan sesuatu pada kita. Namun, kita membalasnya dengan sebuah penolakan halus. Penolakan itu didasari banyak alasan, salah satunya adalah alasan yang sangat prinsip : Hidup Minimalis. Ini barangkali tidak mudah untuk dipercaya, terutama bagi teman yang mengenal saya.
“ Wah mana mungkin Idham menolak dibelikan baju” pasti teman saya bilang begitu.
Bagaimana tidak, saya yang biasanya dikategorikan ‘senang’ belanja baju, malah menolak untuk dibelikan baju. Apalagi baju eiger, Bro. Di saat eiger memberikan diskon akhir tahun up to 50, seharusnya saya memburu produknya. Namun, saya memilih untuk menolak.
Selain dianggap menolak rezeki. Sikap penolakan itu kadang diartikan sebagai bentuk dari arogansi dalam pertemanan. Hal ini didasarkan bahwa pemberian teman adalah wujud dari betapa dia menghargai dan peduli kamu. Pemahaman ini yang membuat kita, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus bersedia menerima pemberian teman kita sebagai sikap menghargai.
Baiklah kalau pemahaman kita demikian atas makna pemberian dari teman. Namun, ijinkan saya bertanya kepada Kalian, saudara-saudarku. Di saat teman kalian ingin memberikan barang, apakah itu barang berupa pakaian atau barang lainnya, apa alasan yang mendasari kalian menerima pemberian itu ?
Menghargai sebagai teman atau kalian memang butuh barang tersebut, atau keduanya? Saya yakin di antara kalian sedikit yang memiliki alasan keduanya. Faktanya. Barang yang diberikan oleh teman kepada kita, sebenarnya barang yang tidak benar-benar kita butuhkan. Sering kita dibelikan barang oleh teman, namun kita jarang menggunakannya. Bahkan hanya diletakkan begitu saja. Jika berupa baju, mungkin di awal digunakan. Setelah itu, hanya ditumpuk di lemari, dan akhirnya tidak dipakai. Ada juga yang memberikannya pada orang lain. (Nah, masih percaya bahwa pemberian teman itu sangat berarti?) Maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar dari kita tidak membutuhkan barang dari pemberian teman.
“Halah gitu aja kok dipermasalahkan” Meski aksi penolakan itu hal sepele. Ketahuilah, bung dan nona. Aksi tersebut dapat melancarkan gerakan revolusi.
Begini. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh umat manusia modern adalah konsumerisme. Era di mana manusia menggantung hidupnya pada barang secara berlebihan. Kata lainnya, mengkonsumsi barang secara berlebihan. Mereka tidak bisa memilah dan memilih mana barang benar-benar dibutuhkan. Apakah memiliki nilai guna atau tidak. Anda dan saya mungkin telah mengidap ‘penyakit’ modern ini.
Pada dasarnya, barang memiliki tiga katergori : Barang fungsional, dekoratif dan emosional. Tidak semua barang yang telah saya beli, betul-betul saya gunakan dan beguna buat saya. Alih-alih benilai guna, dipakai saja tidak. Tidak hanya pada pakaian, tetapi juga buku. Beberapa buku yang telah saya beli tidak pernah tuntas dibaca. Dan pada kesempatan lain, saya pikir buku itu tidak ada mnafaatnya buat saya. Itu dulu. Saat semangat-semangatnya mengoleksi buku. Begitu juga dengan pakaian. Semakin banyak membeli pakaian, tidak semuanya akan dipakai. Malahan menbuat lemari sesak.
Penyebabnya karena saya membeli pakaian hanya sebatas alasan dekoratif (penampilan) dan buku secara emosional bukan pada fungsionalnya. Maka, penting sekali mengetahui barang apa yang betul-betul kita butuhkan, termasuk buku apa yang layak kita baca sebelum kita terlanjur membelinya. Apakah kita membeli karena nilai fungsionalnya, dekoratifnya atau emosionalnya? Menolak atas pemberian teman yang saya ceritakan di atas merupakan langkah kecil untuk memulai menerapkan hidup minimalis, lalu diterpakan ke hal yang lebih dalam hidup saya. Hidup minimalis bukan berarti hidup tanpa barang.
Kita hanya perlu barang, jika barang itu benar-benar memiliki nilai fungsional untuk diri kita. Itulah makna dari hidup minimalis. Jika kita menerapkan hidup minimalis ini, secara tidak langsung kita akan berkontribusi menyelesaikan masalah sosial seperti limbah, menekan laju penurunan sumber daya alam dan tidak menambah beban orang lain.
Saya teringat pada pesan Gandhi “Hiduplah dengan sederhana supaya orang lain dapat hidup” Pesan ini hadir sebagai kritik terhadap kenyatan sosial bahwa betapa banyak masalah sosial timbul akibat kerasukan atau hasrat sebagian orang atas kepemilikan barang.
Masih ingatkan kasus anggota DPR RI yang mantan menteri pemuda dan olahraga di zaman pak SBY ? Beliau tersandung kasus membawa barang-barang senilai Milyaran yang bukan haknya. Niatnya mau menikmati barang-barang itu di rumahnya, yang ada malah bullyian netizen dan diminta dipaksa agar semua barang itu dikembalikan ke kemenpora. Inilah contoh hidupnya yang terikat pada barang, sehingga watak kerasukan itu muncul yang fatalnya merugikan negara.
Hidup minimalis adalah cara hidup untuk bahagia. Keterikatan kita pada barang hanya melahirkan kebahagian semu. Setelah barang itu raib, kebahagiaan itupun hilang. Ajaran Zen dalam agama Budha telah berpesan kepada kita bahwa untuk mencapai kebahagiaan hakiki manusia harus mampu melepaskan ikatan dari hal-hal duniawi.
Jika kalian menginginkan resolusi di tahun 2019 agar hidup kalian penuh dengan kebahagiaan tanpa bunyi petasan dan kebisingan sepada motor sepanjang malam tahun baru, maka kalian harus menutup tahun 2018 ini dengan cara menjalankan hidup minimalis. Akhirnya segala pemberian barang dari teman di tahun baru harus ditolak, kecuali barang tersebut memiliki nilai fungsional terhadap diri kita.
0 notes
Text
Joker: Pertama sebagai Tragedi, Kemudian sebagai Komedi
Sejak film Joker tayang perdana pada 2 Oktober 2019, ada banyak meme berseliweran di timeline media sosial saya, dan beberapa status simpulan/tafsiran singkat tentang film satu ini.
Salah satu meme, misalnya memuat gambar pemeran utama Joker (Arthur Fleck/Joaquin Phoenix) dan berisi kata-kata "orang jahat adalah a bad person dan orang baik adalah a good hearted person"
Kalau itu bukan simpulan tapi meme kamus Indonesia-English hahahahahaha
Selain itu, banyak teman saya juga tak mau kalah memberikan pendapat mereka. Dan kalau dibaca, nyaris pendapat mereka sama
"Orang jahat adalah orang baik yang selalu disakiti"
Yang lain memberi komentar agak bijak dan penuh pesan moral
"Sepertinya orang-orang yang suka bergelut dan berantem di media sosial punya pengalaman kekerasan atau traumatis di masa lalu. Maka perlu dimaklumi"
Lalu dibalas oleh teman lain
"Jangan dijadikan pembenaran bahwa karena pengalamam buruk, seseorang dianggap wajar melakukan kekerasan atau kekacawan"
Dari beberapa pendapat di atas, keingintahuan saya timbul. Ada apa dengan si Joker? Jangan-jangan beberapa kesimpulan di atas tidak benar. Lalu, berangkatlah saya bersama teman ke bioskop. Berharap, memang, bahwa apa yang disampaikan oleh penonton sebelumnya tidak sepenuhnya benar belaka.
***
Arthur adalah lelaki tua renta yang hidup tanpa pasangan. Dia hiudp bersama ibunya, Penny Fleck di Apartemen tua. Arthur mengidap penyakit mental dengan gejala keluarnya tawa yang tak dapat dia kendalikan. Semakin lama, ketawa itu bukan simbol lelucon. Ada pesan penderitaan yang sudah puluhan tahun ia alami lewat tawa terbahak-bahak itu.
Bekerja di layanan jasa badut adalah satu-satunya penyangga hidup Arthur. Dia punya cita-cita ingin menjadi komedi tunggal. Namun, sedari awal, kehidupan Arthur adalah kumpulan tragedi.
Sejak kecil ia mengalami penyiksaan. Otaknya mengalami trauma berat. Dia merasa tak pernah mendapatkan kasih sayang. “Satu minut pun, saya tidak pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupku”
Hidupnya adalah kumpulan tragedi. Di adegan awal film, Arthur dipukuli oleh remaja nakal dengan menggunakan papan, kemudian tubuhnya menerima beberapa tendangan.
Dalam unit terkecil, di dalam keluarga, dia tak pernah merasa kehangatan. Sementara di masyarakatnya dia menjadi bahan olok-olokan. Dan pemerintah mencerabut hak-haknya sebagai warga negara, termasuk jaminan kesehatan. lengkap sudah penderitaanmu, Arthur.
Menjadi gila adalah menjadi “yang lain” di antara masyarakat yang dianggap “normal”. Sementara Gotham city adalah gambaran kota yang menjijikkan. Sentimen kelas menengah ke bawah membenci kelas menengah atas diungkit. Kota penuh sampah ribuan ton tak terurus. Arthur adalah bentuk dari kegilaan yang diderita oleh kota ini.
Mengutip Michel Foucault, Kegilaan bukan hanya terjadi dalam dunia medis. Kegilaan dapat muncul dari hubungan relasi kuasa yang timpang antara pemerintah sebagai pihak penguasa dengan masyarakat sebagai pihak yang dikuasi. Dalam kasus ini, tentu yang berbahaya adalah kegilaan kedua. Pemerintah memiliki dominasi untuk menentukan siapa yang “gila”, badut masyarakat dan siapa yang harus dikucilkan.
Arthur adalah tragedi yang kompleks. Dia adalah yang lain bagi keluarga, tempat dia bekerja, masyarakat dan pemerintah. Menurut Foucault, jika kegilaan itu hadir di masyarakat, maka biarlah sampai kegilaan itu berakkhir. Bagi, arthur sendiri, ia tak perlu membaca Madness and Civilization Michel Foucault, untuk bertindak menghentikan “kegilaan”.
Arthur memang melakukan kekerasan. Anda boleh sepakat atau tidak. Namun, dalam dunianya Arthur, kekerasan itu adalah jalan keluar baginya untuk sembuh dari kegilaan. Semua unit yang seharusnya menjadi penyanggah peradaban ia runtuhkan. Keluarga, masyarakat dan pemerintah.
Kita tidak perlu menghakimi Arthur secara moralitas. Semua orang punya potensi untuk menjadi Arthur. Saya tidak bilang bahwa karena kita sering disakiti, yang awalnya orang baik berubah menjadi jahat. Bukan itu maksud saya.
Yang saya ingin katakanan adalah kita punya potensi melakukan kekerasan seperti Arthur di saat penyanggah peradaban kita rusak. Sejahat apapun seseorang, dia tidak akan mendapat ruang di tengah keluarga penuh kehangatan, kebahagiaan dan kasih sayang, memiliki masyarakat yang menghargai sesama dan pemerintah yang peduli pada masyarakat miskin. Tapi, apa yang sebutkan barusan terlalu utopis, bukan?
Kembali lagi, bagi Arthur hidup adalah tragedi. Aku pikir Arthur akan mengakhiri tragedinya dengan kematian. Dia bahkan menulis di buku catatannya “Barangkali kematianku lebih masuk akal daripada hidupku” Namun, Arthur mengambil ajaran Freud bahwa dalam menghadapi tragedi, motivasi untuk hidup harus kuat daripada motivasi untuk mati. Namun, alih-alih bertahan melawan tragedi, ia memilih menjadi joker.
Itu adalah pilihan logis dan realistis. Orang-orang lebih senang melihatnya sebagai olok-olokan daripada tragedi. “Saya terbiasa berpikir bahwa hidupku adalah tragedi, namun sekarang saya berpikir bahwa hidupku adalah komedi”
0 notes
Text
Cerita Keluarga Peserta BPJS
Isu kenaikan iuran BPJS telah menuai pro kontra di kalangan Masyarakat. Keduanya memiliki argumentasi masing-masing. Namun semakin kesini , perdebatan keduanya tidak lagi sehat. Polarisasi pilpres lalu mencuat kembali. Seolah-olah setiap kebijakan yang akan keluarkan oleh pemerintah ibarat stimulus untuk kembali pada pola perilaku sebelumnya.
"Wah, dasar pendukung rejim zalim" status seorang teman nongol di beranda Fesbuk saya, menanggapi teman-teman aktivisnya sepakat dengan kebijakan pemerintah.
Rencana kenaikan iuran BPJS muncul karena Badan ini mengalami defisit parah. Untuk saat ini, satu-satunya solusi untuk menambal kerugian tersebut adalah menaikkan iuran.
"Kenaikannya dua kali lipat, bro. Busyettt, deh. Mampus gua"
"Lho, lho,,yang dinaikkan itu kan bagi peserta non-PBI"
"Apa itu?"
"Peserta non-penerima bantuan iuran dari pemerintah alias mandiri. Peserta yang mampu bayar iuran per bulan. Sedangkan yang orang miskin alias penerima bantuan iuran (PBI)"
"Saya kan termasuk orang tidak mampu"
Humm.......
Semakin pesatnya kemajuan teknologi informasi tidak berbanding lurus dengan kecepatan seseorang mencerna informasi. Ujung mulut kita lebih mudah terpancing memanjang daripada syaraf curiosity terhadap sesuatu. Akhirnya, motif berkomentar lebih menonjol daripada motif memahami. Maka jangan heran kalau ada seorang mengatakan.
"BPJS naik, syariah solusinya" Haduhhh,,,cin. Sini aku rukyah dulu.
Rencana kenaikan iuran BPJS itu berlaku bagi peserta mandiri. Peserta yang sudah punya pekerjaan tetap. Punya upah dari pemerintah maupun swasta. Tidak berlaku bagi peserta PBI karena sudah ditanggung oleh pemerintah. Tahu ada berapa jumlah penerima bantuan? Ada sekitar 96,8 juta bro.
---
Bentar-bentar. Jangan pikir saya agen BPJS, menganggap sepenuhnya BPJS itu salah dan dosa lho..
---
Saya ingin bercerita. Di pulau nun jauh di sana ada sebuah keluarga yang sudah berkepala lima. Keluarga ini memiliki 3 anak. Satu perempuan dam 2 laki-laki. Semua anaknya sudah punya keluarga dan anak. Mereka hidup secara terpisah. Ada yang mencari nasib di Kalimantan, satunya jadi TKI di malaysia dan terakhir berusaha bertahan di pulau tempatnya lahir. Dia bekerja sebagai nelayan. Tinggalah sepang suami-istri ini di rumah mereka tanpa anak-anak dan cucu-cucunya.
Meski suami sudah berumur hampir 60 tahun. Dia tiap hari mencari ikan kemudian dijual. Syukur-syukur kalau banyak ikan yang dapat. Itu artinya dapur akan tetap mengepul. Sedangkan sang istri juga bekerja ikut ponakannya dengan membantu dalam pengasinan dan pengeringan cumi-cumi. Meski tua, mereka tetap berbagi peran dalam urusan ekonomi-sosial dan domestik.
Boleh dibilang keluarga ini memang keluarga pekerja keras. Asam garam, manis dan legitnya kehidupan telah mereka lalui.
Lalu, tiba-tiba bencana itu datang.
Ada yang tak beres dengan payudara si istri. Ia telah lama merasa ada benjolan. Namun, ia tak pernah merasa khawatir. Ia terus saja bekerja. Keadaannya memang begitu. Berharap banyak kepada ketiga anaknya juga mustahil.
Pada masa sakit itu, suami-istri bekerja ke kalimantan. Dengan pekerjaan barunya, di kelapa sawit, mereka mendapat gaji lebih besar. Tidak seperti sebelumnya, hanya pasrah pada nasib di laut. Sekarang mereka mendapat upah setiap bulan.
Bagaimanapun, benjolan itu semakin besar dan memberikan gejala sakit seperti panas, tidak nafus makan, nyeri parah, dll. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke pulau nun jauh itu.
Sampai suatu ketika, tiba-tiba darah berucurun keluar dari payudaranya. Sebelumnya, ia berobat ke pengobatan tradisional. Uang puluhan juta yang mereka dapat selama di Kalimatkan itu, habis hanya untuk beli obat tradisional. Bukan malah sembuh, semakin hari semakin parah saja. Dan anehnya, orang yang berjualan obat tradional itu terus saja menyarankan agar berobat padanya. Bahwa darah yang keluar itu adalah tanda akan sembuh.
Ya maklum. Si istri dan keluarga memang tidak paham mengenai penyakitnya. Dari kejadian itu. Mereka mendadak kehilangan uang banyak, semakin miskin dan kehilangan pekerjaan.
Maka, si istri disarankan untuk berobat ke RS dengan mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS. Namun, 3 tahun lalu itu memang darurat. Butuh penangan cepat. Jika menunggu JKN diterbitkan BPJS, nyawanya tak akan tertolong. Dengan pertimbangan itu, si istri melakukan operasi pengangkatan payudara. Ia didiagnisis mengidap peyakit payudara. Seluruh biaya dari hasil pinjaman.
Setelah melewati operasi. Dia akan menjalani kemoterapi. Namun sekarang pembiayaannya ditanggung oleh BPJS. Dia bersama suaminya daftar sebagai peserta mandiri. Harusnya, mereka termasuk golongan PBI. Namun, mereka bukan termasuk golongan miskin. Tapi bagi mereka itu tidak masalah.
Bahkan bersedia menjadi peserta mandiri dan membayar tiap bulan. Rasanya tak ada beban untuk membayar iuran 22.500 setiap orang. Suaminya juga ikhlas membayar meski selama hampir 3 tahun ini nyaris tidak pernah menggunakan kartu itu.
---
Mendengar cerita di atas bagaimana perasaan anda jika seandainya ada seseorang yang secara finansial mampu membayar iuran tapi menolak adanya rencana kenaikan? Apalagi sampai masuk kategori penerima bantuan iuran yang bukan hak nya?
---
Sebentar. Saya ingin lanjutkan cerita di atas. Meski biaya pengobatan si istri sudah ditanggung oleh BPJS. Tetap saja dia butuh uang untuk biaya perjalanan selama pengobatan dari pulau Sapeken ke Surabaya. Gambaran ini seperti benang kusut yang tidak mudah diurai. Si istri tidak mungkin berangkat tanpa sang suami. Jika suami ikut menamani berarti dia meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan.
Lalu dari mana mereka mendapatkan uang untuk biaya perjalanan itu? BPJS jelas tidak akan ambil pusing. Itu di luar tanggungan mereka. Jalan satu-satunya adalah minta bantuan kepada anak-anaknya. Tapi, bagaimana kalau pekerjaan anaknya hanya sebagai kuli? Paling hanya cukup untuk kebutuhan keluarga meraka masing-masing.
---
Maka, dalam kasus seperti kisah keluarga ini, kita merindukan kehadiran negara. Bukan hanya berencana menaikkan iuran, tapi merumuskan layanan kesehatan itu benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa mereka merasa dimiskinan lagi. Bukankah tujuan adanya BPJS adalah untuk menghindari adanya proses pemiskinan yang mendadak?
Cerita di atas, sebenarnya, menggambarkan bahwa negara gagal mendeteksi mana warganya yang memang miskin dan layak tanggung pemerintah. Selain itu, ada masalah lain yang justru tidak bisa ditanngani oleh BPJS sendiri. Seperti kasus keluarga peserta BPJS ini.
Untuk kalian, orang-orang kaya, sepakatilah kenaikan BBM. Masak kesehatan kalian mau dibebankan juga pada negara? Jika dirasa negara tak perlu dibantu, anggaplah iuran kalian itu membantu sesama warga negara. Membantu warga miskin di negara ini. Mungkin itulah maksud gotong royong ala BPJS. Cara itu bisa mencegah negara menagih warganya yang miskin, seperti ala-ala Debt Collector.
Maka, jangan heran kalau ada warga Indonesia membandingkan dengan negara Cuba, misalnya. Di mana di Cuba tidak ada istilah kelas perawatan. Di sana biaya kesehatan gratis untuk semua warga.
Kita mesti berharap kepada DPR yang baru dan periode kedua Pak Jokowi. Kalau bukan kepada mereka berharap, lalu kepada siapa lagi?
Menkes Baru???????
0 notes
Text
Ideologi, Negara dan Kesehatan
Sebelum masuk ke pertanyaan bagaimana peran negara dalam menjamin kesehatan warganya, saya ingin mengajukan pertanyaan lain, apakah ada hubungan antara ideologi sebuah negara dengan kesehatan warganya. Menjawab pertanyaan tersebut tentu butuh usaha serius, apalagi mindset kesehatan hari ini bukan lagi mengarah pada determinasi individu, namun ada determinasi sosial, salah satunya ideologi politik yang mempengaruhi kesehatan individu maupun masyarakat.
Tulisan ini hanya sebagai pengantar, dan mungkin belum bisa menjawab pertanyaan saya di atas. Minimal sebagai bahan untuk didiskukan dan dikoreksi. Selain itu, tulisan ini adalah upaya untuk memunculkan diskursus pentingnya membicarakan kesehatan dalam konteks lebih luas, dan pentingnya keterlibatan negara.
Demokrasi dan Kesehatan
Saya ingin mengawali dari hasil riset Thomas J Bolly et al (2019) tentang hubungan antara demokrasi dan kesehatan orang dewasa dan penyebab spesifik kematian di 170 negara selama tahun 1980-2016. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa demokrasi dapat meningkatkan harapan hidup (Life Expectancy) di negara yang telah melakukan transisi dari otoritarianisme ke demokrasi. Rata-rata kenaikannya 3% setelah 10 tahun. Selain itu, presentase kematian (mortalitas) yang dihasilkan dari pengalaman demokrasi di suatu negara sebesar 22.27% penyakit kardiovaskular, 16.53% untuk tuberkulosis, dan 17.78% untuk cedera transportasi, dan persentase yang lebih kecil untuk penyakit lain.
Selama 20 tahun terakhir, peningkatan rata-rata pengalaman demokratis di 170 negara tersebut memiliki efek langsung dan tidak langsung pada pengurangan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular, penyakit tidak menular lainnya, dan tuberkulosis. Peningkatan pengalaman demokrasi suatu negara tidak berkorelasi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita antara 1995 dan 2015, tetapi berkorelasi dengan penurunan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular dan peningkatan pengeluaran kesehatan pemerintah.
Berangkat dari temuan ini, Thomas J Bolly dan koleganya menginterpretasikan bahwa demokrasi lebih mungkin daripada otokrasi untuk mengarah pada peningkatan kesehatan. Sebab pengalaman demokrasi dengan pemilihan yang bebas dan adil merupakan cerminan dari pemerintah yang akuntabel dan tanggap, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan dan mengurangi penyabab kematian seperti penyakit jantung dan cedera transportasi.
Pengalaman Demokrasi Indonesia dan hubungannya dengan Kesehatan
Mari kita lakukan konfirmasi. Sejak 1945, Indonesia berkali-kali mengalami transisi ideologi dan corak rejim yang berbeda. Data Lembaga Varieties of Democracy (V-Dem) menampilkan hubungan antara index demokrasi sebuah negara dengan angka harapan hidup saat lahir. Data tersebut menjelaskan bahwa Indonesia mengalami peningkatan life expectancy berbarengan dengan adanya transasi rejim dari otoritarianisme ke demokrasi. Selama era otoritarianisme angka harapan hidup masih berada pada angka 65.8 tahun. Berbeda, setelah terjadi reformasi angka tersebut berubah, dan di tahun 2015 berada pada angka 69 tahun.
Jika dilihat dari komponen index demokrasi V-Dem, ada hubungan yang kuat antara pemilihan bersih dengan harapan hidup. Di tahun 2015, 1 tahun kepemimpinan Joko Widodo, Indonesia menempati peringkat ke 71 untuk pemilu bersih. Berbeda misalnya dengan Swedia, pada tahun yang sama berada di peringkat ke 3 dengan angka harapan hidup 82.3 tahun, dan Australia berada di peringkat 7 dengan angka harapan hidup 82.7 tahun
Data terbaru berdasarkan survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 menunjukkan bahwa angka harapan hidup mencapai 73.19 tahun. Jika mengikuti logika penelitian Thomas J Bolly dan koleganya, bahwa adanya peningkatan angka harapan hidup tersebut salah satunya karena adanya sedikit peningkatan Index Demokrasi Indonesia.
0 notes
Text
Usia Tua Muhammadiyah
Memasuki usia ke 108 Muhammadiyah dalam hitungan tahun Masehi (1912 – 2020 M) merupakan usia yang tidak mudah dicapai jika pencapaian itu diukur berdasarkan umur manusia saat ini. Meski sebenarnya ada beberapa orang di belahan dunia yang menempuh usia di atas 100 tahun. Salah satunya adalah Kane Tanaka, warga asal Fukuoka, Jepang dinyatakan menjadi orang paling tua di dunia, karena usianya mencapai 117 tahun, dan mendapat penghargaan dari Guinness World Record pada tahun lalu.
Usia manusia lebih dari satu abad memang terlibang sangat fantastis. Namun jika dipikir lebih dalam, ada usaha yang terjal dan berliku agar hidup seseorang tembus satu abad. Ada konsekwensi logis yang harus diambil. Setidaknya ada empat rahasia orang Jepang memiliki usia panjang; Makan sehat, mencintai kehidupan, berolahraga, dan memiliki akses pada layanan kesehatan.
Makan makanan sehat, tidak hanya dari segi substansi makanannya tetapi sebarapa porsi makanan yang dikonsumsi. Dalam kata lain, jangan rakus. Sifat rakus ini memang berbahaya, bukan hanya menimbulkan penyakit fisik, juga mengakibatkan gangguan mental. Rakus pada kekuasaan, harta, dan kenikmatan lainnya memperanguhi kesejahteraan mental, dan juga bisa memperpendek usia.
Rakus memang mendatangkan kesenangan, tapi sifat hanya sesaat. Hidup bukan perkara mencari kesenangan (the way to pleasure) tapi mencari jalan hidup penuh makna (the way to meaning). Jadi, bagi mereka yang usianya panjang itu hidup bukan melulu seberapa besar memperoleh kenikmatan dari makanan, tetapi seberapa besar kamu mencintai kehidupan atau hidup harus memberi kebermanfaatan.
Dahulu, Kuntowijoyo mengibaratkan Muhammadiyah itu ibarat menanam pohon jati, dimana pohon tersebut dalam hasilnya memakan waktu berpuluh-puluh tahun dan bahkan satu generasi untuk mengungguh buah yang dihasilkan. Bedanya dengan gerakan yang bersifat politis mencari momentum yang tepat dibaratkan dengan pohon pisang yang cepat berbuah dan berkembang tetapi bersifat sementara dan yang dihasilkan pun tak memuaskan, bahkan yang paling menyedihkan setelah berbuah pohon pisang pun mati.
Muhammadiyah harus membatalkan agenda pelaksanakan Muktamar. Padahal muktamar adalah sebuah acara strategis dan agenda tertinggi lima tahunan yang melibatkan jutaan orang baik sebagai anggota, peserta dan penggembira. Muhammadiyah tentu tahu bahwa keputusan itu adalah bagian dari menyelamatkan Muhammadiyah dari badai Covid-19.
Dalam momen milad Muhammadiyah ke 108 ini, penting membaca kembali apa yang pernah disampaikan oleh Pak AR Fachruddin. Menurut saya, apa yang dituturkan oleh beliau ini adalah jawaban atas pertanyaan mengapa Muhammadiyah sampai hari ini belum mati.
Ketua Muhammadiyah yang sederhana, jujur, ikhlas dan tawadduk itu memberi sebuah perumpamaan. Menurut Pak AR orang masuk Muhammadiyah dan bermuhammadiyah itu ibarat orang menumpang sebuah mobil. Ada yang merasa ikut memiliki mobil itu sehingga perlu dipelihara, dibersihkan, dijaga dengan penuh hati-hati dan jika mobil tersebut rusak sedikipun harus segera diperbaiki.
Ada juga yang masuk Muhammadiyah itu seperti penumpang biasa. Dia membayar, dan ikut membelikan bensin. Ketika mogok ikut mendorong, dan setelah turun dari mobil mengucapkan terima kasih.
Ada pula yang hanya ikut numpang tidak membayar, kemudian turun dan bila merasa perlu dia akan mengucapkan terima kasih.
Ada juga yang ikut naik, namun ketika turun tidak pula membayar malah memaki-maki bahwa mobilnya tidak bagus, mogokan pengap, kotor, kurang ini-kurang itulah dsb.
Ada lagi yang ikut naik mobil, dia tidak bayar, tidak ikut membelikan bensin, tidak mengucapkan terima kasih tapi saat turun malah membawa barang-barang yang ada di mobil, mengambil kaca spion, obeng, kunci pas dan lain-lain.
Perumpumaan di atas sekilas menjelaskan jenis-jenis orang di dalam Muhammadiyah, tetapi menurut saya berhasil menemukan titik temu antara umur panjang Kane Tanaka dan Muhammadiyah.
Bahwa kita dapat menarik suatu tesis orang yang sabar dan tabah dalam mengurus Muhammadiyah, tidak rakus dan egoistik akan membawa membawa Muhammadiyah pada usia dua abad bahkan lebih.
0 notes
Text
Messi, Self-efficacy dan Disappointment
Laga yang mempertemukan Argentina versus Brazil besok pagi (3/7/2019), bukan hanya laga penentuan Argentina untuk melaju ke final, tetapi juga menjadi sebuah laga pembuktian bagi pesepak bola yang telah meraih Ballon D'or sebanyak lima kali, siapa lagi kalau bukan king Leo.
Sepanjang pertandingan mulai dari babak penyisihan grup sampai di laga perempat final Copa America 2019, Messi tidak menampilkan permainannya yang memukau. Dia hanya membubuhkan satu gol, itu pun lewat tendangan pinalti saat melawan Paraguay. Seperti pendapat sumir para fans dan pembenci Messi, bahwa Messi di Liga beda dengan messi di Timnas Argentina. Ia kerap kali jadi objek cacian dan kemarahan lantaran si pemain terbaik dunia sepanjang massa ini belum juga memetik juara bersama Tim Tango. Kekalahan Argentina adalah kekalahan Messi. Sebaliknya, kemenangan Argentina adalah kemenangan Messi. Itulah yang muncul dalam persepsi pencinta sepak bola
Messi hanya mampu mengantarkan tim nya sebanyak tiga kali masuk final: di Piala dunia 2014, dan 2015-2016 di final Copa America. Namun, Messi dan tim nya harus keok di tangan tim Panser dan Chile.
Ambisi untuk juara bersama Tim Tango nyaris membuat Messi frustasi (mungkin si King sudah frustasi kali ya). Saat kalah di laga Final Copa America Centenario lawan Chile tahun 2016, ia memutuskan pensiun di Timnas, dia tak sanggup menanggung beban harapan banyak orang dan juga ambisi dirinya. Kini, entah terucap atau tidak, dia masih sangat ambisi menjuari Copa America.
Kekalahan Barcelona dari Liverpool di Liga Champion tahun ini, sangat membekas di hati Messi. Jika hati itu bisa bicara paling tidak bisa didengar, kita akan tahu betapa nestapanya si Messi ini. Bagaimana tidak, awal musim 2018 di La Liga, di depan Fans nya di Camp Nou, ia berjanji akan memenangkan Liga Champion untuk Barca dan Fans nya. Alih-alih 'mutiara' yang didapat, malah air mata kepedihan dan cacian yang datang kepadanya. Lantas apa yang salah dari Messi? Apakah ada yang keliru dari self-efficacy si Messi?
Dalam kajian teori keperawatan, self-efficacy diartikan sebagai penilaian sesorang terhadap dirinya bahwa dia memiliki kemampuan untuk menangani/mengorganisir masalah yang dialaminya dengan melakulan aksi. Self-efficacy sendiri memiliki dua komponen: Self-efficacy expectations dan Outcome Expectations. Self-efficacy expectations adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan sedangkan Outcome expectations adalah penilaian seseorang tentang apa yang akan terjadi jika tugas yang diberikan terlaksana dengan sukses. Keduanya berbeda namun berkaitan. Boleh jadi seseorang yakin bahwa dia akan menuai hasil yang bagus (outcome expectations), namun pada saat yang sama dia tidak yakin dengan kemampuannya untuk melakukan itu (self-efficacy).
Menurut Bandura, "that outcome expectations are based largely on the individual’s self-efficacy expectations: (bahwa outcome expectations sebagian besar bedasarkan pada self-efficacy individu). Itu artinya bahwa penilaian seorang atas kemampuan dirinya menentukan kepercayaan hasil yang diharapkan. Semakin besar self-efficacy nya semakin besar keyakinannya pada hasil.
Keyakinan Messi untuk memenangi Liga Champion 2018/2019, saya yakin dia berangkat dari self-efficacy expectation nya bahwa dia mampu menjalankan tugasnya untuk membawa trofi untuk Camp Nou dan Fans nya. Bagaimanapun, kegagalan yang berturut-turut selama setengah dekade di Liga Champion telah membuktikan bahwa self-efficacy yang dimilikimu tidaklah cukup, Messi.
Memang benar, bahwa antara harapan dan kenyataan (hasil) itu tidaklah selalu sama. Pada keadaan seperti itu, muncullah masalah. Oleh karena itu, berhentilah menilai dirimu mampu menyelesaikan segala persoalan, Messi. Sepakbola bukan hanya berada di pundakmu. Sekarang, baik di Barca maupun di Argentina, kamu adalah leader. Sebaiknya, perkataan Maradona perlu kamu renungi bahwa "Messi sangat baik sebagai individj tapi tidak layak sebagai pemimpin"
Saya menangkap bahwa pernyataan Maradona itu ada korelasinya dengan kegagalan-kegagalannya menjuarai piala internasional baik dengan Barca maupun Argentina. Bahwa ia hanya fokus membangun self-efficacy nya secara individu, namun ia gagal menciptakan self-efficacy secara Tim. Akhirnya, ia berhak menanggung beban kekecawaan para Fansnya di pundaknya karena semua usaha dan keyakinannya hanya menghasilkan kekecawaan para fansnya (disappointment).
Besok, jika Argentina menang melawan Brazil itu karena kerja keras Tim. Sebaliknya, bila kalah, berarti kamu gagal membawa tim mu menang, dan kamu harus menanggung kekalahan itu sendirian.
0 notes
Text
Ramadan Saat Kanak-Kanak
Sudah tiga hari shalat tarawih berlangsung. Di malam ke ketiga ini, masih terasa antusias para jamaah sholat tarawih di masjid tempat saya sholat, dan saya yakin masjid-masjid lainnya mengalami hal yang sama. Itu penampakan lazim di awal-awal ramadan. Shaff masih panjang ke belakang sampai kemudian jamaah sholat tarawih membludak sampai ke sisi luar kanan masjid.
Dari dalam, saya melihat jamaah di luar masjid itu kebanyakan diisi oleh anak-anak kecil, dan ada seorang bapak yang memegang batang kecil sebuah pohon. Sejenak saya perhatikan, ternyata si bapak bertugas untuk mengamankan jamaah anak-anak kecil itu agat mereka tidak ramai sehingga ritual sholat jamaah tarawih tidak terganggu.
Sekilas pemandangan itu mengingatkan saya pada masa kanak-kanak saat menikmati ibadah Ramadan di kampung halaman. Pada masa itu, Ramadan sungguh menyenangkan. Bahkan jauh sebelum puasa, anak-anak kecil seumuran saya, sudah siap-siap menyambutnya dengan penuh kemeriahan. Mulai dari membuat api unggun terbuat dari bambu atau bekas botol minyak rambut yang diberi sumbuh dan minyak gas.
Menikmati ibadah puasa ramadan pada waktu kecil nyaris dihabiskan untuk bermain. Mulai pagi hingga menjelang buka puasa habis digunaan untuk jalan-jalan, mancing ikan dan ngabuburit di pantai. Dan ketika malam datang, sholat tarawih berjamaah adalah kesempatan yang tak boleh disia-siakan untuk bermain.
Saya masih ingat ketika itu, saya bersama teman-teman sebaya, berbondong-bondong menuju masjid tanpa ada paksaan apapun dari orang luar untuk melaksanakan sholat Tarawih. Meskipun, semangat beribadah itu hanya mungkin didapatkan di waktu bulan puasa.
Ada banyak fragmen di waktu shalat tarawih yang dilahirkan, bahkan hal yang menggelikan dan canda tawa tak bisa terlupakan hingga saat ini, saat berjumpa dengan bulan suci ramadan.
Didahului dengan sholat Isya, belum ada sesuatu yang menggelikan dan penuh canda. Mungkin karena sholat Isya wajib. Jadi, masih sungkan untuk berbuat aneh. Namun, jika sudah sampai pada shalat tarawih, di sanalah kegelian dan tawa itu meledak.
Saya masih ingat ketika itu ramai-ramai bersama sepupu dan teman-teman lain sholat tarawih, ketika itu seorang Imam sedang membaca surah Al-Fatihah dengan suara yang merdu dan enak didengar, tiba-tiba teman saya memplintir kata “amin” menjadi “asyikkkk” dengan suara agak keras. Suara itu terdengarlah oleh jamaah bapak-bapak. Beberapa dari mereka, setelah selasai salam, konstan melirik ke arah kami dengan raut wajah marah dan masam, kemudian menegur. Kami pun diam. Tetapi namanya anak kecil segala cara pun tetap dilakukan untuk memuaskan keinginan mereka, dan tegap berusaha untuk membuat suasana tetap penuh canda.
Colek-colek pantat, saling tampar, melorotkan sarung atau mengangkatnya ke atas sehingga celana dalam si anak kelihatan (kalau kebetulan tidak pakai celana dalam, suasana masjid akan tambah ramai), menarik sejadah dan melempar kopiah teman.
Ada kejadian yang paling menggelikan dan membuat ngakak habis, yang sampai hari sulit saya lupakan. Yaitu, ketika teman saya menggoda seorang waria sedang sholat Tarawih di samping kirinya. Setelah dipegang pantatnya belum juga membuat sang waria ketawa, akhirnya teman saya duduk di depan sang waria, kemudian menarik sejadah sang waria dengan keras. Alhasil sajadah sang waria terbelah menjadi dua, robek . Setengahnya nempel di kaki sang waria, setengahnya lagi di tangan teman saya yang menarik sejadah itu huahahaha. Aksi dari teman saya itu membuat suasana penuh tawa bercampur dengan kemarahan dan teguran dari bapak-bapak jamaah yang ada di dalam masjid.
Beberapa kejadian yang dilakukan oleh anak-anak kecil itu, akhirnya membuat pengurus masjid bertindak lebih keras dan ketat. Takmir masjid mengeluarkan peraturan untuk melarang anak-anak yang kerjaannya bercanda untuk sholat di masjid dengan alasan keberadaan mereka mengganggu kekhusukan sholat tarawih. Meskipun ada beberapa dari golongan ustadz yang menyesali peraturan itu. “Namanya anak-anak ya pasti begitu. Mereka butuh bermain, dan belum bisa diajak serius dalam ibadah. Tidak boleh dikerasi apalagi sampai dilarang sholat berjamaah ke masjid. Hal tersebut akan membuat anak trauma untuk sholat ke masjid yang berakibat tidak baik kepada sang anak. Kalau perlu dan memang perlu anak-anak itu ya dinasehati” Ungkap salah seorang ustadz.
Kendati terdengar menggelikan, kocak dan ngawur yang dilakukan oleh anak-anak kecil di waktu sholat tawarih, saya meyakini mereka jauh dari kepentingan apapun. Alih-alih kepentingan politik-kekuasaan semata. Mereka melakukan itu semata-semata untuk bermain, apa adanya, tanpa mengharapkan pahala apalagi surga. Mereka tentu berbeda dengan orang-orang dewasa. Tidak ada sedikitpun niat mereka menjadikan sholat tarawih sebagai alat untuk pamrih, atau sebagai gerakan untuk kepentingan lain: untuk kepentingan politik, misalnya, atau bertujuan untuk show of force ,yang saat ini sedang menemukan momentumnya. Dan, kalian orang dewasa, tau apa sih kalian tentang dunia anak kecil?
Terlepas dari itu, Nabi Muhammad pernah memberi contoh yang baik cara memperlakukan anak kecil saat Nabi sedang sholat. Ketika itu Nabi harus bersujud lebih lama karena tiba-tiba cucunya, Hasan menganggu Nabi saat sholat, dan dengan 'nakalnya' Hasan bermain kuda-kudaan dengan naik ke punggung Nabi.
Mengenang bulan ramadan pada masa kanak-kanak membuat saya rindu, dan ingin kembali kepada masa-masa itu. Kembali bukan dalam berarti kembali menjadi anak kecil. Makna kembali di sini adalah kembali kepada kepolosan, apa adanya, dan kesenangan dalam menjalankan ibadah puasa seperti yang telah dilakukan oleh anak-anak kecil di masjid tempat saya sholat tarawih tadi.
------
Tulisan 2016
0 notes
Text
Puasa
Sejak dari kecil, saya meyakini bahwa puasa adalah perintah dari Allah yang wajib dilaksanakan oleh umatnya. Dalam pemahaman saya, puasa adalah jalan menuju ketakwaan bagi orang-orang beriman. Sesuai dengan firman-Nya, yang tertuang dalam surah Al-Baqarah 183
Namun, pada beberapa kesempatan, banyak teman mengajukan pertanyaan kepada saya. "Apa manfaat puasa bagi kesehatan dan apakah puasa dapat menyembuhkan beberapa penyakit?"
Pertanyaan serupa juga pernah saya dapati saat di forum diksusi dalam bulan suci Ramadan. Dengan singkat saya menjawab bahwa kita diperintahkan oleh Allah swt untuk berpuasa di bulan ramadan semata-mata mencapai ketakwaan. Tidak lebih. Terkait dengan efeknya pada kesehatan, itu hanya bonus dari puasa.
Selang beberapa tahun setelah itu, saya menyadiri bahwa argumentasi itu tidak utuh. Faktanya, puasa bukan hanya sekadar jalan pemurnian spiritualitas, tetapi juga jalan pembersihan penyakit dalam tubuh kita.
Sudah banyak penelitian dilakukan yang menyebutkan ada pengaruh puasa pada kesehatan. Puasa bisa menyembuhkan dan mencegah penyakit kanker, diabetes tipe 2, menurunkan kolesterol, mencegah penyakit jantung, mencegah penuaan dini dan sebagainya. Dan, sudah banyak pula praktisi kesehatan yang menyarankan pasien mereka yang mengalami obesitas, DM tipe 2, dan penyakit metabolisme lainnya untuk berpuasa dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Misalnya, berpuasa selama 24 jam berturut-turut selama seminggu dengan berbuka hanya dengan minum air, teh dan kopi hitam tanpa gula. (Lebih lengkapnya anda bisa baca buku Jimmy Moore dan Jason Fung the Complete Guide to Fasting)
Fakta Puasa dalam Sejarah Umat Manusia
Erick Weiner, di dalam bukunya the Geography of Genius, menyampaikan rahasia kejayaan Yunani Kuno sebagai negara yang mengalami kemajuan pesat dalam bidang keilmuan, pemerintahan dan pemikiran, khususnya filsafat. Menurutnya, rahasia kejayaan bangsa Yunani Kuno adalah menjaga perut warganya. Pemikir-pemikir genius seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles selalu menjaga perut mereka dari segala makanan agar tidak kenyang, dan lebih sering kelaparan. Sebab, pada kondisi perut kosong (puasa), atau hanya sedikit terisi, kreativitas dan kecerdasaan itu dapat dibentuk dan muncul. Sebaliknya, perut yang penuh dan selalu dalam kondisi kekenyangan, semakin mempersempit dan mengkerdilkan fungsi otak.
Tradisi ini sangat berbeda dengan tradisi masyarakat modern, di mana ada sebuah anjuran untuk makan tiga kali dalam sehari. Jangan lewatkan sarapan pagi anda. Dan jangan sampai anda tidak makan dalam sehari. Anjuran ini pun menemui konsekwensinnya, the age of obesity, merambahnya penyakit obesitas, dan banyaknya kematian yang disebabkan oleh keberlimpahan makanan. Maraknya perusahan makanan juga menjadi faktor penting menghilangkan tradisi dan kepercayaan pada puasa. Kita setiap hari selalu dijajalkan dengan iklan makanan, dan semakin lama kita percaya bahwa kita tidak boleh melewatkan sekalipun makan dalam sehari.
Sejarah Yunani kuno punya kepercayaan terhadap keajaiban puasa sebagai jalan pembersihan, detoksifikasi dan pemurnian. Tradisi puasa sangat dihormati sepanjang waktu, dan bahkan oleh setiap kebudayaan serta semua agama di muka bumi ini. Nabi Isa, Buddha dan Nabi Muhammad telah menyampaikan bahwa puasa memiliki kekuatan penyembuhan: secara spiritualitas dan kesehatan tubuh.
Dalam tradisi umat Kristiani, puasa sebagai metode untuk membersihkan dan mengosongkan jiwa sehingga mereka siap untuk menerima Tuhan. Dengan puasa, umat Kristiani menempatkan tubuh mereka pada kepatuhan Tuhan, merendahkan jiwa di hadapan Tuhan, dan mempersiapkan diri mendengar suara Tuhan.
Dalam tradisi Buddha juga dikenalkan bahwa Rahib-rahib mereka tidak makan setelah sore, dan berpuasa sampai pagi keseeokan harinya. Selain itu, ada juga sejumlah puasa yang hanya minum air putih selama berhari-hari bahkan berminggu-mingu. Mereka berpuasa untuk memadamkan hasrat manusiawi mereka, untuk melampui hasrat dalam rangka mencapai nirwana dan mengakhir semua penderitaan. Ini sekaligus menjadi dasar konsep mereka tentang moderasi dan kesederhanaan.
Di Islam sendiri, umatnya diwajibkan berpuasa pada bulan suci Ramadan selama sebulan penuh. Di samping puasa-puasa sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad seperti puasa senin dan kamis, puasa Syawal, dll. Beliau pun pernah bersada pada sahabatnya, jika tidak ada makanan, maka berpuasalah. Dan, jika kamu tidak kuat, minum dan makanlah. Itu berlaku untuk puasa-puasa sunnah. Namun, pada bulan suci Ramadan merupakan bulan spesial bagi umat islam karena di dalamnya banyak keberkahan, amalan dilipat gandakan dan bulan penuh pengampunan. Yang tujuan akhirnya adalah mencapai derajat ketakwaan. Taqwa artinya tunduk dan patuh dalam menjalan perintah-Nya.
Puasa sebagai jalan pemurnian
Secara umum, puasa artinya menunda atau menahan makan. Namun, dalam Islam, tidak hanya sekadar menahan makan, tapi juga minum, lapar, nafsu, perilaku dan emosi harus ditahan. Menunda makan artinya tubuh kita diberi kesempatan untuk melakukan pembersihan. Saat kondisi perut kita kosong, kita masih punya masih cadangan makanan bernama glikogen dalam hati kita. Saat glikogen kita mulai menipis, tubuh kita memanfaatkan cadangan lemak untuk di "makan" dalam proses glikoneoginesis.
Selama puasa, kita akan merasa sensasi lapar, sensasi itu juga biasa kita rasakan di hari-hari biasa. Tapi saat puasa, kita harus menahannya, dan ternyata kita bisa melewati itu selama bulan puasa. Itu artinya lapar tidak semata-mata tuntutan tubuh, tetapi psikis.
Luapan emosi dan amarah juga wajib kita tahan selama bulan puasa. Dari sini, kita belajar tentang kesabaran, pengendalian diri, dan berusaha mendekatkan diri pada sang Pencipta. Sebab, menemui Allah harus melalui penyerahan diri secara total. Melepaskan semua belenggu yang membebani kita selama di dunia ini; kekuasaan, kekayaan, dan penderitaan.
Ada sebuah pembatas dan batasan dalam puasa. Itulah menurut saya bahwa puasa menjadi jalan pemurnian, menuju ketakwaan karena kita telah menunda kesenangan, keberlebihan, keserakahan, dan kemauan diri. Hanya dengan cara itu fisik dan spiritualitas kita dapat diperbaharui dan diperbaiki
0 notes