Text
Pada ranting yang jatuh dan kering, ada ketentuan kapan ia akan menggugurkan semua daunnya dulu barulah ia jatuh. Pada hujan yang turun dan langit yang bergemuruh, ada ketetapan tempat mana yang akan ia siram dengan air keberkahan. Semua kita telah ada alur takdir dan ceritanya, telah ditentukan mati dan hidupnya. Dan pada tiap rezeki yang akan kita dapatkan, ada ketentuan banyak sedikitnya, sampai habis usia.
Setiap kita akan ada yang dirisaukan dalam fase hidup ini, pada bingungnya pekerjaan, jodoh, buah hati, dan permasalahan lainnya. Semua sudah ada ketetapan dan aturannya. Sebuah sunnatulloh dan hal yang biasa jika kita khawatir atau bahkan takut.
Akan menjadi masalah saat kita berlepas tangan dan pergi dari masalah, hadapi saja dengan kemampuan yang ada dan doa yang masih bisa kita langitkan. Soal jawaban dan hasil akhir, biarkan Allah yang mengurus setelah kita berada diujung jalan.
Perbaiki saja jalan pikiran kita, permudah saja cara bahagia kita, tenangkan lagi jiwanya dan perlebar lagi hati dan perasaan kita. Agar semua yang masuk tidaklah berat, sebab semua akan ada habisnya.
Menemani perjalanan
@jndmmsyhd
819 notes
·
View notes
Text
Sebisa-bisa nya akan tetap sulit tanpa meninggalkan bekas. Kadang selalu ada sakit hati tiap bertemu, dengan beberapa sikap dan perkataan beliau. Di sisi lain beliau jg sama adalah 'ibu' sekaligus 'orangtua'. Tp kadang sulit rasanya memahami dan memaklumi.
Tak masalah tdk di anggap, toh mungkin aku memang hanya seorang 'menantu', tp jika menyangkut dan berkaitan dgn anak, rasanya sulit untuk maklum dan memaafkan.
Bukan ingin dianggap sempurna toh memang aku msh baru menjadi seorang ibu, masih banyak harus belajar, secara pengalaman jika dibandingkan mungkin aku tidak ada apa² nya dibanding beliau, tp harapku beliau bisa menghargai usaha belajarku, menghormati caraku belajar mendidik anak, wajar membenarkan jika ada yg salah dan aku menerima itu, tp jika menuntut harus mengikuti semua yg beliau titahkan, menuntut apa yg dilakukan dikatakan beliau benar, dan apa yg aku lakukan banyak tidak benar, membuat rasanya hati ini ah😭 yang aku lakukan untuk anak jg pasti yg terbaik dan berdasar..
Bukankah orgtua tidak boleh ikut campur seluruhnya dlm urusan rumah tangga anaknya? Aku paham semua dilakukan krna syg, tp bukankah lebih baik membuat anaknya belajar mandiri? Kami butuh nasihat bukan 'sabotase'. Rasanya ingin membangun rumah tangga ini secara tenang, tp msih suliiit rasanya jk lingkungan msih seperti ini...
Sabar memang harus selalu luas...😭😭😭
#02Juni2020
0 notes
Text
“Three things cannot be long hidden: the sun, the moon, and the truth.”
— Buddha (via minuty)
11K notes
·
View notes
Text
Pada akhirnya hanya aku yang sepenuhnya harus memahami dan mengalah.
0 notes
Text
Mari belajar lapang, sabar, ikhtiar, dan banyak berdo'a 😭
Mertua dan Menantu.
Melengkapi pembahasan, “Mertua dan Menantu.” berdasarkan kisah nyata.
Setelah menikah maka individu akan beradaptasi sebagai istri/suami, menantu, ipar, ibu/ayah, dsb. Berikut pendekatan yang bisa diterapkan kepada mertua entah tinggal serumah atau tidak:
(dirangkum dari pembahasan ajinurafifah)
Pahami karakter mertua, dari keduanya.
Tanya kepada suami, apa yang disuka, apa yang tidak disuka dan baiknya bagaimana. Sebagai contoh: jika mertua melarang kerja apa pun di rumah, patuhi. Karena itu bukan basa-basi. Jadi apa yang beliau minta, kerjakan saja, misal: diminta istirahat, ya istirahat. Beliau merasa dihargai saat permintaannya dipenuhi. Kenali bahasa cinta mertua. Tidak hanya berlaku kepada mertua, termasuk juga pasangan. Dengan memahaminya maka kamu bisa mencintainya sebagaimana ia ingin dicintai, bukan sebagaimana kamu ingin dicintai, menurut Dr. Gary Chapman.
Pasti banyak yang berbeda, entah dari cara masak, dsb. Jika mertua menyarankan sesuatu diikuti saja (hanya sebatas hal teknis, jika berbeda ‘value’ maka komunikasikan)
Sadar porsi dan sadar posisi.
Tekanlah ego, berdasarkan kisah nyata, lebih mudah menekan ego terhadap suami daripada mertua.
Jika kamu memiliki waktu luang di masa sendirimu, banyak-banyaklah belajar dan perkaya skill bertahan hidup, seperti berbenah rumah dan memasak.
Hal yang juga patut dipertimbangkan melengkapi pembahasan, “Sebelum Genap.”
Pertimbangkan bagaimana keluarga calon? Bagaimana orang tuanya? Bagaimana kedekatannya? Apakah kamu sanggup menjalaninya? Apakah calon anak mama atau tidak? (Ada yang memang mertuanya yaa gitu deh, suami juga sebenarnya bingung dengan orang tuanya sendiri, dan sebelum menikah sudah tahu kondisinya dan mereka tetap memutuskan menikah dan menjalani konsekuensi kerumitan tersebut dengan penuh kesadaran dan hikmah, namun ada juga yang modal nekat dan berakhir komplain sepanjang hidupnya)
Pertemuan dengan keluarga calon sebelum menikah itu penting. Jangan sungkan bertanya bagaimana kedekatan calon dengan mamanya. Jika masih sangsi bisa tanyakan ke teman dekatnya.
Pertemuan dengan calon mertua sebelum menikah menjadi penting sekali agar kamu bisa tahu dan mempersiapkan diri calon mertuamu itu seperti apa?
Anak mama dan sayang mama adalah dua hal yang berbeda. Anak mama tidak mungkin adil sejak dalam pikiran.
Bahkan, berdasarkan kisah nyata, istri merasa tidak memiliki suami karena setiap urusan rumah tangga didominasi oleh mertua. Suami tidak tegas, bahkan jika istri tidak enak hati dengan mertua, suami akan membela mamanya. Banyak kisah suami istri pisah bukan karena tidak cinta lagi, namun karena orang ketiga dalam hal ini mertua.
Kisah yang lain juga menyebutkan, menghadapi suami yang anak mama harus ekstra sabar, karena apa-apa yang benar adalah mamanya, istri tidak pernah dibela. Menantu sudah berusaha baik dengan mertua, namun mertuanya justru berusaha mengadu domba dengan suaminya. Dan sayangnya, suami tidak pernah berpihak pada istri setiap ada konflik dan rela cerai dengan istri demi mamanya.
Jika suami anak mama, mamanya pun akan selalu membela anak-anaknya apa pun itu.
Buatlah kesepakatan sebelum dan sesudah menikah, jika suami anak tunggal, pilihan untuk pisah rumah tetap bisa diambil. Carilah jalan tengah dengan rumah yang tidak jauh dari mertua.
Kesimpulan:
Hubungan dengan mertua adalah hal yang patut dipelajari dan dipertimbangkan dalam memilih calon suami. Beda suku, budaya, tidak masalah sebenarnya asal sudah dari awal paham dan sadar konsekuensinya. Barangkali hal tersebut yang menjadi letak ibadahnya, berjuangnya, kerja samanya.
Tinggal dengan mertua juga tidak apa-apa sebenarnya asal paham dan sadar konsekuensinya. Terutama suami, jangan malah tidak adil, bakti kepada orang tua namun zalim kepada istri dan anak. Kamu tetap bisa berbakti dan memuliakan istri dan anak.
Untuk istri, setiap rumah tangga; hubungan dengan mertua pasti memiliki dinamikanya. Kurangi baper dan merasa menjadi korban secara berlarut-larut. Diskusikan dengan suami. Mari belajar lapang, sabar, ikhtiar, dan banyak berdoa.
Menikahlah dengan penuh kesadaran, tanggung jawab dan sebaik-baiknya persiapan bukan karena yang lain sudah menikah atau terdesak dengan pertanyaan “Kamu kapan?”
Sama-sama belajar ya! :)
845 notes
·
View notes
Text
Rasanya butuh teman cerita yang benar² memahami kondisi diri, dengan hangat mau menjadi tempat menampung segala yg dirasakan..Biasanya sering cerita ke mamah, tp kali ini lebih terbatas dan banyak hal² yang tidak bisa diceritakan 😔
0 notes
Text
Suka kabita sama mereka yang bisa melayani dan menyiapkan segala kebutuhan suaminya setiap waktu secara mandiri...untukku entah, belum waktunya mungkin 😔
0 notes
Text
Sederhana itu ya sederhana.
Aku yang penuh dosa ini kadang lihat orang yang kayaaaa banget itu kaya enak hidupnya, tapi di satu sisi hidup mereka itu bener-bener ribetttt haha. Sepertinya Allah itu Maha Adil ya, ada banyak hal yang seakan tidak bisa lepas, bergantung pada brand dan barang-barang duniawi. Seperti harus mandi pakai brand A supaya menjaga kulit mereka, atau harus pakai baju brand B, tas ngincer yang brand C. Mobil kalau naik brand XYZ bikin pusing guncangannya, pesawat nggak bisa kalau nggak bisnis. Makan dan minum juga harus terjaga blablabla. Yaa mungkin aku melihatnya demikian karena nggak hidup di atas sepatu mereka. Jadi ngelihatnya ribet aja padahal mereka bisa hidup sesukanya tapi endingnya kaya nggak bisa juga😁
Jadi terus mengamini, kesederhanaan itu kemewahan itu sendiri. Betapa menyenangkan orang-orang yang bisa hidup sederhana, apa adanya. Menikmati yang sudah menjadi rezeki mereka. Terlepas dari segala hal duniawi yang melekat. Dunia hanya di genggaman, tidak di hati. Hidupnya tenang, mengalir...fokus di memberi manfaat.
Beli barang mahal bisa, ya sesuai harta mereka, sesuai kemampuan mereka, tapi nggak lantas itu jadi value mereka. Bukan itu yang dikejar. Bukan itu pula yang ditampilkan.
Sungkem. Semoga bisa mengikuti jejak beliau-beliau yang sederhana hidupnya... tapi kaya raya, bergelimang manfaatnya.
*random thought
570 notes
·
View notes
Text
Kiat Bermuhasabah dari Imam Al-Ghazali
Tulisan ini saya dapatkan dari kajian Ustadz Sya’roni As-Samfury. Beliau adalah salah satu pemateri dalam kajian intensif ramadhan yang saya ikuti melalui online whatsapp class. Semoga bermanfaat.
Dalam kitab Bidâyatul Hidâyah, Imam al-Ghazali menyebut ujub sebagai penyakit kronis (ad-dâul ‘idlâl). Kepada diri sendiri, pengidap penyakit ini merasa mulia dan dan besar diri, sementara kepada orang lain ada kecenderungan untuk meremehkan dan merendahkan. Biasanya buah dari sikap ini adalah obral keakuan: gemar mengatakan aku begini, aku begitu. Seperti yang Iblis katakan ketika menolak perintah Allah untuk hormat kepada Nabi Adam (QS. al-A'raf:12).
Dalam banyak kesempatan, pengidap penyakit ujub juga suka meninggikan diri sendiri, serta ingin selalu menonjol dan terdepan. Saat bercakap-cakap atau berdialog umumnya orang seperti ini tak mau kalah dan dibantah. Imam al-Ghazali menerangkan takabbur dan ujub dengan definisi yang mirip. Kata beliau, orang yang takabur (mutakabbir) gusar ketika menerima nasihat tapi kasar saat memberi nasihat. Siapa saja yang menganggap dirinya lebih baik dari hamba Allah yang lain, itulah mutakabbir.
Lantas bagaimana agar bisa keluar dari jeratan ini? Imam al-Ghazali memberikan tips dengan mengembalikannya pada manajemen pikiran:
بل ينبغي لك أن تعلم أن الخير من هو خير عند الله في دار الآخرة، وذلك غيب، وهو موقوف على الخاتمة؛ فاعتقادك في نفسك أنك خير من غيرك جهل محض، بل ينبغي ألا تنظر إلى أحد إلا وترى أنه خير منك، وأن الفضل له على نفسك
“Ketahuilah bahwa kebaikan adalah kebaikan menurut Allah di akhirat kelak. Itu perkara ghaib (tidak diketahui) dan karenanya menunggu peristiwa kematian. Keyakinan bahwa dirimu lebih baik dari selainmu adalah kebodohan belaka. Sepatutnya kau tidak memandang orang lain kecuali dengan pandangan bahwa ia lebih baik ketimbang dirimu dan memiliki keutamaan di atas dirimu.”
Ujub dan takabur adalah tentang dua entitas antara diri sendiri dan orang lain. Yang ditekankan adalah bagaimana yang pertama menata pikiran agar terhindar dari perasaan lebih istimewa dari yang kedua.
Secara praktis, kiat-kiat muhasabah (introspeksi) yang ditawarkan Imam al-Ghazali adalah sebagai berikut:
1. Bila yang disebut orang lain itu anak kecil maka sadarlah bahwa ia belum pernah bermaksiat kepada Allah, sementara dirimu yang lebih tua sebaliknya. Tak diragukan lagi, anak kecil itu lebih baik dari dirimu.
2. Bila orang lain itu lebih tua, beranggapanlah bahwa ia beribadah kepada Allah lebih dulu ketimbang dirimu, sehingga tentu orang tersebut lebih baik dari dirimu.
3. Bila orang lain itu berilmu, beranggapanlah bahwa ia telah menerima anugerah yang tidak engkau peroleh, menjangkau apa yang belum kau capai, mengetahui apa yang tidak engkau ketahui. Jika sudah begini, bagiamana mungkin kau sepadan dengan dirinya, apalagi lebih unggul?
4. Bila orang lain itu bodoh, beranggapanlah bahwa kalaupun bermaksiat orang bodoh berbuat atas dasar kebodohannya, sementara dirimu berbuat maksiat justru dengan bekal ilmu. Ini yang menjadi alasan atau dasar (hujjah) pada pengadilan di akhirat kelak.
5. Bila orang lain itu kafir, beranggapanlah bahwa kondisi akhir hayat seseorang tidak ada yang tahu. Bisa jadi orang kafir itu di kemudian hari masuk Islam lalu meninggal dunia dengan amalan terbaik (husnul khâtimah). Jika demikian, ia keluar dari dosa-dosa masa lalu sebagaimana keluarnya sehelai rambut dari adonan roti, mudah sekali. Sementara dirimu? Bisa jadi Allah sesatkan dirimu di ujung kehidupan, berubah haluan menjadi kafir, lalu menutup usiamu dengan amal terburuk (sûul khâtimah). Dengan demikian, muslim dan kafir sekarang masih sangat mungkin berbalik nasib di kemudian hari. Dirimu yang kini muslim mungkin di kemudian hari masuk kelompok orang yang jauh dari Allah dan dia yang sekarang kafir mungkin di kemudian hari masuk golongan orang yang dekat dengan Allah.
Imam al-Ghazali mengintruksikan, sepatutnya seseorang menghabiskan energinya untuk introspeksi (muhâsabah) kepada diri sendiri ketimbang sibuk menghakimi kualitas diri orang lain. Sebab, hakim sejati hanyalah Allah dan keputusan final yang hakiki hanya ada di akhirat, bukan di dunia ini. Wallâhu a‘lam.
Semoga kita semua terhindar dari perasaan seperti ini. Wallahu a’lam bisshowwab…
372 notes
·
View notes
Text
Hari ini, di hari ke-13 Ramadhan (06 Mei 2020) tahun ini, pagi² sudah dibuat terharu oleh anakku, Dilshad. Iya, aku menyayanginya lebih dari aku sendiri. Hari ini, dia sudah tidak terlalu sering begadang dan kadang dalam bbrapa kondisi bisa tidur sendiri tanpa perlu dieyong seperti biasanya, aku merasakan sekali setiap perubahan dan pertumbuhannya setiap hari, dan membuat haru buatku sebagai seorang Ibu baru..MasyaaAllah anak sholehku sudah 2bulan lebih usianya kini. Tidak ada kebahagiaan terbaik yg kurasakan selama 24tahun hidup selain kebahagiaan hari ini , mendapat kepercayaan Allah melahirkan seorang anak, menjadi seorang Ibu dan melihatnya tumbuh sehat. Dilshad bukan milikku, dia kepunyaan Allah, dan aku mendapat kepercayaan itu. Ingin kuberikan segala yg terbaik selama aku mampu memberikan untuknya. Nak, sehat terus yah..ummi sangat sayang dilshad 💓
Rabbi habli minasholihiin...
0 notes
Text
Fitrah Seksualitas
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
(Ustad Harry Santosa)
https://www.facebook.com/harry.hasan.santosa/posts/10213353357258539
2K notes
·
View notes
Text
Laa quwwata illa billah...
"Mertua dan Menantu"
Rutinitas harian saya untuk bertanya kabar kali ini adalah mengakhiri obrolan dengan bertanya pendapat mama tentang 'menantu perempuan'.
Beliau sempat bertanya-tanya ketidakbiasaan saya bertanya tentang ini, lalu beliaupun tertawa, tertawa karena senang sepertinya :D
Alhamdulillahnya, beliau tidak pernah menuntut anak-anaknya yang belum menikah untuk cepat-cepat 'menghadiahi' beliau seorang menantu. Lebih sering 'membekali' dan memberikan teladan kepada anak-anaknya tentang hak dan kewajiban sebagai seorang hamba yang insya Allah nantinya akan menikah.
Kembali ke bahasan diatas, mama pun menjawab: "Intinya begini nak, setiap orang tua.. apalagi seorang ibu, tentunya yang paling utama adalah menginginkan anak lelakinya mendapatkan perempuan yang shalihah.
Dipastikan yang shalihah itu mampu menempatkan diri nantinya ketika menjadi seorang istri, ibu, menantu, dan juga seorang anak. Yang satu sama lain tidak berbeda pemahaman dalam menjalankan agama. Didukung keluarga dari pihak perempuan yang juga sama-sama memahami bahwa anak perempuannya ketika sudah menikah, baktinya akan beralih kepada suaminya.
Mama sama bapak sudah sering membahas apa hak dan kewajiban laki-laki ketika akan dan sesudah menikah bukan? Sepertinya tidak perlu mama bahas kembali, mama yakin sudah tercatat dan diingat dengan baik seperti biasanya. (Beliau ini selalu berprasangka baik dalam segala hal kepadanya anak-anaknya, ini yang justru membuat saya merasa 'ditampar' ketika melakukan sebaliknya).
Kebanyakan orang tua, terutama seorang ibu ketika anak lelakinya menikah itu takut 'kehilangan' nak. Dan disayangkan, terkadang ada seorang ibu yang 'cemburu' ketika anak lelakinya telah menikah, takut dan cemas posisinya dalam keluarga akan digantikan, dan hubungan dengan anak akan berubah.
Mama belum mengalami, jika pertanyaannya tentang menantu perempuan. Namun hal seperti itu seharusnya tidak perlu sampai terjadi. Mama setidaknya cukup punya pengalaman bagaimana rasanya melepaskan seorang anak perempuan.
Yang tepat adalah memposisikan diri menjadi ibu bagi menantunya. Kenali dan dekati menantunya dengan baik. Tapi juga memahami batasan sebagai orang tua yang anak-anaknya telah menikah. Jangan sampai 'masuk' kedalamnya dengan mengatur ini dan itu.
Seorang ibu baiknya mencukupkan diri untuk selalu memastikan, apakah anak lelakinya sudah menjadi imam yang baik? Apakah menantunya dijaga dengan baik? Dan memastikan agar menantunya tetap menjaga silaturahim dengan orang tua dan kerabatnya.
Karena ketika memutuskan menerima anak lelakinya sebagai suami, selain wajib mentaati Allah.. seorang menantu itu rela 'mengabdikan' hidupnya kepada anak lelakinya, membantu dan mendampingi suaminya untuk berbakti kepada orang tuanya (mertuanya), menomor-satukan baktinya kepada suami daripada kedua orang tua kandungnya. Itu bukan sesuatu yang mudah, nak."
How can I not love you, mama?
1K notes
·
View notes
Text
When your marriage is pushing you to the brink, turn your heart to the One who is the controller of hearts. There is no doubt that so many wives are searching for answers regarding the pain in their hearts, the love that is missing, the rights going unfulfilled.
Begin with Allah. Speak to Him first, ask Him for help and guidance, ask Him to show you your next step.
You could spend hours clicking through the internet looking up advice, ideas, tips, programs and more - but if you haven't begun with Allah, you are steering your own ship - alone.
Let Him be your guide, let Him show you the path, the person, the method, the advice, the whatever it would be to bring your heart close to Him, and your actions and decisions to the right path for you.
We are an Ummah that believes in reaching out, seeking counsel, advice, mediation, knowledge and more. But what makes us an Ummah, is "la ilaha il Allah" first.
La ilaha il Allah....ask Him.
-Via Wives of Jannah
61 notes
·
View notes
Text
Ego harus ditekan. Rasa marah dan kesal harus dibuang dengan cepat. Cobalah banyak berempati dan mengerti kondisi sekitar. Tersenyumlah. Jangan iri ataupun dengki. Berbahagialah atas kebahagiaan orang lain. Biasakan berpikir positif. Jadilah inspirasi untuk banyak orang, meski dalam hal paling sederhana sekalipun.
Maka, hidup akan terasa lebih menakjubkan🌺
Kairo, 4 Mei 2020 || 00.09 clt
224 notes
·
View notes
Text
“Jika ada api dalam rumah tangga, maka jadilah air, karena itulah yang mampu meredam api. Jika api bertemu api, maka itu hanya akan membakar rumah tanggamu sendiri”
— Choqi Isyraqi
386 notes
·
View notes
Text
Aku paham, dibalik ucap ikhlasnya ada satu harap yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya. Dibalik kata tidak apa-apa ada pesan "apa-apa" yang secara tidak langsung tersampaikan.
Semoga mamah dan bapak selalu pengertian, mengerti juga bahwa kini aku punya orangtua juga disana, iya orangtua dari orang yang juga aku hormati kini -suami- yang juga perlu untuk kuberikan baktiku pada mereka.
Aku tidak bisa egois memilih untuk selalu bersama kalian meskipun itu inginku, kini aku belajar untuk menjalankan sesuai peranku setelah ijab itu terucap.
Mungkin awalnya berat, karena kalau saja boleh jujur, tak ada kenyamanan melebihi kenyamaan ketika bersama kalian. Tapi justru di sini aku perlu belajar mengayuh lagi perahu untuk menemukan pelajaran hidup.
Tidak selalu bersama bukan berarti terlupakan, tapi sebaliknya ... kalian selalu punya tempat spesial tersendiri dihati anakmu ini. Do'a kalian yang selalu menguatkan, Mah , Pak ... ❤
Kamojang, 30 Januari 2020 (18.23 dalam gelap kamar)
0 notes