risangpiawan-blog
risangpiawan-blog
Tampuk Sangkala
74 posts
Melipat Waktu, Merekam Jejakmu
Don't wanna be here? Send us removal request.
risangpiawan-blog · 1 year ago
Text
Ga selalu dalam mood untuk menerima keluh kesah, bisa ga gue ada ruang buat diri gue sendiri jg? Karena gue jg ada waktunya exhausted juga
0 notes
risangpiawan-blog · 2 years ago
Text
Aku gapernah benar-benar sedih sebelum tanggal 14 Februari 2024 (Pemilu).
Aku sedih sejak hari itu dan seterusnya karena aku melihat bahwa bangsaku, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang betul-betul lemah. Kita adalah bangsa yang lupa akan sejarah, adalah bangsa yang lupa untuk bermoral dan beretika, lupa tanggung jawab kita kepada tuhan dan tanggung jawab kita kepada sesama.
Hari ini adalah efek dari gelombang kebohongan melalui sosial media, hari ini juga adalah buah yang kita petik dari puluhan tahun politik uang, politik yang penuh intrik dan kebodohan. Hari ini bangsaku yang tidak cukup dewasa keblinger dengan hingar bingar penguasa, dan tidak sadar bahwa bangsa ini sedang berada di mulut buaya, pintu masuk kepada era kegelapan dan hari-hari tanpa rasa tenang kedepan.
Karena gamangnya kita dalam bernegara kita melakukan keputusan-keputusan yang membunuh diri kirta.
Merah-Efek Rumah Kaca:
“Dan kita arak mereka, bandit jadi panglima
Politik terlalu amis, dan kita teramat necis
Slalu angkat mereka, sampah jadi pemuka
Politik terlalu najis, dan kita teramat miris
Dan kita dorong mereka, badut jadi kepala
Politik terlalu kaotis, dan kita teramat praktis
Slalu dukung mereka, cendikia jadi pertapa
Politik terlalu iblis, dan kita teramat manis
Aku akan menjadi garam di lautan mereka
Aku akan menjadi kanker dalam tubuh mereka”
Ya allah ya tuhanku, izinkan aku berdoa dan meminta, angkatlah aku jadi hamba yang berbakti kepadamu. Angkatlah aku jadi hamba yang kau beri kesejahteraan dengan luasnya ladang ilmu dan kawan-kawan yang rela berkorban.
Ya allah ya tuhanku, angkatlah aku menjadi hamba yang mampu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dari orang-orang alim sebelum kami, dan mengajarkan ilmu pengetahuan dari begawan-begawan sebelum kami. Berikanlah saya kekuatan untuk membagi ilmu pengetahuan ke seluruh negeri, agar bangsa kami menjadi bangsa yang cerdas dan berdikari.
Bismillahirahmanirahim, seperti yang engkau ciptakan, kun fayakun, semoga engkau selalu senantiasa mengangkat derajat hambamu dan bangsa kami. Seperti apa yang engkau katakan bahwa engkau tidak akan mengangkat derajat suatu bangsa tanpa keinginan mereka sendiri, maka hari ini kami telah berkeinginan untuk bangkit dan mengangkat derjat kami, maka berkatilah.
Amiin Ya Robbal Alamin
1 note · View note
risangpiawan-blog · 2 years ago
Text
Kita masih harus banyak belajar bersabar lagi, kita juga barus banyak belajar mengikhlaskan lagi, apa yang memang untukmu akan bisa kau gapai, mau seribu tahun kamu berlari mengejarnya yang bukan untukmu tak akan tergapai
0 notes
risangpiawan-blog · 2 years ago
Text
Ya allah berikanlah rezeki di akhir tahun ini untuk persiapan s2 ku ya allah
0 notes
risangpiawan-blog · 2 years ago
Text
Manifesting bisa pergi ke alexandria
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Kesel bgt deh sama orang yg gabisa hargain waktu gue, dipaksa nunggu dengan persiapan yg lama bgt, terus gak ada maaf2nya bikin gue nunggu lama, gue jg banyak kerjaan muter kesana kemari kalau nunggu gini2 terus kan ya capek jg
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Mulai sekarang kalau butuh beli2 sesuatu lebih baik jalan sendiri aja deh gausah nunggu2an juga
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Manifesting akhir tahun beli Vario 125
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Hidup gini amatt rasanya
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Gapernah segini nya sebelumnya punya hubungan dengan seseorang, gue yang sensitif dan emosian ini tiap hari selalu dipancing dengan hal-hal yang bikin gue marah-marah. Hari lagi baik-baiknya diajak ngomong hal-hal yang bikin berantem, masalah udah selesai diungkit-ungkit lagi lalu di teken2in lagi nyari siapa yang bener dan yang salah, kenapa harus selalu kaya gitu?
Jujur gue capek banget, sejak setahun kebelakang hubungan gue diisi dengan berantem, dan kecurigaan2 yang selalu ditimpakan ke gue. Gue sadar gue ga selalu bener, tapi bukankan gue cukup asertif? Gue selalu ngomong apa yang gue mau dan ga mau, apa yang gue suka dan ga suka dengan jelas, selalu! Gue cuma berpatokan dengan komunikasi yang clear, langsung, at that fucking time when the problem is happened, rules itupun juga hal-hal yang di 'damba2kan pacar gue' "mending ngomong di depan langsung dibanding ngomong di belakang tapi pake ngadu ke orang lain" "typical ORANG JAWA, sama kaya budhenya katanya", damn who is the person who break the rules she made herself now?
Hidup dengan cinta yang setengah2, gak ada menunjukkan gue sebagai pacar ke semua orang hanya karena alasan-alasan defensive yang ga masuk akal, sementara gue dengan bangganya menunjukkan kualitas dia ke orang-orang, coba bantu mimpi2 dia dengan at-least sounding semua yang dia bisa ke orang2, halah goblok lo risang, paling2 usaha lo cuma dianggap unsolicited assistance. Gue kekeuh pada pendirian bahwa dia prioritas gue, tapi ga sebaliknya, gue bisa dinomor dua-kan kapanpun, hal ini cukup sering terjadi, liat aja coba waktu-waktu dimana mantannya ngemis2 balikan ke dia dengan nangis2, mana dia nyebut2 nama gue? WTF!! Lalu dengan temen2 dia di kantor? Yang gue 100% yakin mereka2 ini jg gak akan peduli2 amat menyelami hidup cewe gue. Gue ga bermaksud ngungkit ini lagi, tapi gue ngerasa ga sebanding dengan apa yang gue lakukan selama ini.
Dan disaat-saat gue selalu jujur, asertif, selalu coba ngasih perhatian lebih dengan banyak hal, gue lah yang tetap menjadi antagonis nya, selalu di potret sebagai orang yang bakal selingkuh, orang yang ada di "top of the world" seolah2 gue yang bisa rules anybody, orang yang dicurigai setiap tindakannya, "man-child" seolah2 gue selalu merengek atas hal-hal kecil yang terjadi, men, gue udah ngalamin hal2 menyesakkan ini sejak setahun yang lalu, gaboleh ya gue menghela nafas pengen istirahat sebentar karena sumpek bgt?. Lantas dengan hal2 demikian, ada ga gue dibelain ketika ada pandangan2 keliru dari orang tentang gue? Ga sedikit pun!. Mana kata2 dia yang selalu bilang dia adalah orang terdepan yang belain gue? That such a bullshit!.
Setiap berantem gue sudah jelas menunjukkan intensi gue apa, perkataan gue maksudnya gimana, semuanya jelas! Sementara dia menangkap semua itu without konteks, selalu ditangkap secara literal, memposisikan gue lah yang selalu salah! Lagi2 gue jelasin "GUE UDAH ASERTIF DENGAN NGOMONG JELAS SOAL APA YANG GUE SUKA DAN APA YANG GA GUE SUKA" . Kayanya emang ini bedanya level kognitif seseorang yang "paling logis" dengan gue si "man-child bin ga logis bin sensitif bin reaktif".
"memasang muka berbeda di depan gue dan di depan teman-temannya, seolah2 dia paling bener di depan teman-temannya, selalu mencari validasi bahwa yang dia lakukan ga salah". Seandainya memang dia ga merasa bersalah dari awal jangan "iya-iyain perkataan gue sejak awal, lalu ngadu ke orang seolah2 gue yang salah dan dia yang bener". Tapi gue nya jg yang goblok, lagian siapa sih di dunia ini yang mau mengakui hal2 yang sifatnya menyakiti perasaan orang lain?. "Kita koar2 soal validating the others feeling" giliran kitanya yang nyakitin orang lain kita selalu berlindung dibalik kata-kata/cerita-cerita yang menunjukkan "padahal gue cuma bercanda doang, padahal gue cuma gitu doang". Wkwk apa sih risang, lo punya hati secuil amat digituin doang sakit ati. Ya ini mungkin imbas jadi orang kaya gue yang selalu menutup rapat2 semua isi dapur. Gue jadi menyesal pernah nyari2 kesalahan, lalu ngebuka dapur itu untuk memvalidasi kenapa gue harus putus tahun lalu, yang padahal tanpa perlu kaya gitu gue tetep bisa putus.
Sabar-sabarin dulu deh Risang, kita lihat akhirnya gimana, kalau ternyata hasilnya ga sesuai dengan apa yang lo pengen, kita mati jg gapapa. Oh god, pertama kali nya gue berharap kaya gini. Wkwk, bismillah lah, paringono kulo jalan lurus ya allah, nek memang aku pantes nerimo loro-ati, paringono loro-ati paling loro saiki ben keno tak nggo pelajaran tak nggo urip ku mengarep, nek kulo sing salah paringono kulo ganjaran ben kulo sadar, ananging bibar niki paringono kulo ati sing lapang, ati sing tentram, ati sing sayang kagem wong-wong sing tenan sayang kalih kulo.
Tumblr media Tumblr media Tumblr media
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Bismillah manifesting punya rumah dalam 3 tahun lagi. Ya allah semoga gue menang proyek apa gituu
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Tumblr media
Hari ini Ocha kirim banyak foto masakan-masakan dia tanpa konteks apapun haha. Dalam batin gue sih mikir kalau nih anak kayanya lagi pengen pamer hal2 keren yg bisa dia lakuin haha, gue seneng di pamerin hal-hal lucu kaya gini. Semua masakan ocha ini baru sempat 1/10 nya aja gue rasain, gue sih ga sabar buat cobain yang lain. Beruntung lah gue udah beli kompor beserta alat2nya, gue bisa masak2 bareng ocha, plus lomba bikin nasgor 🙆🏻‍♂️ ga sabar pengen ketemu ocha lagi, ditambah gue masih ada hutang "kunci" yg harus gue tuntaskan ke dia hohoho
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Menjemput ocha dari pondok ranji buat krl date sampai depok, sembari lucu-lucuan di kereta pake gestur2 aneh hahha . Udah, gitu doang cukup bikin kita seneng 🥰
Tumblr media
0 notes
risangpiawan-blog · 3 years ago
Text
Asikk, gue udah kepikiran sesuatu buat hadiah someone special :3
0 notes
risangpiawan-blog · 4 years ago
Text
James S. Spiegel, "Open-mindedness and intellectual humility", Theory and Research in Education (2012)
Hare regards the intellectual virtue of open-mindedness as an Aristotelian mean between vicious extremes. On the one hand, we should aim to avoid automatic dismissal of all views that conflict with our own. On the other hand, we should not be so willing to embrace new ideas that we have no real convictions. Dogma and gullibility are equally deadly to the life of the mind, and the virtuous thinker will steadfastly resist tendencies in either direction. Hare employs Bertrand Russell’s phrase ‘critical receptiveness’ to capture the essence of this conception of open-mindedness (Russell, 1950: 37–9). In Hare’s words, ‘critical receptiveness involves a readiness to consider new ideas together with a commitment to accept only those that pass scrutiny’ (Hare, 2003b: 79)
0 notes
risangpiawan-blog · 4 years ago
Text
Bukankah debat-debat sospol dibangun berdasarkan sikap "ketertutupan pikiran (lawan open-mindedness)" terhadap berbagai paradigma? Baik paradigma baru ataupun paradigma yang menurutnya usang.
Bayangkan ilmuan HI penganut realisme lalu dengan sikap "open-minded" nya akan menerima-menerima saja pandangan penganut liberalisme yang bilang kalau negara bukan satu2nya aktor, negara bisa bekerjasama dengan mudah, aktor bisnis bisa lebih kuat, atau bahkan bisa muncul perpetual peace di dunia?
Kalau standar "open-minded" adalah menerima sesuatu tanpa prejudice, bias, dan judgment apakah debat sospol masih ada?. Bayangkan kalau para penganut realisme menanggapi pandangan kaum liberalis dengan bilang "oh kalau konteksnya begitu maka pandangan dari penganut liberalisme masuk akal, dan kami bisa paham kenapa penganut liberalisme mengatakan argument itu" lantas diskusi2 ini akan memproduksi ilmu apa?
Apakah mungkin akan ada argument tandingan seperti "oh kaum liberalis mengada-ada, walau gimanapun negara ga bisa dilampaui powernya karena negara pegang sovereignity, oh perpetual peace tidak akan ada karena negara punya self-interest masing2 di tengah dunia anarki" jika menjadi seorang realis puritan seperti ini dianggap "tidak bisa menerima pandangan yang baru"?
Haduhhh gue kayanya mengalami existential crisis ketika mikiran soal open-minded yang definisinya bisa digeser2 tergantung siapapun yang pakai ini. Boleh ga sih sebenarnya kalau ada pandangan2 baru yang kita tolak? Apakah kalau merasa ga cocok dengan pandangan orang dan pandangan yang baru sama saja dengan tidak open minded? Atau gimana definisinya?. Lama kelamaan ada orang bisa melabeli seseorang yang punya satu pendirian kuat dengan embel-embel "ga open minded" kalau pendiriannya bertentangan sama pandangan kebanyakan orang yang merasa dirinya lebih "progresif dan mengikuti pandangan mayoritas". Semuanya serba kebolak-balik, gue memasuki zaman edan kalau kata ranggawarsita.
"Amenangi jaman edan, ewuhaya ing pambudi, melu ngedan ora tahan, yen tan melu anglakoni boya kaduman melik, begja-begjaning edan, luwih begja kang ling klawan waspada"
Ya allah golongkan aku di kalangan orang-orang waspada
0 notes
risangpiawan-blog · 4 years ago
Text
Uripku yo akeh masalah, kudu merelakan banyak hal kanggo bapak ibuk, beruntung aku ndue mbak maya sing wis tau dan isih jalani posisi sing podo, laku uripku yo mung ngene, gusti maringi aku dalan sing ngene. Ajarono kula pandai-pandai bersyukur gusti, paringono kula pundak sing kuat lan utek sing moncer, kula pasrah mawon marang njenengan
0 notes