rumisthings
rumisthings
Dandelions
163 posts
semua tentang biru
Last active 4 hours ago
Don't wanna be here? Send us removal request.
rumisthings · 2 months ago
Text
"Your Istighfar Need Istighfar."
Begitulah yang sahabat Ali bin Abi Thalib katakan kepada seseorang yang beristighfar tanpa disertai kesadaran. "Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah," kalimat itu keluar dengan sangat mudahnya.
Ini berkaitan dengan ekspektasi, soalnya sebagian orang, jauh di dalam pikirannya, sudah menginternalisasi asumsi bahwa:
"Aku sudah banyak melakukan hal buruk. Aku tau Allah nggak mau aku melakukan hal ini, tapi aku tetap melakukannya dan aku ulangi lagi berkali-kali. Doaku tidak berarti. Apakah taubatku yang sekarang benar-benar dapat menghentikan semuanya secara total?"
Kamu tau nggak? Saat kita berasumsi tentang seseorang, akan muncul kecanggungan atau suasana nggak betah saat berlama-lama berhadapan dengan orang tersebut.
Oalah, makes sense. Ternyata pengen cepet-cepet beres saat shalat, dan beristighfar tanpa melibatkan kesadaran yang lebih dalam, adalah indikator bahwa kita sedang canggung kepada Allah sebab berasumsi tentang Dia yang tidak sesuai dengan sifat-Nya.
Bahkan ya, di momen canggung ke Allah kaya gini, aku sampai di titik seneng/berharap didoain orang lain karena nggak pede dengan doaku sendiri. Karena kupikir orang lain punya hubungan yang jauh lebih baik dengan Allah daripada aku. Pikirku:
"Apakah doa yang datang dari hamba yang kotor ini punya kesempatan untuk di-notice Allah? Masih banyak doa lain dari hamba yang lebih saleh yang perlu diprioritaskan deh kayanya? Aku kurang pantes untuk dapat perhatian itu."
*sebelum lanjut, disclaimer bahwa tulisan ini mungkin tidak bisa diselesaikan dengan 100% consciousness terutama bagi yang memiliki kemalasan emosional untuk berhadapan dengan dirinya sendiri
Tapi surat Nuh (71) memberiku keyakinan yang ingin terus menerus aku re-learn sepanjang hidupku. Omong-omong surat ini punya hubungan paling personal dalam hidupku, surat yang pernah paling jauh mencapai kedalaman hatiku dan punya tempat tersendiri secara emosional di hatiku, seperti kisah Nabi Yunus di urutan kedua.
Bayangkan, untuk ukuran kaum yang dikasih umur panjang dan kesempatan bertaubat lebih banyak, namun terus menerus melakukan kesombongan yang sulit digambarkan (wastakbarustikbaro), Allah saja beri keoptimisan. Apalagi untuk kita yang (mudah-mudahan) tidak sesombong kaum Nabi Nuh.
Bahkan istighfarmu perlu diistighfari.
Emang istighfar itu seharusnya gimana? Kata "istighfar" punya tiga arti:
Meminta ampunan (ask)
Menginginkan ampunan (want)
Mencari ampunan (try to, looking for)
Orang-orang yang punya kemalasan emosional hanya stuck di tahap satu. Kadang-kadang kita meminta ampunan, tapi dari sikap, perhatian, dan kesadaran, keliatan jelas kalau kita ga pengen-pengen amat.
Sama kaya anak kecil yang bertengkar lalu disuruh minta maaf. Ya udah, mereka lakukan sambil memalingkan wajah dan tidak menghadirkan perasaan bersalah. Tidak benar-benar menginginkan pemaafan itu sendiri.
Aku pernah menyuruh seseorang berhenti meminta maaf saking kesalnya karena dia cuma meminta maaf berulang kali tanpa realize seberapa fatal kesalahannya. Kata orang sunda mah haha-hehe dengan watados (wajah tanpa dosa).
Maka kita tidak seharusnya beristighfar, sampai kita sadar (notice-realize-aware) akan hal-hal buruk yang kita lakukan serta menyadari tingkat kefatalannya.
Konyolnya kita suka berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kita dengan Allah. Merasa tidak berutang apapun terhadap Dia yang memberi kesempatan hidup. Duh, paling tidak, milikilah rasa bersalah (feeling bad) dan cobalah ubah diri!
Kita harus menginginkan ampunan. Meminta itu perkara lisan, tapi menginginkan itu perkara hati. Dan istighfar menggabungkan kedua perkara ini. Kemudian, mencari ampunan artinya kita mencoba melakukan usaha agar diampuni. Lidahnya terlibat, hatinya terlibat, serta orangnya, waktunya, tindakannya juga terlibat.
Selain mengingat seberapa fatal hal buruk yang kita lakukan, bagian dari mencari ampunan Allah juga adalah membenahi hal-hal yang seharusnya bisa kita lakukan dengan lebih baik serta memperhatikan hal-hal yang selama ini kita sepelekan. Untuk pembahasan fatal dan sepele, bisa merujuk ke tulisanku tentang Sense of Urgency and Severity.
"Innahuu kaana Ghaffaraan."
Dialah yang sudah, masih, akan, terus menerus, mengampuni. Dengan kata lain, bahkan jika kamu tidak meminta ampunan, sudah banyak hal yang Dia ampuni atas perilakumu. Sudah banyak hal-hal yang sebenarnya kamu layak dihukum secara langsung, tapi Allah memberikanmu kesempatan.
Di lain surat, Allah mengatakan, "jika Allah menghukum manusia karena dosa yang diperbuatnya, maka tidak ada satupun manusia yang tersisa."
Artinya, bahkan ketika kita tidak meminta ampunan atas banyak hal, sesungguhnya Allah sudah mengampuni kita. Tapi terlepas itu, ampunan akan berhenti saat kita wafat dan kita akan dihakimi di akhirat jika tidak bertaubat.
Jika Allah sudah selalu mengampuni, lantas untuk apa kita meminta ampun?
Meminta, menginginkan, dan mencari ampunan bukan jaminan akan memperoleh ampunan. Maka fungsi beristighfar di hadapan Allah adalah untuk memposisikan diri kita serendah-rendahnya sebagai makhluk dan hamba yang tidak sempurna, lemah, dan rentan berbuat salah. Untuk melatih ego agar jadi biasa patuh pada perintah Allah. Serta untuk menunjukkan bahwa Allah—tidak diragukan lagi— selalu jadi tempat kembali seburuk apapun kita keadaannya.
Know ur place, human! Jangan karena Allah Maha Pengampun, kita jadi seenaknya berbuat.
Semoga kita punya kesediaan dan energi untuk menyelami dan berhadapan dengan pekatnya lumpur dosa diri sendiri, serta Dia berikan kemampuan untuk "lizzakaati faailuun" alias "proaktif dalam membersihkan diri."
— Giza, re-learn makna istighfar sambil terus unlearn asumsi yang keliru tentang Allah (nangis dikit ga ngaruh)
Sumber rujukan:
Ust. Nouman Ali Khan
Tafsir Abul A'la al-Maududi
197 notes · View notes
rumisthings · 2 months ago
Text
Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah
0 notes
rumisthings · 2 months ago
Text
Tumblr media
It's my 6 year anniversary on Tumblr 🥳
0 notes
rumisthings · 2 months ago
Text
Agar Kamu Tidak Bersedih
Ternyata di Qur'an tuh banyak banget kalimat-kalimat yang "aneh" dalam artian, "pasti ada maksudnya nih, ini mah bukan buatan manusia."
Jadi tadi aku notice potongan ayat, bagus banget.
"— karena itu Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan, agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu—"
Respons pertama saat baca kalimatnya adalah: Hah? 😧 Bentar.. nggak salah nih? Kesedihan demi kesedihan supaya nggak sedih? Hah? Gimana ceritanya? Memang istilah bahasa Arab yang dipakainya apa?
Tumblr media
Ternyata untuk kesedihan demi kesedihan diksinya tuh "غَمًّا بِۢغَمٍّ" , sementara untuk bersedih hati pakai diksi "تَحْزَنُوْا". Berarti ada kesedihan yang berbeda kan?
Apa perbedaan antara: الحزن (al-huzn), الغمّ (al-ghamm), dan الهمّ (al-hamm)?
Huzn (الحزن) berkaitan dengan hal-hal yang telah berlalu (masa lalu).
Ghamm (الغمّ) berkaitan dengan hal-hal yang sedang terjadi (masa kini).
Hamm (الهمّ) berkaitan dengan hal-hal yang akan datang (masa depan).
Secara literal, "غَمّ" berarti menutupi, menyelubungi, atau menekan. Dalam konteks emosional, "ghamm" menggambarkan perasaan yang menutupi hati seseorang dengan beban berat.
Di ayat lain, "غَمّ" juga berarti awan/kabut yang meliputi. Cukup masuk akal, ketika di dalamnya kita jadi tidak dapat melihat ke depan maupun ke belakang. Di ayat lainnya lagi, bentuknya "غُمَّةً" artinya dirahasiakan. Masuk akal juga, karena ketika kita mengalaminya, kita nggak pengen dunia tau apa yang terjadi pada kita. Kita akan merahasiakannya serapat mungkin and act like everything is fine.
Tumblr media
Aku menemukan bahwa "غَمّ" digunakan di 4 cerita di dalam Qur'an:
Nabi Musa setelah membunuh seseorang secara tidak sengaja dan menyadari dampak serius dari tindakannya yaitu menjadi buronan dan menghadapi risiko yang besar serta konsekuensi yang mungkin timbul.
Nabi Yunus setelah menyadari bahwa meninggalkan misi dakwah dan melarikan diri dari tanggung jawabnya telah menyebabkan dirinya berada dalam situasi yang sangat sulit, yaitu dalam perut ikan. Perasaannya mencekam dan tertekan akibat kesadaran atas kelalaian dan dampaknya terhadap tugas yang diberikan Allah.
Pasukan pemanah Uhud yang meninggalkan posisi mereka di medan perang Uhud menyadari bahwa ketidakdisiplinan mereka menyebabkan kekalahan yang fatal bagi seluruh pasukan dan mereka cemas terhadap hasil dari tindakan mereka.
Penghuni neraka yang merasakan cambuk dari besi dan berusaha keluar dari siksaan neraka.
Ada pola menarik dalam penggunaan ghamm di 4 cerita itu:
Semua terjadi karena kesalahan manusia itu sendiri (baik disengaja atau tidak). Jadi ghamm datang sebagai wake-up call dari Allah setelah tindakan yang membawa konsekuensi nyata. Kayak.. membangkitkan rasa fatal.
Gham muncul saat sadar akan akibatnya. Ghamm lebih dari sedih atau takut biasa, yang muncul karena "aku melakukan sesuatu, dan sekarang aku harus menanggungnya". Berarti ghamm hanya dapat terjadi pada orang yang taklif dan memahami konsekuensi atau hukum sebab-akibat.
Gham membuka jalan untuk reframing, taubat, dan perubahan (kecuali yang di neraka). Musa dan Yunus segera memohon ampun dan berdoa. Pasukan Uhud menerima koreksi dan pelajaran keras dari Allah. Bahkan penghuni neraka ingin keluar, tapi sudah terlambat.
Gham adalah kemurahan Allah sebelum hukuman akhir. Allah izinkan ghamm menimpa seseorang agar ia tidak terus terbuai, agar hatinya mencicipi "penyempitan" sebelum terlambat. Tapi jika tidak direspons dengan sadar dan taubat, barulah ia bisa berujung pada hukuman.
Jadi bayangin, ghamm itu kayak, "damn moment" yang rembetan konsekuensinya gede dan fatal.
"Gue udah ngelakuin ini, dan sekarang semuanya runtuh."
"Gue sadar banget salahnya, tapi gue juga belum tau harus gimana."
"Ini bukan sekadar sedih. Ini dada gue sempit, kalut, gelap, dan berat."
"Gue menyesal, tapi ga ada waktu untuk menyesal di tengah-tengah himpitan ini."
Dia beda dari Huzn (sedih karena masa lalu) yang lebih lembut, reflektif. Dan beda juga dari Hamm (cemas akan masa depan) yang lebih ngawang, belum terjadi. Tapi dia bisa jadi adalah gabungan dari Huzn dan Hamm 🤯
Terus gimana ceritanya ghamm dapat mencegah huzn?
Jawabannya satu kalimat: luka lama dilampaui oleh luka kini. Sejujurnya meringis sih pas ngetiknya, kayak.. tega banget 😅 tapi dipikir-pikir cukup masuk akal.
Allah menggantikan luka yang membeku dengan luka yang bergerak. Huzn membuat kita stuck, menyesal, menoleh ke belakang, dan menyalahkan diri, sementara Gham membuat kita sadar, bangkit, bergerak, bertahan, dan berserah. Allah lebih memilih menimpakan kesedihan yang "aktif" agar kita selamat dari kesedihan yang "membeku."
Menariknya, Menurut Lazarus & Folkman, coping dibagi dua:
Problem-focused coping: usaha menyelesaikan masalah.
Emotion-focused coping: usaha mengelola perasaan.
Kalau huzn mungkin fokusnya di emosi dan masih punya keluangan mental dan waktu untuk mendalami rasa sesal. Kalau ghamm benar-benar harus switch ke problem focused coping. Jadi, kesedihan baru (ghamm) yang mengharuskan seseorang bergerak, ternyata bisa mengaktifkan mekanisme coping yang sebelumnya tidak muncul saat larut dalam huzn.
Selain itu, dalam psikologi kognitif, ada konsep Cognitive Load Theory yang menyatakan bahwa otak manusia hanya mampu memproses sejumlah informasi atau emosi secara bersamaan. Dalam tekanan yang aktual dan mendesak (ghamm), otak akan secara otomatis mengalihkan sumber daya mentalnya ke situasi itu. Alhasil, grief (huzn) yang tadinya mendominasi bakal terdorong ke latar belakang karena otak sedang sibuk survive di "sekarang". Kayak.. untuk bersedih pun tidak sempat.
Tapi, karena Allah Maha Mengetahui cara jiwa bekerja lebih dari siapa pun, maka penempaan jiwa melalui penimpaan ghamm itu hakikatnya adalah penyelamatan. Allah mungkin nggak serta merta hapus luka dalam waktu cepat secara ajaib. Allah lebih pilih menempa kita, saking bangga dan percayanya Dia, bahwa kita bisa lebih kuat. Dan akan ada saatnya "ketenangan" Dia turunkan sebagai imbalan, di kondisi kita yang semakin pantas untuk menerima ketenangan itu.
— Giza, masih terus mencoba melakukan pendekatan lewat jalur apapun. Mungkin pendekatannya selama ini ada aja yang keliru, tapi bisa dianulir seiring bertambahnya iman dan ilmu.
628 notes · View notes
rumisthings · 2 months ago
Text
Memulai pagi dengan senyuman contemplating my value and life in general.
3 notes · View notes
rumisthings · 2 months ago
Text
Orang yang nyetir sambil ngerokok atau yang ngerokok di rumah makan semoga (isi sendiri)
1 note · View note
rumisthings · 3 months ago
Text
Hidup di kampung itu lucu, gua pikir gotong royong itu masih tradisi yang bagus tapi giliran banyak yang bantu dikira cari muka dan ngarepin sesuatu; udah deh ujungnya jadi omongan tetangga kanan kiri.
Noted: gua juga anak dari kampung tapi jujur sih hal kayak ginian menurut gua agak gimana gituu.
0 notes
rumisthings · 3 months ago
Text
Anak rantau, pernah ga sih kalian ngerasa capek banget kayak pengen nangis teriak padahal mah di kerjaan lagi ga ada tugas berat pun juga ga ada masalah di rumah.
Rasanya pengen banget teriak terus mojok gitu diem.
0 notes
rumisthings · 4 months ago
Text
28 yang ke 29
Pada sepasang angka yang menemani hari-hari dalam menghitung mundur tahun demi tahun. Semoga 28-ku yang kesekian ini tidak bosan memelukku dalam doa. Dalam setiap bisik doa yang ranum hari ini, semoga detikku kian bermakna. Menemani langkah kecil manusia 2 tahunku, dan terus memelukknya dalam Doa.
42 notes · View notes
rumisthings · 5 months ago
Text
Bimbang sekali ya Allah...
0 notes
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 30
Genap sudah 30 hari perjalanan kita bersama ramadhan, mungkin masih banyak kurangnya dalam menyambut ramadhan tahun ini namun semoga segala amal ibadah yang telah kita kerjakan diterima disisi-Nya.
Setelah semalam Pemerintah melaksanakan sidang isbat penentuan 1 Syawal, rasanya haru dan penuh sukacita. Setelah perjuangan kita selama satu bulan ini dalam mencari pundi-pundi pahala akhirnya tibalah saat menuju hari kemenangan. Hari dimana umat Islam di dunia bergembira berkumpul bersama keluarga bersilaturahim dan memaafkan satu sama lain.
Ya Allah pertemukan kami dengan ramadhan yang akan datang dalam keadaan sehat wal 'afiat.
Dengan segala kerendahan hati, Taqabballahu Minna wa minkum taqabbal ya Kariim...
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin 🙏
1 note · View note
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 29
Pagi ini dapat chat dari temen kalau dia lagi kangen rumah terlebih sebentar lagi Idul Fitri tiba. Aku yang tadinya udah tegar ikutan melow jadinya. Walaupun mungkin sudah beberapa kali melalui lebaran tanpa keluarga tetap saja rasanya sedih juga. Huft
Ternyata tak selamanya yang tersenyum itu benar tersenyum, yang tertawa itu benar tertawa, dan yang bahagia itu benar bahagia. Di balik semua ciri bahagia dan hidup yang sepertinya baik-baik saja itu, tanpa kita ketahui, mungkin ada hati yang sedang terluka, ada diri yang sedang berjuang menghalau pikiran-pikiran negatifnya, ada jiwa yang meronta memohon pertolongan dan keringanan ujian dari-Nya, juga mungkin … ada raga yang sekuat tenaga diajaknya untuk berdiri, menegakkan diri, lalu tetap berjalan menjalani hari-hari.
1 note · View note
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 28
Hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Semakin dekat menuju hari kemenangan dan juga semakin dekat kepergian Ramadhan.
Bulan ramadhan itu rasanya seperti latihan, kalo di bulan ramadhan kita masih bisa menahan nafsu untuk tidak marah, julid dsb. Lalu di bulan ini juga banyak kita temui orang berlomba-lomba berbagi rezekinya. Tapi setelah Ramadhan berlalu ujian sebenarnya dimana kita kadang suka lalai dengan semua itu. Rasanya pengen gitu ramadhan terus ya. Karena ramadhan vibesnya ketenangan dan melihat banyak orang menebar kebaikan.
1 note · View note
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 27
"Usahanya udah dobel-dobel nih, udah jungkir balik tapi hasilnya masih zonk!"
Menunggu semua yang telah kita usahakan itu butuh tenaga untuk sabar bahkan kadang kali juga sampai terasa sesak. Terlebih melihat ternyata teman sejawat telah menggapai semua itu. Tapi aku percaya Allah itu tau yang terbaik buat hambaNya. Semua itu butuh proses panjang dan berurai airmata. Tak selalu akan menemui jalanan yang mulus. Bahkan ketika menemui jalan yang mulus pun tetap berhati-hati untuk tidak tergelincir.
Happiness is…. When Allah says ‘kun’ for the thing you waited for so long.
0 notes
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 26
Dengerin kisah-kisah orang disekitar yang kadang lebih beruntung atau malah sebaliknya. Jika beruntung bisa jadi motivasi dan pengalaman, pun jika sebaliknya selalu memperluas rasa syukur.
Selalu ada hal yang bisa kita syukuri, karena dunia, memang bukan tentang kita sendiri. Jika ada hal yang membuat kita patah, barangkali kita hanya butuh sejenak berhenti, lalu merenung, betapa banyak yang jauh lebih patah, namun tak pernah berhenti melangkah.
0 notes
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 25
"Silaturahim adalah cara terbaik untuk menjembatani dua insan yang sedang berselisih. Mendekatkan jarak yang jauh, memberikan kabar, dan saling mendoakan satu sama lain."
Dari kemarin melihat story teman-teman yang sudah mulai mudik ke kampung halaman. Ada yang masih area Pulau Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Kalimantan. Alhamdulillah selamat sampai tujuan bertemu dan bersukacita bersama keluarga dan sanak saudara di rumah tercinta.
Terbesit rasa iri sebenarnya, karena momen inilah yang sangat ditunggu anak rantau. Untuk teman-teman yang tidak bisa mudik tahun ini karena kesibukan pekerjaan dan lain hal, tetap semangat ya ! Semoga kita semua tetap dalam barisan orang-orang yang bersyukur dalam kondisi apapun.
0 notes
rumisthings · 5 months ago
Text
Ramadhan day 24
"Tidak ada orang yang benar-benar siap kehilangan"
Lantas bagaimana dengan ramadhan kali ini? Kita sedari awal sudah tahu kedatangannya diberikan waktu bahkan diperjelas bahwa dia hanya akan ada satu bulan dalam satu periode tahun Hijriah.
Sudah mengisi dengan sebaik ibadah belum? Sudah menjaga ramadhan dengan sebaik-baiknya penjagaan?
"Ya Allah, sampaikan umur kami pada Ramadhan Ramadhan yang akan datang"
Begitulah doa kita setiap tahunnya, tapi ketika dia datang mungkin kita masih banyak mengabaikannya. Ramadhan bentar lagi pergi, di sisa waktu ini semoga jangan lagi ada kata nanti sebelum dia benar-benar hilang.
"Ramadhan tahun depan pasti kembali, tapi diri kita belum tentu menemui."
0 notes