senjanala
senjanala
Untitled
15 posts
perjalanan panjang menuju keabadian
Don't wanna be here? Send us removal request.
senjanala · 7 months ago
Text
did u ever love me, Ma? pada waktu-waktu kau memuntahkan amarahmu padaku. apakah kau pernah menyayangiku?
did u ever love me, Ma? pada saat aku tidak sesuai dengan harap yang selalu kau gaungkan itu.
apa pernah ada setitik rasa percaya padaku bahwa aku bisa membahagiakanmu, Ma? ditengah-tengah kegagalanku yang tiap hari membuatmu muak dan berharap aku tidak pernah terlahir di dunia.
aku masih terus mengingatnya, Ma. pada saat makian itu kau lontarkan berulang-ulang, lukanya ku bawa hingga sekarang. Mungkin kau sudah lupa. kau menganggap orangtua adalah manusia yang diwahyukan Tuhan untuk selalu didengarkan. tapi, apa kau pernah mendengarku, Ma?
saat aku bertanya pr yang tidak bisa ku jawab. saat aku penasaran tentang apa yang kau bicarakan dengan kakak. saat aku ketakutan sewaktu guntur berserobok menembus atap rumah.
did u ever love me, Ma? saat dengan bangga aku memberitahumu bahwa aku menjadi juara kelas. saat penerimaan perguruan tinggi impian sudah di depan mata. saat aku menjadi juara satu dalam perlombaan.
tuturmu hanya berkata, 'oh'. disaat senyumku merekah, kau memalingkan muka. apa aku pernah kau sayangi sebaik kau menyayangi kakak, Ma?
sewaktu aku berjuang skripsi sendirian, kau rela menemani kakak menemui dosen pembimbingnya. saat aku baru menyentuh makan siang, kau berkata bahwa sisakan untuk kakak.
can i feel ur purest love to kakak, Ma? saat terasa bahwa walau nyawamu akan kau cabut dan berikan padanya.
aku harus seperti apa, Ma, agar bisa dicintai sebegitu hebatnya?
apa aku harus menjadi seperti kakak, Ma?
0 notes
senjanala · 7 months ago
Text
aku tahu keputusasaan tidak akan pernah menyelamatkan apapun. tidak. tapi detik ini, biarkan aku mengeluarkan semua lahar itu dalam tulisan. umur 25 tahun. aku tidak pernah memimpikan akan menjadi seseorang yang harus khawatir akan jodoh masa depan. tidak pernah. dulunya. namun, saat satu per satu orang-orang yang kukenal perlahan menambatkan hati, aku kemudian bertanya, kapan giliranku?
naif rasanya jika berkata aku tidak butuh siapapun. karena pada kenyataannya, ditengah kesendirian ini aku ketakutan. aku takut sendiri. aku takut bahkan sampai aku tua nanti, orang yang membersamaiku hanyalah diri sendiri. sungguh miris.
di sisi lain, aku paham bahwa jodoh memang selalu menjadi teka-teki. ada orang yang bahkan sampai akhir masanya benar-benar sendiri. dan tidak ada seorang pun yang menghakimi walau takdir tertulis seperti seharusnya. hanya saja, ini bukan masalah sederhana. ada hati yang masih terus mencari dan berharap. sampai suatu waktu, aku berpikir apakah sebenarnya perasaan ini ada karena aku tidak benar-benar menyayangi diriku sendiri?
aku hanya berharap orang lain bisa menyayangiku karena aku tidak mampu. ketidakmampuanku yang merasa haus untuk mencari seseorang hingga akhirnya tersadar bahwa walau di ujung orang itu tak kutemukan, hidup masih tetap berjalan. toh sebenarnya, aku memang bukan orang yang bisa jadi pilihan. tidak ada yang istimewa. dengan segala drama hidup yang telah terjadi, memangnya akan ada orang yang bersedia menerima itu?
berat sekali rasanya. di satu sisi aku ingin segera dibersamai, tapi disisi lain aku cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih. hingga di umur 25 yang akan menginjak 26 di tahun ini, aku bersedia jika nantinya akan sendiri selamanya. orang-orang disekitarku telah kuperingati, tolong jangan memberiku label apapun nantinya jika memang seseorang itu tidak pernah hadir.
aku ingin memaknai hidup ini. bukan dari seberapa cepat aku memiliki pendamping, tapi tentang bagaimana aku bertumbuh hingga kembali ke pangkuan Ilahi.
2 notes · View notes
senjanala · 8 months ago
Text
pada akhirnya aku benar-benar sendirian.
tidakkah kamu tahu bahwa rasanya sangat menyesakkan? membayangkan di sisa hidupmu, kamu benar-benar sendirian.
aku selalu berandai mengupayakan seseorang yang bisa menemaniku sampai tutup usia. aku menjadi sibuk untuk terus mencari. mencari namun di ujungnya, tak pernah ada siapa-siapa.
pada akhirnya aku benar-benar sendirian. ketakutan yang selama ini kupendam dalam, nyatanya menjadi pengisi hari-hariku yang kosong. barangkali karena sejak kecil aku terlatih untuk sendirian.
aku benci sendirian. aku takut saat gelap dan guntur menyerang hebat, sedang di kamar aku harus menutup mata rapat-rapat. tak ada mama, tak ada papa, tak ada seseorang yang bertaruh nyawa untuk bisa bersamaku di saat-saat itu.
lalu, apa yang harus ku lakukan di tengah ramainya dunia? sendirian selalu terasa menjadi momok hitam yang tak pernah pergi walau ku usir setiap harinya. bahkan ia membumbung tinggi. menyisakan aku yang harus merangkak pelan untuk segera menjauh.
pada akhirnya, aku benar-benar sendirian. mungkin sampai mati. mungkin sampai gigiku tak lagi bergerigi. mungkin sampai kulit keriputku tak lagi menarik.
tidak apa kan jika selamanya sendirian? toh saat meninggalkan dunia ini, aku benar-benar sendirian.
0 notes
senjanala · 8 months ago
Text
Hari pertama 2025. Ternyata bisa, lho, kita melewati 365 hari di tahun lalu. Hari-hari yang dulu pernah kita anggap sulit. Kadang juga kita takuti. Hari-hari yang pernah mencekam, sakit hati, dan segala kegundahan. Bahkan, membuat kita sering kehilangan harapan. Namun, hari ini jadi saksi bahwa kita masih bisa berdiri sehari lagi. Besok, lusa, dan seterusnya begitu terus. Membuktikan bahwa kita sebenarnya baik-baik saja sepanjang hari, sepanjang tahun. Cuma kadang kita memilih untuk dikendalikan sedih. Padahal kita bisa mengambil jalan untuk memilih bahagia. Hari ini akan terulang di tahun depan. Jadi mari merayakan bahwa kita akan terus baik-baik saja.
112 notes · View notes
senjanala · 10 months ago
Text
Menjadi kaum dari crab mentality rasanya benar-benar menjebak. Aku bermental miskin. Itupun kusadari saat barang-barang yang kubeli harus kubandingkan dengan barang yang berkualitas lebih baik.
Aku bermental miskin, saat takut tidak punya uang dan akan makan apa esok hari. Tanpa benar-benar berusaha, aku hanya khawatir dan selalu merutuki diri bahwa mungkin saja aku akan begini sampai mati.
Tiap hari aku melihat sekeliling. Kaum sepertiku khayalnya sangat tinggi, berharap akan segera terwujud esok hari. Nyatanya, tidurku jauh lebih mendominasi. Mama dan tanteku mengeluh setiap hari, tapi memang tidak ada yang bekerja. Semuanya bergosip dan berdoa agar Tuhan mengabulkan keinginan mereka untuk jadi milyarder.
Kupikir dulunya itu hal yang wajar terjadi. Semua orang punya harapan untuk bisa di kondisi yang lebih baik. Namun, saat aku berumur 25 tahun dan menuliskan ini di kamar milik orang lain, aku tersadar bahwa mental kepiting ini tidak akan hilang dengan sendirinya. Ia memberi rasa aman ditengah delusinasi bahwa kami baik-baik saja,
Untuk itu, kuputuskan menulis ini. Berharap menjadi pengingat bahwa aku pernah ingin menjadi lebih baik. Aku tidak ingin terjebak dalam fana crab mentality. Aku ingin berhasil. Aku ingin meraih mimpiku dan benar-benar mengejarnya. Semoga ini menjadi langkah besar untuk hidupku kedepannya. Semangat!
1 note · View note
senjanala · 1 year ago
Text
Terkadang, aku berpikir bahwa mungkin hidup akan jauh lebih mudah jika bapak masih ada. Hal yang selalu aku pertanyakan jika sedang dalam keheningan seorang diri. Kenapa Tuhan mengambil bapak terlalu cepat?
Aku masih anak umur 6 tahun saat itu. Duniaku masih terlalu sempit untuk menerima kenyataan bahwa sekarang aku Si Yatim yang sedang tanpa tujuan.
Menilik kembali hal-hal yang sudah kulalui bersama bapak. Orang-orang bilang aku mungkin sudah lupa rupanya, padahal aku masih sangat ingat bagaimana bapak menggendongku saat terbangun di pagi hari. Ia mencuci muka penuh ilerku, mengantar ke sekolah, menuruti setiap mauku, marah saat aku bertingkah menyebalkan, dan hal lain yang dianggap orang-orang sudah tak mungkin ku ingat.
Hingga sekarang, tidak ada yang bisa menggantikan memori itu. Aku tumbuh dengan tangisan setiap harinya. Merindukan bapak yang ku tahu baik-baik saja di sana. Terkadang berpikir, semoga bapak menjemputku cepat-cepat.
Tapi, aku tahu tugasku belum selesai. Mama masih belum bahagia katanya. Uangku belum banyak. Aku belum mapan. Cita-citaku belum tercapai. Rasanya hidup jauh lebih sulit saat beranjak dewasa dan bapak tidak ada.
0 notes
senjanala · 1 year ago
Text
Pintu itu masih terbuka lebar. Aku berada di ujungnya. Mencari tiap kepingan harapan agar nyawaku masih tersisa banyak. Sedang sedih mengejar ugal-ugalan. Hidup ini bajingan kata salah seorang penyanyi favoritku. Memang benar. Aku harus mengurusi seluruhku tanpa pernah benar-benar beristirahat. Orang-orang tak peduli dan seharusnya aku tak apa. Tetapi, lelah juga terus menyerang. Berharap ada yang menyelamatkan. Berharap aku sampai dengan tanpa luka. Entah pada siapa.
Pintu itu ternyata rusak. Aku sedang berusaha menutup rapat. Rupanya ia telah usang, termakan usia. Sedang aku masih balita yang berjalan merangkak. Mencari pegangan. Kami sama-sama kehilangan, tak tentu arah. Berulangkali meminta pada Tuhan agar tak dilahirkan saja. Tetapi tak tahu malu rasanya. Nafasku masih tersisa banyak dan aku masih saja mengeluhkan pintu yang ternyata hanya butuh kehati-hatian.
0 notes
senjanala · 1 year ago
Text
Sejatinya aku masihlah lemah dalam berharap. Merangkai cerita yang mungkin telah jelas kemana bermuara. Terseok-seok oleh beragam cerita yang tak pernah kutahu kebenarannya. Sedang diri sendiri memeluk dengan penuh ketakutan. Adakah bunga matahari yang Sal Priadi nyanyikan? Barangkali hanya bait tak jelas. Barangkali mereka tak pernah kembali muda. Barangkali, kita memang tak pernah ada. Hanya ilusi yang menjadi kepercayaan. Hingga akhirnya terkurung dalam lelah berkepanjangan. Mengais Tuhan untuk segera mengabulkan harap walau nyatanya aku masih menangis sendirian.
0 notes
senjanala · 1 year ago
Text
Overthinking
Pembahasan tentang overthinking emang gak ada habisnya ya? Kita selalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum terjadi dan udah takut duluan. Padahal, apa yang kita pikirin cuma ilusi aja.
Dampaknya malah semakin membesar. Kita jadi takut buat melakukan banyak hal. Kita takut salah, takut gagal, takut di cap jelek sama orang, takut direndahkan dan perasaan-perasaan negatif lain yang lagi-lagi muncul dari overthinking kita.
Kalaupun kenyataan emang gak sesuai dengan realita yang ada, terus kenapa? Kita terlalu takut hadapin kenyataan hanya karena kita menolak buat menderita. Padahal, sejak awal pikiran kita terlalu melebih-lebihkan sesuatu bukannya itu udah bikin kita menderita?
Bukan kenyataan yang salah, overthinking bikin semuanya tambah runyam. Tapi, coba deh sejenak menjauh dari si overthinking ini dan liat realita dengan netral. Ternyata gak seburuk itu kok. Malahan apapun yang terjadi pasti selalu ada hal yang bisa jadi pembelajaran buat kita.
Hidup ini emang gak selalu seneng kan? Penyakit kebanyakan manusia adalah gak mau ngerasain kesedihan, keburukan (yang dia pikir itu buruk) atau hal-hal yang gak nguntungin kita. Padahal, dari kacamata semesta emang seharusnya semua perasaan yang kita labeli negatif dan tolak mentah-mentah itu emang harus ada buat jadi penyeimbang.
Orang gak bakalan tahu rasanya sedih kalo terus-terusan dikasih bahagia. Orang gak akan hargain keberhasilan kalo dia gak rasain kegagalan. Dan menurutku itu letak adilnya Tuhan. Kita selalu egois dan serakah hanya karena gak mau ditempatkan di keadaan yang gak kita mau padahal Tuhan selalu kasih kebaikan di sana. Apapun itu.
Jadi, coba kurangin overthinking yang mendominasi pikiran kita. Coba buat liat segala sesuatu tanpa label. Positif negatif, hitam putih, senang sedih, marah bahagia. Semuanya adalah persepsi. Semesta itu netral. Pikiran kita aja yang suka drama, suka kalo sesuatu kelihatan rumit padahal mah kalo kita ngeliatnya cuman sebatas mengamati aja, rasanya peaceful banget.
Gak gampang tapi bukan berarti gak bisa. Kita belajar seumur hidup. Semoga overthinking kita bisa berakhir dan kebahagiaan yang kita cari-cari selama ini bisa ditemukan di kedalaman diri sendiri. Semangat!
0 notes
senjanala · 1 year ago
Text
Tentang Kepulangan
Setahun telah berlalu. Banyak hal sudah terjadi.
Pada kampung yang tidak bisa lagi kusebut rumah.
Pada rumah yang telah berpenghuni orang lain.
Pada keluarga yang telah menjadi asing.
Setahun telah berlalu. Kupikir baru kemarin.
Aku si anak latah yang keras kepala hendak menentang semuanya. Ingin lari dan pergi dari kenyataan pahit.
Sedang kenyataan nyatanya tetap nyata. Masih ada hingga waktu bergulir dan rupanya tidak semenyeramkan yang terlihat.
Waktunya pulang. Berbenah dan menunggu takdir-takdir baru.
Barangkali tidak lagi sama. Barangkali tegur sapa tidak pernah terucap. Barangkali kepulangan masih saja menyakitkan.
Tapi, aku pulang bukan untuk melawan kenyataan. Que sera-sera. Whatever will be, will be. Lagu indah untuk hidup yang memang mengalir apa adanya.
Bukan pertentangan. Hanya penerimaan.
Pulang jadi tidak berarah. Namun, aku pulang pada diriku yang kutemukan di selat laut sana.
Bukan pada rumah atau orang-orang yang dulu pernah kusalahkan atau menyalahkan.
1 note · View note
senjanala · 1 year ago
Text
Terjebak Ketakutan
Umur semakin mengejar. 23 rasanya baru kemarin. Teman-teman sudah mendapatkan jalan masing-masing, kenapa aku masih berada di titik buntu?
Kepindahan demi kepindahan terjadi. Aku masih tetaplah sama, barangkali sedikit berbeda karena jerawatku tidak lagi banyak. Tetapi, sebanyak apapun kepindahan, aku masih tidak bisa beranjak kemana-mana.
Fase krisis hidup kata orang-orang. Kamu tidak akan berhasil hanya dengan gaji dibawah umr. Menyedihkan. Pakaian tidak pernah terbeli baru. Keluarga mengucilkan dan aku terlalu malu untuk menampakkan diri bahwa nyatanya aku memanglah kegagalan.
Takut tidak bekerja. Takut tidak hidup layak. Takut gelar tidak terpakai. Takut tidak akan mapan. Ketakutan yang mengiringi sepanjang napasku terus mengudara. Beberapakali jengah dan menutup mata serta telinga. Memangnya kenapa kalau sedang takut?
Manusiawi? Tidak ada standar yang nyata. Tidak semua orang bisa berhasil. Tidak apa-apa menjadi orang biasa. Toh, kita masih manusia. Dan memang selalu menjadi manusia.
Hidup dalam bayang-bayang keinginan orang lain sangat menjebak. Aku mungkin pernah kalah. Aku pernah gagal dan mungkin sekarang masih gagal. Tapi, hidup memang pengajaran bukan pencapaian.
Yang terpenting bergerak. Berkesadaran. Hidup penuh. Menilai diri. Yang lalu tidak bisa terulang. Yang didepan tidak akan merusak waktu sekarang. Hidup kini. Takut wajar, tetapi kita toh memang manusia.
1 note · View note
senjanala · 1 year ago
Text
Mau Apa?
Lagi-lagi berdiam diri di kamar. Sembari membuka laptop dan mencari pekerjaan. Tapi, di kepala masih bertanya-tanya, aku ini maunya apa sih?
Aku tidak mau bekerja. Tapi dunia butuh uang hingga aku harus bekerja. Tapi, memangnya mauku apa sih?
Berkali-kali scroll Linkedin hingga mataku rasanya buram. Ingin apply tapi tidak tahu mau apa. Mauku apa sih?
Barangkali di fb banyak lowongan. Yang ada hanya orang-orang sepertiku yang bingung mencari pekerjaan. Tapi, aku tidak tahu mau apa.
Padahal, ramadhan sudah di depan mata. Tahun ini baju baru sepertinya menjadi angan. Tapi, tidak sedih. Karena aku tidak tahu mau apa.
Hanya saja, sepertinya aku mau rumah. Soalnya, rumah ibu di jual. Aku harus memutar otak bagaimana. Tapi, aku benar-benar tidak tahu mau apa.
Hidup untuk bekerja. Hidup untuk makan. Hidup untuk membeli barang. Hidup untuk orang tua. Hidup untuk apa-apa yang belum bisa digenggam. Namun, diujung jalan, aku masih tidak tahu mau apa.
Mauku apa sih?
0 notes
senjanala · 1 year ago
Text
Kucingku Namanya Lala
Dia Lala. Kucing kampung. Kami awalnya tidak saling mengenal. Hanya saja di suatu hari, dia masuk ke dalam kamar dan mencari tikus namun tidak kunjung dapat, berakhir mendekam dan tidak ingin keluar.
Aku tidak dekat dengan kucing. Yap, bukan benci. Hanya saja hubunganku dengan binatang rasanya seperti bersama orang asing. Kami tidak saling penting.
Hingga tanpa sadar aku mengelus bulu Lala yang bersih hari itu. Lalu kami jadi dekat. Mata kiri lala tidak berfungsi dengan baik. Aku tidak masalah. Dia tetap comel kok.
Lalu hari berlalu. Aku membelikan makanan kering. Kesukaannya. Kupikir kucing kampung pemakan segala. Tetapi, Lala berbeda. Dia tidak suka tahu.
DI lain hari aku menangis sendirian. Hanya ada Lala. Kupeluk dia sambil meredam tangis yang bikin sesak. Sial. Aku cuma punya Lala.
Hari ini aku merengek pada Lala. Minta dicarikan kerja. Dia hanya bilang meow. Aku tetap berbicara. Terkadang, aku takut tetangga kamarku berpikir aku gila. Tetapi, bodo amat.
Kucingku namanya Lala. Kadang-kadang kupanggil Lili saat jengkel. Tapi, dia sangat penyabar. Hobinya tidur di tumpukan baju. Biasanya rebahan di ubin toilet. Lalu menggaruk karpet hingga berakhir bolong-bolong.
Ya sudah tidak apa. Yang penting aku sayang Lala.
1 note · View note
senjanala · 2 years ago
Text
Ibu Tidak Bersurga
Kepakan sayap kupu-kupu yang masuk ke dalam rumah biasanya jadi pertanda bahwa hal baik akan datang. Kurasa tidak. Karena, sejak kupu-kupu itu masuk, rumah ibu habis terjual. Utang datang bergulir hingga ibu harus bersembunyi ke rumah saudara.
Ibu bilang, jika saatnya nanti aku bekerja, usahakan gajiku semua untuknya. Aku hanya mengangguk. Toh, mendapat pekerjaan terasa mudah karena aku pintar.
Nyatanya, aku hanya menulis pada bilik sempit yang tentu saja bukan rumah ibu. Ia telah disulap sebagai rumah makanan padang. Padahal kami berdarah makassar.
Boro-boro memberi gaji. Aku bahkan bingung ingin makan telur atau mie instan hari ini. Sedang ibu, harus mengurus cucu di rumah mertua kakakku.
Kami berjauhan. Saling tidak mengabari karena ternyata menjadi anak dan orangtua lebih sulit dari mengerjakan soal fisika. Aku payah dan ibu menggebu jika berbicara.
Ibu tidak bersurga. Aku bukan anak berbakti. Tapi, di kejauhan aku masih sering merindukannya. Gengsi. Dia jelas tidak akan meminta maaf, akupun sama kerasnya karena aku juga bagian dari darah ibu.
Maaf ibu, belum bisa memberikan sepotong roti di Paris. Pun, tanah suci masih terasa jauh sekali. Tetapi, doa dan syukurku selalu menemani. Walau ibu tidak bersurga, aku masih ingin memberikanmu rumah minimalis. Semoga tidak ada kupu-kupu yang hinggap nanti.
0 notes
senjanala · 2 years ago
Text
Menjadi Manusia Gagal
Kalimat pertama yang menjadi judul dalam tulisan ini adalah penggambaran aku di masa sekarang. Yap, aku merasa menjadi manusia gagal.
Berulang kali bingung, terjebak, merasa putus asa dan berharap semuanya berakhir dengan aku tidak ada di dunia rasanya hanya semakin memperbesar kegagalanku.
Aku takut gagal. Tapi, pada kenyataannya justru aku seringkali gagal. Kegagalan pertama membuatku merasa bodoh, kegagalan kedua membuatku mengutuk keadaan, kegagalan ketiga membuatku berharap bahwa aku lahir bukan sebagai aku, lalu kegagalan-kegagalan berikutnya lambat laun ku terima tanpa benar-benar kusadari bahwa aku sudah gagal.
Barangkali gagal memang perlu. Aku menyadari itu tepat setelah tahu bahwa gagal-gagal yang terjadi dalam hidup bukan kuasaku. Aku terlalu takut tidak sesuai dengan apa yang menjadi keputusan sosial.
Aku takut gagal hanya karena aku tidak ingin tertinggal dengan kawanku. Mereka telah mentereng, aku masih berpakaian compang. Mereka sudah bisa kemana-mana, aku bahkan masih takut tidak makan esok hari.
Menjadi manusia gagal membuatku percaya bahwa seharusnya aku memang di sini. Toh, orang lain tidak akan tahu. Mereka hanya menoleh sekilas dan tetap menjalani hidup.
Sedang label gagal itu kurengkuh tiap harinya. Membawaku pada harapan dalam kegagalan berulangkali, lalu kembali mengutuki Tuhan yang tidak ingin berbaik hati.
Hidup sudah memberi gagal tak berkesudahan. Lebih baik aku tidur pulas agar bisa bermimpi makan roti di Paris malam ini.
5 notes · View notes