Text
Barak Militer untuk Remaja Nakal? Lah, Emang Mereka Teroris?

Belakangan, muncul lagi ide nyeleneh tapi “kelihatan keren”—anak-anak yang dianggap nakal mau dikirim ke barak militer. Salah satu yang menyuarakan ini, tentu saja, adalah Kang Dedi Mulyadi. Politisi sekaligus kreator konten yang sering muncul di TikTok sambil negur anak-anak yang nongkrong dan merokok.
Saya tahu niatnya mungkin baik, tapi kadang niat baik itu bisa nyasar kalau nggak pakai akal sehat. Pertanyaannya: emang remaja nakal itu teroris sampe harus dibina ala militer?
TNI dan pelajar itu beda planet
Mari kita mulai dari hal paling dasar: TNI dan pelajar itu hidup di dua dunia yang sangat berbeda. TNI adalah lembaga dengan sistem super ketat, penuh aturan, ada seleksi masuknya, dan dijaga terus sama pengawasan internal. Sementara pelajar? Mereka lagi puber. Lagi transisi psikologis, sosial, emosional, bahkan hormonal. Sistem pendidikannya juga lebih cair, nggak ada push-up kalau telat masuk kelas.
Jadi, membandingkan disiplin tentara dengan kenakalan pelajar itu ibarat nyamain jadwal tentara jaga perbatasan dengan jadwal ngerjain PR anak SMA. Nggak nyambung.
TNI bukan lembaga sosial
Nah, di sinilah blundernya. Kenakalan remaja itu masalah psikososial, bukan masalah kurang baris-berbaris. Anak yang suka bolos, ngisep vape, atau nongkrong sampe malam itu nggak perlu disuruh push-up di bawah hujan. Mereka butuh pendekatan yang pedagogis—yang artinya mendidik, bukan mengintimidasi.
Anak-anak itu bukan preman. Mereka nggak akan berubah jadi malaikat cuma gara-gara bangun jam lima pagi dan disuruh nyanyi lagu mars. Yang ada malah trauma, atau makin rebel. Pendekatan militeristik ini mungkin keren buat konten TikTok, tapi buat tumbuh kembang anak? Wah, no debat: salah alamat.
Negara dan hasrat solusi instan
Tapi ya begitulah, negara kita memang hobi banget cari solusi instan. Masalah stunting? Kasih makan siang yang “katanya” bergizi. Masalah remaja nakal? Kirim ke barak militer. Besok-besok, jangan-jangan orang yang stres juga bakal dikasih rompi loreng dan disuruh baris.
Karena ya itu tadi, penting banget kelihatan “tegas” di depan kamera. Ada efek visualnya. Tapi substansinya? Nihil. Kosong. Karena ya, mengatasi masalah sosial itu nggak bisa selesai dalam satu sesi TikTok 3 menit.
Citra, citra, citra
Jujur saja, ini semua lebih mirip branding politik ketimbang kebijakan serius. Politisi—terutama yang senang tampil di kamera—kadang lebih butuh kelihatan “bertindak” daripada benar-benar menyelesaikan masalah. Padahal kalau serius, harusnya yang dibenahi itu sistem pendidikan, dukungan psikologis di sekolah, dan peran orang tua. Tapi ya, mana ada kontennya?
Penutup yang (semoga) nggak dimarahin netizen
Anak-anak bukan musuh negara. Mereka bukan penjahat. Mereka adalah warga negara muda yang lagi cari jati diri. Dan mereka nggak butuh barak militer. Mereka butuh didengar, dibimbing, dan dipahami.
Dan yang paling penting: mereka butuh negara yang mau mikir, bukan cuma tampil gagah di layar kaca.
1 note
·
View note