Tumgik
#alat pembuat cincin besi beton
hebelmurah · 2 years
Text
TERMURAH WA : 0822-2574-7842 Grosir Besi Cincin Beton bisa pesan ukuran sesuai permintaan ~ TB DIDI JAYA KENDAL
Tumblr media
BUKA SETIAP HARI !!! WA/CALL : 0822-2574-7842, Penjual Bahan Bangunan dan Bahan Material Bangunan di Kendal Jawa Tengah
TB Didi jaya Gemuh adalah toko bangunan di jawa tengah yg berpusat di desa pamriyan kulon kecamatan gemuh kabupaten kendal , toko didi jaya berdiri sejal tahun 2011 kami menyediakan berbagai macam bahan bangunan mulai dari cakar ayam, besi cincin, besi beton, perekat bata ringa, pasir muntilan, tandon pinguin, closet, kloset, pintu kamar mandi, batu bata, pasir, semen, herbel, hebel, bata ringan, cat tembok, peralatan tukang, harga bahan material bangunan, bahan2 bangunan, material rumah murah, perusahaan bahan bangunan, bahan bahan material bangunan, harga bahan baku bangunan, harga besi bahan bangunan, daftar bahan bangunan rumah, bahan bangunan terdekat, bahan bahan untuk bangun rumah, dan aneka macam bahan bangunan lainnya.
SEMUA BARANG MATERIAL SIAP DI GUDANG (Pasir Kasar/Ayakan, Batu Pondasi, Bata Merah, Bata Ringan, Batako, Batu Koral (Pecahan), dll)
Kami juga melayani pengiriman ke seluruh wilayah di jawa tengah maupun luar jawa tengah, bisa COD / bayar ditempat ketika barang datang
juga bisa di order melalui marketplace shopee / tokopedia, toko kami juga sudah terdaftar program gratis ongkir. dan juga sudah menjadi star seller di shopee sehingga konsumen bisa memilih ShopeePayLater sebagai metode pembayaran.
Besi cincin beton / begel bisa pesan ukuran sesuai permintaan
besi cincin beton ukuran 8*10, 8*12 8*15 , 8*20 10*10, 10*12, 10*15
besi begel, besi begel per kilo, besi begel 6, besi begel ukuran, besi begel adalahbesi begel 8mm, besi begel 1 kg berapa biji, besi begel spiral, besi begel harga, besi begel atau sengkang yang dipakai untuk kolom memakai besi berdiameter...mm
Kenuntungan kamu Belanja di TB Didi Jaya adalah :
Pelayanan cepat
Respon 24 jam
Bisa bayar ditempat
Gratis ongkir
Bisa dibayar cicil menggunakan ShopeePayLater
Kualitas terjamin
Original 100%
Toko sudah ber label star seller, sudah di acc shopee
Bisa datang ke toko langsung, atau via online
Menggunakan packing kayu untuk barang pecah belah
Hubungi kami
Whatsapp 👉 https://wa.me/6282225747842 Instagram 👉 https://www.instagram.com/didijayagemuh Shopee 👉 https://shopee.co.id/tb_didijaya Tokopedia 👉 https://www.tokopedia.com/tbdidijaya
atau datang ke toko offline kami di (Dari pertigaan patung ayam gemuh ke barat trus, ikutin jalan trus, setelah jembatan kali blukar ke barat lagi skitar 200 meter , toko ada di sebelah kanan jalan)
📍 TB DIDI JAYA Gemuh Jalan Glagah, Pamriyan Kulon, Pamriyan, Gemuh, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah 51356
1 note · View note
seputarbisnis · 7 years
Text
Pantang Menyerah, Eka Tjipta Widjaja Jatuh Bangun Berbisnis
Tak ada orang sukses yang tidak pernah merasakan kegagalan. Seperti kisah dari  Eka Tjipta Widjaja yang merupakan  pengusaha dan konglomerat Indonesia. Berkat keuletannya dalam menjalankan bisnis perusahaannya, ia merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia . Pada tahun 2017, menurut Forbes, ia menduduki peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan US$ 5.6  miliar. Ia merupakan pendiri sekaligus pemilik  Sinar Mas Group. Bisnis utamanya pulp dan kertas, agribisnis, properti dan jasa keuangan. Nama asli Eka Tjipta Widjaja adalah Oei Ek Tjhong, dilahirkan 3 Oktober 1923 di China, Ia terlahir dari keluarga yang amat miskin. Ia pindah ke Indonesia saat umurnya masih sangat muda yaitu 9 tahun. Tepatnya pada tahun 1932, Eka Tjipta Widjaya yang saat itu masih dipanggil Oei Ek Tjhong akhirnya pindah ke  Makassar "Bersama ibu, saya ke Makassar tahun 1932 pada usia sembilan tahun. Kami berlayar tujuh hari tujuh malam. Lantaran miskin, kami hanya bisa tidur di tempat paling buruk di kapal, di bawah kelas dek. Hendak makan masakan enak, tak mampu. Ada uang lima dollar, tetapi tak bisa dibelanjakan, karena untuk ke Indonesia saja kami masih berutang pada rentenir, 150 dollar", katanya. Tiba di Makassar, Eka kecil segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Tujuannya jelas, segera mendapatkan 150 dollar, guna dibayarkan kepada rentenir. Dua tahun kemudian, utang terbayar, toko ayahnya maju. Eka pun minta sekolah. Tapi Eka menolak duduk di kelas satu. Eka Tjipta Widjaja bukanlah seorang sarjana, doktor, maupun gelar-gelar yang lain yang disandang para mahasiswa ketika mereka berhasil menamatkan studi. Ia hanya lulus dari sebuah sekolah dasar di Makassar. Hal ini dikarenakan kehidupannya yang serba kekurangan. Ia harus merelakan pendidikannya demi untuk membantu orang tua dalam menyelesaikan utangnya ke rentenir. Tamat SD, ia tak bisa melanjutkan sekolahnya karena masalah ekonomi. Ia pun mulai jualan. Ia keliling kota Makassar, dengan mengendarai sepeda, menjajakan door to door permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya. Dengan ketekunannya, usahanya mulai menunjukkan hasil. Saat usianya 15 tahun, Eka mencari pemasok kembang gula dan biskuit dengan mengendarai sepedanya. Ia harus melewati hutan-hutan lebat, dengan kondisi jalanan yang belum seperti sekarang ini. Kebanyakan pemasok tidak mempercayainya. Umumnya mereka meminta pembayaran di muka, sebelum barang dapat dibawa pulang oleh Eka. Hanya dua bulan, ia sudah mengail laba Rp. 20, jumlah yang besar masa itu. Harga beras ketika itu masih 3-4 sen per kilogram. Melihat satu usahanya berkembang, Eka membeli becak untuk memuat barangnya. Jatuh Bangun Membangun Bisnis Namun ketika usahanya tumbuh subur, datang Jepang menyerbu Indonesia, termasuk ke Makassar, sehingga usahanya hancur total. Ia menganggur total, tak ada barang impor/ekspor yang bisa dijual. Total laba Rp. 2000 yang ia kumpulkan susah payah selama beberapa tahun, habis dibelanjakan untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah harapan yang nyaris putus, Eka mengayuh sepeda bututnya dan keliling Makassar. Sampailah ia ke Paotere (pinggiran Makassar, kini salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Tapi bukan tentara Jepang dan Belanda itu yang menarik Eka, melainkan tumpukan terigu, semen, gula, yang masih dalam keadaan baik. Otak bisnis Eka segera berputar. Secepatnya ia kembali ke rumah dan mengadakan persiapan untuk membuka tenda di dekat lokasi itu. Ia merencanakan menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu. Keesokan harinya, masih pukul empat subuh, Eka sudah di Paotere. Ia membawa serta kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang diisi air, oven kecil berisi arang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya. Semula alat itu ia pinjam dari ibunya. Enam ekor ayam ayahnya ikut ia pinjam. Ayam itu dipotong dan dibikin ayam putih gosok garam dan satu botol anggur dari teman-temannya. Jam tujuh pagi ia sudah siap jualan. Benar saja, pukul tujuh, 30 orang Jepang dan tawanan Belanda mulai datang bekerja. Tapi sampai pukul sembilan pagi, tidak ada pengunjung. Eka memutuskan mendekati bos pasukan Jepang. Eka mentraktir si Jepang makan minum di tenda. Setelah mencicipi seperempat ayam komplit dengan kecap cuka dan bawang putih, minum dua teguk whisky gratis, si Jepang bilang joto. Setelah itu, semua anak buahnya dan tawanan diperbolehkan makan minum di tenda Eka. Tentu saja ia minta izin mengangkat semua barang yang sudah dibuang. Segera Eka mengerahkan anak-anak sekampung mengangkat barang-barang itu dan membayar mereka 5 - 10 sen. Semua barang diangkat ke rumah dengan becak. Rumah berikut halaman Eka, dan setengah halaman tetangga penuh terisi segala macam barang. Ia pun bekerja keras memilih apa yang dapat dipakai dan dijual. Terigu misalnya, yang masih baik dipisahkan. Yang sudah keras ditumbuk kembali dan perbaiki sampai dapat dipakai lagi. Ia pun belajar bagaimana menjahit karung. Karena waktu itu keadaan perang, maka suplai bahan bangunan dan barang keperluan sangat kurang. Itu sebabnya semen, terigu, arak Cina dan barang lainnya yang ia peroleh dari puing-puing itu menjadi sangat berharga. Ia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp. 50 per karung, lalu ia menaikkan menjadi Rp. 60, dan akhirnya Rp. 150. Untuk semen, ia mulai jual Rp. 20 per karung, kemudian Rp. 40. Kala itu ada kontraktor hendak membeli semennya, untuk membuat kuburan orang kaya. Tentu Eka menolak, sebab menurut dia ngapain jual semen ke kontraktor? Maka Eka pun kemudian menjadi kontraktor pembuat kuburan orang kaya. Ia bayar tukang Rp. 15 per hari ditambah 20 persen saham kosong untuk mengadakan kontrak pembuatan enam kuburan mewah. Ia mulai dengan Rp. 3.500 per kuburan, dan yang terakhir membayar Rp. 6.000. Setelah semen dan besi beton habis, ia berhenti sebagai kontraktor kuburan. Demikianlah Eka, berhenti sebagai kontraktor kuburan, ia berdagang kopra, dan berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah. Eka mereguk laba besar, tetapi mendadak ia nyaris bangkrut karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp. 1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp. 6. Eka rugi besar. Ia mencari peluang lain. Berdagang gula, lalu teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula. Tapi ketika mulai berkibar, harga gula jatuh, ia rugi besar, modalnya habis lagi, bahkan berutang. Eka harus menjual mobil jip, dua sedan serta menjual perhiasan keluarga termasuk cincin kimpoi untuk menutup utang dagang. Pantang Menyerah Tapi Eka berusaha lagi. Dari usaha leveransir dan aneka kebutuhan lainnya. Usahanya juga masih jatuh bangun. Misalnya, ketika sudah berkibar tahun 1950-an, ada Permesta, dan barang dagangannya, terutama kopra habis dijarah oknum-oknum Permesta. Modal dia habis lagi. Namun Eka bangkit lagi, dan berdagang lagi. Pada tahun 1980, ia memutuskan untuk melanjutkan usahanya yaitu menjadi seorang entrepreneur seperti masa mudanya dulu. Ia membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar di Riau. Tak tanggung-tanggung, ia juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit. Bisnis yang dia bangun berkembang sangat pesat dan dia memutuskan untuk menambah bisnisnya. Pada 1981 ia membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1000 hektar dan pabriknya mempunyai kapasitas 20 ribu ton teh. Selain berbisnis di bidang kelapa sawit dan teh, Eka Tjipta Widjaja juga mulai merintis bisnis bank. Ia membeli Bank Internasional Indonesia dengan aset mencapai 13 miliar rupiah. Setelah dikelolanya, bank tersebut menjadi besar dan memiliki 40 cabang dan cabang pembantu yang dulunya hanya 2 cabang dan asetnya kini mencapai 9,2 triliun rupiah. Bisnis yang semakin banyak membuat Eka Tjipta Widjaja menjadi semakin sibuk dan kaya. Ia juga mulai merambah ke bisnis kertas. Hal ini dibuktikan dengan dibelinya PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun. Pemilik Sinarmas Group ini juga membangun ITC Mangga Dua dan Green View apartemen yang berada di Roxy, dan tak ketinggalan pula ia bangun Ambassador di Kuningan. "Apa pun kesulitan yang dihadapi, asalkan memiliki keinginan untuk melawan, pasti semua kesulitan dapat diatasi", kata Eka Tjipta Widjaja. Eka Tjipta Widjaja mempunyai keluarga yang selalu mendukungnya dalam hal bisnis dan kehidupannya. Dia menikah dengan Melfie Pirieh Widjaja dan mempunyai 7 orang anak. Anak-anaknya adalah Nanny Widjaja, Lanny Widjaja, Jimmy Widjaja, Fenny Widjaja, Inneke Widjaja, Chenny Widjaja, dan Meilay Widjaja. (biografiku.com/c) http://dlvr.it/P1k9th
0 notes