wundritamy
wundritamy
Gelas Kopi
900 posts
Bagiku , sosokmu adalah pelosok kata, yang ku paksakan masuk dalam sebait doa.
Don't wanna be here? Send us removal request.
wundritamy · 6 years ago
Text
Bertamu
Pintu rumah setengah terbuka kau persilakan ku masuk sebelum ku sempat mengetuk, kita duduk. Sepertinya kau lelah, ada ruang kosong di sini, kau boleh tinggal lebih lama
Lalu kausuguhkan sesuatu yang tak ku mengerti artinya kita berbincang seadanya, apa adanya, sekenanya. — Kukira selamanya.
Pepatah bilang, tamu adalah raja, Mungkin raja juga mesti tahu diri. Tuan rumah tetap tuan rumah, jika ia berkata lelah maka tak ada pilihan selain pergi, Istananya bukan di sini.
(Tangerang, Januari 2020)
55 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Photo
Tumblr media
Quran 28:16 – Prayer of Prophet Musa
رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي
My Lord, I have wronged myself, so forgive me.
Source: idrees-des, via IslamicArtDB
2K notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
Aku Selalu Di Sini, Menemani Sepimu
Kedai kopi eksotis itu tak pernah kehilangan peminumnya. Kecuali pada hari itu. Di meja persegi panjang itu terletak secangkir kopimu dan segelas melankoliku. Aku telah sangat siap untuk terjatuh pada pusaran pesona matamu.
Di mata ini pernah mengalir samudra perasaan di dalamnya—yang mengering setelah langkah kepergian kian nyata. Aku menikmati secangkir kopi untuk menikmati sepi, bukan membuka hati.
Aku melihat awan dari balik matamu, serupa langit yang terus menahan hujan agar tak jatuh ke bumi, begitu pula rasa. Akhirnya, kamu membuatku tahu; kedai kopi ini tak menyediakan apa-apa selain melankoli di tangan kanan dan segenggam hati di tangan kiri.
Kau tahu, kepergian seorang wanita yang lalu telah mencabik beberapa lapis perasaanku; meninggalkan luka yang dalam. Yang butuh waktu untuk menemukan obatnya. Dan kesendirian ini, adalah caraku untuk menambalnya.
Ingin rasanya kupecahkan kelabu yang selalu membuatmu merasa boleh untuk memanjakan kesedihan itu. Namun, kamu selalu berkata tidak. Dan aku senantiasa menanti. Sungguh tak tertahankan, menatap mata yang tak menatapku balik.
Kesepian ini seperti memelukku selamanya. Masih terarsip di kepalau tetiap kenangan lama—kenangan yang belum mengusaikan dirinya. Aku tidak ingin kaujatuh di dalam dadaku di waktu yang salah. Aku ingin kau menemukanku di waktu yang tepat—entah kapan.
Aku akan selalu di sini, menemani sepi yang merayapi tubuhmu. Tapi kamu tak tahu bagaimana selalu memandangku tak mengerti. Sini, akan kuajari kamu caranya menerima, bahwa yang tinggal hanya kenangannya, bukan nyatanya dia. Dan dengan itu, aku masih bersedia mengulurkan hatiku sekali lagi.
Bukannya tak mengerti; aku tidak ingin hujan menderaskan wajahmu ketika ternyata luka ini takpernah sembuh. Atau mungkin, aku yang salah—bahwa kamulah obat yang kucari selama ini untuk mengutuhkam kembali perasaan?
Aku telah selalu berjudi, sepotong demi sepotong hati kutukarkan untuk meyakini diriku sendiri jika tiada yang lebih tepat selain kamu. Aku tersenyum. Lelah. Kedai kopi ini tak akan pernah sama lagi.
Untuk satu itu aku setuju; serupa kopi yang mendingin ini. Tetapi, seketika matamu berlabuh di milikku, kopi ini terasa menghangat kembali; terasa abadi. Menurutmu mana yang lebih baik, bertahan di sini dan berbincang denganmu sampai pagi atau beranjak; membiarkan penyesalan mendera dadaku setiap hari?
Tidak keduanya. Karena untuk apa? Bisakah kamu memberitahu aku dulu; rumus matematika seperti apa yang mesti kugunakan agar bisa membuka tembok pertahananmu? Hati mulai menitik tak tentu. Perjudianku tak akan menang. Dan aku menangis, bukan karena tahu aku kalah, melainkan tak kuasa mengiyakan sejak dari dulu hingga sekarang, hatimu yang bisa mengisinya–bukan aku.
Puan, jangan mendahului takdir. Sepertinya aku lebih memilih untuk sendiri dulu—karena itu dingin, seperti kopi ini. Cintailah aku di waktu yang tepat, cintailah aku yang telah membenci kesendirian. Bukan penikmat sepi seperti hari ini—dan hari setelahnya.
Baik, setelah ini, kamu akan tahu–tak akan ada yang lebih ikhlas dari sesosok perempuan, dibiarkannya yang ia cinta berjalan pergi begitu saja. Tanpa dicegah. Tanpa dihalang. Namun, tanpa sadar tetap diam-diam menghidupkannya dalam hati.
Kolaborasi rasa @kunamaibintangitunamamu dan @ariqyraihan
#KolaborasiAgustus Edisi 1
Pontianak - Jakarta,
31 Juli 2017 | 9.30 PM
175 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
Paradox
Kita yang datang mereka yang pergi, kita menetap, mereka pergi, mereka datang, kita masih saja menetap, mereka selesai, kita bahkan baru memulai. Kita seperti tersesat di lingkar waktu yang salah, tak mampu berputar normal, hanya mampu mengulang dan terus terulang.
Kita seperti masuk di lubang hitam, kita ada di tengah-tengah proses yang tak mampu kita protes, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akrab dengan rasa sakit, harus terbiasa dengan kesabaran, air mata yang menetes adalah pelengkap menuju detik ke enam puluh dalam satu putaran menit.
Kita dipaksa untuk tak asing dengan rasa rindu yang menggebu, memaklumi segala rasa yang semakin kaku, dan gemetar yang tak tertahan menahan temu. Kita dipaksa mengalah sejenak melawan ego, hanya demi mengacuhkan rentang yang semakin membentang.
Kita tak mampu keluar bukan karena kita tak sanggup, bukan karena kita memaksa, kita justru memilih berada di bawah tanduk kejenuhan demi sebuah hasil yang cukup untuk mengutuk ketakutan dan penasaran.
Bahkan semesta seperti selalu mendukung kita untuk segera menyatu, dengan keanehan kita yang sebelumnya tak pernah bertemu, tiba-tiba menjadi sepasang kekasih yang saling mengucap rindu.
Banyak ucapan baik yang kita katakan, banyak do'a yang kita harapkan, banyak kelakuan yang kita perlihatkan, banyak keinginan di masa depan yang bisa kita perbincangkan. Baik buruk adalah sebuah jalur, bisa atau tidaknya kita menemukan alurnya, tergantung seberapa sabar kita menjalaninya.
Tentang jarak, sepertinya hanya itu-itu saja yang selalu aku keluhkan, aku yang rindu akan kecanggungan kita saat memulai sebuah percakapan, atau tatapan-tatapan itu yang membuatku semakin sayu, dan tentang aku, yang selalu takut akan ada orang lain yang bisa lebih dekat denganmu.
Akan tetapi, daripada kita terus saja mempermasalahkan sesuatu yang belum terjadi, kenapa tidak saling menguatkan saja, bukankah itu lebih baik ?
Tenang, kita, akan baik-baik saja .
@badutcerdas — 5 Agustus 2019, Kisah Nyata Dalam Mimpi
322 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
“Kamu adalah cara Tuhan mengajarkanku makna bersyukur. Jika aku terlihat setia, bukan berarti aku sedang menepati janji. Aku sedang bersyukur.”
— Don Juan
14 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
Sajak Hujan
Langitnya muram, menanggalkan awannya, lalu menghitam. Di bawah sana, tanah gersang berpuisi tentang kekasihnya.
Langit tak sengaja mendengar,  Langit terharu, Langit menitikkan air mata.
Kemudian tanah gersang berdoa, meminta kekasihnya dijatuhkan dari pelukan langit. Namanya, rintik hujan. Perlahan membentuk genangan berupa kenangan.
Kekasihnya datang dengan gerimis. Lalu ia mengeluh pada langit, “Aku tak ingin jatuh sendirian!” Langit mendengarnya. Sekarang kita akrab menyebut mereka hujan deras.
Hujannya deras sekali.  Hilang dihanyut sungai. Di sungai panjang, berliku, dan tak berujung. Di sudut matamu.
-Don Juan
5 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
Parau gema Basmallahku teruntuk kamu , satu-satunya dan hanya kamu . Sang Pembeda hari-hariku selanjutnya...
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Text
aku sudah lelah ingin sekali berhenti
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Text
aku pernah bertahan , sangat bertahan
tiap hariku lalui dengan tangisan
menerima kenyataan bahwa aku di duakan
semua ego ku kesampingkan , sakit pun tak kuhiraukan
hanya berharap Tuhan mendengar , aku tak pernah mampu membalas hanya bisa bersabar
namun , semua rasa sakit , hancur , tangis tak pernah mampu di hargai
terus saja kau paksa aku harus berbagi hati
tak apa , asal jangan kau yang merasakan semua itu
namun , suatu saat jika keadaan berbalik aku harap kamu kuat
1 note · View note
wundritamy · 6 years ago
Text
nanti ketika hati ini benar-benar lelah menghadapimu ingatlah , Siapapun pendampingmu kelak, kumohon ingatlah aku. Sebagai satu untukmu yang tak pernah dua. Asing yang tak pernah usang. Yang selalu berusaha penuh; yang tak pernah mencintaimu dengan separuh. Ingatlah aku. Seseorang yang doanya sering meminta namamu sebagai pendamping sampai akhir, seseorang selalu diam ketika kau paksa berbagi hati . Ingatlah aku yang melalui tangis berharap kau benar-benar satu untukku dan berhenti mendua untuk lagi dan lagi . Nanti , ketika semua telah benar-benar berhenti , abadikan aku lewat matamu yang selalu kau torehlan air mata itu .
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Photo
Tumblr media
Aku pernah sakit hati karena dikhianati. Pernah menunggu untuk melepaskan. Pernah tertusuk kepingan hatiku sendiri karena sebegitu percaya dan egoisnya. Pernah menangis pasrah menjadi yang paling disembunyikan. Pernah menjadi yang paling disalahkan atas rasaku. Ya, aku pernah sehancur itu.
Aku pernah bangkit untuk menjadi yang dihancurkan lagi.
Entah. Setelah nanti disaat aku sudah mampu menyusun percaya, Menyatukan keping hati ini sendirian, akan jadi apa selanjutnya? Menjadi yang paling dibahagiakan, bangkit tertatih untuk dikhianti lagi atau berdiri terseok untuk menjadi yang dibunuh? .
Aku kuat, Tuhan. Aku mampu..
393 notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
Bolehkah aku mengeluh? sedikit saja Ya Allah, selama ini aku tidak pernah mengeluh akan ujian yang Engkau berikan padaku, aku selalu menjalaninya walau tangisan tidak pernah henti. Tapi kali ini berbeda, aku tidak kuat lagi untuk tidak mengeluh padaMu Ya Allah, kepada siapa lagi aku menuangkan keluh kesah ini, tidak ada yang mau mendengarkan, tidak ada yang peduli, hanya Engkaulah yang dekat denganku.
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Text
aku tertusuk pada bagian yang tak mungkin dikenali lagi
pelan melebur merangkak ke arah abu-abu
bukan sebab tak mampu mengusirnya dengan berbagai tetes air mata hanya saja deru nafas itu begitu sesak saat mencoba berlalu
kau tau ada yang merajam dengan pedihnya saat tau apa itu pengkhianatan ?
dan apakah kau tau ketika luka yang tertorehkan itu hanya dipaksa melebur dengan sendirinya
sekali lagi bukan logika yang kubunuh paksa. silahkan menghakimi sesuka hati
bagiku biarlah semua ku redam dalam diam hingga saatnya aku mampu sedikit berdiri dan menuntut semua luka yang terlanjur membeku
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Photo
Tumblr media
2K notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Photo
Tumblr media
2K notes · View notes
wundritamy · 6 years ago
Text
hatimu pada hati paling jauh , tersusun pada bingkai yang sulit kutembus. ada yang terukir pada setiap lekuk sang pemahat , bukan... bukan aku tak mampu merapal . derunya tak mampu ku gapai , hembusnya tak mampu ku sentuh . mungkin Tuhan marah , atau saja pelanginya tak ditampakan pada senja ini . berjalan, lapang dan berlali lalu terhempas begitu hebat . mungkin aku kalah , atau saja bukan ini yang tergariskan .
0 notes
wundritamy · 6 years ago
Text
angin membawanya terbang, terbang hingga tak mampu menggenggam
dulu ada puing yang coba di bangun dengan utuh namun badai selalu punya cara untuk meruntuhkan
desir itu makin menjauh tak pernah menepi apalagi berlabuh luruh dan tak terwujud , suatu masa ingin ku ulang namun tetap saja padam sebelum ku coba nyalakan apinya
pernah bilang dia akan menepi pada kapal terakhir namun tetap saja tak pernah ku jumpai di pelabuhan kayu yang sempat dia katakan
semua telah redam , gemuruh yang dulu membara seakan tak tersisa
bukan aku menangisi angin yang membawanya pergi apalagi lautan yang tak pernah mampu ku arungi hanya saja deru nafasnya hingga kini masih terasa
nyalanya hanya sementara tak pernah mampu selamanya
pada petang yang kian tenggelam aku larut pada keadaan bahwa aku telah ditampar oleh kenyataan
dia hanya bayangan yang telah menghilang ijinku ucapkan selamat tinggal
1 note · View note