catatandiya-blog
catatandiya-blog
Teruntuk kamu...
3 posts
tentang kamu yang selalu ku kenang dalam kata yang tidak sanggup kuucapkan...
Don't wanna be here? Send us removal request.
catatandiya-blog · 6 years ago
Text
Canda menjadi candu
Tumblr media
Sudah hampir 3 bulan kita saling mengenal ya, tak terasa. Dari sekian banyak yang singgah, kau yang masih bertahan hingga kini tapi aku tak tahu apakah ada makna kesungguhan. Tadinya diawal kita bertemu, sebenarnya aku ragu. apakah mungkin setelah pertemuan itu akan ada pertemuan-pertemuan lagi dilain hari? nyatanya setelah itu kamu yang selalu meminta bertemu.
Malamnya kamu yang mengirimiku pesan dan kubaca dipagi hari, pesanmu
“hai, besok sibuk tidak?”.
Setelahnya kita janjian bertemu ditempat yang kita sama-sama tahu. Awal bertatap kamu terlihat tak ramah, dengan jaket hitam dan topi favoritmu tapi opini pertamaku salah setelah kamu menawariku es krim coklat,
“kamu suka es krim? Mau yang coklat atau vanilla”
ah ternyata selera makanan kita sama, lalu aku memilih yang coklat. Lalu kita memutuskan berbincang diberanda minimarket sambil makan es krim, sebenarnya bukan berbincang tapi lebih kepada kamu yang banyak bicara dan aku menanggapi. Kamu bercerita tentang segala diri kamu, tentang masa kuliahmu, masa kecilmu, tentang orang tuamu, tentang keluargamu dan juga masalahmu. Hei padahal baru awal bertemu, kenapa bisa kamu seterbuka itu padaku?.
Setelah 30 menit sambil menghabiskan es krim, kita beranjak dari teras minimarket dan kamu mengajakku ke tempat favoritmu.
“ada kedai mie ayam dekat SMP ku enak, kamu harus coba”
itu katamu saat kita bingung mau ke tempat mana untuk lebih saling mengenal. Perjalanan 15 menit sampai disana tapi sayang sekali kedainya tutup, kamu lupa kalau kedai itu  setiap hari minggu tutup. Lalu kita menelusuri daerah sana, sambil berjalan kamu mengenalkanku tempatmu bersekolah dulu dank arena sudah waktunya makan siang akhirnya kita berhenti di warung ayam geprek karena hanya itu yang buka di daerah sana sedangkan aku tidak familiar dengan daerah tempat kamu mengajakku berkeliling.
Saat makan aku memilih level ayam geprek yang kecil karena tadi pagi aku mengalami masalah pencernaan, dan ternyata kamu lebih memilih level ayam geprek dibawahku, astaga kamu tak suka pedas tapi mengajakku ke tempat ini
“tak apalah, tidak terlalu pedas sih tapi aku suka banget sama ayam”.
Aku heran sudah berapa hal yang aku tahu tentang kesukaanmu, sambil makanpun kita masih membicarakan hal-hal yang tidak penting. Selesai makan kamu melanjutkan ceritamu yang sudah kamu ceritakan diawal, kamu menunjukkan foto-foto keluargamu tapi juga mengeluhkan sikap orang tua padamu dan tidak terasa kamu bercerita padaku sudah menghabiskan waktu tiga jam.
“ah sudah hampir sore, kenapa gak kerasa lama ya, asik ya bisa cerita apapun sama kamu, kapan-kapan kita bisakan ketemu ngobrol kayak gini lagi?
Kamu berkata seperti itu diakhir pertemuan pertama kita. Ku kira sudah tidak akan ada pertemuan lanjutan ternyata dihari selanjutnya kamu masih mengirimiku pesan untuk bertemu. Pertemuan kedua, kita memutuskan berjalan santai berkeliling wilayah tempat tinggal kita sepanjang jalan kamu memilih untuk tetap berjalan disampingku padahal jalanan tidak terlalu luas, kadang aku memilih mengalah berjalan dibelakangmu atau mendahului terlebih dahulu saat ada kendaraan yang berjalan terlalu dekat dengan tubuhmu dan saat tahu aku memelankan langkah dibelakang kamu memilih berhenti dulu menungguku untuk berjalan sejajar denganmu. Ah kenapa kamu seperti itu?
Sepanjang jalan kamu juga yang lebih banyak cerita, topiknya masih sama tentang orang tuamu dan keluh kesahmu, ku timpali seadanya yang  mampu kutanggapi. Anehnya kamu mengeluh tapi menunjukkan ekspresi tersenyum, beberapa kali dijalan juga kita bertemu tetangga rumahmu dan kamu seperti seorang yang mudah membaur dengan siapa saja. Sebelum pulang, lagi-lagi kamu mengajakku ke kedai bubur ayam yang katamu rasanya enak dan aku mengiyakan untuk mampir makan disana. Sembari menunggu pesanan kamu bercerita tentang kecelakaan yang kamu alami dan kondisi paru-paru mu, ah kamu ada asma. Pantas saja kemarin saat ku ajak berlari kamu berkata takkan sanggup. Setelah menghabiskan pesanan kita memutuskan untuk pulang, aku memintamu mengantar sampai persimpangan jalan saja soalnya rumah kita tak searah tapi kamu tetap memilih mengantarku sampai rumah
“tak apa aku antar sampai rumah, tadikan aku yang ngajak kamu masa aku tinggalin pulang sendiri”
Pertemuan-pertemuan selanjutnya, polanya hampir sama. Kita hanya duduk sambil makan sesuatu, kamu bercerita (lagi) dan aku masih mendengarkan apa-apa yang kamu keluhkan. Hingga beberapa hari yang lalu saat aku tidak bertemu 2 minggu dengamu dan saat itu aku sedang berada di Jogja, pesanmu masuk
“hai apakabar? Udah dimana? Lama gak ketemu bikin kangen juga ya”
Ah aku tak tahu apakah itu hanya candaan atau bukan, tapi tidak bertemu dengan selama 2 minggu aku memang berpikir untuk sedikit menjauh. Bukan, bukan menjauh untuk selamanya tapi mencoba menelaah yang aku rasakan tentangmu. Kamu yang berkeluh banyak hal setiap harinya padaku membuatku takut jika tiba-tiba ada suatu rasa menelusup karena keseringan kamu yang selalu menghubungiku disaat genting bahkan waktu senggangmu. Aku tak pernah keberatan jika kamu ingin bercerita tapi aku hanya tak ingin kau terlalu tergantung padaku…. 
2 notes · View notes
catatandiya-blog · 6 years ago
Text
Sisi diriku yang tak kau tahu..
Tumblr media
18 Juli 2017 - Aku tersadar dari kesalahanku dalam mengenalmu, kamu yang tiba-tiba menyapa ku dari sebuah aplikasi konyol. Ya, mungkin aku terlalu terbawa perasaan atau kamu yang memang memberikan harapan? Bagiku mengenal kamu adalah kesalahan karena memang dari awal sudah kuragukan perkataannya. Kamu, seorang yang seakan datang untuk menyembuhkan perih yang kurasakan, yang bersandiwara seakan akulah satu-satunya perempuan yang kau inginkan, yang menghilang disaat aku butuhkan dan kembali datang dengan kata maaf yang selalu membuatku memberi kesempatan. Tapi nyatanya, aku hanyalah seorang persinggahanmu, seorang yang kau cari saat pasanganmu tak mempedulikan, seorang yang kau butuhkan untuk mengisi waktu luang dan seorang yang selalu memaafkanmu serta memberimu berkali-kali kesempatan. 
Kamu, tak ingatkah apa yang selalu kau ucapkan? apakah itu hanya kata perumpaan bagimu? apakah kata-kata itu juga kau ucapkan padanya? Semudah itukah kamu melakukannya? Wah sungguh hebat, aku hanya mengkasihani yang selalu membanggakanmu dengan ketulusan tapi dibelakangnya kamu dengan bangga berkata bahwa dia sudah tidak berarti lagi. Jika kamu berpikir saat itu kamu berhasil memainkan ku, mendapatkan perhatianku dan mengungkapkan janji-janji yang meluluhkan, kamu salah. Jadi berhentilah berpikir seperti. Sebab pada akhirnya bangkai busuk akan tercium juga. Sungguh menjijikan setelah kutau semuanya. Sudahlah tak usah kembali, jika aku bukanlah satu-satunya hal yang membuatmu bertahan. Berhentilah melakukan segala kebusukanmu, tak lelahkah? Tak pernahkah kamu berpikir dia-mu sedang berjuang untuk kalian, sedang kamu malah menikmati ketidakhadirannya dengan kelicikanmu mencari kenyamanan lain.
Tenang aku tak terluka setelah mengetahui segala kebusukanmu, sebab kamu sendiri saja tak mengerti sisi diriku yang sangat sulit kamu ketahui. Kamu selalu penasaran tentang sisi itu, yang selalu ingin kamu bongkar apa yang ada di dalamnya. Tapi sisi itu hanya untuk orang tertentu, mereka yang pada awalnya tanpa kebohongan, kelicikan dan kebusukan yang dengan mudah mengetahui sisi itu. Selamat tinggal, cintai dia-mu yang setiap saat berjuang untukmu. Ku doakan semoga dia tak mengetahui apa yang selama ini kamu lakukan, karena sekalinya dia tahu maka dia lah yang akan sangat kecewa atas apa yang terjadi.
0 notes
catatandiya-blog · 6 years ago
Text
Aku mengikhlaskanmu...
Hai kamu, apa kabar? sudah berapa tahun aku tak menyapamu walau hanya sebuah kata “hai”? dan kini ku sadari bahwa menjauh dari lingkungan hidupmu adalah hal yang benar untuk melupakan harapanku padamu. Dulu kukira jika menjauh darimu adalah hal yang dapat membuatku hancur, tapi kini aku bersyukur karena berhasil menjauh darimu menjadikanku lebih memahami arti hidup dan harapan. Teruntuk kamu, cinta masa kecilku yang hingga saat ini bahkan tidak lagi sanggup kuucapkan namanya, terima kasih atas semua hal yang menggelikan ketika aku mengingatnya. Hal konyol yang masih selalu kuingat dengan senyuman yang tidak dapat kujabarkan, maaf ya mungkin saat inilah aku berhasil melepaskan eh bukan tapi lebih tepatnya mengikhlaskan untuk tahun-tahun yang lalu.
Ya, beberapa tahun yang lalu aku akui adalah seorang yang sangat mengharapkanmu secara berlebihan hingga menjadikanmu seakan pusat dari semestaku, seakan sehari tidak melihatmu saja bisa membuatku tertekan, seakan tanpa tahu kabarmu sehari saja membuatku seperti seorang penguntit yang mengikutimu. Dulu itu memang sangat bukan diriku, dan kini aku mulai sadar bahwa sekuat apapun aku mencarimu, segila apapun aku mengejarmu pada akhirnya menjadi hal yang sia-sia karena kamu tak pernah memandangku. haha..miris ya?
Hingga akhirnya aku merasakan lelahnya mengejar, lelahnya memendam rasa, lalu aku memutuskan untuk melupakanmu, apakah itu sudah menghapus bayangan dirimu dihidupku? oh tidak semudah itu. Aku harus berusaha mati-matian menghapus tentangmu, belajar menghindari dirimu, belajar tentang memahami perasaan yang kurasakan, mulai membelokan arah hidupku yang dulu terpusat padamu dan memutuskan mengambil jarak yang jauh dari kehidupanmu. Diriku baik-baik saja nampak dari luarnya, aku berteman dengan banyak orang,aku menikmati perjalananku dengan tawa, aku membuka diri dengan hal yang begitu menakjubkan diluar hidupmu, dan mencoba membuka hati untuk seseorang yang lain. Tapi ketika kututup mata, ternyata alam bawah sadarku masih tentang kamu, setiap malam aku harus terbangun dengan sisa air mata, dengan sesak napas, dengan perasaan pedih yang tak aku ketahui, dan benar, mimpi tidurku masih ada kamu. Hal itu kulalui sendiri, aku tak menyalahkanmu, aku hanya bercerita seadanya tentang ini pada sahabatku, aku mencoba menerimanya apapun yang kurasakan selama hampir 2 tahun hingga benar-benar aku lega dengan apa yang kurasakan tentangmu dan juga aku mampu menuliskan kata-kata lagi tentangmu.
Kamu tahu? hal yang sudah benar untuk mengikhlaskanmu adalah dengan membelokkan arah hidupku, semestaku bukan tentangmu lagi. Walau hal-hal yang kurasakan masih menyisakan sedikit sesak tapi sungguh itu untuk sekadar mengingatkanku bahwa aku pernah begitu jauh melangkah dari hidupku yang saat ini. Aku sadar kini, sesuatu yang pada akhirnya bukan untukku akan mudah sekali terlepas dengan mudah jika itu dimulai dari keinginan diriku sendiri. Aku sungguh tak ingin memaksakan kehendak, aku hanya ingin mengikuti alurnya saja. Karena aku tak pernah tahu takdir seperti apa yang akan aku lalui ditahun berikutnya. Kisah mu akan kujadikan pegangan, kujadikan pengingatku bahwa aku pernah lebur dan menjadi utuh lagi untuk lebih kuat tentang menjalani hal yang mungkin jauh lebih sulit lagi.
Sekali lagi untuk kamu yang saat ini masih terus berjuang, tetaplah jadi kebanggaan orang tuamu yang saat itu pernah kamu utarakan padaku. Aku tak pernah membencimu hanya saja saat ini rasaku sudah pudar. Kata yang selalu kuucapkan padamu masih sama, teruslah membanggakan, sehat selalu, dan kuharap Tuhan selalu menjagamu serta membuatkan kebahagian dihidupmu...
Tumblr media
9 notes · View notes