Text
ia sudah mati berkali-kali
mati lalu hidup
redup
kemudian memilih untuk mati kembali
oh tidak
ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk itu
2 notes
·
View notes
Quote
Aku lupa. Bahwa berubah adalah hak semua orang.
4 notes
·
View notes
Text
Selamat malam langit Jakarta!
Tolong sampaikan pada bintang yang mungkin saja sedang menyinari langit kosnya. Katakan, bahwa aku merindukan bintang yang pernah kulihat dengannya 6 tahun lalu di dataran hijau beralaskan rumput basah
Kenangan 6 tahun lalu
4 notes
·
View notes
Text
Budak Zaman Now
Dalam balutan aroma kopi, dekapan langit malam yang seolah ingin terus membersamai, serta seklumit sisa semangat hari ini. Masih tetap sama, diri ini merelakan terhanyut sebagai budak pencarian ilmu, sebagai tokoh yang nantinya akan dipanggil suatu saat entah di belahan Indonesia atau bahkan dunia yang mana.
Terus-menerus mengunci pikiran, diasah dengan paham-paham yang “tak lagi mungkin” berubah, dipupuk dengan segenggam harapan, lantas disiram dengan air yang tidak pernah berhenti meski tanah mulai habis meluap.
Aku, seseorang yang seringkali membenarkan diri sendiri. Seseorang yang selalu berada di antara jungkat-jungkit. Jika aku nyaman di sebelah kanan, maka kugeser duduk ku ke sebelah kanan. Jika kurasa kanan mulai membosankan, bergegas ku melompat ke sebelah kiri. Tidak pernah pasti kapan aku berada di kanan dan kapan aku berada di kiri.
Begitulah manusia, terlena dengan kemewahan dunia. Demi membeli eksistensi, ia tak malu untuk menjual diri. Menjajakan apa yang orang lain darinya, meski dirinya tak setitik pun menginginkannya. Aku tahu itu.
Hidup dalam dunia nyata memang melelahkan. Namun, nyatanya dunia yang tak nyata, dunia yang hanya bisa kamu tatap dari balik layar setiap detiknya lebih mengenaskan. Mereka yang hidup di dalamnya lebih kejam, tak pasang muka, namun berani “membunuh” dengan berbagai cara dari kejauhan.
Intrik-intrik yang diciptakan oleh mereka-mereka sendiri. Rekayasa dan sensai adalah pangan mereka sehari-hari. Kebutuhan primer yang harus mereka cukupi guna bertahan dalam perihnya dunia itu.
Cukuplah dengan kembali menjadi diri sendiri. Hidup berdampingan dengan mereka-mereka yang selalu kita jumpai. Berhenti menjadi budak sensasi dan tumbuhlah menjadi generasi berprestasi.
1 note
·
View note
Text
Begitu kecilnya diri ini ya Allah
Maka bagaimanakah, dengan diriku?
“Ketika hati seseorang telah terikat dengan Al-Qur’an, maka jiwanya akan tenang, dan perasaannya menjadi tentram. Dan tidaklah orang dewasa ataupun anak-anak yang membacanya kecuali dengan perasaan khusyu’, dengan keagungan (Al-Qur’an) akan mengendalikan jiwanya. Dan juga menundukan perasaan hatinya.”
Adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang ketika itu ditunjuk oleh Rasulullah ﷺ untuk mengimami shalat jama’ah namun dengan segera ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Abu Bakar adalah lelaki yang berhati sangat lembut. Jika ia menggantikanmu menjadi imam, orang-orang tidak akan bisa mendengarkan suaranya karena banyak menangis.”
Diketahui, bahwa dari kalangan para sahabat, Abu Bakar radhiyallahu anhu adalah orang yang paling mudah menangis ketika mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jiwanya yang begitu lembut, membuat tetes-tetes air matanya begitu ringan untuk berjatuhan dari kelopak matanya.
Dan sungguh, hati ini begitu merasa iri, merasa terperas dan teriris ketika suatu hari melihat seorang anak yang melantunkan ayat Al-Qur’an kemudian tiba-tiba terhenti. Ia sesenggukan, dan menangis.
Hingga bertanyalah seseorang di sampingku, “Kenapa sih, kok menangis? Memang apa arti ayat yang dibacanya?”
“Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali Imran 144}
Beberapa abad silam, dari balik ayat ini, telah ada tumpahan air mata yang begitu banyak. Berjiwa-jiwa sudah menangisi seorang utusan Allah yang kembali pulang kepada-Nya. Ummatnya merasa kehilangan, merasa tidak percaya bahwa Rasulullah ﷺ telah wafat dan tidak lagi membuka matanya. Dada-dada tergoncang, sampai-sampai ‘Umar ibn al-khaththab berkata, “Siapa yang mengatakan Rasulullah telah meninggal, maka akan aku penggal lehernya!”
Maka berkatalah Abu Bakar, “Barangsiapa yang selama ini menyembah Muhammad, maka ketahuilah bahwa ia telah wafat. Namun barangsiapa yang selama ini menyembah Allah Ta’ala, maka Ia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan mati.”
Lalu, terlantunlah ayat yang pernah Baginda ﷺ katakan, sehingga terlantunlah kembali ia dari lisan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
“Dan tidaklah Muhammad kecuali hanya seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur” {QS. Ali Imran 144}
Maa syaa Allah.. teruntuk diriku, setinggi apakah benteng itu berdiri kokoh sehingga membatasimu begitu jauh dengan Al-Qur’an? Sekeras apakah hatimu, sehingga mendengarkan saja, mata itu kering lagi dada itu kosong dari pemahaman terhadapnya?
Tidakkah engkau merasa malu, kepada anak-anak yang begitu semangat menuju rak Al-Qur’an daripada novel-novel launching terbaru yang selalu menjadi incaranmu?
Tidakkah engkau merasa malu, kepada anak-anak yang menangis ketika membaca perkataan-Nya? Lihatlah betapa mereka memahami dan menghidupkannya dalam hati. Sehingga, seakan-akan cahayanya terpancar dari kedua bola mata yang basah. Sungguh.. betapa beruntungnya, betapa beruntungnya sebab Al-Qur’an telah memilih mereka sebagai penjaganya..
Maka hati.. melembutlah, melembutlah terhadap hal ini. Bahwa belum bisa berbahasa arab, bukan berarti kamu lantas bernyali ciut dan menyerah untuk berusaha memahami. Perlahan, bukalah terjemahan, dan lebih bagus lagi ketika menghadiri kajian tafsir untuk lebih mendalaminya. Hiruplah aroma kedamaian itu, in syaa Allah.. perlahan, sajauh apapun sudah engkau dengan Al-Qur’an, ia akan menghampiri hati-hati yang rindu, yang tulus dan jujur mencintainya.
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”. {QS. Al-Qiyamah 16-19}
Mohon maaf untuk beberapa hari mimin tidak posting, semoga pemilik akun kelak tidak menagihnya melebihi batas kesanggupan mimin dihadapan Rabb-nya. Karena ada kendala teknis, jadi mimin Ibn Sabil akan mengisi juga di halaman Tumblr yang sudah sebagaimana ‘rumah’ ini, mau bagaimanapun, rumah tetaplah rumah kan yaa~~ :’)
Nah, kalau kata Ibn Syams, kita bertukar lapak, jadi, mimin Ibn Syams juga mengisi di IG quraners ya.
Untuk pertama kalinya, salam hangat dari mimin!
–Ibn Sabil
351 notes
·
View notes
Text
Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Senantiasa bersyukur serta senantian men-charge iman kita 💙
Harga sebuah ketenangan, betapa beruntungnya mereka yang khusyu’ dalam sholat dan dzikirnya.
Wajahnya teduh, lisannya lembut. Ketegasan dan kemarahannya hanya muncul tatkala agama dan Rabb-nya dicaci maki. Tidak demikian dengan dirinya, yang mau diinjak bagaimanapun, asal tidak menyangkut Rabb-nya, ia tetap tenang.
Inilah, tentang betapa mahalnya harga ketenangan. Mahal, untuk mereka yang memiliki bermilyar uang namun mendadak miskin ketika anak-anak pinggiran meminta sedikit (titipan) rezeki melalui kantungnya.
Mahal, untuk mereka yang berkasur empuk dan bertumpuk-tumpuk lauk pauk, tapi mendadak krisis, ketika mereka yang berbaju camping meminta kebaikannya walau hanya satu piring.
Tidurnya tidak akan pulas, ketakutan menghinggapi sudut-sudut mimpinya. Harta dicuri, bawahannya korupsi, dan berbagai macam versi keresahan menghinggapi tiap detik angan-angannya.
Demikianlah, Allah membuat hamba-hambaNya yang kufur semakin jauh dari kedekatan-Nya.
Maka semoga, ketenangan yang Allah berikan tidak kita lepaskan begitu saja. Betapa mahal, jika kita kehilangan dan ingin mendapatkannya lagi. Tercermin, bagaimana nasib orang-orang terpandang yang mengakhiri hidupnya dengan tragis, padahal kegemerlapan dunia berputar disegala sisinya.
Genggamlah erat-erat… dekap ia kencang-kencang. Bersyukurlah, jika walaupun dalam kesempitan, Allah masih menghadirkan rasa damai ketika kita bersujud.
Allah, sungguh, hanya dengan mengingat-Mu. Hati menjadi tenang. Betapa sederhana, harga yang Allah berikan; kepada hamba-hambaNya yang jatuh cinta dalam iman.
—Ibn Sabil
568 notes
·
View notes
Text
Keduanya :)
Salah Kaprah Tentang Mendidik
Mereka bilang, “Al-umm madrasatul ula”. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Mengapa hanya sepenggal ini saja? Mereka mengabaikan kalimat selanjutnya, “Wal-ab mudiruha..” Dan seorang ayah adalah kepala sekolahnya.
Jadi, siapa yang seharusnya paling bertanggung jawab mendidik anak?
726 notes
·
View notes
Text
Kuatlah wahai laki-laki yang bahkan kini aku tidak tahu tentangmu, tidak tahu dimana hadirmu sekarang, dan tidak tahu tentang bagaimana kita bisa bertemu.
Cinta laki-laki itu sederhana. Lihatlah pada upaya yang dilakukannya.
Seperti halnya ketika ia mencintaimu, maka ia akan selalu mengupayakanmu. Dengan menjagamu lewat doa-doanya. Dengan mencukupimu lewat kerja kerasnya. Dengan merawatmu lewat upayanya.
Seperti ayah yang mencintai putrinya. Bekerja keras demi kecukupan putrinya. Belajar keras demi pemahaman yang baik untuk putri tercintanya. Tegar demi kebahagiaan putrinya. Kuat demi terlihat baik-baik saja. Sesederhana itu cinta ayah, dan sebesar itu upayanya.
Pada bagian ini kita akan memahami, bahwasannya kesungguhan seseorang. Lihatlah pada upaya ia memperjuangkan dan menjaganya..
- Ibn Syams
2K notes
·
View notes
Text
Semangat menuju ke arah kebaikan! InsyaAllah niat yang baik akan selalu dimudahkan 😇
-untuk diri sendiri
Untuk apa sibuk memikirkan orang-orang yang tidak menyukaimu. Toh, bagaimana pun baik kamu padanya mereka, tetap saja mereka tidak menyukaimu.
Hal yang lebih penting justru, tetap lakukan hal-hal baik yang bisa kamu lakukan. Tetap kejar impianmu. Tetap berusaha menjadi lebih baik dari hari lalu. Karena, nanti semoga mereka sadar bahwa sebenarnya mereka tidak punya alasan untuk membencimu.
–boycandra
703 notes
·
View notes
Text
Karena perubahan hanya akan terjadi pada orang-orang yang mau berubah, pada orang-orang yang memiliki semangat dan niat yang besar.
Orang yang punya pengalaman buruk di masa lalu. Dia yang menempuh perjalanan yang buruk dalam hidupnya. Tidak seharusnya kau hakimi sesukamu. Meski kamu merasa tidak seburuk itu di masa lalumu, bisa jadi di masa depan dia lebih baik darimu.
Setiap orang akan melalui perjalanannya masing-masing. Akan menemukan pencariannya masing-masing. Bisa jadi yang dulu terpuruk dalam lumpur hitam, lalu berbenah dan bertekad kemudian menjadi menjadi yang paling terang.
–boycandra
426 notes
·
View notes
Text
“Jangan lihat kurangku saja. Bukankah mencintamu adalah kelebihanku yang tiada tara.”
Suka sekali dengan kalimat ini.
Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu sementara aku selalu bertahan dalam situasi terburukmu. Bukankah jelas sudah bahwa akulah yang selalu belajar sabar saat kau salah. Lalu bagian mana dari diri ini yang bisa membuatmu berpikir bahwa kamu bukan yang aku ingin?
Bagaimana mungkin aku tidak menginginkanmu sementara aku tidak pernah pergi bahkan saat kau sakiti. Aku yang diam dan mencoba mengulang-ulang sayang padamu. Tetap bertahan dalam segala caramu menenangkan resahmu.
Adakah seseorang yang lebih mengerti kamu melebihi diriku? Adakah seseorang yang masih keras kepala tahan tumbang saat kau terus menggerus sabar di dadaku. Adakah yang lebih paham dirimu selain aku? Seseorang yang terus belajar bagaimana menjadi pendamping yang seimbang untukmu.
Jangan lihat kurangku saja. Bukankah mencintaimu adalah kelebihanku yang tiada tara.
–boycandra
668 notes
·
View notes
Text
:(
Kau bertanya perihal bagaimana doamu terkabul?
Lihatlah pada kisah Nabi Zakariyah yang akhirnya memiliki seorang buah hati.
Pada Ashabul Kahfi yang terkunci di gua.
Pada Nabi Yunus yang didalam perut ikan.
Pada Nabi Musa dan kaumnya yang dikejar bala tentara fir'aun.
Pada kesembuhan Nabi Ayyub.
Pada Nabi Ibrahim yang diselamatkan ketika dibakar.
Dan pada Rasulullah Shalallahu'alaihiwasalm dengan para sahabatnya pada perang khandaq.
Masih belum percaya bagaimana Allah mengabulkan doa-doamu??
Maka, lihatlah ketaatanmu saat ini. Lihatlah kesungguhanmu dalam beribabadah dan bersungguh-sungguh meminta kepada-Nya. Sudahkah kau jujur melakukannya semata karena-Nya.
Dan tiada yang lebih mengetahui kecuali kau dengan Rabbmu semata.
Bertanyalah wahai diri, merenunglah..
- Ibn Syams -
1K notes
·
View notes
Quote
Kau tau kenapa aku tidak pernah bertanya? Itu karena aku tak siap mendengar jawabanmu. Aku takut jawabanmu adalah awal dari proses ku kehilangan kamu.
(via literasihati)
Egois memang. Tapi apa daya, terkadang rasa ingin memiliki terlampau lebih besar daripada mempersiapkan diri untuk bersiap atas kehilangannya. (Untuk sahabatku, Ara)
142 notes
·
View notes
Note
Semangat kakak-kakak 56 yang harus wisuda tahun ini 👨🏻🎓👩🏻🎓
Salam. Bagi tips semangat mengerjakan skripsi dong, Bang. Terima kasih 😊
Sebaik-baik skripsi adalah yang dikerjakan (pepatah yang sering lewat di sosmed)
Berjuanglah untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai. Kalau kita sendiri lemah, malas mengerjakan skripsi apa kabar orang tua yang telah bekerja keras demi anaknya agar mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya?
Perlulah kita tahu, orangtua kita itu kadang atau bahkan seringkali membanggakan anak-anaknya diluar pengetahuan kita. Membangaka kita didepan teman-temannya, tetangga, atau bahkan keluarga besar.
Meski didepan kita terlihat biasa saja bahkan tidak menunjukkan hal itu. Orangtua sejatinya bangga ketika menceritakan anak-anaknya yang dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka.
Maka tegakah kita mematahkan kebanggaan tersebut?? Orangtua mana yang tidak bahagia menyaksikan wisuda anaknya mendapatkan gelar sarjana?
Saya rasa semua orangtua akan merasakan perasaan haru itu.
Semoga setelah ini kita akan berpikir berkali-kali jika harus mematahkan harapan mereka. Jika mendapati keduanya masih ada, maka bahagiakalah dengan bakti sebaik-baik bakti.
Jika orangtua bahagia melihat kita wisuda, mengapa tidak kita segerakan hal demikian?
Semangat untuk teman-teman yang sedang berjuang dengan skripsinya. Semangat untuk sesiapapun yang sedang berjuang dengan mimpinya. Ingatlah, tidak ada skripsi yang tidak selesai. Jika dirasa sulit, mintalah pertolongan Allah dengan sabar dan sholat.
Ingatlah, kita masih punya Allah. Jika kita punya Allah, maka kita punya segalanya..
- Ibn Syams
324 notes
·
View notes
Quote
Segala sesuatunya selalu ada selesainya. Dari urusan perasaan hingga kehidupan. Ada awal, selalu ada akhir. Selesaikan urusan-urusanmu yang tak juga selesai, urusan yang menguras waktu, daya, pikiran, dan iman. Sebelum kehidupanmu berakhir, sebelum penyesalan.
Kurniawan Gunadi (via kurniawangunadi)
Siap.
1K notes
·
View notes
Photo
Meluncur ke Gramedia Matraman hari ini ❤️

Akhir oktober hingga november ini, saya dan penerbit mediakita akan mengunjungi beberapa kota guna mengenalkan buku baru kami; #JatuhdanCinta. Tunggu di kotamu, ya
Kota-kota yang dipilih: Depok (Universitas Indonesia), Jakarta (Gramedia Matraman), Karawang (Gramedia Karawang), Surabaya (Gramedia Royal Surabaya), Sidoarjo ( Gramedia Lippo Plaza Sidoarjo), Bali (gramedia level 21 Bali).
Info lengkap acara ini bisa langsung datang ke lokasi acara, atau bisa datang langsung pas hari acara di kotamu.
Tiket masuk rangkaian acara Tur buku ‘Jatuh dan Cinta ini,’ Gratis!
78 notes
·
View notes
Text
Enam belas tahun delapan bulan telah ku habiskan hidup ku di dekat orang tua, nenek, dan kakak-kakakku. Menikmati kehidupan yang ku rasa paling sempurna. Gadis cilik yang mulai tumbuh remaja. Ibu dan Papa yang semakin kerja keras hingga terlamat makan. Kedua kakak ku yang mulai beranjak dewasa dan belajar bersolek. Nenek ku tersayang yang bahkan harus kehilangan cinta sejatinya.
Kini aku sudah besar. Yang pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa aku harus berlari sendirian mengejar asa di negeri orang. Mulai dari aku harus mempersiapkan makanku sendiri hingga aku hanya bisa berdoa dari kejauhan atas perginya nenek ku menemui cinta sejatinya.
Buk, Pah, izinkan anakmu ini sering pulang. Biarkan aku menikmati jarak yang masih ku hitung sangat dekat. Aku tak tahu jalan apa lagi yang akan Tuhan hadiahkan untuk anakmu ini. Anak bungsumu yang saat ini sedang berjuang mengangkat derajatmu
❤️
Kelak, saat kau jauh dari rumah. Kau akan rindu suara cempreng ibu yang mengomelimu yang telat makan. Kau akan rindu petuah dan marah ayah saat kau lalai beribadah. Kau akan rindu suasana rumah yang tak pernah kau temukan di mana pun kau berada. Kau akan merindukan segalanya; adegan-adegan sedari kecil hingga kau tumbuh sampai pada tahap ini di sana.
Waktu dan perasaan sudah dewasa mungkin akan membuatmu merasa hebat. Hidup dan perjalanan yang kau tempuh akan membuatmu merasa kuat. Tapi rindu orangtua mana yang bisa kau dapatkan di mata orang lain? Sedih orangtua mana yang bisa kau rasakan di pelukan orang lain? Tak ada satu tetes air pun yang persis sama dengan air yang dipanaskan ibu; meski dengan tungku api, meski dengan membakar daun kering. Asap-asap itu telah menjelma larut dalam darahmu.
Kelak, saat semua perjalanan terasa semakin jauh. Saat tahap jenjang yang kau tempuh terasa semakin tinggi. Kau akan dihampiri perasaan aneh; kau merasa kau bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa. Kau hanya ingin satu hal, menenangkan debar dadamu, menenangkan hampa pikiranmu, lalu menyandarkan diri di pelukan ibu sembari mendengar nasihat yang sudah berulang-ulang disampaikan ayahmu.
Jangan lupa berkabar meski jauh. Sebab rindu yang sama bisa tak datang di lain waktu dengan cara yang utuh.
–boycandra
2K notes
·
View notes