Tumgik
#Jalan Pintu Gerbang
kurniawangunadi · 8 months
Text
34 Tahun
Hi semuanya, mungkin ada di antara teman-teman di sini yang telah mengikuti akun ini sejak tahun 2014? Artinya itu sudah 10 tahun yang lalu dan 10 tahun yang lalu, tepat di bulan Januari 2014 saya baru menyelesaikan sidang tugas akhir di ITB saat itu. Kemudian mengerjakan revisi dan akhirnya wisuda di bulan Mei nanti. Di tahun 2014 juga lahir buku pertamaku, Hujan Matahari. Buku yang menjadi penanda titik balik hidup dan jalan pintu gerbang keluar dari Quarter Life Crisis. Hehe...
Tumblr media
Tahun itu, umurku masih 23 tahun - mau 24 ditahun 2014 akhir. Bagaimana rasanya melewati 10 tahun dari masa itu ke sekarang, nah ini yang ingin kucatat dalam tulisan panjang kali ini. Barangkali, ada teman-teman baru di sini yang baru mengikuti akun ini beberapa waktu lalu, sementara akun ini telah aktif sejak 2010 (14 tahun lalu!). Barangkali juga, saat 2014 lalu beberapa teman-teman di sini yang baru mengikuti halaman ini, mungkin masih SD, SMP, atau SMA mungkin? Sehingga dinamika di tahun yang sama saat itu, tahun2014, antara kita berbedanya luar biasa. Dinamika mahasiswa yang baru lulus kuliah dan dinamika anak SD/SMP/SMA. Tapi sekarang, di tahun 2024 ini, saat usiamu mungkin seusiaku pada saat itu. Jarak usia kita yang 10 tahun mungkin tidak begitu terasa, apalagi jika bertemu langsung. Kamu sudah cukup dewasa bahkan untuk memulai berumah tangga, dan seharusnya sudah cukup matang untuk menghadapi beragam dinamika kehidupan dewasa.
Pertama, jangan pernah takut buat memiliki mimpi. Sekalipun hanya kamu yang memiliki mimpi itu sendirian diantara keluargamu atau teman-temanmu. Nanti seiring berjalan waktu, saat tanggungjawab bertambah dan mungkin membuatmu semakin realistis, kamu akan berhitung dengan mimpimu sendiri. Justru pada saat ini, saat masih besar energinya - beranikan diri untuk mengejarnya.
Kedua, setahun-dua tahun atau bahkan beberapa tahun yang kamu perlukan untuk mengenal dirimu sendiri, ambilah! Karena setahun-dua tahun itu tidak akan ada artinya sama sekali dibandingkan dengan puluhan tahun berikutnya yang akan kamu jalani dengan badan dan pikiranmu sendiri.
Kalau kamu ingin pekerjaan A dan itu mentuntutmu untuk belajar 2 tahun lagi, ambil!
Kalau kamu ingin memperbaiki diri - berjuang- apapun itu untuk mendapatkan pasangan hidup yang paling ideal menurutmu dan itu membutuhkan beberapa tahun ke depan, ambil!
Kalau kamu ingin membangun usahamu dan itu butuh waktu beberapa tahun untuk sampai ke titik idealnya, ambil!
Kalau kamu perlu beberapa tahun untuk membujuk orang tuamu agar merestui jalan hidup yang sedang kamu perjuangkan demi memperbaiki pola kehidupan keluarga kecilmu nanti, ambil!
Jangan takut untuk mengorbankan beberapa tahunmu untuk puluhan tahun berikutnya. Apalagi kalau kamu tahu itu sangat berharga. Anggap aja kamu seperti lagi ngambil gap year, lulus SMA - jeda dulu untuk mempersiapkan diri lagi demi mendapatkan bidang/jurusan kuliah yang benar-benar sesuai keinginanmu.
Ketiga, jangan takut untuk jatuh cinta tapi bersikaplah dewasa. Kalau kamu suka sama seseorang,
Kalau kamu laki-laki - maka lihat keadaan dirimu apakah sudah cukup mampu untuk bertanggungjawab pada kehidupan lain, kalau masih ngandelin duit orang tua, lupakan! Kalau ngaji aja gak bisa, belajar dulu! Kalau masih belum bisa ngatur skala prioritas diri, lupakan! Pesanku, kalau sudah yakin siap - yakin matang emosinya dan pikirannya - berani menjadi imam yang baik, kalau suka sama seseorang, sampaikan langsung aja, kalau diterima ya dinikahi, kalau ditolak - cari yang lain, tidak perlu diperjuangkan berkali-kali. Kalimat terakhir barusan memang sangat subjektif, tapi based on experience, xixixii.... Apalagi kalau yang nolak orang tuanya, dah lupakan aja, segera move on!
Kalau kamu perempuan (ditambah sekarang saya udah punya 2 anak perempuan, heuheu...). Memiliki perasaan kepada lawan jenis itu wajar sekali, tapi terbukalah dan diskusikanlah dengan orang yang cukup matang pikirannya menurutmu, bisa orang tua, guru, mentor, siapapun yang menurutmu - pendapatnya bisa menjadi dasar dari keputusan-keputusan baikmu. Sebab, salah satu tantangannya di sini adalah dominasi perasaan, sehingga ketika perasaan itu muncul, logikanya agak eror. Padahal, di momen seperti itu sangat dibutuhkan pikiran yang jernih dan terang benderang. Agar jangan sampai mengorbankan hal-hal yang fundamental dan esensial dalam hidupmu. Apalagi sampai terjebak dalam toxic relationship, dsb. Belajarlah untuk memiliki sikap yang teguh, kuat, dan yakin. Fokus aja sama impianmu, nanti pasti ada orang yang sejalan di impian itu.(Ini agaknya nasihatku buat anak-anakku nanti). Keempat. Bekerja karena uang, di awal, itu nggak apa-apa, apalagi kalau memang ada tuntutan finansial misal membiayai adik-keluarga, dsb. Namun, tetaplah cari sebanyak-banyaknya pengalaman. Jika ada kesempatan, jangan langsung mengkonversi kesempatan tersebut dengan uang. Lihat lebih teliti, benefit apa yang bisa kamu dapatkan dengan kesempatan itu, apa yang bisa kamu pelajari, jaringan apa yang bisa kamu dapatkan, dan sebagainya. Kalau pun orang lain menilaimu - gampang dimanfaatin orang - eits, tunggu dulu dan jangan langsung menelan itu mentah-mentah ya. Lihat lagi, lebih cermat, seberapa besar manfaat yang kamu bisa dapatkan dari kesempatan. Dan kamu perlu tahu dan menyadari, kenapa kesempatan belajar itu hadir ke kamu, bukan ke orang lain? Kelima. WAJIB BANGET PUNYA MENTOR! Kalau belum ada, cari sampai ketemu - sampai dapat. Orang yang bisa kamu jadikan sebagai guru-penasihat untuk bertanya dan bertukar pikiran. Cari untuk mengisi ruang kosong dan gap yang kamu miliki. Tahukah gap nya apa? Kebijaksanaan dan pengalaman!
Anak muda itu penuh semangat, minim pengalaman. Orang tua itu, energinya udah abis, tapi pengalamannya sangat kaya. Nah, ambil kebijaksanaan dan pengalaman itu. Dari orang-orang yang lebih senior, lebih berilmu. Cari mentor di pekerjaanmu, di kehidupan spiritualmu, di soal asmaramu, apapun. Itu benar-benar akan membantumu melewati fase krisis dengan lebih efektif. Membantumu mengurai benang kusut di pikiran, membantumu melihat jauh ke depan terhadap masalah yang sedang kamu hadapi. Bahkan, sesekali membantumu membuat keputusan saat logikamu lagi super eror karena jatuh cinta.
Keenam, ketujuh, ke seterusnya mungkin lain kali kuteruskan. Hehe.. punten XD. Tapi mungkin teman-teman di sini, yang mungkin sudah umur 30an dan mau berbagi pelajaran-pelajaran berharganya, boleh banget lengkapi di fitur komentar ya. Akan senang sekali jika tulisan ini menjadi ruang refleksi bersama-sama. Salam hangat, Kurniawan Gunadi
292 notes · View notes
diahuha · 7 months
Text
Jalan panjang mencerdaskan bangsa dan dakwah sudah diuji bahkan di pintu gerbang rumah sendiri.
Adakah kita lelah??
Adakah kita cape dan menyerah.
Melingkarlah dengan org org yg optimis dan punya harapan.
Sebab pesimis pun dan apatis menular.
Bisa jadi kamu terlihat kuat tapi diem diem mengoyak2 akar pertahanmuu.
Kami hidup tapi kami nyaris tersengal sengal menghadapi hidup yang menghitam dan babak belur.
Akarku mulai tidak menghujam bumi.
Inikah rasanya jalan di gelap malam dengan penerangan hanya dari mata.
Tuhan,,aku belum usai.
10 notes · View notes
hudashidqie · 1 year
Text
Pekara Ibuk-Ibuk yang Suka Ngintip di Jendela
Belakangan, ada banyak banget tulisan di TikTok atau di reels Instagram yang bahas tentang inner child. Pas browsing baru paham kalau inner child dalam makna sebenarnya adalah bagian dari masa kecil kita (bisa berupa pola pikir, spirit, atau mindset) yang bisa mempengaruhi respons kita terhadap suatu hal di masa dewasa. Inner child ini bisa disimbolkan dengan kejadian-kejadian atau momen traumatis, momen menyedihkan, bahkan juga momen membahagiakan, dan membanggakan yang kita alami di masa kecil. Gitu, deh, intinya. Nantinya kepanjangan sama intro sendiri wkwkwk. *** Nggak bahas tentang inner child yang gimana-gimana, siang ini, di saat Jakarta lagi terik-teriknya, dan lagi emosi-emosinya karena laper dan salah masukin saos bakso, tiba-tiba kepikiran, momen apa di masa kecil dulu yang rasanya, kalau bisa, mau coba aku "wujudkan" sebagai orang dewasa? Mikir kayak gini di tengah ngaduk bakso telor ternyata cukup nguras energi juga. Momen yang paling diingat adalah momen di tanggal 19 Juli 1999, di lokal 24. Iya, aku ingat betul tanggalnya. Itu adalah hari pertama masuk kelas persiapan Madrasah Ibtidaiyah. Waktu itu, aku diantar ayah ke sekolah, diantar ke kelas, dan langsung ditinggal. Waktu itu, rasanya biasa aja. Nggak ada rasa mau nangis atau gimana-gimana karena secara "naluriah" rada paham kalau di tahun itu, adikku sudah ada dua; umur 2 tahun dan 1 tahun.
"Huda kan kakak, Ummi harus jagain adiknya di rumah."
It felt so normal. Tapi ternyata, cuma berlaku di satu jam pertama aja. Betapa shock-nya aku pas tau kalau ternyata, semua ibu-ibu teman sekelasku pada nungguin anaknya dan nongol muka-mukanya di jendela. Sebagai anak yang juga nggak pernah TK, aku nggak familiar sama situasi ruang kelas yang ternyata ibu-ibu itu memang kebiasaannya nunggu anaknya di kelas sampai pulang. Deg. Rasanya kayak kosong dan bertanya-tanya,
"Loh, kok, Ummi-ku nggak ada, ya?"
Pas selesai kelas, malah tambah shock. Semua ibu-ibu menyambut anaknya. Lalu, tas anaknya diambil dan dibawain sama ibunya di bahu sebelah kiri dan menggandeng tangan anaknya di sebelah kanan. Aku bengong beberapa menit sambil dalem hati bilang. "Ih, pengen.." Tapi, cepat-cepat ditepis dan bilang ke diri sendiri, "Aku kan kakak, Ummiku nggak ada waktu kalo harus nungguin aku di sekolah" Lalu, aku langsung ke depan gerbang pintu sekolah, nunggu om ku yang sudah standby jemput dan pulanglah ke rumah. Momen-momen ini secara nggak sadar berlanjut ke banyak momen lainnya yang melibatkan orang tua di sekolah, khususnya di momen hujan deras di sekolah. Di momen ini, biasanya Ibu-ibu kompak jemput anaknya pakai payung warna-warni; payung yang ada bentuk kupingnya di ujung, lengkap dengan jas hujan gambar helo kiti, terus datang ke sekolah pakai sandal. Ibu-ibu itu akan nyamperin anak-anaknya ke kelas, satu-satu, lalu dipakaikan jas hujan, dan dituntun pulang jalan kaki sepanjang jalan. "Huda, udah dijemput belum? takut banjir itu di jalanan" "Iya nih lagi nunggu dijemput, nanti bareng kakak juga belum keluar dari kelas" "Yaudah duluan ya, hati-hati nanti pulangnya" 5 menit kemudian, Bang Lani, saudaraku yang memang diamanahi ayah untuk antar jemput kami datang. Dia bawa 2 packs jas hujan lengkap atas bawah, juga kantong plastik untuk membungkus sepatu kami. Sambil pakai jas hujan, ada bagian kecil di dalam hati yang bilang, "Gamau, nggak mau dijemput Bang Lani. Nggak mau dijemput naik motor. Maunya dijemput ayah atau ummi yang pakai payung warna-warni terus tasnya dibawain. Nggak mau naik motor, maunya jalan kaki sampai rumah. Nggak papa sedikit capek atau basah sekalian juga".
Tapi ya sudah, itu cuma sampai di pikiran aja yang aku rawat dan tepis selama puluhan tahun. Pun, aku nggak pernah menyalahkan ayah ummi ku juga untuk hal ini karena simply ya memang keadaannya harus seperti itu. Aku pun juga nggak ditelantarin gimana-gimana juga wkwk wong masih dianter jemput Bang Lani. Kalaupun Bang Lani ketiduran, ada privilej bisa nelpon rumah dari kantor guru. Sungguh sebuah contoh nyata nepotisme sekolah keluarga *sungkem* Long story short, kami pun pada akhirnya tetap seperti itu; naik motor bertiga, sampai lulus SD. Meski nggak dipungkiri kalau Bang Lani adalah orang yang paling berjasa buat keluarga kami karena harus siaga antar jemput semua anak anak ayah yang sekolah, ada bagian terkecil dalam hati yang masih ingin "being taken care of" karena default-nya ya mandiri sejak kecil (nggak, nggak, tapi jangan bayangin aku mandiri banget yang wow superwoman selalu terstruktur dan sat set, bahkan lebih sering leletnya dan mager).
Being taken care of di sini lebih ke... apa, ya? Pengen ada orang tua atau orang siapapun itu yang hadir di banyak momen-momen kecil nan berharga dalam hidup mungkin, ya? Kayak momen hujan-hujanan tadi, diintip di jendela sekolah, ditungguin di kelas dan pas ada acara-acara di sekolah, digandeng pas selesai kelas buat nyebrang jalan, dan lain-lain. Ih, kok mau nangis sih nulisnya WKWK
Tapi, anehnya, malah ada paradoks di sini, meski di hati kecil pengen ngerasain hal-hal itu, di masa dewasa ini malah yang berasa impact-nya.
Di beberapa momen, alih-alih merasa tersanjung dan senang, aku jadi ngerasa bersalah kalo ada orang yang (mau) nungguin aku atau bahkan peduli sama hal-hal kecil tentangku. Di dalam hati kecil, aku ngerasa membebani sekali kalau ada orang yang nungguin aku. Bahkan, kalau ada orang yang peduli dengan hal-hal kecil tentangku, aku jadi merasa tidak capable untuk mengerjakan itu sampai aku harus diperhatiin segitunya (?). Gatau ah ribet deh aku maaf.
Tapi, I'm working on it, aku juga sedang belajar untuk "receiving help, care, and love" dari banyak orang. Karena sejatinya, yang perlu dipelajari bukan hanya tentang cara "memberi" aja, tapi juga cara "menerima". Emang, ya, belajar hal-hal kayak gini dalam hidup adalah sebenar-benarnya belajar sepanjang hayat, nggak ada habisnya. Begitu saja ya tafakkur ala ala sore hari ini. Sekian dan terima gaji. Starbucks TIS Square Minggu, 1 Oktober 2023 17.26
2 notes · View notes
yunistya-nys · 2 years
Text
Persimpangan 20-an Part #24: The Packages
Terdengar ada motor berhenti, disusul suara lantang dari depan rumahku. Sepertinya itu suara kurir paket yang biasa mengantar ke area kompleks ini. Aku buru-buru mengeceknya langsung lewat jendela dapur.
"Pakeeett"
Wah, betul ada Pak Aris datang!
Dengan sigap, aku langsung berlari mengambil kerudung ke kamar dan menuju ke pintu kecil di samping dapur. Saat hendak membuka pintu, aku baru ingat kalau belum membawa minuman dingin!
"Yaaa Pak Aris! Tunggu sebentar yaa"
"Oke, Mbaaa! Santai ajaa"
Begitu selesai mengambil minuman di kulkas, aku langsung keluar menghampiri Pak Aris. Beliau adalah kurir paket andalan komplek sini, yang kedatangannya selalu ditunggu banyak orang, termasuk aku salah satunya. Apalagi di awal bulan seperti sekarang, kantung besar di kiri-kanan motornya membawa banyak sekali paket yang muatannya lebih tinggi dari hari-hari lainnya. Barangkali orang-orang pada gajian di akhir bulan, ujar Pak Aris beberapa waktu yang lalu.
"Bapaaak! Gimana kabarnya hari ini, sehat semua?"
"Selamat pagi duniaa! Hehe alhamdulillah, Mba. Lihat nih bawaan saya hari ini"
"Bukan main emang yah, banyak betul hahaha... Oiya Pak, ini saya ada minuman dingin buat seger-seger aja"
"Waduh dapat hadiah lagi saya. Sering-sering jajan aja ya Mba, jangan lupa untuk selalu cek jasa pengirimannya. Pilih si merah ya, biar semakin sering saya dapat minuman gratis sebesar ini hehehe...
Eh ini pada kemana sih, Mba? Sepi amat komplek, tumben"
"Hahaha siapp. Iya bapak nih yang tumben, datangnya siang jam segini. Biasanya datang pagi kalau kesini"
"Sekarang jam berapa memangnya, Mba?"
"Jam setengah 11 ini pak, waktunya ibu-ibu pada masak, atau jemput anak pulang sekolah, Pak. Makanya sepi"
"Weh, kudu atraksi ini kalau begitu"
"Hahaha sudah lama ya nggak atraksi, Pak? Duduk dulu, diminum sedikit sebelum atraksi"
Pak Aris hanya tertawa mendengar perkataanku barusan. Ia mulai bersiap dengan smartphone-nya sambil berdeham, untuk memastikan tenggorokannya tidak serak.
Sebentar lagi, atraksi akan dimulai...
Kamu mau tau nggak? Atraksi apa yang sering Pak Aris lakukan?
---
Suatu hari di grup pesan instan "Sistah Syantik Cemara", yang berisikan total 56 ibu-ibu kompleks, ada nomor tidak dikenal yang mendadak dimasukkan dalam grup. Bu Cintya sebagai admin grup, yang juga merupakan istri dari Ketua RW 11, terpantau mulai mengetikkan sesuatu...
"Bu ibuuk, ni ak izin mskin pak aris yh. Kurir paket kebanggan kt smwa!"
"Welcome Pak Arizz"
Seketika, pesan di grup bermunculan satu persatu, penuh dengan banyak anggota grup yang menyambut Pak Aris. Kala itu, beliau bingung. Masa kurir paket aja sampai segininya dimasukkan dalam grup ibu-ibu kompeks? Kayak penyusup mesum aja gituu, jadi satu-satunya lelaki dalam grup ibu-ibu?
"Walah bu kok sampai dimasukkan kesini"
"Gini Pak Arz, kt ni ibu2 dimarih srg ktemu bpk anter paket pas lg kmpul di Bu Iyem jg. Nah biar lbh gampil aj gt kaann ketimbng bpk dikit2 brenti, ntr kt ktmuan aj di jln kamboja, di dpn bu Iyem kt bagi2 paket hihihi kumahow pak?"
Jujur, sewaktu Pak Aris menunjukkan pesan di grup ini ke aku, mataku pusing banget membaca pesan di atas. Sudah kalimatnya panjang, ketikannya... Hadeeeh hahaha tapi lucu sih.
"Oalaah, berarti ini paketnya diambil di warung Bu Iyem ya? Kita ketemuan dan bagi2 paket di sana?"
"Y btul pak. Enak kaann? G ush keliling hihihi"
"Oke boleh deh buibu. Matur suwun sanget* lho"
"Hihi stju yhh pak! Ketok palu pokok e!"
---
Sejak saat itulah, Pak Aris seringnya berhenti mengatar pake hanya sampai Jalan Kamboja, jalan pertama dari pintu gerbang komplek. Jalan yang sama dengan lokasi rumahku. Di ujung jalan ini, ada sebuah warung yang menjual sayur mayur dan kebutuhan pokok sehari-hari. Warung Bu Iyem namanya.
Warung ini sudah seperti pusat peradaban kompleks Cemara karena barang-barang yang dijual cukup lengkap, ditambah dengan kisa-kisah hidup manusia disekitarnya. Kayaknya, sesingkat apapun waktuku bertransaksi di sana, selalu ada saja gosip atau kabar terkini yang kubawa pulang. Padahal seringnya aku hanya beli bawang bombai.
---
Kulihat Pak Aris baru saja mengirim pesan di grup Sistah Syantik Cemara.
"Sudah woro-woro, Pak?", ujarku pada beliau.
"Yang ini sudah Mba. Sekarang tinggal sisanya..."
"Bapak sih baru datang jam segini, biasanya kan pagi jam 8. Ini sudah jam 11 lewat, Pak. Waktunya ibu-ibu fokus masak sama jemput anak pulang sekolah"
"Woalaah pantesan haha sek coba yaa"
Tak berselang lama, Pak Aris langsung membunyikan klakson khas dari motornya sambil memanggil tetanggaku satu persatu.
"Bu Jen ada paket niiihh"
"Bu Gayaa pakeeett"
"Mba Citra, Bu Kiya, paketnya borong nihhh"
"Bu Cokroo, weh harume masak opoo? Paket pakeeett"
Tiba-tiba, Bu Iyem berlari keluar pagar dan memanggil Pak Aris.
"Heeeey. Paketku ono oraaa?" **
Pak Aris melambaikan tangannya, disusul dengan isyarat menyilangkan tangan sambil menggelengkan kepala.
Ketika sudah berjalan sampai ujung jalan, Pak Aris kembali lagi menghampiri motornya. Ibu-ibu yang sudah dipanggil tadi, satu persatu keluar dari rumahnya.
Saat sudah kembali ke motornya, aku berkata, "Yah, Bu Iyem kecewa tuh Pak hahaha". Beliau menjawab sambil cekikikan, "Lho ya memang nggak ada paketnya buat Bu Iyem, Mba"
---
Bu Cokro menghampiri Pak Aris yang sedang mengeluarkan beberapa kotak paket dari kantung besarnya di motor.
"Pak udah lama nunggu ya? Sampai ada bunyi-bunyian segala"
"Iya Bu, panas lho aku nungguin. Tumben sepi banget jalan ini"
"Kamu sih datangnya siang banget. Aku lagi bertempur tadi, goreng ikan jadi nggak bisa ditinggal"
"Welehh hahaha ini Bu paketnya"
"Asyikk, makasih banyak yaa Pak Aris. Oiya Pak, ini saya ada sayur asem buat bapak hehe tolong diterima ya Pak"
"Aduh kok repot-repot, Bu"
"Heh cepetan ini diterima? Saya belum bikin sambel nih, mau lanjut lagi"
"Yaudah, Bu. Terima kasih banyak yaa"
"Sama-sama, Pak. Semangat!!!", kata Bu Cokro sambil mengepalkan jemarinya untuk Pak Aris.
---
Setelah itu, muncul Mba Citra dan Bu Jen yang secara bersamaan keluar dari kediamannya masing-masing. Namun, Mba Citra yang lebih dulu menghampiri Pak Aris.
"Oi Pak! Mana paketku sama mamah, Pak?"
"Cieee borong jajan 4 kotak ya kali ini"
"Ehehehehe iya, Pak. Mumpung ada bonus dari kantor. Sikaaat!"
Saat Mba Citra mengecek informasi paketnya sejenak, ada Bu Jen yang baru datang.
"Weh Cit, paketmu banyak banget. Tak bilangin mamahmu lho nanti"
"Eh, ada Bu Jen! Ini adil lho, Bu. Dua kotak punya mamah, duanya lagi punya aku. Bu Jen jajan apa tuhh?"
"Lipstik sama bedakku habis, Cit. Ini kemarin pas lagi ada promo online, jadi cus langsung pencet hape"
"Weits, sudah canggih ya sekarang jadi sering pencet-pencet. Awas lho keranjang penuh..."
Lalu Bu Jen memotong pembicaraan Mba Cita dengan sigap, "tapi dompetku kan tipis, Cit. Nggak megang m-banking juga. Jadi saldo buat jajan ya tetep segitu-gitu aja, ngikut transferan si ayang"
Kami mendadak geli mendengar Bu Jen mengatakan hal tersebut.
"Guayaaa sekarang manggil si bapak pakai ayang-ayangan segala", goda Pak Aris. Sontak, kita tertawa bersama.
"Biar kayak anak muda gitu lho, ih kalian mah.
Eh iya, Ibu habis bikin roti gandum sama selai srikaya banyak tuh. Sebentar ya, jangan pada pergi dulu, tunggu sini", ujar bu Jen sambil membalikkan badan dan masuk ke dalam rumahnya.
Selang beberapa menit kemudian, saat aku sedang asyik mengobrol dengan Mba Cita dan Pak Aris, Bu Jen keluar dengan membawa tiga kantung plastik besar untuk kami.
"Ini anak-anakku. Roti dan selainya masih fresh, baru matang hari ini"
Aku dan Mba Cita serempak mengucapkan terima kasih kepada Bu Jen, sambil mengambil kantung plastik itu dari tangannya. Bu Jen tersenyum senang melihat kami yang girang mendapatkan makanan gratis.
"Aku balik dulu yaa, terima kasih Pak Aris", kata Mba Cita.
"Saya juga ya, Pak Aris. Makasih banget kalau naruh paket di teras tuh pelan banget. Nggak ngagetin kucing saya"
"Iya, sama-sama semuanya", balas Pak Aris dengan senyum dan suara yang lembut.
---
"Ini paket lainnya banyak yang punyanya orang komplek sini, Pak?"
"Iya hampir semuanya, Mba. Nih di grup baru pada kasih info, benar kata Mba. Lagi pada masak dan jemput anak sekolah. Paketnya minta dititip ke Bu Iyem aja katanya. Paling besok baru bisa diambil sambil belanja sayur"
"Oooh okedeh, Pak. Pak, saya baru ingat itu ada titipan dari bunda. Sekardus susu ultrra mumi, buat Rangga, Pak"
Pak Aris mendadak kaget dan memegang pelipis dengan jemarinya, "Duh Gustiii". Sontak aku tersenyum sambil menjawab, "Kenapa, Pak? Gapapa ini buat bapak, rezekinya Rangga, Pak."
"Mba, kok mesti orang sini tuh mau repot-repot sama saya"
"Lhoo kok gitu? Haha enggak, Pak. Nggak ada yang merepotkan. Kita senang banget kenal bapak. Bapak sudah banyak bantu kita kalau ada pengembalian barang-barang. Tolong diterima ya, Pak"
Mata Pak Aris berkaca-kaca. Beliau menyalami tanganku sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.
Tidak, punggung tanganku sudah basah. Sepertinya beliau menangis. Aku tidak berani menatapnya. Aku pura-pura lihat langit aja. Ah, aku jadi ingin ikut menangis juga kan?!
Pak Aris menaruh kardus itu di sela pijakan kaki pada motor matic-nya. Beliau pamit pergi untuk melanjutkan pekerjaannya dengan mata yang sedikit sembab.
---
Orang-orang komplek ini sudah tau kalau beliau hanya tinggal berdua dengan anak satu-satunya yang bernama Rangga. Istrinya sudah lama meninggal dunia, bersama bayi pertama yang dikandungnya.
Rangga adalah anak laki-laki yang ditemukannya di semak belukar empat tahun lalu, saat Pak Aris sedang membantu tetangganya untuk mencari rerumputan pakan kambing. Kala itu, Pak Aris masih berduka atas kepergian istri dan anaknya. Beliau pernah berkata, barangkali Rangga itu rezeki dari Allah untuk menghibur hatinya. Sejak saat itu, Pak Aris memutuskan untuk memasukkan Rangga dalam kartu keluarganya yang baru, bersamaan dengan kerelaan hatinya untuk menghapus nama sang istri.
Nama Rangga adalah nama pemberian dari beliau. Walaupun Rangga bukan anak kandungnya, bahkan sampai sekarang kita semua juga tidak tahu siapa orang tuanya, beliau sangat menyayanginya.
P.s
*) terima kasih banyak
**) paketku ada nggak?
7 notes · View notes
ceritari · 2 years
Text
Secondary Option
“Kalau kamu cuma jadiin aku back up plan kamu, mending kita akhiri aja semua. Berhenti menghubungiku!” - aku mematikan teleponnya.
Rasanya hari ini lelah banget, emosiku terkuras gegara pria tidak jelas itu. Hari ini ada janjinya yang dibatalkan lagi gegara sepupu wanitanya butuh bantuannya, dan ini udah yang kesekian kalinya. Awalnya aku berusaha menerima sepupunya, mengganggap mereka sebatas saudara. Aku bersikap biasa dan menganggap si saudara sepupu yang memang sepantaran denganku sebagai temanku juga.
Namun, belakangan aku sadar ada yang berbeda, ditambah seiring dengan bertambahnya pemahamanku, kalau saudara sepupu itu bukan termasuk muhrim, bisa saja mereka menikah.
Malam harinya, dia menghampiriku, membawakanku dark coklat dan sate padang Ajo yang menjadi langganan kami. Dia menatapku dan menjelaskan semua. Aku luluh, dan selalu bisa meredakan emosiku. Matanya teduh, suaranya lembut, dan wajahnya yang selalu aku rindukan. Lagi-lagi aku lupa kesalahannya. Aku lupa kalau dia udah batalkan 3 kali janji dalam minggu ini.
Besoknya kami berencana menonton konser. Inget banget perjuangan saat “war ticket” untuk nonton idola kami. Aku ga sabar banget nikmatin konser ini. Kebayang nyanyiin lagu favorit kami ketika lagi jalan di mobil, dan sejenak lupain deadline tugas kuliah yang naudzubillah.
Ponselku bergetar, ada pesan masuk.
“Dek, aku udah di depan. Kamu ke mobil langsung yaa, jangan lupa kunci kosannya.”
Aku langsung keluar kosan, ngunci pintu dan gerbang, lalu sedikit kaget karena dia tidak sendiri.
“Maaf aku gabisa ikut kamu nonton ya, tiketnya buat Rini aja, kalian nonton berdua ya, kesian nih adik sepupu aku ngefans berat tapi ga kebagian tiket, kamu jagain dia ya, sambil ngelus kepalanya.”
Tetiba kepalaku pusing, dan kemudian aku robek tiketnya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Kita putus.
9 notes · View notes
ronakana · 2 years
Text
Roller Coaster di bulan Maret
Sebagai ibu dengan anak satu yang lagi aktif aktifnya saya harus kuat. Apalagi suami jauh dan ibu juga tinggal di luar kota karena harus merawat kakek saya yang demensia. 
Dimulai dari setiap awal minggu bikin list apa yang harus di masak buat seminggu. Buat memutuskan apa yang harus dibeli agak tetap on track dan tidak boncos. 
Senin Soto ayam Perkedel tahu
Selasa Bihun telor wortel Ikan kembung goreng
Rabu Daging slice brokoli teriyaki Bakwan jagung
Kamis Nasi uduk Tempe bacem ayam cincang buncis
Jumat Martabak telor Capcay (wortel buncis ampas tahu)
Sabtu Ayam pop Tumis waluh telor -------- Beli di griya Bihun 2 Daging slice Santan 2 Ampas tahu Bumbu ayam Bumbu soto Ayam goreng
Beli di warung Wortel 8 Tahu 1bks Kol 1buah Brokoli 1 Kulit lumpia 1bks Jagung 4 Daun bawang 5000 Buncis 1bks Ayam 1/2kg Waluh Toge 1bks Tomat 5rb Ikan kembung 4
Rapi kan planning aku sehari hari? Semuanya cukup buat menuhin kebutuhan protein si bayi yang masih 15 bulan. Tapi tetep ekonomis karena buat budget 200rb aja maximal buat seminggu. Sudah termasuk susu kotak si bayi.
Terus agenda setiap hari selalu melelahkan kaya biasa.
Pagi : masak sejak jam 5.30 sambil ngais bayi kalo dia udah bangun dan kalo belum bangun sambil bolak balik ke atas ke bawah buat mastiin dia ga jatuh dari kasur yang tinggi. 
Packing packing buat bekel ke tempat kerja dan buat sarapan si bocil.
jam 6 si bibi biasanya udah dateng. Saya serah terima si bocil sambil dia dimandiin nanti jam 6.30.
Jam 7 pergi kerja dan pamit sama bocil yang udah mandi. sedang dikasih aktivitas fisik buat jalan jalan pagi biar nanti jam 8 dia mau sarapan dengan lahap.
Tumblr media
sarapan di tempat kerja biar jam 8 kerja sudah ada tenaga.
Itu roti si bocil. yang biasanya kalo udah tanggal kadaluarsa baru saya makan. he. he. he.
Jam 14 teng pulang. Mandi. Langsung gendong si bocil. Bibi langsung pulang.
Jam 15 mandiin bocil. aktivitas fisik lari lari di halaman sambil di selingi ada pasien kerumah. Iya periksanya sambil gendong bayi karena dia masih tantrum kalo ditinggal sendiri atau disuruh jalan sendiri waktu ada pasien.
Jam 16-17 makan sama bocil yang mungkin udah cape jalan jalan kesana sini. Sambil diselingi pasien tentunya. Kadang lahap kadang GTM. Pernah dia GTM berhari hari dan posisi saya cape banget dengan kehidupan dunia. Jadilah kita nangis meraung raung barengan. Karena bayi juga gatau apa yang seharusnya dia lakukan kan. Dan aing juga buta kudu masak naon deui YA ALLAAAAAHHHHHH. 
Jam 18.30 Tutup praktek. Kunci kunci pintu. Gerbang. dan siap siap buat bacain buku, VC suami dan tidur di jam 19.30.
Rutinitas emak emak yang biasa bukan? Tapi capeknya luar biasaaaaaa. Jadi ibu ibu yang tinggal sendiri emang harus strongggggg.
---------------
Terus kemudian tiba tiba ada tragedi. Saya yang waktu itu pake motor ketabrak mobil yang mau lurus. Tapi ya emak emak harus strong. 
Masih tetep gendong anak. Jalan naik turun tangga karena kamar ada di lantai 2. Tetep praktek sambil gendong anak karena pasien juga butuh saya apalagi anak saya khaaaannnnnn.
Kadang sebagai ibu hayang ceurik. Ya Allah aku kok gaada yang bantuin kaya orang orang lain. Ya emang ada bibi tapi dia tok cuma pegang anak aku pas aku kerja. aku pulang dia ngikut pulang. Ya emang nyuci nyetrika ngepel juga dibantuin. 
Tumblr media
Hari kedua setelah ketabrak terpantau bengkak lucu dengan memar setitik. Sakit karena memar biasa kali ya. 
Tumblr media
Hari ke 3 kok makin memar. Mayan lebih nyeri dari sebelumnya. Saya kompres aja.  hhhhhhhh
Tumblr media
Hari ke 5 kok makin memar. Makin nyeriiiiiii.
Hari ke 6 Masih bisa jalan jalan sama si bocil buat makan diluar sambil liat binatang. Takut si bocil jenuh karena kesehariannya yang itu itu aja dan gapunya temen.
Tumblr media
Hari ke 7 Makin nyeri dan sudah tidak sanggup akhirnya periksa ke dokter. Mumpung ada sepupu. Lah aku juga dokter padahal. Ya maksudnya ke spesialis yang paham betul buat tahu dalemannya ni kaki. Ternyata gaboleh napak. Ternyata robek ligamen yang menghubungkan 2 tulang. Ternyata harus dioperasi. DAN TERNYATA TIDAK DI COVER BPJSSSSSS.
Nangis donggg. Tapi tetep karena saya emak emak yang kepikiran siapa ntar yang belanja. yang masak. yang gendong anak saya. yang praktek. gimana ntarrr. Bukannya mikirin diri sendiri.
Ngabarin mama dan suami yang langsung gercep buat pulang ke bandung. 
Besoknya periksa ke RS Halmahera yang khusus bedah dan tulang. 
Rencana tindakan besok. Tetep lemes karena gabisa pake BPJS dan gabisa gendong gendong bocil. Walau masak yah sudah di cover mama dan bocil udah di cover bapaknya.
Sebelum sebelumnya saya emang ngeluh. Kepengen gitu ada mama dan suami dirumah. Bantuin aku yang kadang burn out karena walau rutinitasnya itu itu aja tapi dramanya ga gitu gitu aja. Adaaa aja yang bikin ga waras. 
Tumblr media
Di pasang pen buat nyatuin tulang tibia dan fibula karena ligamennya robek dan bikin si tulang makin kepisah setiap harinya. Dibilangin perawat disana harusnya kalo jatoh ya istirahat 48jam. Ya mana bisa aku istirahaaaattttttt. Siapa yang masak. Siapa yang praktek. Siapa yang pegang bocil dan sambil lari larian ngejar balon. SIAPAAAAA???
Tumblr media
Sekarang sudah di Gips. Gaboleh napak sampe 6 minggu ke depan. Melewati ramadhan dan lebaran. Sudah beraktivitas seperti biasa dalam keterbatasan. Suami sudah pulang ke rantauan. Mama sudah pulang ke kuningan dengan membawa si bocil karena saya ga sanggup buat ngurusnya disini dengan segala keterbatasan yang saya punya. Makannya gimana. ngaisnya gimana. Saya sendiri aja kalo mau ke kamar mandi repot. 
Ya begitu. Maret ini hidup seperti rollercoaster. Dari kesepian karena cuma berdua sama bocil dengan aktivitas yang seabreg. Support system dateng semua. Terus menyisakan saya sendiri tanpa bantuan siapa siapa denga keterbatasan sampe operasi ke 2 di minggu ke 6 nanti. 
Elaaaahhh nyuci nyetrika dibantuin bibi aja sok sibuk banget. Ya itu. Saya begini aja repot. Sujud deh sama emak emak diluar sana yang tanpa support system dan ngerjain semuanya sendiri berikut dengan bocil apalagi yang lebih dari 1. hhhhhhhh. Semangat ya buk yaaaa. Pahala ibu banyak banget. Ibu strong bangeeetttt.
Yasudah. Mau periksa pasien lagi. 
Puskesmas, 24 Maret 2023
5 notes · View notes
fenisutikayaniafs · 1 year
Text
Aku mau cerita, hal yang ingin diceritakan receh tapi aku tuh akan seneng menceritakannya.
“MAPS”
Jadi perjalanan palembang - Jakarta tgl 23 kemaren aku yg jadi penunjuk jalan dari turun merak sampe bogor.
Jagoan gasi?😭🤣
Bangga deh gue bisa baca maps. But u know, akukan jadi gabisa tidur. Klo gada aku yg bacain maps sopo?
And point number two, klo gada hal “sedikit aneh ato lucu dulu” bukan hidup fn namanya👌🏻
Kerna akutuh ga tidur2 dari awal berangkat nih. Bapaku tuh klo bawa mobil, yang jadi penumpang kek berasa lagi naik train, alyas kereta apiii.
Saking ngebutnya perjalanankutuh terasa cepet bgd. Kepotong istirahat sholat ajah sama makan. Sisanya berasa ga napak bumi kerna tiap aku liat speedometer, gajauh dari angka 120/140km per Jam.
AYOK BOLE TAKBIR DULU!!
Naaaah, balik lagi kerna aku gatidur2 dari awal berangkat, aku ngantuk bgd😭🙏🏻.
Pas aku mulai lesss, hilang sadar. 🧔🏻‍♂️ : Bapak said “Teh Ini kemana nih (di tol kebon jeruk nih)”.
Reflek aku jawab. 👧🏻 : “Belok kiri”. Kan bapak gue ya otomatic belok dong shay😭🙏🏻. Dan taulah ya akutuh bicaranya pasti salah. Org baru bangun.
Yaps salaaah. Tapi kerna gabrani bilang klo ini jalan salah. Bapak gue yg udh terlanjur gue bawa turun ke tangerang-serpong di pintu keluar 18 tol kebon jeruk. Gua bawa muter2 sampe lieur. Trus gua bawa masuk tol lagi kerna “sesungguhnya keluarnya di gerbang 16 yg depan nya”.
Kan sue bgt si feni jadi anak. Tapi alhamdulillahnya aman damai sentosa sehat sejahtera kawand.
Udh ayok bobo. Gue kenyang bgd kena macet seharian ini. Have anice dream 🫶🏻🔐
2 notes · View notes
ikakuinita · 1 year
Text
30 Tahun : Sebuah Refleksi
Kadang saya bingung tentang usia. Mama bilang saya lahir tahun 1992 tapi di akte kelahiran dan semua dokumen tertulis 1993. Jadi, apapun itu intinya hari ini sudah kepala tiga. Alhamdulillah. Usia yang cukup matang dalam segala hal. Dulu, saya pernah baca usia 30 tahun adalah usia yang rasa-rasanya seperti dikejar-kejar.
Kalau belum menikah, dikejar angan tentang jodoh. Belum punya anak, berusaha biar cepat dapat momongan. Belum berkarir, dikejar kebingungan karena stag. Belum punya rumah, kendaraan, tabungan, dikejar target untuk investasi daaaann seterusnya. Kuakui itu benar. Tapi diakhir usia 30-an nanti ternyataaaa "tidak ada yang mengejar". Karena itulah mumpung baru menginjak kepala tiga, hari ini berusaha untuk refleksi 30 tahun kehidupan.
Kalau mundur kebelakang, saya saaaangat sangat mensyukuri satu hal. Bahwa kompleksnya hidup dilatih pelan-pelan. Seandainya apa yang kuhadapi hari ini diberikan 10 tahun lalu, gak sanggup. Karena usianya belum sematang saat ini. Atau, apa yang kuhadapi 10 tahun lalu baru diberikan saat ini jadinya malah tidak berkembang.
Memasuki gerbang angka 3 ini prioritas kehidupan memang berubah karena bertambahnya variabel baru yang dulunya tidak ada di usia 20-an. Hal itu diawali dengan selesainya jenjang sarjana. Menurutku ini adalah pintu keluar yang membuka baaaaaanyak sekali jalan. Entah akan memprioritaskan diri dulu, keluarga dulu, pendidikan atau karir dulu. Semua orang mempunyai pilihan dan takdirnya.
Maka hari ini, saya berusaha berkontemplasi bahwa Allah itu baik sekali. Allah tidak memberikan segala yang kita butuh dan inginkan diwaktu bersamaan. Misalnya, usia 30 sudah menikah, punya anak cewe dan cowo, kerjaan aman, kesehatan bagus, pendidikan lanjut terus dll. Kalau itu terjadi, maka tidak ada ruang untuk belajar tentang "syukur" dan "sabar".
30 tahun. Hari ini kulewati dengan membaca sebuah buku di pagi hari, menelpon teman di siang hari, dan merencanakan makan malam. Saat ini diperjalanan dari rumah ke sebuah restoran, bukan untuk merayakan hanya kebetulan dapat malam minggu jadi waktunya kosong. Beberapa kali singgah karena gerimis, jadwal makan ini sepertinya akan mundur dari yang kurencanakan karena hal-hal yang ada di luar kendali seperti cuaca bahkan sempat mampir agak lama karena hujannya deras. Sampai sekarangpun masih berteduh.
Entah akan sampai di restoran yang kutuju atau tidak sebab ini sudah pukul 20.22. Satu jam lagi restorannya tutup. Kalau tidak sempat malam ini mungkin besok atau lusa dan sepertinya saya harus siap-siap cari menu makanan lain 😊. Kadang hidup juga begitu, seperti perjalanan ke restoran malam ini. Penuh tantangan di luar dugaan. Tapi dengan begitulah diri bertumbuh.
Welcome the beginning of thirty. Thank you self for everything, you are amazing 💛.
.
.
.
5 notes · View notes
wedangrondehangat · 2 years
Text
Tumblr media
Berteduh •
Aku pernah berkunjung ke rumah seorang teman dan ada satu percakapan kami yang masih teringat hingga hari ini.
"Mba, rumahnya kenapa nggak lengkap gerbangnya?" tanyaku, heran. Rumahnya besar dan ada pagar, tetapi hanya sekedar pagar pembatas saja.
Ia menjawab, "Sengaja, supaya kalau tiba-tiba hujan, pengendara motor bisa langsung mampir berteduh.." deg. Jawaban yang masih membuatku terkesan hingga detik ini.
Rumahnya memang berada di sekitar kebun salak, sehingga upaya keluarganya meniadakan pintu gerbang di depan rumah mereka sangat membantu orang-orang di jalan yang butuh tempat untuk berteduh.
Kini tiap kali berteduh, hal ini selalu terkenang dalam benakku. Panjang umur orang baik.. :')❤️
_
Yk, 19 Okt '22 | 20.18
Hujannya awet, mampir Sleman sebelum esok lanjut perjalanan ke Magelang
10 notes · View notes
hypocrishit · 1 year
Text
Sebotol anggur buruh pemula
Bunyi pesan masuk berlomba lomba memecah keheningan, tetapi aku hanya terfokus pada ingatan perjanjian mabuk malam nanti ; tempat beli minuman, tempat tujuan, apa yang akan dilakukan, sampai bunyi telepon menyadarkanmu beberapa detik kemudian.
Setelah makan malam dan menunggu beberapa jam dan membikin janji pertemuan dengan seorang lelaki-yang sedikit jarang kuajak berinteraksi- di gerbang sebuah komplek perumahan, aku mulai menstarter manual motor dan mengeluarkan uang dua ribu rupiah untuk jasa parkir yang membantuku. Aku berangkat dari cafe kecil di pinggir jalan besar, tidak jauh dari gerbang kompleks yang akan kutuju. Jam menunjukkan pukul dua belas. Laki-laki berjaket warna jingga sudah sedia dipinggir jalan dua arah tidak jauh dari titik perjanjian.
“Kau dari mana ?” Sapa ahmad sambil mengantongi kedua tangannya dalam jaket tudungnya. Aku membalas senyum lebar petanda maaf karena membuatnya menunggu lama. “Kita harus pakai motormu, motorku ban nya bocor” lanjutnya.
Lima belas menit perjalanan menuju indekos sederhananya. Ahmad mengambil alih setir motorku siap melaju dengan kecepatan sedang. Aku menggeser duduk ku sedikit kebelakang, dan membiarkan kaki ku menggantung untuk kuayunkan selama perjalanan, berharap malam ini akan membuat perasaanku stabil dan mulai melamun lagi.
“Kau mau beli minum dimana?” teriak ahmad ditengah deru angin malam. “Tidak tau, kau tau penjual minum dimana?” Aku balas berteriak dismping telinga kanannya. Motor melaju pelan, kita singgah di sebuah ruko usang dengan sedikit jendela persegi panjang di tengahnya -ciri khas toko minuman- dan memulai kata kunci pembeli pada tiap jualan “belii,, permisi, beli..” tidak ada yang menyaut, toko tampaknya sudah kosong sejak lama, seperti tidak sedang berjualan. “Kutau satu penjual minuman, dia di paccerakkang”, ahmad mulai menstarter manual motor biruku, dan melaju ke tempat yang kusebut.
Memori, khayalku. Beberapa minggu yang lalu, kawanku yang lain yang memperkenalkan tempat ini, meski sedikit mahal tetapi tidak terlalu jauh dari tempat kami. Saat tiba, Sepasang mata muncul dibalik jendela kecil bagian pintu ruko “mau beli apa?” Katanya. “Amer satu” kata ahmad, lalu berbalik sebentar untuk memastikan ia sudah memesan porsi yang cukup. Aku mengangguk tanda benar. Kami melanjutkan perjalanan menuju indekos sederhana.
“Kau kerja dimana? Bagaimana pekerjaanmu?” Ahmad tiba tiba menegur, “nanti saja, kita tampung bahasan ini saat minum” sedikit teriak, Ahmad mengangguk setuju.
————————————
“Kau mau pake seloki?” Ahmad menawarkan. “Tidak, minuman begini enaknya gelas besar” jawabku “okelah, sans” ahmad menimpali. Kami meneguk anggur merah ditemani kerupuk harga seribuan. Setengah botol masih tersisa, aku sudah merasa mual dan kesulitan meneguk gelas gelas berikutnya. Ahmad yang menyadari hal tersebut “kau sudah? Cepat sekali”, “uwek tidak enak” jawabku dengan ekspresi masam. Sisanya dihabiskan ahmad dan tidak terlihat mabuk. Aku bergumam “deh, kuatnya. Saya nda bisa ma”.
Percakapan tentang pekerjaan dimulai, aku menunjukkan penyesalanku karena pilihan yang keliru dan kejadian kejadian minggu pertama. “Seharusnya saya nda minta pekerjaan itu, jadi buruh itu sulit. Kita memang dipaksa bekerja dibawah tekanan”. Sambil menggoyangkan kepalanya keatas dan kebawah secara berulang, ahmad menimpali “sudahlah, sebulan setelah kau terima upah, keluar saja. Itu eksploitasi cok”. Aku merenung “iya, nanti deh. Kunikmati dulu”.
Kupandangi Ahmad meneguk slot terakhir anggur, merenung “kuat sekali anak ini, apa karena dia terbiasa minum yang lebih keras, makanya dia seperti minum air putih -tidak berpengaruh apa apa-“.
“Kau kalau ngantuk, tidur saja d kasur! Saya bisa ji di lantai. Sans kalau disini” ahamd menyadari kantukku saat mataku tidak sepenuhnya terbuka. Aku bersandar di tembok dengan rasa tenang dan sedikit pusing yang dihasilkan anggur merah, aku memperbaiki posisi duduk ku, menyusun satu sampai dua bantal dibagian ujung kasur, dan siap merabahkan tubuh.
kami terlelap.
————————————
Apr 23
6 notes · View notes
prhndini · 1 year
Text
Rumah Teguh (1)
Mesin cetak digital yang ukurannya hampir sepanjang tempat tidur baru saja selesai bertugas setelah seharian ini harus bekerja keras. Memasuki masa-masa kampanye pemilu, membuat usaha percetakan digital Teguh ramai. Berbagai wajah dan bendera partai disertai rencana program kerja anggota DPR tergambar apik di poster, banner, spanduk, dan baliho. Tidak ada yang tahu apakah program-program kerja gemilang tersebut menjadi nyata ataukah berakhir sebagai janji manis saja. Tapi Teguh tidak ambil pusing. Toh ia tidak menggandruingi dunia politik--tidak apatis, tidak juga fanatik. Yang jelas ia bersyukur karena dana-dana kampanye politikus itu turut memberikan sumbangsih pada perekonomiannya dalam mencapai salah satu tujuan finansial: membangun rumah di Solo.
Teguh si pekerja keras dan kreatif dalam mencari nafkah. Walaupun saat ini baru tiga pegawai yang harus ia gaji ditambah dirinya dan ikan cupang dalam toples di kosannya yang harus ia hidupi, tapi Teguh juga bekerja dengan giat untuk menghidupi mimpinya. Tentu saja di usianya yang baru saja melewati angka tiga puluh tahun, ingin juga menafkahi pasangan hidup. Tapi apa daya, ia tak punya.
"Alhamduillah selesai juga. Makasih Jo" Teguh menerima gulungan poster dari Jojo, karyawannya.
,“Oke bos! Rame bener ini tadi. Bisa nih bulan depan nambah karyawan baru?” Ucap Jo.
“Pinginnya gitu sih. Doain deh”
Setahun yang lalu ia membangun usaha ini. Menghabiskan tabungan hasil side hustling sebagai web designer ditambah pinjaman modal dari orangtuanya. Teguh bersyukur karena sejauh ini hasilnya cukup memuaskan. Walaupun progresnya belum begitu fantastis, yang penting tetap optimis. Teguh memberi nama “Landscape Digital Printing and Advertising”. Memang namanya sangat kental dengan dunia arsitektur. Bukan tidak ada maksud, sesungguhnya ia dulu adalah mahasiswa arsitektur universitas negeri di kota Solo. Tidak peduli gelar yang disandangnya, panggilan jiwa entrepreneur lah yang membawanya melangkah kesini.
Dikuncinya rolling door setelah semua orang di dalam kembali pulang. Rasanya capek, tapi Bahagia. Ingin ia segera pulang dan mandi air hangat. Teguh baru saja turun dari motor lalu hendak membuka gerbang kos-kos an tempatnya tinggal, hingga pelupuk matanya menangkap sebuah mobil yang parkir di sebrang.
Tumben ada mobil disini? Tamu kali ya?. Sulit mengetahui dengan jelas di gelapnya malam tanpa penerangan lampu jalan. Hanya lampu teras kosannya yang agak enggan bersinar terpaksa menerangi.
Namun sepertinya mobil ini tak asing, Eh, mobil ayah ibu? Kenapa malam-malam kesini?
"Lho, ayah, ibu, kesini malam-malam gini, ada apa?" Disalaminya ayah dan ibu yang duduk di kursi taman. Teguh penasaran karena orangtuanya jauh-jauh dari Wonosobo menemuinya.
"Enggak ada. Mampir aja, tadi ayah dan ibu dari rumah teman, ada reuni SMA" jawab ibunya
"Oohh.. kirain kenapa bu. Nginep sini aja ya yah, bu? Ada kamar kosong kok bisa disewa. Pagi aja baliknya"
Ibu menoleh ke arah ayah, "Gimana, mas?"
"Iya wes. Lama nggak nyetir jauh capek juga badanku. Kamu bilangkan Bapak kos ya le kalo kami nginep sini"
"Siap yah. Tunggu sini bentar, aku bilang pak Hendri. Aku naik dulu ya"
Setelah menemui Pak Hendri, Teguh bergegas ke kamar mandi. Badannya lengket, kaos yang dipakainya terasa kumal. Sangat tidak nyaman. Ingin segera ia hempaskan keringat, debu, kuman, dan bau kecut pada tubuhnya.
Selesai mandi badannya terasa kembali segar tapi perutnya lapar. Ia baru ingat kalau belum makan malam. Setelah solat Isya, segera dihampirinya kamar yang ditempati ayah ibunya.
"Yah, Bu, belum tidur?" Dilihatnya ke balik pintu yang tidak tertutup rapat. Ayah dan ibu sedang asyik dengan handphonenya masing-masing.
"Belum nih. Udah makan kamu?" Tanya ibu
"Belum bu, belum sempat makan tadi sibuk terus. Lagi rame bu, alhamdulillah. Mau nggak temani aku makan?"
"Ayo, le. Sekalian jalan-jalan di Kota. Nostalgia waktu kami dulu kuliah disini. Iya nggak, bu?" ayahnya menyahut.
Ibu hanya tersenyum seraya bersiap untuk jalan-jalan malam.
"Sip. Aku setirin ya yah" Teguh mengendarai mobil. Ayahnya duduk disamping dan ibu duduk di jok belakang.  Senang rasanya jalan-jalan bertiga saja dengan orangtuanya. Sebuah momen yang langka. Biasanya selalu pergi berlima dengan dua adiknya. Mungkin begini ya rasanya waktu dia masih jadi anak tunggal.
"Kangen juga ya, yah bu, jalan-jalan bertiga gini"
"Iya. Dulu waktu kamu masih bocah, kita bertiga jalan jalannya kalau nggak naik motor ya naik mobil cerry. Inget ga kamu?" Tanya ayah dari kursi depan.
"Hahaha. Iya yah. Cerry hijau legenda"
"Kalo jalan2 jauh kayak ke Solo kamu dulu mesti minum obat biar ga mabuk le" Ibu menggoda Teguh yang sedang serius menyetir.
"Hahaha.Untung sekerang udah nggak ya buk. Sudah kebal. " Teguh tertawa lagi mengenang masa kecilnya.
Rasanya syahdu berkendara di kota Solo malam hari. Jalanan masih ramai dengan motor dan mobil juga orang-orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan. Temaram lampu kota turut menghiasi pemandangan. Di pinggir jalan banyak sekali pedagang penjual makanan yang masih buka. Segala macam makanan  ada di sana. Teguh memilih nasi goreng sebagai menu makan malamnya.
“Aku beli nasi goreng langgananku disini yah. Dijamin uenak” Teguh membuat isyarat jempol dengan tangannya. “Banyak makanan lain juga itu disekitarnya. Barangkali ayah dan ibu ingin makan lagi”. Mereka menuju tenda hijau dengan gerobag berwajan besar. Api menyala-nyala di dasar wajan. Penjual nasi goreng dengan lihai mengaduk-aduk masakannya dengan spatula yang tak kalah besar. Bau sedap segera memenuhi indra penciuman. Teguh menjadi semakin lapar saja. Tanpa melihat menu ia memilih nasi mawut dan jeruk hangat.
Mereka bertiga memilih duduk di bawah alias lesehan. Baru sebentar duduk, jeruk hangat pesanan Teguh sudah datang. Dicamilnya kacang godog untuk mengganjal perutnya yang keroncongan.
“Ibu jadi teringat Nindya. Dia apa masih di Solo, Guh?” Tanya ibu tiba-tiba.
Nindya adik kelas SMA-nya adalah orang yang dimaksud ibu. Seseorang yang mengisi hatinya sejak masih di bangku sekolah hingga beberapa waktu lalu.
 (Bersambung)
2 notes · View notes
ceritasingkat88 · 7 hours
Text
Silva4d : "Bayangan dari Halaman Terlarang"
Tumblr media
Silva4d - Di sebuah kota kecil yang terletak di antara pegunungan berkabut, tersebar legenda tentang sebuah buku terlarang. Buku itu disebut-sebut berisi rahasia kelam dari masa lalu, ditulis dengan tinta hitam yang tak pernah memudar, oleh seorang penulis yang hilang secara misterius berabad-abad lalu. Mereka yang mencoba membaca buku tersebut dikatakan akan ditelan oleh kegilaan dan lenyap tanpa jejak.
Namanya adalah "Grimoire Pandanara".
Bab 1: Kedatangan yang Tak Terduga
Malik, seorang pemuda kutu buku yang baru saja pindah dari kota besar, tidak pernah percaya pada legenda. Baginya, buku hanyalah sarana untuk menambah ilmu, bukan medium mistik yang bisa mengubah nasib. Namun, ketika dia menemukan sebuah perpustakaan tua yang tersembunyi di pinggiran kota, rasa penasarannya tak bisa dibendung.
Perpustakaan itu sepi dan terlupakan, dipenuhi oleh debu dan rak-rak yang rapuh. Di tengah-tengah ruangan utama, ada sebuah lemari kaca tua yang menyimpan hanya satu buku. Buku itu terbungkus kulit hitam yang tampak menua, dengan kunci berkarat yang menggantung di sisinya. Di atasnya tertulis dalam aksara kuno, "Pandora Tidak Pernah Pergi."
Seorang penjaga perpustakaan tua, Nyonya Siska, memperingatkan Malik dengan wajah penuh kecemasan, "Buku itu... jangan pernah dibuka. Banyak yang datang mencarinya, tapi tak ada yang kembali."
Malik hanya tersenyum sopan, berpikir bahwa itu hanya bualan. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang memanggilnya. Dorongan untuk mengetahui, untuk memahami, lebih kuat daripada ketakutannya pada legenda usang itu.
Malamnya, ketika kota terlelap, Malik kembali ke perpustakaan itu. Dengan senter di tangannya, dia mendekati lemari kaca. Tangan gemetarnya memutar kunci yang berkarat. Buku itu terlepas dari sangkar kacanya, terasa dingin dan berat di tangannya. Malik membuka halaman pertama, dan saat itulah segalanya berubah.
Bab 2: Penglihatan dari Masa Silam
Begitu halaman pertama terbuka, udara di sekelilingnya berubah. Suara angin dari luar berhenti, dan bayangan di dalam ruangan tampak menari di sekitar Malik. Tulisan-tulisan di dalam buku tersebut tampak hidup, berputar-putar di atas kertas seperti ular, dan sebelum dia bisa mengartikannya, kepalanya mendadak dipenuhi bisikan-bisikan.
Bisikan itu bukan hanya dalam satu bahasa, melainkan dalam puluhan, ratusan suara yang berbeda. Masing-masing dari mereka membawa cerita tentang keputusasaan, pengkhianatan, dan kematian. Malik terjerumus dalam dunia lain, di mana kota yang ia kenal tampak berubah menjadi reruntuhan yang dipenuhi bayangan kelam.
Di dalam penglihatannya, dia melihat sosok seorang wanita dengan gaun panjang merah darah. Wanita itu menatapnya dengan tatapan hampa, bibirnya bergerak tanpa suara, tapi Malik bisa memahami pesannya. "Kamu adalah yang terpilih."
Wanita itu adalah Pandora, penjaga rahasia dunia kegelapan yang selama ini tersembunyi dalam buku tersebut. Dia berkata bahwa Grimoire Pandanara bukan hanya sekadar buku—itu adalah pintu gerbang. Pintu ke dunia lain yang penuh dengan kekuatan yang tak bisa dijelaskan, dan begitu pintu itu dibuka, dunia nyata dan dunia kegelapan akan menyatu.
"Tidak ada jalan kembali," bisik Pandora, sebelum bayangannya memudar.
Bab 3: Pengejaran Kegelapan
Keesokan harinya, Malik bangun dengan rasa takut yang tak bisa dijelaskan. Segalanya tampak nyata, tapi juga absurd. Namun, hal yang paling mengganggunya adalah bayangan wanita itu. Ia terus terbayang-bayang, seolah-olah sedang memperhatikan setiap gerakannya.
Meskipun merasa takut, Malik tidak bisa menahan diri untuk tidak kembali membuka buku itu. Setiap kali dia menyentuh halamannya, dunia nyata tampak semakin terlepas darinya. Kota yang ia tinggali mulai berubah—orang-orang bertingkah aneh, seolah-olah mereka bukan lagi diri mereka sendiri. Malik menyadari bahwa apa yang ia buka bukan hanya rahasia dari masa lalu, melainkan kutukan yang terus menyebar.
Di saat yang sama, seorang pria asing datang ke kota. Ardan, seorang pemburu artefak terkutuk, sudah lama memburu Grimoire Pandanara. Dia memperingatkan Malik bahwa dia sedang dikejar oleh kekuatan yang jauh lebih gelap daripada yang bisa dia bayangkan.
"Jika kamu tak menghentikannya," kata Ardan dengan tegas, "seluruh kota ini akan menjadi korban. Buku itu menyerap jiwa, mengambil dunia yang kita kenal, dan menggantikannya dengan kegelapan."
Malik harus memilih: membiarkan buku itu menguasainya, atau mencari cara untuk menghancurkannya sebelum terlambat.
Bab 4: Pertarungan Terakhir
Di malam yang penuh badai, Malik dan Ardan menyusup ke perpustakaan tua. Mereka harus mengembalikan Grimoire Pandanara ke tempat asalnya, ke dimensi lain sebelum buku itu menghancurkan kota. Tapi kekuatan dari buku itu semakin kuat. Halaman-halaman terbuka sendiri, menelurkan makhluk bayangan yang mengejar mereka di antara rak-rak perpustakaan.
Dengan darah dingin, Malik dan Ardan berjuang melawan makhluk-makhluk itu, dan di saat terakhir, Malik menyadari bahwa hanya dia yang bisa menutup buku itu. Pandora, dalam bisikan terakhirnya, mengungkapkan bahwa buku itu tidak bisa dihancurkan—hanya bisa dikunci kembali oleh mereka yang telah dipilih olehnya.
Dengan tangannya gemetar, Malik menutup buku itu dan menguncinya dengan rantai perak. Begitu buku itu terkunci, seluruh makhluk bayangan lenyap, dan perpustakaan kembali sunyi.
Namun, Malik tahu satu hal—meski buku itu kini terkunci, rahasia-rahasianya masih bersembunyi di balik halaman. Dan suatu saat, seseorang lagi akan datang dan mencoba membukanya.
Epilog
Beberapa bulan kemudian, perpustakaan itu kembali terlupakan. Malik meninggalkan kota dengan membawa beban yang takkan pernah bisa ia lepaskan. Buku itu mungkin terkunci, tapi Pandora masih ada dalam benaknya, menunggu kesempatan untuk membuka kembali pintu ke dunia yang tak terbayangkan.
Sementara itu, di perpustakaan yang sepi, di balik lemari kaca yang tertutup, Grimoire Pandanara tetap menanti... siap untuk memanggil jiwa penasaran berikutnya.
Tumblr media
0 notes
jasalassleman · 11 hours
Text
CALL KE SINI! 0818-465-463 Pintu Gerbang Mewah Besi Tempa Sleman
0818-465-463 Jasa Pembuatan Pagar Gedung Sleman terdekat Sleman
Keuntungan Menggunakan Teralis sebagai Fitur Keamanan Rumah
Teralis tidak hanya menambah estetika tetapi juga menawarkan berbagai keuntungan sebagai fitur keamanan rumah. Di Bengkel Las Karya Mandiri, kami menjelaskan berbagai keuntungan menggunakan teralis untuk keamanan rumah Anda. Berikut adalah beberapa manfaat yang dapat Anda nikmati dengan pemasangan teralis.
Meningkatkan Keamanan Rumah Teralis berfungsi sebagai penghalang fisik yang efektif untuk mencegah akses yang tidak diinginkan. Desain teralis yang kuat dan kokoh dapat mengurangi risiko intrusi dan memberikan perlindungan tambahan bagi keluarga Anda.
2. Perlindungan dari Kerusakan Teralis melindungi jendela dari kerusakan akibat benturan atau cuaca ekstrem. Ini membantu menjaga kondisi jendela Anda dan mengurangi biaya perbaikan yang mungkin timbul akibat kerusakan.
3. Menambah Privasi Teralis dapat memberikan tambahan privasi dengan mencegah orang luar melihat ke dalam rumah Anda. Ini sangat penting untuk menjaga privasi keluarga dan melindungi dari tatapan yang tidak diinginkan.
4. Estetika yang Dapat Disesuaikan Teralis dapat dirancang untuk menambah estetika rumah Anda. Dengan berbagai desain dan gaya yang tersedia, teralis dapat meningkatkan tampilan jendela dan melengkapi gaya arsitektur rumah.
5. Durabilitas dan Perawatan Material teralis yang berkualitas tinggi menawarkan durabilitas yang baik dan memerlukan perawatan minimal. Dengan perawatan yang tepat, teralis dapat bertahan selama bertahun-tahun dan tetap berfungsi dengan baik.
Dengan berbagai keuntungan ini, teralis adalah pilihan yang bijaksana untuk meningkatkan keamanan dan estetika rumah Anda. Bengkel Las Karya Mandiri siap membantu Anda dalam memilih dan memasang teralis yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya rumah Anda.
Bengkel Las Karya Mandiri Monjali Yogyakarta 0818-465-463
Melayani seluruh daerah Sleman seperti: Berbah, Cangkringan, Depok, Gamping, Godean, Kalasan, Minggir, Mlati, Moyudan, Ngaglik, Ngemplak, Pakem, Prambanan, Seyegan, Monjali, Jakal (Jalan Kaliurang)
tukang las harian sleman, tukang las kapal laut sleman, tukang las kapal sleman, tukang las listrik sleman, tukang las listrik terdekat dari sini sleman, tukang las mobil sleman, tukang las motor sleman, tukang las pagar stainless sleman, tukang las patri sleman, tukang las profesional sleman
https://youtu.be/H1HdkbKZUTs
0 notes
kaianoella · 1 day
Text
Tumblr media
Saat bunyi bell pulang menggema di seluruh penjuru sekolah siswa siswi berlarian dengan riang menuju ke gerbang yang masih di dorong oleh satpam dengan tenaga nya yang kuat. “Kai, pulang sama siapa? Bareng gue yuk”. Ajak Ale, sahabat yang setia menemaniku sejak lima tahun yang lalu. “Gak tau, katanya Revan mau jemput tapi gua telfon gak aktif”. Ucapku.
Wajah Ale yang tadi nya datar menjadi sumringah. “Sama gue aja udah, paling si Revan masih sibuk sama komputernya”. Ucap Ale sambil menarik tangan ku menuju parkiran. Aku mengikuti Ale dan berhenti di depan motornya. “Gua tunggu Revan aja deh, soalnya tadi udah janji mau jemput gue”. Dengan perasaan tidak enak karena telah menolak ajakan Ale aku memberinya sebuah snack untuk menyogok Ale agar tidak marah.
“Yaudah, gue anter sampe depan gerbang aja yuk”. Ucapnya, dan aku pun menuruti apa yang Ale katakan. Saat berada di depan gerbang aku sudah menemukan Revan yang berada diatas motor besarnya.
“Lama banget dah, perasaan bell nya udah dari tadi”. Ucap Revan. “Kamu aja gak bisa di telfon dari tadi, untung aku gak jadi ikut Ale”. Jawabku sinis.
“Iya maaf, tadi hp aku mati gak sempet charge”. Ucapnya lembut.
Diam, di atas motor dengan angin sepoi sepoi yang menembus kulit ku. Aku menikmati pemandangan ruko ruko yang berada di pinggir jalan membuatku tidak sadar saat Revan memanggilku. “Sayang”. Panggilnya.
“Hmm?”. Aku berdehem dan memajukan sedikit wajah ku di sebelah kiri kepala Revan. “Besok aku keluar kota, atasan aku ngajak liburan”. Ucapnya dengan keras. “Berapa lama?”. Tanyaku.
“Dua hari paling, Senin juga harus masuk lagi karena masih banyak yang harus di kerjain”. Jawabnya. Tidak sadar ternyata sudah sampai di depan rumah minimalis yang di hiasi dengan beberapa bunga didepannya.
Iya, ini rumahku. Rumah yang tidak besar tetapi sangat nyaman karena rumah ini adalah design yang ayah ku buat sendiri. “Hati-hati pulangnya, jangan ngebut, besok kabar kabar aja ya. Awas kalau engga!”. Tekan ku. “Iya sayang ku”. Ucap nya sambil mengacak acak rambutku.
Hari itu entah kenapa perasaan sedikit khawatir, sedih, takut menjadi satu. Aku memasuki rumah dan menuju kamar, aku membaringkan tubuh kurang mendengarkan ke kasir empuk milikku.
Sudah satu minggu tidak ada kabar sejak Revan liburan bersama atasan dan teman teman kantornya. Perasaan ku campur aduk, entah apa yang terjadi kepadanya hingga tidak memberiku kabar selama satu minggu terakhir. Aku mencari info ke rumah nya, tapi nihil tidak ada orang disana. Ke tempat kerja nya, mereka pun tidak tahu dimana Revan berada.
Aku menangis, telfon, chat, apapun itu aku lakukan agar aku bisa bertemu Revan. Apakah aku di goshting? Pikir ku. Aku menelfon Ale dan menceritakan apa yang terjadi.
Sati tahun berlalu, aku masih sama mencari info tengang Revan yang tiba tiba menghilang. Sepertinya aku harus mengkahiri ini? Apa aku yakin? Ale bilang aku harus berhenti mencari informasi apapun tentang Revan. Dia, menghilanh seperti ditelam bumi.
Oke, aku menyerah! Sudah cukup selama satu tahun ini aku mencari nya, menghubunginya. Semua tentangnya harus aku lupakan.
*Ting-Nong*
Suara bell rumah berbunyi, aku membuka pintu dan, Revan di hadapan ku. “Kai, maaf”. Ucapnya
“Kai?”. Tanyaku? Tidak biasanya dia memanggil ku seperti itu. “Maaf, aku dijodohin”. Ucapnya lagi. Dada ku tiba tiba sesak, aku menahan air mata ku yang ingin keluar tapi tetap lolos begitu saja. “Minggu depan aku nikah”. Ucapnya. Aku tidak bergeming, mencerna apa yang di ucapkannya.
Dia meraih tangan ku, memberikan lembaran seperti buku yang mewah kepadaku. “Datang ya Kai. ajak Ale juga”. Ucapnya dan pergi meninggalkan aku yang masih tak bergeming di depan pintu.
Jadi? Kenapa harus aku? Kenapa aku ditinggalkan? Apakah aku ada salah selama ini? Kenapa dia tidak menjelaskan apapun? Jadi dua tahun tiga tahun hubungan ini benar benar sia sia?
Tawa itu yang biasanya aku rindukan setiap harinya ternyata milik orang lain. Pelukan hangat yang pernah aku miliki sekarang menjadi milik orang lain. Semuanya hilang, pudar untuk selamanya.
1 note · View note
chrismasopy · 16 days
Text
Long Time No Text!
Di tengah kepadatan tugas yang tiada akhir dan perasaan rindu ngonten seru bareng bestie, ada fenomena ganjil yang rasanya kok sayang banget ga saya abadikan dalam sebuah tulisan. Agar melatih daya ingat, berharap tetap waras dan waspada. Atau bahkan mungkin ini menjadi sebuah pertanda.
Saya ga menampik bahwa setiap tempat pasti ada penunggunya. Saya tinggal di rumah ini juga hampir seumur hidup, semenjak orang tua saya hijrah dari kota kelahirannya. Semuanya baik saja. Meski dari kecil sudah biasa melihat bayangan sekelebat, seperti ada orang yang berjalan, bahkan barang bergerak dengan sendirinya. Itu saya alamin dan ga bikin saya ngeri, selama ga ada yang tersakiti. Se-la-ma ti-dak a-da yang ter-sa-ki-ti.
Ada belasan kucing di rumah saya. Beberapa diantaranya memang punya kedekatan yang berbeda. Jiji, anak saya yang baru berusia 3 bulanan, adik dari si Jojo ganteng. Dari kecil memang sedikit berbeda dari lainnya. She is special, gorgeous, survivor, kesayangan mama Sopy. I love her! Dan sebagai seorang Ibu dari anak-anak kucing, saya juga ingin melihat anak-anak saya tumbuh sehat dan kuat.
Namun beberapa hari ini, kejadian menyebalkan terjadi. Setelah sebelumnya ada kaca hitam tebal yang remuk tanpa suara (yang harusnya kaca tsb bisa pecah seremuk itu kalau di hammer! Dan pasti suaranya berisik sekali), pintu-pintu tertutup dengan sendirinya, saya dan my mom uring-uringan di rumah, sekarang giliran anabul saya yang mendadak pincang hampir semua. Hhhhhh, hela nafas panjang panjang.
Saya benci harus melihat anabul saya jalan seperti orang pincang. Kalau berpikir nalar, bisa saja mereka habis guyon, lalu jatuh, atau tangan dan kakinya nyangkut di mana, akhirnya terkilir sampai bikin mereka susah jalan. TAPI KENAPA KOMPAK?! KENAPA HAMPIR SEMUA?! Masa karena virus yang bermutasi? Feline Infectious Peritonitis (FIP)? Calicivirus (FCV), Limping syndrome?
Entah kenapa, dibanding menerima alasan-alasan tsb, saya tergelitik dengan argumen bahwa dari sisi metafisik, fenomena kucing mendadak pincang sebelah bisa diartikan sebagai adanya gangguan energi atau entitas di lingkungan rumah. Dalam beberapa keyakinan, hewan dipercaya sensitif terhadap energi halus atau makhluk astral. Pincangnya kucing-kucing mungkin dianggap sebagai tanda bahwa mereka merasakan atau terpengaruh oleh energi negatif atau entitas tertentu yang ada di sekitar rumah.
Beberapa pendekatan metafisik juga mengatakan bahwa hewan dapat berfungsi sebagai pelindung pemiliknya, sehingga mereka mungkin "menyerap" gangguan yang seharusnya ditujukan kepada manusia. Dan kalau itu benar, alangkah jahatnya… :’(
Saya ga yakin itu berasal dari rumah, mengingat kejadian belasan tahun silam yang menyerang ayah saya. Kami sekeluarga pas maghrib harus keluar rumah karena atap seperti di bombardir petasan dan gerbang rumah kami seperti diguncang gempa. Bergetar laksana gempa tsunami skala rikter! Saya yang saat itu masih SMP lagi-lagi harus menyaksikan kejadian ga biasa.
Pagi tadi pun saya bangun dalam keadaan jantung berdebar debar, setelah sebelumnya ternyata mama saya juga mengalami kejadian serupa. Saya minum kopi juga enggak. Mama saya apalagi. Kalaupun harus deg-degan kan harusnya pas saya ketemu gebetan! Bukan bangun-bangun tiba-tiba jantungan.
Menurut kamu, aku terlalu parno disebabkan rentetan kejadian sebelumnya karena harusnya ini bisa dijelaskan secara ilmiah, atau emang bener ada yang ga beres di luar nalar dan logika manusia? Coba kasih tahu aku ya. Yang punya penglihatan juga kindly share your thought! Thanks!
0 notes
prakerinsmkdkv · 26 days
Text
Info Lengkap Magang SMK Jurusan RPL Blitar: Persiapkan Diri Anda, WA 0819-4343-1484
Tumblr media
Hubungi kami via WA 0819-4343-1484, Pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki fokus yang sangat kuat pada keterampilan praktis yang relevan dengan dunia kerja. Salah satu jurusan yang populer di kalangan siswa SMK adalah Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Jurusan ini menawarkan peluang luar biasa bagi siswa untuk mempelajari berbagai aspek pengembangan perangkat lunak, mulai dari pemrograman hingga manajemen proyek teknologi informasi.
Hubungi kami via https://wa.me/6281943431484
Blitar, sebuah kota yang dikenal dengan budaya dan sejarahnya yang kaya, juga menjadi rumah bagi banyak SMK dengan jurusan RPL. Bagi siswa yang berada di fase akhir pendidikan SMK, kesempatan untuk menjalani magang adalah langkah penting yang akan membantu mereka memahami dunia kerja yang sesungguhnya. Artikel ini memberikan info lengkap mengenai magang SMK Jurusan RPL di Blitar dan bagaimana Anda bisa mempersiapkan diri untuk menjalani pengalaman tersebut dengan sukses.
Mengapa Magang Penting untuk Siswa SMK Jurusan RPL?
Magang bukan hanya sekadar kewajiban yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar. Lebih dari itu, magang adalah pintu gerbang menuju dunia profesional. Siswa yang menjalani magang akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana teori yang dipelajari di kelas diterapkan dalam situasi nyata. Ini adalah kesempatan untuk mengasah keterampilan, membangun jaringan profesional, dan bahkan membuka jalan menuju peluang karier di masa depan.
Di Blitar, terdapat berbagai perusahaan teknologi dan lembaga yang menawarkan program magang untuk siswa SMK Jurusan RPL. Kesempatan ini memberikan akses langsung ke dunia kerja yang dinamis, memungkinkan siswa untuk berinteraksi dengan para profesional di bidang teknologi informasi.
Persiapan Awal: Menyusun Rencana yang Matang
Sebelum memulai magang, ada beberapa persiapan penting yang harus dilakukan. Pertama, siswa perlu memahami info lengkap mengenai magang SMK Jurusan RPL di Blitar. Ini termasuk memahami persyaratan yang dibutuhkan, durasi magang, serta jenis proyek yang akan dikerjakan. Informasi ini bisa diperoleh dari sekolah, atau dari perusahaan tempat magang.
Selain itu, siswa juga perlu mempersiapkan diri dengan mengasah keterampilan teknis yang relevan. Bagi siswa RPL, ini bisa mencakup pemahaman mendalam tentang bahasa pemrograman tertentu, pengembangan web, atau bahkan manajemen basis data. Mengikuti kursus tambahan atau pelatihan dapat menjadi langkah yang sangat bijak untuk meningkatkan kompetensi sebelum magang dimulai.
Memilih Perusahaan atau Lembaga yang Tepat
Memilih tempat magang adalah salah satu keputusan penting yang harus diambil oleh siswa. Di Blitar, ada banyak pilihan, namun penting untuk memilih perusahaan atau lembaga yang sesuai dengan minat dan tujuan karier Anda. Beberapa siswa mungkin tertarik untuk magang di startup teknologi yang dinamis, sementara yang lain mungkin lebih memilih perusahaan yang lebih mapan dengan struktur yang jelas.
Salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan adalah Gemilang Training. Lembaga ini dikenal sebagai salah satu penyedia pelatihan yang berfokus pada pengembangan keterampilan praktis di bidang teknologi informasi. Dengan pengalaman yang luas dalam membimbing siswa SMK Jurusan RPL, Gemilang Training bisa menjadi tempat yang ideal untuk menjalani magang. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa menghubungi mereka di Hub 0819-4343-1484.
Mengembangkan Keterampilan Komunikasi dan Soft Skills
Sukses dalam magang tidak hanya ditentukan oleh keterampilan teknis. Kemampuan berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, dan menunjukkan inisiatif adalah aspek penting yang akan dinilai oleh perusahaan. Oleh karena itu, selain fokus pada penguasaan teknologi, siswa juga harus mengembangkan soft skills.
Kemampuan untuk menjelaskan ide dengan jelas, baik secara lisan maupun tulisan, akan sangat berguna dalam lingkungan kerja. Selain itu, adaptabilitas dan kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan juga akan menjadi nilai tambah bagi siswa yang magang.
Menghadapi Tantangan Selama Magang
Tidak bisa dipungkiri, magang bisa menjadi pengalaman yang menantang. Dari tuntutan pekerjaan yang tinggi hingga harus menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan, siswa mungkin menghadapi berbagai kesulitan. Namun, setiap tantangan adalah peluang untuk belajar dan berkembang.
Salah satu cara untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan memiliki sikap yang proaktif. Jangan ragu untuk meminta bantuan atau klarifikasi jika ada tugas yang belum dipahami. Selain itu, penting untuk selalu terbuka terhadap umpan balik, baik positif maupun negatif, karena ini adalah cara terbaik untuk meningkatkan diri.
Manfaat Jangka Panjang dari Pengalaman Magang
Pengalaman magang memberikan banyak manfaat jangka panjang. Selain mendapatkan wawasan tentang dunia kerja, siswa juga akan membangun portofolio yang dapat ditunjukkan kepada calon pemberi kerja di masa depan. Pengalaman ini juga akan membantu siswa memahami bidang mana yang paling sesuai dengan minat dan keterampilan mereka, sehingga mereka dapat membuat keputusan karier yang lebih tepat.
Selain itu, jaringan profesional yang dibangun selama magang bisa menjadi aset berharga. Hubungan dengan rekan kerja dan atasan dapat membuka pintu bagi peluang kerja di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga hubungan baik dan tetap berhubungan dengan orang-orang yang ditemui selama magang.
Tips Sukses Menjalani Magang di Blitar
Berikut adalah beberapa tips yang dapat membantu Anda menjalani magang dengan sukses:
Persiapkan CV dan Portofolio dengan Baik: Pastikan CV dan portofolio Anda mencerminkan keterampilan dan pengalaman yang relevan. Ini akan menjadi alat pertama yang digunakan perusahaan untuk menilai kualifikasi Anda.
Pahami Budaya Perusahaan: Setiap perusahaan memiliki budaya kerja yang berbeda. Mengerti dan menyesuaikan diri dengan budaya ini akan membantu Anda berintegrasi lebih cepat dalam tim.
Tetapkan Tujuan yang Jelas: Sebelum memulai magang, tetapkan tujuan yang ingin dicapai. Apakah Anda ingin mengasah keterampilan tertentu, memahami proses bisnis, atau membangun jaringan profesional? Memiliki tujuan yang jelas akan membantu Anda fokus selama magang.
Berikan yang Terbaik: Selalu berikan yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan. Sikap ini tidak hanya akan meninggalkan kesan positif, tetapi juga akan meningkatkan kepercayaan diri Anda.
Jangan Takut Bertanya: Jika ada hal yang tidak Anda pahami, jangan ragu untuk bertanya. Ini menunjukkan bahwa Anda memiliki keinginan untuk belajar dan tidak takut menghadapi tantangan.
Kesimpulan
Magang adalah langkah penting bagi siswa SMK Jurusan RPL di Blitar untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Dengan memahami info lengkap mengenai magang SMK Jurusan RPL di Blitar dan melakukan persiapan yang matang, siswa dapat memaksimalkan pengalaman ini untuk membangun karier yang sukses di bidang teknologi informasi.
Gemilang Training adalah salah satu tempat yang dapat dipertimbangkan untuk menjalani magang, dengan dukungan pelatihan dan bimbingan yang komprehensif. Untuk informasi lebih lanjut, jangan ragu untuk menghubungi mereka di Hub 0819-4343-1484. Selamat mempersiapkan diri dan semoga sukses dalam magang Anda!
Tumblr media
Baca juga: Program Prakerin SMK TKJ Blitar: Peluang Magang Terbaik
FAQ: Info Lengkap Magang SMK Jurusan RPL Blitar
1. Apa itu magang SMK Jurusan RPL di Blitar?
Magang SMK Jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) di Blitar adalah program praktik kerja yang dirancang untuk siswa SMK jurusan RPL. Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman praktis dalam dunia kerja nyata di bidang teknologi informasi dan pengembangan perangkat lunak.
2. Mengapa magang penting bagi siswa SMK Jurusan RPL?
Magang sangat penting karena memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan teori yang dipelajari di kelas ke dalam situasi nyata. Ini juga membantu siswa mengembangkan keterampilan teknis dan soft skills, serta membangun jaringan profesional yang berguna untuk karier masa depan.
3. Bagaimana cara mempersiapkan diri sebelum memulai magang?
Siswa harus memahami info lengkap mengenai magang SMK Jurusan RPL di Blitar, termasuk persyaratan, durasi, dan jenis proyek yang akan dikerjakan. Persiapan juga mencakup mengasah keterampilan teknis, seperti pemrograman, pengembangan web, dan manajemen basis data, serta meningkatkan soft skills seperti komunikasi dan kerja tim.
4. Di mana saya bisa menjalani magang di Blitar?
Di Blitar, terdapat berbagai perusahaan dan lembaga yang menawarkan program magang untuk siswa RPL. Salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Gemilang Training, yang menawarkan pelatihan dan bimbingan di bidang teknologi informasi.
5. Bagaimana cara memilih tempat magang yang tepat?
Pilih tempat magang yang sesuai dengan minat dan tujuan karier Anda. Pertimbangkan jenis perusahaan (startup atau perusahaan mapan), jenis proyek yang ditawarkan, dan budaya perusahaan. Gemilang Training adalah salah satu pilihan yang baik untuk siswa RPL di Blitar.
6. Apa saja tantangan yang mungkin dihadapi selama magang?
Tantangan yang mungkin dihadapi termasuk tuntutan pekerjaan yang tinggi, adaptasi dengan budaya perusahaan, dan penyesuaian dengan tugas-tugas yang mungkin baru. Mengatasi tantangan ini memerlukan sikap proaktif, keterbukaan terhadap umpan balik, dan kemampuan untuk bekerja di bawah tekanan.
7. Bagaimana cara sukses menjalani magang?
Untuk sukses dalam magang, persiapkan CV dan portofolio dengan baik, pahami budaya perusahaan, tetapkan tujuan yang jelas, berikan yang terbaik dalam setiap tugas, dan jangan takut untuk bertanya jika ada hal yang tidak dimengerti.
8. Apa manfaat jangka panjang dari pengalaman magang?
Magang memberikan manfaat jangka panjang, termasuk pemahaman yang lebih baik tentang dunia kerja, pembangunan portofolio, dan pengembangan jaringan profesional. Pengalaman ini juga membantu siswa menentukan bidang karier yang sesuai dengan minat dan keterampilan mereka.
9. Bagaimana cara menghubungi Gemilang Training?
Untuk informasi lebih lanjut mengenai magang di Gemilang Training, Anda bisa menghubungi mereka di Hub 0819-4343-1484.
10. Apakah ada biaya yang harus dibayar untuk magang?
Tergantung pada perusahaan atau lembaga yang menawarkan magang. Beberapa mungkin membebaskan biaya, sementara yang lain mungkin meminta kontribusi tertentu. Pastikan untuk mendapatkan info lengkap mengenai magang SMK Jurusan RPL di Blitar dari perusahaan yang Anda minati.
Hubungi kami
WA : 0819-4343-1484
Link WhatsApp : https://wa.me/6281943431484
Link Website: https://www.gemilangtraining.my.id/
(Fara-Smega)
0 notes