Don't wanna be here? Send us removal request.
Video
youtube
Judul : "Zarvyn: Misi Terakhir ke Nebula Hitam"
0 notes
Video
"Tahta yang Tak Dirindukan"
0 notes
Video
youtube
💔 Langit Retak di Serandora @chellaasseqa
0 notes
Video
youtube
🎭 Mahkota di Balik Luka – Part 1: Bunga Istana yang Berani 🌺👑
0 notes
Video
youtube
Melodi Senyap di kota senju "Jembatan Takdir" @wibustew6800 @chellasseqa
0 notes
Video
youtube
Melodi Senyap di Kota Senju – Part : Pengkhianatan Cinta
@WIBUSTEW6800
0 notes
Video
youtube
Retakan di Dinding Es | Babak Baru dari "Melodi Senyap di Kota Senju"
1 note
·
View note
Text
Halaman 1: Pertemuan Tak Biasa Alya 1: Pertemuan Tak Biasa Alya, wanita berusia 26 tahun, baru saja diterima bekerja sebagai desainer grafis di perusahaan teknologi inovatif di Jakarta bernama OryzaTech. Dunia korporat bukan hal baru baginya, namun yang membuatnya gugup bukan pekerjaan, melainkan salah satu rekan kerja barunya yang terkenal misterius: Raka. Pria itu jarang bicara, dingin, dan…

View On WordPress
0 notes
Text
Bab 8: Rumah yang Tak Bernama
Beberapa hari berlalu sejak pertemuan itu. Ayah Dira belum pergi. Ia tinggal sementara di rumah tetangga sebelah, sering duduk di warung kecil depan gang, memandangi rumah Bu Murni dengan mata penuh penyesalan. Tak pernah memaksa, hanya menunggu. Dira melihatnya, kadang dari balik jendela, kadang saat berangkat sekolah. Tapi ia belum sanggup bicara. Ada luka yang belum selesai dijahit. “Dira…”…
0 notes
Text
Bab 7: Jejak di Ujung Gerimis
Sejak hari itu, Dira berubah. Ia bukan lagi anak yang hanya diam di pojok kelas. Ia mulai bertanya pada guru, mengangkat tangan saat tahu jawaban, dan bahkan tersenyum ketika anak-anak lain mulai mencoba bicara dengannya. Beberapa murid yang dulu menghindar kini duduk bersamanya saat istirahat. Mungkin karena rasa penasaran yang berubah jadi hormat. Atau mungkin, karena keteguhan hati memang…
0 notes
Text
Bab 5: Seragam dan Sepatu Pinjaman
Pagi itu, Dira berdiri di depan cermin kecil di kamar tamu. Ia mengenakan seragam sekolah bekas milik anak tetangga yang diberikan Bu Murni. Kemejanya sedikit longgar, roknya sudah agak pudar, tapi di mata Dira, itu adalah pakaian paling indah yang pernah ia miliki. “Sepatunya sempit nggak, Nak?” tanya Bu Murni sambil membawa bekal nasi goreng ke meja makan. “Enggak, Bu. Pas. Cuma… rasanya…
0 notes