Text
Today's story:
Aku bertemu dengannya lagi setelah 10 tahun berpisah.
Dahulu, kami berteman sangat akrab. Setiap hari bertemu, bercerita banyak hal, main, berkelana ke tempat antah – berantah, minta antar jemput, atau sekedar meminjam uang, “nanti gue balikin”
Setelah itu, karena kesibukan masing – masing, kami mulai berpisah. Pertemuan yang awalnya setiap hari, berubah menjadi sekali seminggu, sekali dalam tiga bulan, kemudian berganti menjadi sekali setahun, kemudian tak pernah lagi bertemu.
Waktu itu aku percaya, ya wajar saja. Memang masanya yang telah habis.
Aku menghabiskan waktu 10 tahun dalam kesibukan. Berpikir bahwa aku semakin berubah, bahwa aku yang dulu sudah tak ada lagi. Hingga aku bertemu dengannya lagi.
Kalian tahu bagaimana perasaanku saat bertemu dengannya?
Aku seperti masuk dalam mesin waktu, mundur ke 10 tahun lalu.aku kembali memakai hoodie lusuhku sambil makan dengannya di salah satu kedai favorit kami. Kami membicarakan banyak hal. Obrolannya seperti meneruskan obrolan kemarin yang tertunda hanya karena ketiduran.
Rasanya seperti terhipnotis.
Aku selalu percaya bahwa diriku yang sekarang adalah manusia yang sudah tumbuh dan berubah. Kupikir diriku 10 tahun yang lalu sudah mati, digantikan dengan versiku yang sekarang. Seolah aku tak bisa lagi kembali ke masa itu. Seolah satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah terus tumbuh, maju dan berkembang.
Tapi ternyata, kita tidak bisa benar – benar meninggalkan diri kita yang lama. Kita hanya menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi dengan hidup kita. Makin banyak diterpa, makin sering juga kita menyesuaikan diri.
11/4/25
0 notes
Text
A poem, a pict, a story: Let me immortalize you
.
0 notes
Text
Today's story:
Beberapa orang memilih untuk tetap melanjutkan hidup, beberapa lainnya memilih untuk berhenti.
Kamu berada di pilihan yang mana?
0 notes
Text
OKK BUT THIS ONE IS SOOCASDFGHJKL THEY'RE SO HOT🔥🔥 THEM WITH SUIT ARE SO FINE
Cr. Poorthing__
https://x.com/poorthing__/status/1903787003222589630?t=RbxLsbgX2BjcrW-JXxl_sA&s=19

#isagi yoichi#blue lock isagi#blue lock kaiser#isagi x kaiser#kaisagi#blue lock#michael kaiser#bllk isagi#bllk kaiser
128 notes
·
View notes
Text
BOOK: JINI, JINNY






0 notes
Text

Ketika kamu berada di ambang kematian, apakah kamu tetap menganggap kematian sebagai musuh, atau menyambutnya dengan tangan terbuka seperti teman? Lee Jini, menolak kematian itu sepenuh hati. Ia menolak kematian, Dia takut terpisah dari satu-satunya orang dalam hidupnya, yaitu dirinya sendiri. Tapi takdir berkata lain. Dia justru menghadapi kematian dengan cara yang tak pernah ia duga. Apakah takdir membencinya? Bisa jadi, tapi takdir membenci semua orang, kau tahu.
Well, buku ini adalah buku tentang perjalanan seseorang yang berada di ambang kematian, untuk mulai mengikhlaskan segalanya, mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Sama seperti Lee Jini yang mengucapkan selamat tinggal pada dunia, aku juga merasa putus asa setelah membaca buku ini. Buku ini terlalu hebat membuat patah hati, Pembangunan suasana yang yang mencekam, ketidakpastian, keputusasaan, kesedihan, kedukaan, dan ketidakberdayaan. Pengambilan latar suasana yang sangat gloomy, berkabut dan hujan benar – benar membuat membuat emosi pundung tiap kali membolak - balik halaman. Pada akhirnya, berbeda dari sampulnya yang berwarna, isinya sangat kelam. Sejujurnya, aku benci perasaan seperti ini Ketika membaca. Bukannya memberikan ending yang jelas dan Bahagia tapi menyisakan perasaan campur aduk. You know, this hurt so good!
…
Kita semua akan mati. Sampai saat itu tiba, hiduplah dengan sekuat tenaga. Selamat jalan, Lee Jini.
22/3/25
0 notes
Text
#Ask
Bagaimana cara menulis/menggambarkan perasaan yang sedang bahagia? Atau sedang dalam mood yang baik, atau sedang jatuh cinta?
Like itu udah terpikirkan baik di otak tapi susah menuangkan dalam bentuk tulisan. Tiba-tiba nulis malah jatuhnya cringey T-T apakah aku manusia anti-romantic :3
Udah baca banyak referensi terkait hal itu tapi masih aja stuck tiap kali mau nulis romance/hal hal menyangkut perasaan bahagia. Padahal kalo bukan romance, otak gacor banget mikirnya wkwkwk
0 notes
Text
Di kehidupan lain, tanpa perang, kuharap kita bisa bertemu lagi. Sebagai teman, sebagai kekasih.
13/3/25
1 note
·
View note
Text
Today's story:
Dia terlihat cantik dengan gaun putih menjuntai ke tanah. Tangan mulusnya memegang bunga tulip putih, di jari manisnya melingkar cincin putih bersinar kala diterpa sinar matahari. Rambutnya di sanggul rendah, diberi aksen bunga Daisy yang menawan. Senyumnya tak pernah lepas dari bibir indahnya. Dia terlihat sangat cantik hari ini. Sangat cantik, aku memujanya.
Tepuk tangan riuh terdengar di taman, kala si gadis berjalan mendekati sang penghulu. Aku mengalihkan pandangan dari perempuan cantik sempurna ini ke arah lelaki yang telah menunggunya di sisi sang penghulu. Pria dengan jas putih rapi, serta sapu tangan dan bunga yang menghiasi setelan jasnya. Senyumnya tak kalah lebar dari sang perempuan, "mereka terlihat serasi"
Aku selalu membayangkan bahwa tempat dimana laki-laki itu berdiri adalah tempatku. Aku yang harusnya berada disana, menunggu dengan sedikit tidak sabar perempuan yang kucintai mendatangiku, lalu kami akan mengucapkan sumpah sehidup semati di hadapan penghulu. Tamu - tamu disana akan menjadi saksi hari bahagia kami,...
...seandainya
...seandainya aku cukup berani mengutarakan perasaanku padanya.
12/3/25
0 notes
Text
Today's story:
Ia tak tahu untuk siapa dia berjuang. Senjata api di tangannya penuh dengan darah segar, sebagian darah terciprat ke sepatu dan seragam coklatnya. Ia lelah, ia ingin kabur dari Medan perang itu.
Ia melangkah terseok-seok mengitari parit setinggi 2 meter yang dibangun sebagai tempat perlindungan. Mulai mengecek keberadaan teman-temannya, tapi belum menemukan satu pun yang masih bernyawa. Mereka semua tewas terkapar. Tak jauh dari tempatnya, ia bisa mendengar suara tembakan-serta suara bom yang saling sahut-menyahut, menghabisi tentara yang masih terlihat. Ia tak tahu lagi siapa musuh, siapa kawannya. Dia mulai gila.
Radio antena berbunyi parau di dekatnya, mencoba menangkap sinyal dengan antena reotnya. 'halo... Apakah kau mendengar ku?..'
Sang pejuang terkejut, mendengar secercah harapan kehidupan di balik suara radio itu. "Halo! Tolong kami! Para tentara disini..." Ucapannya terputus
"pemerintah telah menarik semua bantuan tentara dan persenjataan dari daerah perbatasan. Kepada semua tentara dan pejuang yang masih berada di daerah perbatasan segera mundur ke camp 1.. daerah perbatasan sebentar lagi dikuasai penjajah"
Harapan itu sirna.
Mundur berarti mati. Sama saja dengan bertahan di parit yang sebentar lagi akan dibombardir musuh. Pejuang itu menarik pelatuk senjatanya ke arah kepalanya.
DOR
Dengan ini dia gugur di Medan perang.
9/3/25
0 notes
Text
Today's story:
Aku gagal memenangkan hatinya. Aku menyerah.
Sebuah amplop biru tergeletak di lantai rumahku sore ini, Amplop yang memuat nama panggilanku --yang tak semua orang tahu--- aku tertegun, sudah lama kami tidak saling menyurati. Biasanya kami saling berkabar melalui media sosial.
Aku membuka amplop biru itu, menemukan undangan pernikahan yang menampakkan wajahnya yang rupawan, bersama..... Seorang wanita yang pernah kulihat sebelumnya.
Dia akan menikah
Teman kecilku, cinta pertamaku.
Selain undangan, ada sepucuk surat di balik undangan itu. Kira kira seperti ini isinya
Hey! Sudah lama tak saling berkabar. Aku mengirimkan undangan ini karena aku merasa kamu harus tahu hari bahagiaku. Kau ingat saat kita masih kecil? Aku bilang aku akan menikah dengan orang yang kucintai dan membangun keluarga kecilku, dan hey! Aku mewujudkannya sekarang. Aku tak percaya, sangat tidak percaya. Aku ingin bercerita banyak padamu jadi ayo segera bertemu!
Aku bercerita banyak tentangmu pada calon istriku dan dia ingin bertemu denganmu juga! Yaampun ayo kita bertemu dan kamu harus berkata yang baik tentangku pada calon istriku, mengerti!! :D
Dasar tidak berperasaan.
4/3/25
0 notes
Text
You know I can bring the world to your table.


0 notes
Text
Today's story:
Jika ini perjalanan yang biasa dia lakukan, dia pasti sudah kembali. Sayangnya, kali ini dia mengambil perjalanan jauh, jauh sekali. 3 tahun berlalu sejak ia pergi, kira-kira sejauh mana perjalanan yang sudah dia tempuh? Sudah berapa tempat yang sudah dia singgahi? Sudah berapa banyak orang yang dia temui?
Terakhir kali dia kembali, dia cekcok dengan ayah. Aku tak tahu apa yang mereka perdebatkan, tapi saat itu ayah marah besar. Ayah menamparnya 2 kali, kemudian mengurungnya di basement. "Jangan seperti kakakmu" ayah berkata seperti itu padaku. Itu terakhir kali aku melihatnya sebelum dia memutuskan untuk pergi.
Aku masih sering mengunjungi tempat peristirahatan abadinya. Fotonya terpajang disana, dengan senyum merekah. Hei beritahu aku, apakah kau bahagia? apakah keputusanmu untuk mengakhiri hidupmu benar-benar keputusan terakhirmu?
Kau melakukan perjalanan jauh kali ini, dan kau takkan pernah kembali.
Aku mulai lupa suaramu.
1/3/25
0 notes
Text
Today's story:
Ada satu bunga yang kurawat dengan sepenuh hati. Bunga itu selalu mekar di bulan juni, ketika musim semi datang. Aku tak tahu nama bunganya, dan bunga itu selalu mengeluarkan warna yang berbeda tiap kali mekar. Pertama kali mekar warna putih bersih, setelah itu muncul warna merah dengan aksen kuning di putiknya. Tahun lalu bunga itu tiba-tiba mekar dan berwarna kuning. Ajaib, aku menyukainya.
Tahun ini aku bersemangat untuk melihat warna apa yang akan muncul. Aku rutin menyiramnya, membersihkan dari rumput liar dan menempatkan potnya di tempat dimana sinar matahari bisa mengenainya.
Ponselku berbunyi.
Aku menyerah, maaf.
Aku tak tahu darimana semuanya mulai terasa salah, entah karena aku mulai menganggap remeh hubungan ini, atau kamu yang mulai terbiasa dengan kesalahan yang kuperbuat. Semuanya terasa salah, dan aku lelah dengan keadaan kita yang seperti baik baik saja, namun... Ini mencekikku.
Maaf.
Ah, tidak. Bunganya layu.
Mati.
#16/2/25
1 note
·
View note
Text
Today's story:
Aku mengunjungi kotanya hari ini. Hal yang tak pernah berani kulakukan 2 tahun belakangan. Aku tahu alamatnya, aku tahu rumahnya tapi aku tak berani mengunjunginya. Selalu ada yang menahanku untuk melakukannya, entah karena egoku yang terlalu tinggi, atau aku terlalu malu untuk menampakkan wajahku setelah semua yang kulakukan padanya.
Aku menjadikannya sebagai pihak antagonis dalam hidupku. Bagaimana aku mengakhiri hubungan kami, dan dia berakhir sebagai pihak yang terluka.
Seandainya aku menghubunginya, apa dia mau bertemu denganku?
Seandainya dia mau bertemu denganku, apa dia akan mendengarkanku?
Seandainya dia mendengarkanku, apa dia akan memaafkanku?
Aku tahu jawabannya; Tidak.
Aku menghabiskan waktu 2 hari di kotanya tanpa melakukan apapun. Aku tak menghubunginya, atau menemuinya.
..
5/2/25
0 notes
Text
Today's story:
Pria itu menatap hasil buruannya dengan tatapan antusias. Dia belum pernah merasakan sensasi ini sebelumnya, darahnya bergejolak seolah mengalir naik ke otaknya. Sensasi asing itu menghasilkan panas di sekujur tubuhnya, membuat jantungnya berdegup kencang dan tangannya gemetar.
Dia ingin muntah.
Tapi sensasi ini bukanlah sesuatu yang membuatnya takut, justru ini adalah sensasi yang telah lama ia cari. Benar! Dia menginginkan perasaan perasaan seperti ini. Dia menyukai tangannya yang gemetaran, atau jantungnya yang berdegup kencang tapi bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum lebar. Ya! Perasaan menggairahkan ini.
Dia lupa kapan ia pertama kali berburu. Yang dia ingat adalah dia sudah berhasil menangkap buruan pertamanya, hewan lucu berkaki empat. Tapi ibunya marah besar ketika melihat hewan ikut itu sudah tak bernyawa.
Dia berhenti berburu hewan hewan lucu di sekitar rumahnya, diganti dengan berburu hewan liar di hutan. Dia menyukai perburuan itu, tapi dia merasa ada yang hilang. Dia tak merasakan sensasi ketika menikam hasil buruannya itu. Hewan hewan yang ia tangkap mati begitu saja tanpa memperlihatkan raut ketakutan atau memohon untuk tidak dibunuh. Ah membosankan.
Dia berhenti berburu. Hingga suatu hari rencana gila itu terbesit di otaknya.
Dia kembali menatap hasil buruannya. Darah segar mengalir mengotori lantai, tangan mungilnya bergerak pelan, meminta tolong.
"tolong jangan bunuh aku"
Pria itu melayang mendengarkan suara lemah hasil buruannya, sembari mengeluarkan pisau daging dari laci meja. "Teruslah memohon, gadis kecil"
Bunyi teriakan terdengar sekali, kemudian hilang digantikan dengan suara tawa seorang pria diiringi suara dentingan pisau yang memotong daging.
-----------------
[seorang anak perempuan berusia 12 tahun ditemukan mati di distrik XX. Anak perempuan ini ditemukan setelah dilaporkan menghilang 10 hari yang lalu. Naasnya, Mayatnya ditemukan kondisi mengenaskan, tubuhnya dipotong menjadi 16 bagian dengan kepala yang dibiarkan utuh. Polisi mencurigai adanya keterkaitan dengan pembunuhan berantai yang pernah terjadi di kota ini]
------------------
"jadi ada yang meniruku diluar sana?" Pria paruh baya itu berdehem pelan lalu mematikan TV.
16/1/25
1 note
·
View note